
"Dirga, tolong Lo ambilin fotokopi KK sama KTP Abang di brankas ruang kerja di apartemen Abang. Sekalian juga, bawain Abang satu stel baju ganti sama jas warna hitam ya. Ah ya, dan tolong ambilin kotak cincin di laci meja kerja Abang juga. Nanti alamatnya Abang share. Buruan, Abang tungguin secepatnya," kata Sean.
"Apa perlu Dirga hubungi Ayah sama Bunda Bang?" tanya Dirga yang mencium adanya sesuatu hal yang tidak beres.
"Tidak, jangan dulu."
"Kalau Mas Rian?"
"Ya, suruh dia datang secepatnya juga," jawab Sean setelah terdiam cukup lama.
Sepenggal percakapan lewat telepon yang begitu mengejutkan Nadirga di tengah malam seperti saat ini. Apa yang sedang terjadi dengan bos-nya itu saat ini?
Nadirga segera bersiap kemudian berangkat menuju ke apartemen Sean. Sambil menyetir mobilnya Nadirga pun menghubungi Adrian, sesuai perintah Sean tadi.
🌸🌸🌸
"Bolehkah saya berbicara berdua dengan Ana?" tanya Sean.
"Tentu saja nak Sean. Silahkan. Ana, kamu tenang saja, biar bapak yang menghubungi Pak Ahmad dan menjelaskan semuanya, ya," kata Pak Aji.
"Baik Pak, terima kasih sebelumnya," balas Sonia.
"Ayo Ana, kita bicara di luar saja," ajak Sean.
Sonia mengangguk kemudian mengikuti langkah Sean keluar dari kamar kost-nya. Sean mengajak Sonia untuk duduk di kursi panjang yang terdapat di halaman kost tersebut.
"Maafkan saya Pak. Karena saya bapak jadi terlibat dalam masalah seperti ini," sesal Sonia dengan wajah tertunduk.
"Bapak tidak perlu menikahi saya, biar nanti saya yang menjelaskan kepada Pak RT dan warga yang lainnya," lanjut Sonia lagi.
"Apa yang mau kamu jelaskan Ana? Dan apa kamu yakin mereka akan mau mendengarkan kamu? Bahkan tadi saja kita sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan apapun," balas Sean.
Sonia mendesah pelan, ya semua yang dikatakan Sean memang benar adanya.
"Apa kamu keberatan menikah dengan saya Ana?"
"Tidak. Umh, ma-maksud saya ..."
"Kalau begitu anggap saja ini memang sudah takdir dari Tuhan, dan kita hanya perlu menjalaninya."
"Tapi... saya bukan siapa-siapa Pak. Saya tidak pantas untuk bersanding dengan bapak," lirih Sonia.
"Jangan pernah berkata seperti itu. Saya yang menjalani dan bukan orang lain, jadi tidak perlu mendengarkan perkataan orang lain. Sejauh yang saya tau, kamu adalah gadis yang baik, sopan, pekerja keras. Selama ini saya benar-benar kagum dengan sikap dan kepribadian kamu Ana."
"Tapi bagaimana dengan keluarga bapak?"
"Hah, semua ini memang terlalu mendadak, jadi saya mungkin butuh waktu untuk mengatakan semuanya pada keluarga saya," jawab Sean setelah mendesahkan nafasnya.
"Tapi kamu tidak perlu khawatir Ana, secepatnya saya pasti akan mengatakan semuanya pada mereka. Dan saya sangat yakin, mereka pasti akan menerima kamu dengan tangan terbuka," lanjut Sean meyakinkan.
"Jadi, apakah kamu bersedia menikah dengan saya Ana?" tanya Sean sambil menghadap ke arah Sonia yang masih saja menundukkan wajahnya.
__ADS_1
Cukup lama terdiam, akhirnya Sonia menganggukkan kepalanya pelan.
"Syukurlah. Bismillah ya Ana, kita jalani saja semuanya pelan-pelan," kata Sean bertepatan dengan Nadirga yang sampai disana.
"Bang," panggil Nadirga.
"Lo udah dateng Ga. Mana bajunya?" tanya Sean seraya berdiri, Sonia pun ikut berdiri juga.
"Ini Bang. Ada apa ini sebenarnya Bang?" tanya Nadirga sambil mengangsurkan sebuah paper bag kepada Sean.
"Entar aja Abang ceritain, sekalian nungguin Adrian dateng. Sekarang Abang mau bersih-bersih dulu," jawab Sean.
"Mari Pak. Bapak bersih-bersih di kamar mandi saya saja. Saya akan bersih-bersih di kamar Mbak Ayu."
Sean mengangguk. Ketiganya kemudian kembali ke kamar kost Sonia. Sonia memberikan handuk yang masih bersih kepada Sean kemudian Sean pun membersihkan dirinya di kamar mandi.
Pak Aji pamit untuk kembali ke rumahnya terlebih dahulu dan akan kembali setengah jam kemudian.
"Mbak Ayu, Ana bersih-bersih di kamar Mbak Ayu aja ya," kata Sonia meminta ijin.
"Iya Ana, sekalian kamu siap-siapnya di kamar Mbak aja. Yuk," balas Ayu.
Sonia, Ayu, dan Erna kemudian pamit pada Nadirga. Ketiga gadis itu berpindah ke kamar Ayu di sebelah kanan kamar Sonia.
🌸🌸🌸
Ketika Sean keluar dari kamar mandi Adrian sudah duduk bersama dengan Nadirga. Sean kemudian ikut duduk bersama mereka.
"Gue mau nikah sama Ana."
"APA???" Adrian dan Nadirga bertanya bersamaan dengan kaget.
Sean kemudian menceritakan semua kejadiannya kepada Adrian dan Nadirga.
"Ini sih namanya kesialan membawa berkah," kata Adrian setelah Sean selesai bercerita.
"Maksud Lo?" tanya Sean bingung.
"Jangan Lo kira gue nggak tau kalau selama ini setiap hari Senin sama Kamis Lo selalu dengerin Ana ngaji di musholla," jawab Adrian.
"Jadi Lo tau?" tanya Sean tidak percaya.
"Gue juga tau kok Bang," celetuk Nadirga.
"What? Ah, asem Lo pada," gerutu Sean.
"Dari awal Lo emang udah tertarik kan sama Ana? Sampai Lo bela-belain sering dateng ke cafe tempat dia kerja sampingan, hampir tiap malem pula," kata Adrian lagi.
"Jujur gue akui, gue emang tertarik sama Ana. Suaranya merdu banget pas lagi ngaji. Gue juga kagum banget sama sikap dan kepribadian dia."
"Fix, Lo udah jatuh cinta Bro sama Ana," celetuk Adrian.
__ADS_1
"Cinta?" tanya Sean.
Adrian dan Nadirga kompak mengangguk sebagai jawaban. Sean tersenyum kecil. Entahlah, Sean sendiri belum tahu apakah yang dia rasakan kepada Ana ini adalah benar rasa cinta atau bukan. Tapi Sean merasa sama sekali tidak ada keraguan dalam hatinya untuk menikah dengan Ana.
Tidak lama kemudian Pak Aji datang bersama dengan dua orang laki-laki.
"Nak Sean, kenalkan ini Pak Ahmad, om-nya Ana. Dan itu putranya, Ismail. Pak Ahmad, ini nak Sean, yang akan menikah dengan Ana," kata Pak Aji memperkenalkan mereka.
Sean kemudian menjabat tangan Ahmad dan Ismail.
"Dimana Ana?" tanya Ahmad.
"Masih di kamar temannya di sebelah Om," jawab Sean memberanikan diri memanggil om kepada Ahmad.
"Is panggil kakak kamu," perintah Ahmad kepada Ismail.
"Iya Pa."
Ismail kemudian keluar untuk memanggil Sonia di kamar Ayu.
Tidak lama kemudian Sonia masuk bersama dengan Ayu, Erna, dan Ismail.
"Liur Lo netes Bro," bisik Adrian pelan di telinga Sean.
"Sialan Lo," gerutu Sean tak kalah pelan.
Adrian dan Nadirga sekuat tenaga menahan tawanya. Jujur Sean memang terpesona dengan penampilan Sonia saat ini, begitu anggun meski hanya memakai gamis putih sederhana dan make up tipis seadanya.
"Om Ahmad."
Sonia sedikit kesusahan menghampiri Ahmad kemudian memeluknya erat. Air mata Sonia tumpah di pelukan om-nya tersebut.
"Sssttt, sudah sayang, jangan nangis. Pak Aji sudah menceritakan semuanya sama Om," kata Ahmad sambil menepuk-nepuk punggung Sonia pelan.
"Maaf ya Om, malem-malem gini Ana ngerepotin Om," kata Sonia setelah melepas pelukannya.
"Kamu nggak pernah ngerepotin Om kok nak. Gimana dengan ibu kamu, udah tau?"
"Tolong jangan kasih tau ibu dulu Om. Ibu masih repot ngurusin nenek yang lagi sakit," pinta Sonia.
"Baiklah. Om nggak akan kasih tau ibu kamu dulu. Tapi kamu juga jangan lama-lama, ya. Nggak baik sembunyiin ini semua dari ibu kamu."
"Iya Om."
Ahmad kemudian berbalik menghadap ke arah Sean.
"Nak Sean, kamu serius ingin menikahi keponakan saya?" tanya Ahmad kepada Sean.
"Saya serius Om," jawab Sean mantap.
Entah kenapa dari awal hati Sean begitu mantap dan tidak ada keraguan sama sekali ketika mengetahui bahwa dia harus menikahi Sonia. Ada rasa ingin menjaga dan melindungi yang begitu kuat yang dirasakan oleh Sean ketika dia melihat Sonia menangis. Apalagi kalau ada orang yang berusaha menyakiti Sonia. Sean rasanya langsung ingin menghajar orang itu saat itu juga.
__ADS_1