Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Suara dering ponselnya yang terus berbunyi membangunkan Sonia dari tidurnya. Menggeliatkan tubuhnya perlahan, Sonia kemudian berusaha meraih ponselnya yang masih terus saja berbunyi di atas nakas.


Sonia sedikit terkejut ketika mendapati nama Sendy yang sedang meneleponnya selarut ini. Mendudukkan tubuhnya, Sonia kemudian menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


"Assalamu'alaikum, ada apa Dek?"


"Wa'alaikumsalam. Maaf kak malem-malem, tapi ini sangat penting."


"Iya, nggak pa-pa kok. Emang ada apa?"


Sonia melihat Sean mulai membuka matanya karena terusik.


"Siapa?" tanya Sean lirih.


"Sendy," jawab Sonia pelan sembari menutup bagian bawah ponselnya dengan telapak tangan.


"Nenek meninggal kak, setengah jam yang lalu," Sendy berucap pelan dan hati-hati.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," pekik Sonia.


Sean yang terkejut pun seketika ikut mendudukkan tubuhnya mendengar ucapan Sonia.


"Kakak pulang secepatnya Dek," kata Sonia sudah mulai berkaca-kaca.


"Iya. Kakak hati-hati ya. Kata ibu nggak usah terburu-buru, takutnya malah terjadi apa-apa sama kakak nanti di jalan."


"Iya Dek, kakak pasti hati-hati. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam kak."


Sonia mematikan sambungan teleponnya.


"Ada apa Sonia?" tanya Sean.


Ya semenjak diberitahu oleh Steven kemarin malam, Sean pelan-pelan mulai membiasakan diri memanggil dengan nama Sonia yang sebenarnya.


"Nenek meninggal Mas, setengah jam yang lalu," jawab Sonia dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap Sean.


Sean merengkuh Sonia yang sudah mulai terisak ke dalam pelukannya. Mengusap-usap kepalanya pelan.


"Sssttt, udah jangan nangis lagi. Kamu yang sabar ya."


Sean membiarkan dulu Sonia menangis, menumpahkan kesedihannya.


"Udah ya, jangan nangis lagi. Lebih baik sekarang kamu siap-siap. Kita pulang sekarang juga," kata Sean setelah tangis Sonia sedikit mereda.


Sonia bangun dari pelukan Sean.


"Tapi ini udah jam satu malam Mas?" tanya Sonia setelah melihat jam yang tergantung di dinding kamar mereka.


"Kamu tenang aja. Kita naik helikopter milik Ayah. Kamu siap-siap aja dulu ya. Biar Mas hubungin orang untuk mempersiapkan semuanya," jawab Sean.

__ADS_1


"Baik Mas."


Setelah Sonia turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi, Sean kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas kemudian menghubungi ayahnya.


"Assalamu'alaikum Bang," sapa Steven dengan suara parau khas bangun tidur.


"Wa'alaikumsalam Yah. Abang mau pinjem helikopter sekarang ya Yah."


"Mau buat apa malam-malam begini?"


"Sonia baru aja dapet kabar kalau neneknya meninggal Yah. Abang sama Sonia mau berangkat sekarang juga ke kota S."


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Oke-oke, Abang siap-siap aja. Biar Ayah yang hubungi Om Bima buat ngurus semua ijinnya sekaligus hubungi pilot kita buat siap-siap sekarang juga."


"Iya Yah. Makasih banyak ya Yah. Maaf ngerepotin malem-malem."


"Santai aja lah Bang, kayak ke siapa aja sih. Ya udah, Ayah tutup sekarang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


🌸🌸🌸


Beberapa saat kemudian Sean dan Sonia sudah sampai di basecamp yang digunakan sebagai markas oleh anak buah Steven dan yang lainnya.


"Ayo turun," ajak Sean pada Sonia yang diwajahnya terlihat penuh dengan pertanyaan.


"Ini dimana Mas?" tanya Sonia bingung.


Wajah Sonia semakin berkerut bingung. Tapi Sonia mengikuti langkah Sean yang turun dari mobil. Sonia menggandeng lengan Sean sedikit erat karena merasa takut dengan tempat yang sangat asing baginya itu, ditambah lagi dengan suasana malam yang gelap dan sunyi.


"Bos," sapa dua orang anak buah yang bertugas untuk berjaga di depan.


"Hmm. Dimana Om Bima?" tanya Sean dingin dan berwibawa, khas seorang pemimpin.


"Mari Bos. Bos Bima sudah menunggu di atas."


Salah satu dari mereka membimbing Sean dan Sonia menuju ke atap bangunan dimana helipad berada, sementara satu orang lagi mengambil alih koper kecil yang dibawa oleh Sean.


"Assalamu'alaikum Om," sapa Sean setelah bertemu dengan Bima di atap bangunan tersebut.


"Wa'alaikumsalam. Sean, Sonia, kalian langsung berangkat aja. Om udah ngurus semua ijinnya. Om juga udah menghubungi pihak bandara kota S. Nanti di bandara juga akan ada orang kita yang jemput kalian, jadi kalian tenang aja," Bima menjelaskan.


"Oke Om. Makasih banyak ya Om untuk semuanya. Dan maaf ngerepotin Om malem-malem gini."


"It's okey Sean. Udah sana, kalian berangkat sekarang."


"Makasih banyak ya Om," kata Sonia meski masih sedikit canggung.


"Sama-sama Sonia. Kamu yang sabar ya. Om turut berdukacita," balas Bima.


"Iya Om, makasih."


"Kami duluan ya Om. Assalamu'alaikum," pamit Sean.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, hati-hati kalian."


Sean dan Sonia mengangguk kemudian berjalan menuju ke arah helikopter yang sudah siap untuk terbang di landasan helipad.


🌸🌸🌸


Setibanya Sean dan Sonia di bandara kota S sudah ada salah satu anak buah Bima yang menunggu mereka dan siap mengantar mereka sampai ke tujuan. Sean dan Sonia kemudian dipersilahkan masuk dan duduk di kursi belakang.


"Mas," panggil Sonia ketika mobil baru saja melaju keluar dari bandara.


"Hmm," jawab Sean dengan bergumam.


"Gimana nanti kalau ibu tanya tentang siapa Mas?" tanya Sonia lagi menyuarakan kekhawatiran yang dirasakannya sejak masih di helikopter tadi.


Sean nampak diam dan berpikir sejenak.


"Sonia, sebelumnya Mas mau tanya dulu sama kamu tentang kelanjutan status pernikahan kita. Kita belum sempat berbicara setelah Ayah datang kemarin malam. Mas pengen tau isi hati kamu? Mas pengen tau keinginan kamu tentang hubungan pernikahan kita ini kedepannya mau seperti apa?" tanya Sean yang sudah memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Sonia.


Sonia tertunduk diam dengan kedua tangannya yang saling meremas. Merasa canggung dan malu harus menjawab seperti apa.


"Bicaralah Sonia, Mas pengen denger pendapat dari kamu. Apa kamu menyesal dengan pernikahan kita ini?"


"Tentu saja tidak Mas," jawab Sonia lantang dan langsung mengangkat wajahnya seketika menghadap ke arah Sean.


Sedetik kemudian wajah Sonia berubah memerah. Sonia kembali menundukkan wajahnya.


"Ma-maksudnya,,, a-aku tidak menyesali pernikahan kita Mas" lanjut Sonia salah tingkah.


Sean tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya itu.


"Seperti yang pernah dikatakan oleh Pak Kiyai waktu itu Mas. Pernikahan kita mungkin sangat mendadak dan diluar rencana kita. Tapi aku berusaha menerimanya dengan ikhlas sebagai salah satu takdir dari Allah SWT untuk kita berdua."


"Mas setuju dengan kamu Sonia. Jadi, apakah kamu keberatan semisal Mas mengajukan isbat pernikahan untuk mengesahkan pernikahan kita ini?"


"Sama sekali tidak Mas," jawab Sonia sedikit malu-malu.


Sean kembali tersenyum dan mengusap lembut kepala Sonia dari balik hijabnya. Debaran jantung Sonia seakan menggila di dalam sana mendapati perlakuan manis dari Sean seperti ini. Tanpa Sonia tahu, hal yang sama pun juga dirasakan oleh Sean.


"Untuk masalah ibu, tentu saja kita akan menceritakan yang sejujurnya. Tapi kita juga harus menunggu waktu yang sekiranya pas. Kamu setuju dengan pendapat Mas?"


"Iya Mas," jawab Sonia dengan tersenyum dan mengangkat wajahnya.


Setelah hampir satu jam perjalanan akhirnya mobil yang mereka naiki tiba di depan rumah Sonia. Sebuah rumah sederhana yang tidak terlalu besar tetapi memiliki halaman yang cukup luas. Khas rumah pedesaan pada umumnya.


Sean dan Sonia turun dari mobil. Sean kemudian memerintahkan kepada anak buahnya itu untuk meninggalkan mereka dan kembali ketika Sean menghubunginya nanti.


Setelah mobil berlalu pergi, Sean dan Sonia kemudian berjalan memasuki halaman rumah. Masih terlihat beberapa warga yang berkumpul di teras dan di dalam rumah. Suci yang melihat kedatangan Sonia pun segera berdiri dan berlari menghampiri putrinya tersebut.


"Sonia," panggil Suci seraya memeluk erat Sonia.


"Ibu," lirih Sonia.


Kedua ibu dan anak itu menangis menumpahkan segala kerinduan mereka, bersamaan dengan duka yang mereka hadapi karena kepergian nenek. Sementara Sean masih setia berdiri di samping Sonia. Ingin rasanya Sean mengusap lembut kepala Sonia untuk menenangkannya. Tapi sebisa mungkin Sean menahan diri.

__ADS_1


__ADS_2