Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Kehidupan Baru


__ADS_3

Safa sedang berada di balkon apartemen saat ini. Duduk nyaman di bean bag dengan menyandarkan punggungnya. Melihat kumpulan awan putih yang berarak di langit kota London yang cerah sore itu.


"Assalamu'alaikum," sapa Adrian membuat Safa sedikit terlonjak karena kaget.


Safa mengalihkan pandangannya ke arah pintu balkon kemudian tersenyum kecil melihat Adrian yang sedang berdiri bersandar pada pintu kaca sedang tersenyum manis padanya.


"Wa'alaikumsalam."


"Mas ngagetin ya?" tanya Adrian kemudian duduk di bean bag di sebelah Safa.


"Sedikit," jawab Safa tidak bersemangat.


"Berarti tadi kamu pasti lagi ngelamun," tebak Adrian.


Safa hanya menarik sedikit bibirnya sebagai jawaban.


"Sebelum pindah apa Sonia pernah bercerita sesuatu sama kamu?" tanya Adrian.


Safa menggelengkan kepalanya pelan.


"Sonia cuma pernah cerita kalau ayahnya sedang ada masalah perusahaan, sedikit berat sepertinya karena ayahnya selalu menghabiskan waktu di ruang kerjanya bersama dua temannya. Sonia juga pernah cerita kalau dia dan adik-adiknya tidak pernah bisa memiliki waktu bersama dengan ayahnya lagi, bahkan hanya sekedar berkumpul pun, sulit sekali. Sonia sering murung kalau di sekolah. Sampai pada akhirnya Sonia tiba-tiba pindah tanpa berpamitan sama sekali."


Safa kembali terisak dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Adrian merasakan dadanya ikut sesak melihat kesedihan Safa. Tangan Adrian terulur untuk membelai lembut kepala Safa.


"Kenapa Sonia pergi nggak bilang apapun ke Safa Mas?" isak Safa terdengar memilukan.


Adrian yang tidak tahan pun akhirnya menarik Safa ke dalam pelukannya. Terus diusapnya kepala dan punggung Safa berulang-ulang.


"Udah ya, jangan nangis lagi. Mungkin ada sesuatu hal yang menyebabkan Sonia harus pergi tanpa sempat berpamitan dulu sama kamu. Kita do'akan aja ya semoga dimanapun Sonia dan keluarganya berada saat ini, semoga mereka dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Okey," hibur Adrian.


Safa mengangguk kecil di dalam pelukan Adrian. Sean yang melihat interaksi Safa dan Adrian dari pintu mengurungkan niatnya untuk mendekati keduanya. Membiarkan Adrian menenangkan Safa, Sean pun memilih naik ke atas hendak membersihkan dirinya di kamar mandi di kamarnya.


🌸🌸🌸


"Dek, besok kamu udah mulai masuk sekolah. Udah kamu siapin semuanya?" tanya Sean di sela-sela makan malam mereka.


"Udah kok Bang, dibantuin Mas Rian tadi."


"Baguslah. Besok pagi Abang sama Mas Rian juga yang akan nganterin kamu ke sekolah sebelum kita berangkat ke kampus," kata Sean.

__ADS_1


"Iya Bang."


Selesai makan malam Sean pamit mau mengerjakan tugas kuliah. Adrian menemani Safa menonton televisi di ruang keluarga.


"Mas Rian kangen senyum Safa," celetuk Adrian tiba-tiba ketika televisi sedang menayangkan iklan.


Safa menoleh kepada Adrian yang duduk di sebelahnya. Sedikit kaget mendengar perkataan Adrian tadi.


"Mas Rian kangen Safa yang ceria, penuh semangat, dan selalu bisa membuat semua orang tertawa bahagia," kata Adrian, matanya mengunci dua bola mata Safa yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Bangkit Safa. Mas Rian yakin kamu pasti bisa. Tunjukkan kalau kamu kuat. Banyak yang sayang dan mendukung kamu. Jangan kecewakan mereka. Jadi pribadi yang kuat dan sukses. Sonia pasti juga sedih kalau melihat kamu terpuruk seperti ini."


Air mata sudah mengalir deras di pipi Safa. Adrian menarik Safa ke dalam pelukannya.


"Mas tau ini berat buat kamu. Tapi kalau kamu terus terpuruk seperti ini, kamu juga akan membuat semua orang yang menyayangi kamu jadi sedih, termasuk Mas."


"Mas mohon bangkitlah Safa. Lawan kesedihanmu. Banyak orang yang menyayangi kamu. Kami semua akan selalu mendukungmu. Buka lembaran kehidupan baru, kami rindu Safa kami yang dulu. Biarkan semuanya mengalir, kita jalani saja sesuai alur yang dituliskan Tuhan untuk kita. Dan jika memang Tuhan menghendaki, maka kamu dan Sonia pasti bisa bertemu lagi suatu saat nanti."


Safa semakin terisak di dalam pelukan Adrian.


"Menangislah sepuasmu Safa. Tapi berjanjilah, ini untuk yang terakhir kali. Besok kamu akan bangun dan menjadi Safa yang biasanya. Kamu mau kan sayang janji sama Mas?"


"Mas Rian yakin kamu pasti bisa."


"Iya Mas."


Diam-diam ternyata Sean memperhatikan mereka berdua dari lantai atas. Mengesah pelan, tidak tega melihat keadaan sang adik yg seperti itu.


Jam sembilan malam, Sean mengetuk pintu kamar Safa kemudian membuka pintu itu perlahan.


"Abang boleh masuk Dek?"


"Masuk aja Bang," jawab Safa yang masih membaca buku sambil bersandar pada kepala ranjang.


Sean kemudian masuk dan duduk di ranjang menghadap ke arah sang adik.


"Do you feel better?"


Safa tersenyum lembut, senyum yang tidak sampai ke hatinya. Sean tau senyum Safa itu hanya agar Sean tidak merasa khawatir berlebihan.

__ADS_1


Sean beranjak ke sebelah Safa lalu memutar tubuhnya, ikut menyandar pada kepala ranjang.


"Abang bener-bener penasaran deh, sebaik apa sih temen kamu yang namanya Sonia itu, kok sampai bisa buat kamu nangis-nangis kayak gini?"


Pertanyaan dari Sean itu bukan sebuah sindiran, tapi karena Sean benar-benar ingin tahu, Safa paham itu. Safa menyandarkan kepalanya di bahu Sean.


"Sonia itu baik banget Bang. Orangnya dewasa banget. Pendengar yang baik saat kita pengen curhat, sekaligus pemberi nasehat dan pencari solusi yang bisa diandalkan. Dia juga paling bisa diandalkan kalau ada tugas sekolah yang sulit. Tapi dia nggak sombong, nggak pernah merasa paling hebat, justru selalu rendah hati," Safa memulai ceritanya.


"Banyak anak cowok yang suka sama Sonia, karena selain baik Sonia juga cantik banget Bang, kecantikan yang alami tanpa polesan make up berlebihan. Tapi Sonia selalu nolak mereka semua, dengan alasan mau fokus belajar dulu. Ah, untuk sifatnya yang satu itu Sonia mirip banget deh sama Abang. Prinsip kalian sama banget. Fokus belajar untuk mencapai cita-cita dan jadi sukses biar bisa bahagiain orang tua dan jadi kebanggaan keluarga. Salut deh Safa sama dia Bang."


Tanpa sadar bibir Sean tertarik ke atas mendengar cerita adiknya itu, ternyata ada juga yang memiliki pemikiran sama seperti dirinya.


Cerita demi cerita tentang persahabatan Safa dan Sonia terus mengalir dari bibir mungil Safa, dan Sean dengan sabar terus mendengarkan cerita adiknya itu. Sampai akhirnya Safa tertidur karena kelelahan.


Sean merebahkan Safa pelan-pelan. Menyelimuti Safa kemudian mencium kening adiknya itu.


"Have a nice dream. Tidur yang nyenyak ya Dek. Semoga sesuai janji kamu, besok keceriaan itu sudah kembali sama kamu, meski Abang tau itu berat," bisik Sean kepada Safa.


Sean lalu keluar dari kamar Safa. Tidak sengaja berpapasan dengan Adrian yang membawa pitcher air di tangannya. Sean menghampiri Adrian kemudian memegang pundak sahabatnya itu.


"Thanks for everything you've done for Safa. Gue percaya sama Lo Bro, Lo pasti akan jagain adek gue dengan baik. Semoga perasaan Safa juga nggak akan berubah sampai dia dewasa nanti."


Adrian tersenyum. Sean terlalu peka untuk dibohongi. Tapi dia bersyukur karena secara tidak langsung Sean sudah memberikan restu untuk Adrian terus berjuang.


🌸🌸🌸


Sementara itu di sebuah desa kecil, jauh dari keramaian kota. Sonia sedang membantu neneknya memetik sayuran di kebun belakang rumah mereka. Terkadang ingatan itu datang tanpa bisa dicegah, alasan kenapa mereka semua berada di desa kecil ini sekarang.


Meninggalkan kehidupan mewah dan hingar bingar ibu kota, Sonia pun terpaksa meninggalkan sahabat-sahabatnya bahkan tanpa sempat berpamitan kepada mereka.


Semua karena persaingan bisnis yang begitu kejam. Yang memaksa keluarganya mau tidak mau harus pergi meninggalkan kehidupan mereka di ibu kota. Dengan bantuan beberapa sahabat Ayah-nya yang sangat bisa diandalkan, keluarga Wicaksono dibuat seakan menghilang begitu saja.


Tentu saja ada alasan kuat dibalik semua itu, ancaman dari pihak lawan yang bahkan menginginkan Sonia yang masih belia untuk dijadikan istri muda. Orang tua mana yang akan rela membiarkan putrinya terjerumus ke dalam neraka dunia.


Oleh karena itu dengan berat hati keluarga Wicaksono yang sudah kalah bersaing pun terpaksa pergi dan menghilang. Kehilangan semua harta dan kekuasaan yang dimiliki. Bersyukur masih ada sahabat-sahabat yang bersedia membantu pelarian mereka. Karena bukan hal yang mudah untuk bisa lari dan lepas dari cengkraman pengusaha besar sekelas RKG.


Dan sebuah keberuntungan lainnya, karena istri dan anak-anak yang bersedia untuk hidup susah, asalkan semua masih bisa berkumpul. Saat ini mereka tinggal di kampung halaman sang ibu, di sebuah desa kecil yang jauh dari keramaian kota.


Ikhsan Wicaksono dan istrinya, Suci, yang keduanya adalah orang tua Sonia. Sekarang suami istri itu membuka usaha toko kelontong kecil dan juga warung makan. Sonia dan kedua adiknya, Sendy dan Denis, akan dengan senang hati membantu kedua orang tuanya sepulang sekolah. Mereka juga akan dengan senang hati membantu sang nenek dan kakek mengolah kebun di belakang rumah pada sore hari, seperti saat ini.

__ADS_1


Sebuah kehidupan baru yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tapi tetap harus mereka jalani, apapun keadaannya. Karena hidup akan terus berjalan, meski seringkali tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita hanya harus bisa bersikap bijak dalam menjalaninya. Dan hal itulah yang sedang coba dilakukan oleh Sonia dan keluarganya saat ini.


__ADS_2