Cinta Sheila

Cinta Sheila
Full Of Happiness


__ADS_3

Steven dan Sheila saat ini sedang berada di rumah Andika, lebih tepatnya di dalam kamar bayi Anita. Ya, Anita sudah melahirkan putra pertamanya dengan selamat lima hari yang lalu dan sekarang sudah pulang dari rumah sakit.


Sheila duduk di sebelah Anita yang sedang memangku bayinya. Steven dan Andika duduk di sofa tunggal di sebelah istri masing-masing.


"Kenapa mesti repot-repot bawa hadiah sebanyak ini sih Shei, Steve? Kemarin pas di rumah sakit juga kan kalian udah bawain macem-macem," kata Anita merasa tidak enak hati karena Steven dan Sheila membawa begitu banyak hadiah untuk putranya.


"Nggak repot kok kak. Ini cuma beberapa barang keperluan adek bayi aja. Oh ya, namanya siapa kak?" tanya Sheila sambil mengelus-elus tangan bayi mungil tersebut.


"Tanya ayahnya tuh," jawab Anita mengendik ke arah Andika suaminya.


"Namanya siapa Bang?" tanya Sheila lagi mengalihkan perhatian ke arah Andika.


"Adrian Putra Pratama," jawab Andika dengan bangga, membuat Steven sedikit iri. Tidak sabar menunggu kelahiran putranya sendiri nanti.


"Namanya bagus banget. Boleh aku gendong baby Adrian kak?" tanya Sheila.


"Boleh dong," jawab Anita kemudian perlahan memberikan putranya kepada Sheila.


Sheila menggendong bayi kecil itu hati-hati dan menciuminya penuh sayang.


"Kamu udah mahir banget sih Shei gendong bayi," puji Anita.


Sheila hanya tersenyum menanggapi. Hati Steven berdesir melihat Sheila menggendong baby Adrian penuh sayang. Membayangkan ketika nanti Sheila menggendong bayi mereka sendiri. Betapa tidak sabarnya Steven menanti saat-saat tersebut.


"Kandungan kamu sehat kan Shei?" tanya Anita.


"Alhamdulillaah sehat kak."


"Sudah jalan enam bulan kan ya?" tanya Anita lagi.


"Iya kak, dua minggu lagi genap enam bulan."


"Kakak do'akan semoga lancar sampai melahirkan nanti ya Shei, ibu dan bayinya sehat tidak kekurangan suatu apapun," do'a Anita tulus untuk Sheila dan bayinya.


"Aamiin Yaa robbal 'aalamiin," jawab Sheila, Steven, dan Andika bersamaan.


"Makasih do'anya kak," kata Sheila sambil tersenyum yang dibalas anggukan kepala dan senyuman dari Anita juga.

__ADS_1


...


Hari ini adalah merupakan hari wisuda untuk Sheila. Steven sudah mengambil cuti, begitu juga dengan Danny. Mereka berdua ingin menemani saat-saat penting dalam hidup wanita yang mereka cintai, bersama dengan keluarga yang lain tentunya. Bahkan Leon, Max, dan Sylvia pun menyempatkan untuk hadir.


Acara berjalan dengan lancar sampai selesai. Selesai acara formal wisuda mereka semua kemudian berfoto-foto. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan siang bersama.


Kali ini Steven sengaja mengajak ketiga sahabat Sheila beserta keluarganya untuk ikut makan siang bersama sekaligus merayakan kelulusan Sheila, Lusia, Dyah, dan Tya.


Steven juga sudah membooking satu restoran khusus yang sudah dihias sedemikian rupa untuk merayakan pesta kelulusan Sheila dan sahabat-sahabatnya.


Acara makan siang yang diselingi dengan obrolan-obrolan ringan dan canda tawa itu berjalan dengan lancar.


Selesai acara makan siang, para orang tua sudah pamit terlebih dahulu, hendak melanjutkan aktivitas masing-masing. Menyisakan lima pasangan anak muda dengan obrolan mereka yang masih terus berlanjut. Steven - Sheila, Danny - Lusia, Leon - Tya, Toni - Dyah, dan Max - Sylvia. Kelima pasangan tersebut nampak masih asyik bercengkrama.


"Capek enggak sayang? Apa kita pulang sekarang aja?" tanya Steven.


"Enggak kok Mas, sebentar lagi ya," jawab Sheila yang diakhiri permintaan.


Steven mengusap puncak kepala Sheila kemudian tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya.


"By the way, kak Leon sejak kapan jadian sama Tya? Kok aku nggak tahu?" tanya Sheila mengalihkan pandangannya ke arah Leon dan Tya yang duduk bersebelahan.


"Bukannya pengen nyembunyiin, menghindari keusilan Lo aja gue," elak Leon.


"Alesan aja Lo," cibir Max.


"Jadi sejak kapan nih?" tanya Sheila lagi.


Tya hanya bisa diam dengan wajah memerah, tidak mampu menjawab pertanyaan Sheila.


"Setelah acara syukuran di rumah kamu kemarin dek. Sebelumnya kakak udah sempet cerita dulu ke Toni. Karena Toni kasih lampu hijau ya udah kakak langsung tembak deh," kata Leon menjelaskan.


"Gercep juga Lo ternyata Yon. Bahkan udah dapet ijin Abang-nya pula," puji Steven.


"Harus dong. Gue serius sama perasaan gue, makanya gue nggak mau sampai keduluan orang lain. Dan kalau gue nggak ngomong dulu ke Toni, bisa digorok leher gue sama dia, dikira gue cuma mau mainin adik dia doang nanti," jelas Leon.


"Tapi gue justru respect sama Lo yang berani ngomong dulu ke gue Yon. Gentle banget Lo, membuat gue jadi nggak ragu lagi. Makanya gue juga langsung kasih ijin sama Lo," kata Toni.

__ADS_1


"Good," puji Steven dan yang lainnya.


"Dan kenapa kamu nggak cerita Tya?" tanya Sheila lagi kepada Tya sahabatnya.


"Sorry deh. Bukannya nggak mau cerita, tapi gue malu tau. Lagian kan kita jarang kumpul-kumpul juga akhir-akhir ini," jawab Tya.


"Tapi Lo bisa tuh cerita ke Dyah, kenapa ke gue sama Sheila enggak?" tanya Lusia.


"Sorry deh Lus. Bukannya nggak mau cerita, sumpah. Gue malu banget sama Sheila kalau cuma ngabarin lewat telepon gue udah jadian sama kakaknya. Sementara Lo sendiri juga akhir-akhir ini sibuk kan, udah mulai resmi kerja di kantor Bang Steven. Dan kenapa gue bisa cerita ke Dyah, karena Dyah juga udah jadian sama Abang gue, Bang Toni, jadi kita sering ketemu, hehe," jawab Tya diakhiri tawa kering karena merasa tidak enak.


"Jadi Dyah juga?" tanya Lusia lagi.


"Sorry Lus, Shei. Nggak ada maksud nyembunyiin dari kalian, beneran deh. Kita cuma malu aja, bingung mau ngomongnya gimana," kata Dyah sama-sama merasa tidak enak.


"Kalian mah kebangetan," keluh Lusia


"Sorry," ucap Dyah dan Tya bersamaan.


"Udah-udah, nggak perlu diperpanjang lagi. Aku do'akan yang terbaik aja untuk hubungan kalian berdua, semoga berlanjut sampai ke pelaminan nanti ya," do'a Sheila tulus untuk hubungan Tya dan Leon juga Dyah dan Toni.


"Aamiin," balas semua yang ada disana.


"Oiya, mumpung lagi ngumpul juga, weekend ini kalian semua dateng ya ke acara lamaran gue sama Lusia," kata Danny disertai undangan.


"Weiss, jadi juga nih Bro acara lamaran resminya?" tanya Steven.


"Jadi lah, kan gue udah bilang dari awal kalo gue serius sama Lusia. Lagian Lusia juga udah wisuda, Papa Angga juga udah ngijinin, jadi gue nggak mau menunda lebih lama lagi," jawab Danny mantap.


"Heleh, bilang aja Lo nya juga udah nggak sabar Dan," ejek Max.


"Manusiawi lah Max," balas Danny.


"Oke deh, kita pasti dateng kok," kata Toni.


"Siip, thanks ya Bro. Jangan lupa ajak pasangan kalian juga," balas Danny.


"Tanpa diajak pun mereka pasti udah stay paling depan. Lusia kan sahabat baik mereka," kata Leon.

__ADS_1


"Eh, iya juga ya," Danny menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Semuanya pun lalu tergelak bersama-sama. Di dalam hati Sheila bersyukur, akhirnya sahabat-sahabatnya sudah menemukan kebahagiaan bersama pasangan masing-masing. Semoga hubungan mereka nanti bisa sampai ke jenjang pernikahan, aamiin Yaa robbal 'aalamiin. Do'a Sheila di dalam hatinya.


__ADS_2