Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Ingin Bertemu Lagi


__ADS_3

Tiga hari berlalu, tanpa sadar Sean selalu berharap untuk bisa mendengar suara merdu gadis itu lagi. Dengan sengaja Sean selalu berlama-lama ketika berada di musholla. Rasa ingin bertemu lagi dengan gadis itu begitu besar dirasakan Sean.


Namun sayang kekecewaan yang selalu Sean dapatkan. Mungkin Tuhan belum menghendaki untuk Sean bertemu dan mendengar suara merdu gadis itu lagi.


Tapi sepertinya tidak untuk hari ini. Kelihatannya hari ini Tuhan sedang berbaik hati pada Sean.


"Ana masih di dalam lagi?" tanya Fifi yang tidak ikut melaksanakan ibadah sholat karena sedang kedatangan tamu bulanan-nya.


"Iya, ini kan hari Kamis, dia puasa lah," jawab Hana sambil mengenakan heels-nya.


Tanpa Hana, Fifi, dan Tari sadari, Sean yang sedang melepaskan sepatunya tidak jauh dari mereka tidak sengaja ikut mencuri dengar pembicaraan mereka. Merasa kalau yang sedang dibicarakan oleh ketiga wanita itu mungkin saja gadis yang sedang dicarinya, Sean pun mulai mempertajam indera pendengarannya.


"Ana ngapain sih kalau masih di dalam musholla kayak gini?" tanya Fifi lagi penasaran.


"Ngaji kayaknya. Tadi aku sempat lihat dia ngeluarin Al-Qur'an kecil gitu dari tas mukena-nya," jawab Tari.


"Wah, bener-bener salut gue sama anak itu. Jaman sekarang loh, jarang-jarang anak muda kayak gitu. Apalagi di ibu kota yang keras ini," puji Fifi.


"Kehidupan Ana lumayan keras, itu kenapa dia lebih memilih membentengi diri dengan mendekat kepada Tuhan. Tapi bener juga sih, gue juga salut sama ketegaran Ana," imbuh Hana.


"Udah yuk, kita makan sekarang. Entar keburu waktu istirahatnya habis lagi," ajak Tari.


Hana dan Fifi mengangguk. Ketiganya kemudian pergi meninggalkan musholla.


Sean bergegas mengambil wudhu. Dan ketika memasuki musholla, benar saja, pandangan Sean langsung mendapati gadis berhijab itu sedang mengaji di sudut musholla.


'Ah, akhirnya bertemu lagi,' desah Sean dalam hatinya.


Entah kenapa Sean merasakan suatu kelegaan di hatinya. Sean kemudian melaksanakan ibadah sholat Dzuhur dengan khidmat. Setelah selesai sholat, dzikir, dan berdo'a, Sean berpindah tempat duduk. Sean duduk di dekat dinding, beberapa meter di depan gadis itu, seperti hari Senin kemarin.


Sean menundukkan kepalanya, mendengar dan meresapi suara gadis itu yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Hati Sean merasa begitu tenang dan damai mendengar suara gadis itu.


Dan seperti hari Senin kemarin, setengah jam kemudian Sean kembali dikagetkan dengan getaran ponsel di saku celananya. Dan lagi-lagi nama Adrian yang terpampang di layar ponselnya.


"Astaghfirullah hal adziim," gerutu Sean pelan.


Dengan malas-malasan Sean mengangkat panggilan Adrian.


"Apalagi sih Yan," saking dongkolnya Sean sampai lupa mengucapkan salam.


"Heh, salam dulu kek, tumben main todong aja nih bocah," keluh Adrian


"Iya-iya, assalamu'alaikum. Ada apaan?"

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam. Lo dimana? Ditungguin Ayah Steven sama Papih Ken nih."


"Gue masih di musholla. Nggak sekalian Daddy Danny juga tuh?" tanya Sean sambil mengusap keningnya sendiri.


"Enggak. Daddy Danny lagi ada meeting sama Kenzie sama Ghania."


Sean menghembuskan nafasnya kasar.


"Gue segera kesana. Ayah sama Papih di ruangan Lo kan?"


"Iya, mereka nunggu di ruangan gue."


"Oke."


Sean menutup panggilan teleponnya dan lagi-lagi menghela nafas.


'Ada aja gangguan,' keluh Sean dalam hati.


Dengan enggan Sean berdiri dari duduknya. Rasanya tidak rela harus meninggalkan gadis itu lagi. Sean kembali menengok ke arah gadis yang sedang mengaji itu. Dengan berat hati akhirnya Sean pun melangkah keluar dari musholla tersebut.


Dan lagi-lagi Sonia mengangkat wajahnya setelah kepergian Sean. Senyum simpul tersungging di bibirnya melihat punggung Sean yang bergerak keluar dari musholla.


'Dia nungguin lagi ternyata,' batin Sonia.


"Sean lagi dimana Yan?" tanya Steven.


"Di musholla Yah."


"Tumben, udah jam segini loh," heran Ken.


"Nggak tau tuh Pih. Beberapa hari ini tuh anak jadi betah banget ada di musholla."


Saat ini Steven, Ken, dan Adrian sedang duduk di sofa di dalam ruang kerja Adrian.


"Apa ada seseorang yang menarik perhatian Sean sehingga dia jadi kayak gitu?" tebak Steven.


"Nggak tau juga Yah. Kemarin pas Rian tanya Sean belum mau cerita, ya udah Rian juga nggak maksa," jawab Adrian.


"Tapi kalau emang beneran ada, bukannya itu justru bagus Steve. Berarti kan Sean udah bisa ngelupain ... siapa cewek yang dulu ninggalin Sean itu?" tanya Ken yang berakhir kebingungan.


"Grizelle," jawab Adrian.


"Nah itu," Ken baru ingat.

__ADS_1


"Kalau untuk masalah Grizelle, sepertinya Sean udah nggak mikirin dia lagi deh Yah, Pih. Saat ini fokus Sean lebih ke perusahaan," Adrian menyampaikan pendapatnya.


"Tapi kan dalam hati Sean gimana kita nggak ada yang tau pasti Yan," Ken pun mengingatkan.


"Hmh, iya juga sih. Anak itu terlalu pendiem, sampe nyimpen semua masalahnya sendiri dan nggak mau berbagi cerita ke siapapun, bahkan ke Bunda-nya juga. Tapi ini juga masih asumsi kan, belum ada bukti nyata kalau Sean lagi merhatiin seorang wanita," keluh Steven.


"Biar Rian cari tau lebih lanjut nanti Yah."


"Oke, Ayah serahin masalah ini ke kamu ya Yan," kata Steven.


"Siap Yah," balas Adrian.


Tidak lama kemudian Sean pun sampai di ruangan Adrian.


"Assalamu'alaikum," sapa Sean setelah membuka pintu kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan Adrian.


"Wa'alaikumsalam," jawab Steven, Ken, dan Adrian bersamaan.


Sean mencium punggung tangan Steven dan Ken, setelah itu duduk di dekat Adrian.


"Tumben Ayah sama Papih kesini, ada masalah ya?" tanya Sean.


"Kamu lupa kalau kemarin kamu yang minta bantuan Ayah sama Papih buat menganalisa proposal proyek baru kalian di Kalimantan?" tanya Steven dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Astaghfirullah," seru Sean dengan menepuk keningnya sendiri. "Maaf Yah, Pih, Sean beneran lupa," sesal Sean.


"Lagi mikirin apa sih kamu Sean, sampai nggak fokus gitu?" tanya Ken.


"Enggak mikirin apa-apa kok Pih, cuma tadi beneran lupa aja," elak Sean.


"Ya udah. Sini, mana proposalnya?" tanya Steven.


Adrian bangkit kemudian mengambil dua map yang ada di atas meja kerjanya. Adrian lalu menyerahkan map-map yang dia bawa kepada Steven dan Ken.


Steven dan Ken kemudian mempelajari proposal di dalam map yang diserahkan oleh Adrian tadi.


'Astaga, gue kenapa sih? Pikiran gue jadi nge-blank gini cuma gara-gara masih kepikiran gadis tadi," keluh Sean setelah membuang nafasnya kasar.


Apa yang dilakukan Sean tidak luput dari perhatian Adrian. Di dalam hati Adrian pun semakin penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada sahabatnya sejak kecil itu.


'Sepertinya gue harus cari tau secepatnya, apa yang sebenarnya terjadi sama Sean,' tekad Adrian dalam hatinya.


Sean berusaha untuk kembali fokus. Akhirnya pembahasan proyek siang itu pun bisa berjalan dengan lancar.

__ADS_1


__ADS_2