Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Ikatan Batin ( 1 )


__ADS_3

"ABAAANG!!!" Sheila terbangun dari tidurnya seraya menjerit.


Steven yang sedang tertidur di sebelahnya pun seketika ikut terbangun.


"Ada apa sayang?" tanya Steven panik ikut mendudukkan tubuhnya dan mengelus pundak Sheila lembut.


"Bunda mimpiin Sean, Yah," jawab Sheila dengan raut wajah cemas.


"Bunda pasti kepikiran sama Sean karena dia seharian ini belum ngabarin Bunda sama sekali, makanya sampe kebawa mimpi kayak gitu," kata Steven.


"Bunda telepon Sean sekarang ya, Yah?" Sheila meminta ijin kepada Steven.


Steven melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya, pukul 01.30 dini hari.


"Ya udah, daripada Bunda nggak bisa tenang sampai besok," jawab Steven memberikan ijinnya.


Sheila kemudian mengambil ponselnya yang berada di atas meja nakas di samping tempat tidur.


🌸🌸🌸


Saat ini Sean, Sonia, Adrian, Nadirga, Ahmad, Ismail, Ayu, dan Erna sudah kembali ke kost-an Sonia.


"Om sama Ismail pulang sekarang aja ya, udah malem banget, takutnya nanti dicariin sama Tante juga," kata Sonia.


"Kamu nggak pa-pa nak kalau kami tinggal?" tanya Ahmad.


"Kan sekarang sudah ada Sean Om. Om tenang aja, Sean pasti jagain Ana dengan baik. Tinggal beresin barang-barang habis itu Ana ikut Sean pindah ke apartemen Sean. Jadi Om tenang saja, Ana aman bersama Sean," jelas Sean meyakinkan.


Sonia sedikit terkejut dengan perkataan Sean, tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau harus ikut pindah ke apartemen Sean, bahkan langsung saat ini juga.


"Beneran Ana, kamu nggak pa-pa kalau Om tinggal sekarang?" tanya Ahmad lagi meyakinkan dirinya sendiri.


"Iya Om, Ana nggak pa-pa kok," jawab Sonia dengan tersenyum lembut.


"Ya udah, kalau gitu Om sama Ismail balik sekarang ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi Om."


"Iya Om," kata Sonia.


"Nak Sean, Om balik dulu. Om titip Ana sama kamu ya."


"Tentu Om, Ana tanggung jawab saya sekarang."


Sonia mencium punggung tangan Ahmad, Sean mengikutinya. Ismail pun kemudian mencium punggung tangan Sonia dan Sean.


"Om sama Ismail pulang dulu ya. Mari semuanya, kami pamit dulu. Assalamu'alaikum," pamit Ahmad pada yang lain juga.


"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya.


"Hati-hati ya Om," pesan Sonia dan Sean bersamaan.

__ADS_1


Ahmad tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Ahmad dan Ismail pun meninggalkan kamar kost tersebut.


"Ana, kamu bawa aja barang-barang pribadi kamu yang penting. Yang lainnya kamu tinggal aja, atau boleh juga kamu kasih ke Mbak Ayu sama Mbak Erna," kata Sean.


"I-iya Pak," balas Sonia sedikit gugup.


"Kok masih 'Pak' sih manggilnya, udah sah loh kalian," goda Adrian.


Sonia nampak semakin salah tingkah digoda Adrian seperti itu, begitu juga dengan Sean. Suasana seketika menjadi canggung di antara Sean dan Sonia. Tapi kemudian ponsel Sean yang berdering memecah kecanggungan di antara mereka berdua.


'Bunda?'


"Dirga tolong bantu Ana beresin barang-barang dia ya. Abang angkat telepon dari Bunda dulu," kata Sean.


"Oke Bang," balas Nadirga.


"Sebentar ya," pamit Sean kepada Sonia.


Setelah mendapat anggukan kepala dari Sonia, Sean pun berjalan keluar untuk menerima telepon dari Sheila tersebut.


"Assalamu'alaikum Bunda," sapa Sean setelah menggeser tombol hijau pada ponselnya.


Sean saat ini mendudukkan tubuhnya di kursi panjang di halaman kost yang tadi sempat dia duduki bersama dengan Sonia.


"Wa'alaikumsalam Abang. Abang baik-baik aja kan?"


"Abang baik-baik aja kok Bun. Maaf ya kalau seharian ini Abang nggak hubungin Bunda."


"Ada apa Bunda telepon malam-malam? Ini udah malem banget loh, Bunda nggak tidur?"


"Bunda tadi kebangun gara-gara mimpiin Abang."


"Mimpiin Abang? Emang Bunda mimpiin Abang gimana? Kok kayaknya panik banget," tanya Sean.


"Bunda mimpi Abang lagi duduk di bawah pohon sambil baca buku. Eh tiba-tiba Abang digigit sama ular. Ya Bunda langsung kebangun dong karena panik," jawab Sheila dari seberang panggilan.


"Digigit ular? Kok tadi Bunda nggak cerita sih sama Ayah?"


Terdengar suara Steven ikut menyahuti, sepertinya Sheila menghidupkan loud speaker di ponselnya.


"Maaf Yah, tadi Bunda keburu panik, pengen cepet-cepet hubungin Abang."


"Eh, tapi kalau mimpi digigit ular, bukannya itu berarti Abang akan segera dapet jodoh ya Bun?" celetuk Steven.


Deg!!!


Sean seakan tertampar dengan perkataan Steven, yang sesuai dengan keadaan Sean saat ini. Sean semakin merasa bersalah karena belum memberitahu tentang masalah pernikahannya dengan Ana kepada kedua orang tuanya. Bahkan Bunda sampai bermimpi seperti itu.


"Itu kan cuma mitos Yah. Tapi Bunda nggak tau juga sih."

__ADS_1


"Hmm, kalau benar mimpi Bunda itu pertanda jodoh Abang udah deket, wah berarti kita bisa nyusulin Ken sama Leon dong Bun. Kita juga bisa segera mantu kayak mereka. Yah, nggak pa-pa deh Ayah kalah, mereka yang lebih dulu mantu daripada Ayah. Tapi Ayah akan segera nyusul mantu juga, hehehe" kata Steven riang kemudian tertawa.


"Ish, Ayah apaan sih. Mantu kok dijadiin ajang saingan. Jodoh anak kan masing-masing Yah, ada yang deket ada yang jauh."


Sean tersenyum simpul mendengar perdebatan ringan kedua orang tuanya.


'Ayah nggak kalah. Ayah yang lebih dulu mantu daripada Papih Ken dan Papa Leon,' kata batin Sean.


'Maafin Sean ya Yah, Bun. Sean nggak ada maksud buat nyembunyiin semua ini. Tapi Sean juga butuh waktu untuk bisa menceritakan tentang pernikahan Sean dengan Ana kepada Ayah dan Bunda. Semuanya terlalu mendadak dan diluar rencana. Dan Sean yakin, berita ini pasti akan menjadi berita heboh di keluarga besar kita.'


Sean larut dalam pemikirannya sendiri. Mengabaikan perdebatan kecil Ayah dan Bunda-nya yang masih berlangsung.


"Eh, kok kita malah jadi debat sendiri gini sih Yah? Bunda kan lagi telponan sama Abang. Duh, maaf ya Bang, Abang malah jadi terlupakan. Gara-gara Ayah nih, ngajakin Bunda debat mulu," kata Sheila.


Sean pun seketika tersadar dari lamunannya sendiri.


"Nggak pa-pa kok Bun. Udah imun Abang kalau cuman dengerin Ayah sama Bunda debat kayak gitu. Makanan sehari-hari, jadi nggak kaget lagi deh," jawab Sean.


"Ihh, Abang kok ngomongnya gitu sih," rajuk Sheila.


"Belum ngerasain aja kamu Bang. Entar kalau Abang udah punya istri, moment-moment debat kayak gini tuh yang justru makin mempererat hubungan suami istri. Apalagi kalau diakhiri dengan debat di ranjang, beuh... mantap lah Bang," seloroh Steven.


"Ayah isshhh, ngomongnya itu loh," tegur Sheila.


"Nggak pa-pa lah Bun. Abang kan udah gede, udah waktunya buat nikah juga. Justru ini tuh itung-itung pelajaran buat Abang, biar pas udah nikah nanti bisa dipraktekin langsung."


"Ayaaahhh!!!"


"Hahaha, iya Bun iya. Ampun,,, udah Bun, jangan digelitikin lagi," kata Steven sambil terus tertawa.


Senyum tersungging di bibir Sean, melihat hubungan kedua orang tuanya yang masih begitu harmonis sampai sekarang. Secuil do'a Sean panjatkan di dalam hatinya, semoga nanti Sean dan Ana juga bisa terus harmonis seperti Ayah dan Bunda-nya, meskipun pernikahan mereka begitu mendadak dan tidak seperti yang mereka rencanakan.


"Udah ah, capek Bunda. Ayah ini ya, Bunda telpon kan mau ngomong sama Abang, kenapa jadi debat sama Ayah mulu sih, sampai Abang dilupain. Maaf ya Bang," sesal Sheila.


"Nggak pa-pa kok Bun," balas Sean.


"Ya udah kalau gitu, Bunda cuma pengen tau keadaan Abang aja tadi. Dan sekarang Bunda udah lega karena ternyata Abang baik-baik saja. Kalau gitu Bunda tutup dulu telponnya ya Bang. Abang lanjutin aja istirahat Abang. Assalamu'alaikum."


"Iya Bun, wa'alaikumsalam."


Sambungan telepon pun terputus. Sean menghela nafas berat.


"Maafin Abang ya Yah, Bun."


Sean kemudian berbalik dan berjalan kembali ke kamar kost Sonia. Namun belum juga Sean sampai ke kamar kost Sonia, Sean dikejutkan dengan Sonia yang sedang menangis. Sonia sedang duduk di kursi di depan kamar kost Ayu, bersama dengan Adrian.


Kening Sean mengerut, kebingungan nampak jelas di wajahnya. Sean pun segera menghampiri Sonia dan Adrian.


"Kenapa Lo buat istri gue sampai nangis kayak gitu, Yan?" tanya Sean tiba-tiba setelah berada di dekat mereka.

__ADS_1


Sonia dan Adrian yang terkejut pun langsung mengalihkan pandangan ke arah Sean yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.


__ADS_2