
Satu minggu kemudian.
Hari ini adalah hari pernikahan Kenzie dan Lathifah. Dan hari ini, untuk pertama kalinya juga Sean membawa Sonia mengahadiri acara di luar seperti ini. Terlebih lagi ini adalah acara resmi keluarga besar mereka.
Keluarga Steven, Max, dan Toni tentu saja mendampingi keluarga Leon sebagai pihak mempelai wanita. Sementara keluarga Danny, Jery, Andika, dan Yas mendampingi keluarga Ken sebagai pihak mempelai pria.
Acara ijab kabul dan resepsi pernikahan yang diadakan di sebuah hotel mewah itu berlangsung dengan lancar, mewah, dan meriah.
"Kamu nggak pengen pesta kayak gini ya sayang?" tanya Sean kepada Sonia yang saat ini sedang berdiri di sebelahnya.
Sonia tersenyum sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali sebagai jawaban.
"Kenapa?"
"Nggak kuat. Pasti keinget sama ayah," jawab Sonia sendu.
Sean sangat memahami kesedihan yang dirasakan oleh istrinya itu. Direngkuhnya pundak Sonia kemudian disandarkan di pundak Sean.
"Udah, jangan sedih lagi. Kita do'akan yang terbaik untuk ayah ya," kata Sean.
Sean merasakan Sonia mengangguk di pundaknya.
"Nggak sedih lagi kok, kan sekarang udah ada Mas Sean, Bunda Sheila, Ayah Steven, Safa, dan yang lainnya. Masih ada ibu, Sendy, dan Dennis juga," kata Sonia bersemangat.
"Nah, gitu dong. Ini baru istrinya Mas," balas Sean kemudian mencium puncak kepala Sonia dari balik hijabnya.
"Lagian Mas, udah telat juga kalau kita mau ngadain pesta sekarang. Kita nikahnya kapan, pestanya kapan," celetuk Sonia.
"Nggak masalah dong sayang. Banyak juga kok yang kayak gitu. Kan semua orang memiliki alasan masing-masing."
"Enggak lah Mas. Nggak perlu," tolak Sonia.
"Ya udah, Mas ngikutin maunya kamu aja. Eh, tapi kalau untuk honeymoon nggak ada kata terlambat kan sayang?" tanya Sean tiba-tiba.
Sonia menegakkan tubuhnya kembali.
"Honeymoon? Mas pengen bulan madu?" tanya Sonia balik.
"Iya dong. Kan kita juga belum pernah pergi liburan berdua sayang. Mau ya? Kan nifas kamu udah berhenti juga. Kata dokter kan kita udah boleh kalau nifas kamu udah selesai, soalnya rahim kamu sehat. Mau ya sayang ya," kata Sean panjang lebar.
Sonia tertawa pelan sembari menggelengkan kepalanya.
"Iya deh, terserah Mas aja kalau gitu."
"Yes," girang Sean.
"Girang amat Bang," kata Sammy yang tiba-tiba datang bersama dengan Hana.
"Eh, Lo Sam," kata Sean.
"Hana?" kata Sonia seakan tidak percaya.
"Hai Sonia," sapa Hana masih sedikit kaku sekaligus merasa malu karena ketahuan datang bersama Sammy.
"Jadi kalian berdua udah resmi pacaran nih?" tanya Sean.
"Yoi dong. Bahkan gue udah ketemu orang tua Hana juga. Do'ain aja ya semoga semuanya lancar, biar kita berdua bisa cepet nyusul kalian," jawab Sammy.
"Aamiin," balas Sean dan Sonia bersamaan.
"Selamat ya Hana, semoga disegerakan dan dilancarkan," do'a Sonia juga.
"Aamiin. Makasih ya Sonia," balas Hana tersipu malu.
"Wah, kalau nanti Lo jadi nikah duluan, tambah merana dong si Adrian dilangkahin mulu," seloroh Sean tiba-tiba.
__ADS_1
"Wkwkwk, iya juga ya Bang," balas Sammy sembari tertawa.
"Lo berani ngetawain gue Sam?" tanya Adrian yang tiba-tiba datang bersama Safa, Syafiq, dan Alvin.
"Eh, Mas Rian?" kaget Sammy.
"Puas kalian ngeledekin gue? Asem Lo semua," sungut Adrian kesal.
"Wkwkwk, sorry Bro," kata Sean dengan tertawa kecil.
"Sorry Mas sorry. Nggak ada maksud kayak gitu kok gue, beneran deh. Sorry ya," jawab Sammy menyesal setelah sempat merasa kaget tadi karena kehadiran Adrian yang tiba-tiba.
"Makanya Yan, buruan dong Lo halalin adek gue kalau nggak mau dilangkahin mulu," kata Sean lagi.
"Sebelum Lo nikah juga gue udah ada niatan gitu. Adek Lo aja tuh yang nyuruh gue sabar terus," gerutu Adrian.
"Maaf ya Mas. Aku nggak bisa kalau harus ngelangkahin Abang sama kak Syafiq," kata Safa dengan mengelus lembut lengan Adrian. "Nah, sekarang kan Bang Sean udah nikah, jadi kita tinggal nunggu kak Syafiq aja deh. Semoga kak Syafiq juga segera nyusul nikah kayak Bang Sean, aamiin," lanjut Safa.
"Aamiin," ucap Sean, Sonia, Adrian, Sammy, Hana, dan Alvin bersamaan.
"Lah, kok gue jadi dibawa-bawa sih," kesal Syafiq.
"Udah Fiq, iya-in aja. Kasihan tuh Mas Rian, udah pengen nikah dari dulu tapi belum bisa karena nungguin Lo sama Bang Sean nikah duluan," celetuk Sammy kemudian terkikik.
"Kak Sammy..." geram Syafiq.
Syafiq sudah mengepalkan kedua tangannya bersiap memberi pelajaran kepada Sammy, tapi tiba-tiba saja ponsel di saku jasnya berbunyi nyaring. Menghentikan niatnya untuk membalas perkataan Sammy, Syafiq kemudian mengambil ponselnya dari saku jasnya. Raut wajah Syafiq berubah serius begitu membaca nama yang tertera pada layar ponselnya itu. Syafiq kemudian mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Halo."
"......."
"Gue kesana sekarang juga."
Syafiq mengakhiri panggilan teleponnya.
"Oke. Hati-hati. Dan semoga semuanya lancar," balas Sean.
"Thanks Bang. Gue pergi dulu semuanya, assalamu'alaikum," pamit Syafiq.
"Wa'alaikumsalam," balas yang lain bersamaan.
Syafiq kemudian melangkah dengan cepat, meninggalkan acara pesta pernikahan tersebut.
"Lo nggak tanya dia mau kemana Bang?" tanya Sammy penasaran.
"Nggak perlu. Kalau sudah saatnya, Syafiq pasti cerita sendiri ke kita. Kita hanya perlu do'ain dia aja untuk saat ini," jawab Sean tenang.
"Lo emang paling bisa ngertiin kita semua Sean," kata Adrian.
"Nggak juga. Jangan dilebih-lebihkan," balas Sean merendah.
Senyum persahabatan yang begitu hangat pun terukir di wajah mereka semua.
πΈπΈπΈ
2 bulan kemudian.
"Sayang, bulan ini kayaknya kamu belum datang bulan lagi deh," kata Sean ketika Sonia sedang membantunya memakai dasi.
Ya, semenjak kejadian kehilangan waktu itu, Sean jadi semakin memperhatikan setiap hal yang berhubungan dengan Sonia, terutama masalah tamu bulanan Sonia itu. Sean beralasan kalau dia tidak ingin kecolongan lagi.
Sean bertujuan kalau seandainya benar mereka sudah diberi kepercayaan kembali oleh Allah SWT, mereka bisa mengusahakan yang terbaik sejak awal untuk pertumbuhan dan perkembangan calon buah hati mereka tersebut nantinya.
"Eh, iyakah Mas?" Sonia balik bertanya dengan mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
Sean mengangguk pelan, berusaha meyakinkan Sonia. Sonia kemudian melihat ke arah kalender yang terletak di atas nakas di samping tempat tidur. Sean selalu melingkari tanggal datang bulan Sonia sekarang. Dan memang benar ternyata ini sudah terlewat tiga hari sejak tanggal yang dilingkari oleh Sean.
"Baru juga tiga hari Mas. Bulan kemarin habis kita pulang dari honeymoon juga telat tiga hari tapi ternyata hasilnya masih negatif juga kan," kata Sonia sedikit tidak bersemangat.
Sean menyadari perubahan pada nada bicara Sonia. Sean kemudian mengangkat dagu Sonia dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Menghadapkan wajah cantik istrinya yang terlihat sedikit murung itu ke arahnya kemudian menc1um bibir Sonia lembut.
"Apa ini, hmm? Mana istri Mas yang selalu optimis dan ceria?"
"Aku hanya nggak mau Mas Sean kecewa lagi," lirih Sonia.
"Nggak ada kata-kata seperti itu sayang. Kamu masih nggak percaya sama Mas?"
"Maaf Mas. Aku nggak bermaksud gitu," sesal Sonia.
Sean kemudian menarik Sonia ke dalam pelukannya dan mencium puncak kepala istrinya itu.
"Kita periksa ya sore ini. Apapun hasilnya kita hadapi sama-sama. Mas hanya ingin yang terbaik untuk kamu, dan juga untuk dia, seandainya memang kita sudah diberi kepercayaan kembali oleh Allah SWT. Jangan pernah menjadikan ini sebagai beban sayang. Ada atau tidaknya dia, bagi Mas kamu tetap yang paling penting," kata Sean meyakinkan Sonia.
Sonia mengangguk dalam pelukan Sean.
πΈπΈπΈ
Malam hari, ruang pemeriksaan dokter kandungan.
Seorang dokter wanita nampak sedang menggerak-gerakkan transduser di atas perut Sonia yang sudah diberi gel sebelumnya. Sementara Sean menggenggam erat tangan kiri Sonia, mencoba menguatkan satu sama lain. Fokus mereka semua tertuju pada layar yang menampilkan gambaran dari hasil USG yang sedang dilakukan oleh sang dokter.
"Wah, selamat ya bapak-ibu, saat ini ibu Sonia memang sedang mengandung," kata sang dokter sumringah.
Sean dan Sonia begitu bahagia mendengar perkataan dokter tersebut. Sean bahkan langsung bangun dari duduknya dan mencium kening Sonia.
"Terima kasih banyak sayang. Terima kasih. Ini adalah hadiah terindah untuk Mas. Terima kasih karena kamu sudah memberikan kebahagiaan yang begitu besar ini. Terima kasih karena kamu sudah bersedia mengandung benih cinta kita," kata Sean dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Sonia bahkan sudah menangis saat ini. Tapi senyuman manis terukir di bibirnya.
"Sama-sama Mas. Semoga kita berdua bisa menjaganya dengan baik ya. Dan semoga kita berdua juga bisa menjadi orang tua yang terbaik untuk dia nanti," kata Sonia juga.
"Aamiin," balas Sean sembari menghapus air mata Sonia.
Dokter dan perawat tersenyum melihat interaksi pasangan suami istri di depan mereka tersebut.
"Sekali lagi selamat ya bapak dan juga ibu. Saat ini usia kehamilan ibu Sonia baru dua minggu. Dan insya Allah kondisi janinnya baik. Bapak dan ibu bisa lihat yang titik kecil hitam itu. Itu embrionya. Masih kecil memang, karena baru dua minggu. Bulan depan kita lakukan pemeriksaan kembali untuk mengecek kondisi ibu dan juga janinnya ya," kata sang dokter menjelaskan.
"Iya dok, terima kasih," balas Sean.
Mata Sean dan Sonia masih terfokus pada titik hitam kecil di layar, calon buah hati mereka. Rasa syukur yang begitu besar mereka panjatkan kepada Allah SWT atas kepercayaan yang telah dititipkan kembali oleh Allah SWT kepada mereka. Diiringi janji yang mereka ucapkan dalam hati, bahwa mereka akan menjaga kepercayaan dari Allah SWT kali ini dengan sebaik-baiknya.
...Selesai...
*Beneran berakhir ya kali ini π€
Tapi jangan khawatir, mereka semua masih akan muncul di kisah Syafiq dan Sena nanti, walaupun hanya sekilas-sekilas saja π
So, jangan lupa mampir juga ke karya keduaku ya teman-teman semuanya π*
*Ditunggu kehadiran kalian semua ya di karya keduaku π
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan koment π
Kalau mau kasih gift dan vote juga boleh banget kok π
Dan satu lagi, diriku menerima segala macam usulan, saran, dan kritik ,,, karena diriku menyadari bahwa tulisanku ini masih jauh dari kata sempurna π
Terima kasih banyak untuk dukungan kalian semua selama ini π
__ADS_1
Salam sayang π
iin nuryati*