
Di dalam ruang bersalin.
Suci sedang memijat punggung Sonia yang saat ini kembali merasakan kontraksi, berusaha sedikit meredakan rasa sakit yang saat ini sedang dirasakan oleh putri sulungnya itu. Sementara Sheila mengusap peluh yang membanjir di wajah dan leher Sonia kemudian mengelus lembut kepala menantunya tersebut.
"Ibu, Bunda, tolong maafin kakak sama Mas Sean ya kalau selama ini kami ada salah sama ibu dan juga Bunda," pinta Sonia setelah kontraksinya mereda.
"Iya, sayang. Kalian nggak ada salah kok sama kami. Misalpun ada, tanpa kamu minta maaf pun kami juga pasti udah maafin kesalahan kalian itu," balas Sheila yang juga diangguki oleh Suci sebagai tanda setuju.
"Sekarang kakak udah ngerasain gimana susahnya perjuangan ibu dan Bunda dulu untuk melahirkan kami ke dunia ini. Oleh karena itu, tolong maafkan jika selama ini kami banyak salah sama ibu dan juga Bunda, ya," lanjut Sonia lagi di sela-sela ringisannya menahan rasa sakit yang sepertinya akan kembali menghampiri.
Hati Suci dan Sheila mencelos seketika mendengar perkataan Sonia tersebut. Sheila kemudian merengkuh tubuh Sonia ke dalam pelukannya. Suci tersenyum seraya mengelus-elus punggung Sonia. Merasa bahagia dan bersyukur karena putrinya memiliki ibu mertua yang begitu menyayanginya.
"Jangan berpikiran yang macam-macam ya, sayang. Kami semuanya sayang sama kalian dan kami selalu mendo'akan yang terbaik untuk kalian, nak. Kamu harus kuat ya, sayang," kata Sheila.
"Kakak harus semangat, ya. Do'a ibu, Bunda, dan juga yang lainnya selalu menyertai kakak. Semoga dilancarkan persalinannya dan kakak serta adek bayi sehat semua, aamiin," imbuh Suci juga sekaligus mendo'akan.
"Aamiin," balas Sonia dan Sheila bersamaan.
"Makasih banyak ya ibu, Bunda," kata Sonia.
"Iya, sayang," balas Suci dan juga Sheila.
Ceklek.
Pintu ruangan terbuka menampakkan Sean yang berjalan dengan tergesa memasuki ruangan bersalin tersebut.
"Assalamu'alaikum," sapa Sean.
"Wa'alaikumsalam," jawab semua yang ada di dalam ruangan bersalin tersebut.
__ADS_1
"Akhirnya kamu datang juga, Bang," kata Sheila.
"Iya Bun. Maaf kalau lama, lagi di luar tadi," balas Sean yang langsung memposisikan diri di sebelah Sonia, mencium puncak kepala Sonia kemudian merangkul pundak istri tercintanya itu.
Karena Sean selaku suami Sonia sudah datang, dokter pun kemudian hendak memulai proses persalinan Sonia. Sebelumnya, Suci dan Sheila terlebih dahulu dipersilahkan untuk keluar.
Dokter meminta Sean untuk terus membantu menyemangati dan menguatkan Sonia selama proses persalinan nanti.
Proses persalinan akan segera dimulai karena pembukaan Sonia juga sudah sempurna. Sean menggenggam tangan kanan Sonia yang terbebas dari jarum infus.
"Bismillah ya, sayang. Mas yakin kamu pasti bisa. Kamu kuat, kamu hebat sayang. Mas tau itu," kata Sean menyemangati Sonia.
Sonia mengangguk mengiyakan. Sean kemudian mencium kening istri tercintanya tersebut.
Dokter kemudian mulai memberi arahan kepada Sonia untuk mengambil nafas dan bersiap untuk mengejan. Dan Sonia pun kemudian mengejan sesuai dengan instruksi dan arahan yang diberikan oleh dokter.
Beruntungnya mereka karena proses persalinan Sonia tidak membutuhkan waktu yang lama. Sekitar setengah jam kemudian suara tangisan bayi mungil sudah menggema memenuhi ruang persalinan tersebut.
"Selamat ya bapak-ibu, bayinya berjenis kelamin laki-laki dan sehat," kata sang dokter dengan tersenyum.
Sean dan Sonia pun ikut tersenyum bahagia. Sean kemudian kembali mencium kening Sonia.
"Terima kasih banyak ya, sayang. Terima kasih untuk perjuangan kamu yang sangat hebat demi melahirkan putra pertama kita dengan selamat. Terima kasih sayang. Mas sangat mencintai kamu," kata Sean yang kemudian sekali lagi mencium kening Sonia.
🌸🌸🌸
Sean berjalan keluar melewati pintu ruangan bersalin seraya mendorong box bayi akrilik dari kaca yang berisikan bayi mungilnya. Seorang perawat yang tadi membukakan pintu untuk Sean kemudian mengikuti di belakangnya.
Steven, Sheila, Suci, Syafiq, Sena, Adrian, Safa, Dennis, Sendy, dan Nadirga pun kompak langsung berdiri kemudian menghampiri Sean dan bayinya tersebut. Kebetulan waktu sudah bertepatan dengan jam makan siang. Itu kenapa Steven, Syafiq, dan Adrian juga sudah berada disana.
__ADS_1
"Subhanallah," pekik lirih Sheila dan yang lainnya, merasa sangat bahagia melihat Sean bersama bayi mungilnya.
"Laki-laki atau perempuan, Sean?" tanya Suci.
"Alhamdulillaah, bayi laki-laki yang sehat, Bu," jawab Sean.
"Alhamdulillaah hirobbil 'aalamiin,,," sambut bahagia semua yang ada disana.
"Gimana keadaan Sonia, Bang?" tanya Sheila lagi.
"Alhamdulillaah Sonia juga baik-baik saja, Bun. Tadi masih ada beberapa tindakan dari dokter pasca melahirkan. Ini dedek bayinya mau dibawa ke ruangan bayi dulu untuk observasi lebih lanjut," jawab Sean.
"Syukurlah kalau begitu," balas Sheila dan Suci bersamaan.
"Udah ada namanya, Bang?" tanya Steven.
"Kebetulan udah ada, Yah. Shailendra Arshaka Setyo Aji," jawab Sean begitu bangga.
"Subhanallah, namanya bagus banget, Bang," Safa dan Sena menanggapi.
"Abang berharap semoga nantinya dia bisa tumbuh menjadi seorang pemimpin yang tangguh, yang memiliki pengetahuan yang luas dan juga murah hati serta pandai bersyukur," kata Sean lagi seraya tersenyum.
"Subhanallah. Aamiin Yaa Allah," balas yang lainnya menanggapi bersamaan.
Sean tersenyum bangga dan bahagia karena sekarang dirinya sudah menjadi seorang ayah. Keluarga kecilnya bersama Sonia semakin lengkap sekarang dengan hadirnya putra pertama mereka tersebut.
Semua yang hadir disana pun juga ikut tersenyum dan merasa bahagia. Mereka kemudian satu per satu mengucapkan selamat kepada Sean atas kelahiran putra pertama Sean dan Sonia, baby Shailendra Arshaka Setyo Aji.
...ΩΩΩΩΩΩΩ Selesai ΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1