
"Ana, keluar kamu. Jangan kotori kampung kami dengan perbuatan mesum-mu," teriak orang-orang dari luar.
Sean dan Sonia yang masih dalam posisi berpelukan di atas kursi pun kompak membulatkan kedua mata mereka masing-masing. Belum hilang keterkejutan mereka, Sean dan Sonia sudah dikejutkan lagi dengan pintu kamar kost Sonia yang tiba-tiba dibuka dari luar.
Sean segera berdiri dan membawa Sonia ikut berdiri bersamanya. Beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu yang nampak emosi merangsek masuk ke dalam kamar kost Sonia. Sean segera melepaskan pelukannya pada Sonia setelah memastikan Sonia mampu berdiri sendiri dengan baik.
"Apa-apaan ini? Jadi benar kalian sedang berbuat tidak senonoh rupanya?" tanya seorang bapak emosi.
"Bukan Pak. Bukan seperti itu, saya bisa jelaskan semuanya," sanggah Sonia.
"Mau menjelaskan apa lagi? Sudah lihat sendiri kan semuanya? Dua orang ini sedang berbuat tidak senonoh di kamar kost ini," seru Jordan semakin memanas-manasi keadaan.
Sean memicingkan matanya, Sean sudah bisa menduga kalau ini semua pasti ulah Jordan dan teman-temannya.
"Bener-bener nggak nyangka ya, di balik sikap alim-nya ternyata begini kelakuannya," kata salah satu teman Jordan.
"Merusak nama baik kampung kita aja," imbuh temannya yang lain.
"Maaf semuanya, tapi ini hanya kesalahpahaman saja," kata Sean mencoba menjelaskan.
"Salah paham apanya? Jelas-jelas kami lihat sendiri kalian sedang berpelukan, bahkan kamu juga lagi nggak pakai baju kayak gitu," bantah seorang ibu-ibu.
"Bukan begitu Bu. Pak Sean ini adalah atasan saya. Tadi saya membantu membersihkan luka di pundak Pak Sean, itu kenapa Pak Sean nggak pakai baju," Sonia pun berusaha menjelaskan.
"Alah, nggak usah banyak alasan deh Lo," teman Jordan kembali menyanggah penjelasan Sonia.
"Kasih pelajaran aja Bu, mereka sudah mencoreng nama baik kampung kita," kata teman Jordan yang lainnya sambil mengangsurkan sekotak telur.
Dan tiga orang ibu-ibu yang sudah terbakar emosi itupun mulai melempari Sean dan Sonia dengan telur. Sean dengan sigap langsung pasang badan di depan Sonia dan melindunginya. Sean menyembunyikan wajah Sonia di dadanya.
"Dasar wanita murahan, tidak tahu diri," umpat seorang ibu sambil melemparkan telur yang mengenai punggung Sean.
"Bikin malu, merusak nama baik kampung kita aja," teriak ibu-ibu kedua.
"Iya, gayanya aja sok alim. Eh nyatanya kelakuannya kayak gini. Nggak bisa dibiarin ini," imbuh ibu-ibu ketiga setelah melemparkan telur juga.
Suasana yang begitu riuh dengan teriakan dan umpatan tentu saja membangunkan penghuni kost yang lainnya. Keributan itupun mengundang perhatian dari para penghuni kost yang lain dan warga sekitar.
"Cukup, hentikan semuanya," teriak Bapak RT setempat yang datang bersama Pak Aji si pemilik kost.
Keributan pun berhenti. Pak RT dan Pak Aji berdiri di tengah-tengah antara warga yang marah dengan Sean dan Sonia. Sean melepaskan kedua tangannya dari kepala dan punggung Sonia kemudian membalikkan badannya menghadap ke arah kerumunan warga.
__ADS_1
"Apa-apaan ini? Kenapa semuanya jadi bertindak kasar seperti ini?" tanya Pak RT.
"Gimana nggak kasar Pak, mereka berdua udah berbuat tidak senonoh di kampung kita," jawab si ibu-ibu pertama.
"Iya betul Pak, merusak nama baik kampung kita aja," imbuh si ibu-ibu kedua.
"Tapi kan semua bisa dibicarakan dulu baik-baik, bukan langsung main hakim sendiri seperti ini" kata Pak RT menyayangkan sikap warganya.
"Gimana mau dibicarain baik-baik Pak, kita lihat sendiri kok mereka lagi peluk-pelukan, ya kita langsung emosi lah," kata si ibu-ibu ketiga berapi-api.
"Iya betul itu Pak, betul," warga yang lain pun membenarkan.
"Bapak dan ibu sudah mendengar penjelasan dari mereka?" tanya Pak RT lagi.
Semuanya diam tidak ada yang menjawab.
"Kenapa nggak langsung dibawa ke rumah saya? Kan semuanya bisa kita bicarakan baik-baik terlebih dahulu," kata Pak RT lagi.
"Dah lah Pak RT, gini aja, sesuai peraturan di kampung kita kalau ada yang tertangkap basah sedang berbuat mesum maka mereka akan dinikahkan saat itu juga. Jadi kita mau kalau mereka berdua juga dinikahkan langsung saat ini juga untuk mentaati peraturan sekaligus menjaga nama baik kampung kita," usul salah satu warga.
Sean dan Sonia langsung membulatkan kedua mata mereka masing-masing karena terkejut. Begitu pula dengan Jordan dan teman-temannya. Rupanya rencana mereka tidak berjalan sesuai dengan harapan mereka.
"Iya, taati peraturan yang sudah kita sepakati bersama," kata salah satu warga.
"Iya, setuju itu, langsung dinikahkan saja," ucap si ibu-ibu pertama juga.
"Iya, biar nama baik kampung kita juga nggak rusak," lanjut si ibu-ibu kedua.
"Betul itu betul," balas warga yang lainnya menyetujui.
"Tapi Pak..." belum sempat Sonia melanjutkan ucapannya.
"Baiklah-baiklah. Bapak ibu semuanya tenang dulu, biarkan saya selaku ketua RT yang akan menyelesaikan masalah ini," kata Pak RT.
Pak RT berbalik menghadap ke arah Sean dan Sonia.
"Nak Ana, maaf, tapi peraturan di kampung kami memang seperti itu. Barangsiapa yang tertangkap basah sedang berbuat tidak senonoh maka akan langsung dinikahkan saat itu juga. Mas-nya masih lajang kan?" tanya Pak RT kepada Sean.
"Masih Pak," jawab Sean, pikirannya seolah kosong sehingga tidak bisa membantah ataupun menyanggah.
"Kalau begitu bapak mohon kerjasama dari kalian berdua ya. Biar bagaimanapun peraturan tetap peraturan dan harus ditaati," kata Pak RT.
__ADS_1
Pak RT kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Pak Aji.
"Pak Aji, saya minta bantuan dan kerjasama dari bapak untuk mempersiapkan mereka berdua. Saya tunggu di rumah saya satu jam lagi. Saya juga akan mempersiapkan semua keperluannya. Saya akan menghubungi pak penghulu dan pak kyai selaku sesepuh di kampung kita," kata Pak RT kepada Pak Aji.
"Baik Pak RT," balas Pak Aji.
Pak RT kembali menghadap ke arah warga.
"Bapak ibu semuanya, sudah diputuskan bahwa satu jam lagi kedua anak muda ini akan dinikahkan di rumah saya. Silahkan bapak ibu datang untuk menjadi saksi tegaknya peraturan di kampung kita ini," kata Pak RT kepada para warganya.
Para warga pun mengangguk mengiyakan.
"Sekarang saya minta semuanya bubar dulu, biarkan Pak Aji yang mempersiapkan mereka berdua. Kita berkumpul satu jam lagi di rumah saya."
Para warga pun kemudian membubarkan diri. Pak RT juga kemudian pamit untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Air mata sudah keluar tanpa permisi dan membasahi wajah Sonia. Dan entah kenapa hati Sean merasa sakit melihat Sonia menangis seperti itu.
Dua orang tetangga kost Sonia, Ayu dan Erna, segera menghampiri Sonia.
"Yang sabar ya Ana," kata Ayu sembari merangkul Sonia.
Ayu dan Erna membawa Sonia untuk duduk di kursi kembali.
"Mas-nya namanya siapa?" tanya Pak Aji.
"Panggil saja saya Sean, Pak," jawab Sean.
"Nak Sean, saya mohon maaf sebelumnya atas ketidaknyamanan ini. Kalau boleh saya tau, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Pak Aji.
"Saya hanya mengantar pulang Ana Pak, karena kakinya sedang terkilir. Tapi tadi di pos ronda kami dihadang sekumpulan pemuda. Saya didorong sampai tidak sengaja pundak saya terluka. Dan tadi Ana memang sedang membantu membersihkan luka di pundak saya, makanya saya membuka kemeja saya."
"Bahkan tadi Ana juga membuka pintu kamarnya lebar-lebar, menghindari fitnah yang mungkin saja bisa terjadi. Tapi entah kenapa tadi pintunya bisa jadi tertutup seperti itu. Dan Ana yang kakinya masih sakit tiba-tiba terhuyung ketika berdiri sehingga dia terjatuh dan menimpa saya," Sean menjelaskan panjang lebar.
"Oh, jadi seperti itu kejadiannya," Pak Aji mengangguk-anggukkan kepalanya, begitu juga dengan Ayu dan Erna yang ikut mendengarkan penjelasan dari Sean.
"Tapi nak Sean, seperti yang dibilang Pak RT tadi, kampung kami memiliki peraturan tertulis yang bahkan sudah disetujui oleh pihak kelurahan, kepolisian, dan kantor urusan agama. Semuanya ini demi memberi efek jera kepada pemuda pemudi yang tidak bertanggungjawab. Jadi maaf, mau tidak mau nak Sean dan Ana juga harus mentaati peraturan tersebut," sesal Pak Aji.
"Tidak apa-apa Pak. Saya bersedia menikah dengan Ana saat ini juga," jawab Sean mantap.
Sonia langsung mengangkat wajahnya dan memandang Sean dengan penuh keterkejutan.
__ADS_1