
Sonia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Pergulatan mereka selesai hampir jam setengah dua dini hari. Dan Sean langsung tertidur pulas setelahnya, mungkin karena kelelahan juga. Sementara Sonia masih terjaga sampai sekarang. Beberapa hal menganggu pikirannya sehingga Sonia kesulitan untuk memejamkan matanya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari. Perlahan-lahan Sonia bangun dari posisi berbaringnya. Merasakan sakit dan pegal di seluruh tubuhnya, terutama perih di bagian kewanitaannya. Meringis pelan menahan sakit, Sonia perlahan turun dari tempat tidur. Berjalan tertatih menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai melakukan mandi junub, Sonia kemudian berwudhu dan melaksanakan sholat tahajud. Selesai sholat dan melipat kembali mukenanya, Sonia melihat selimut Sean yang turun sampai ke perut bagian bawahnya.
Sadar jika sang suami masih dalam keadaan polos Sonia segera membenarkan letak selimut tersebut. Namun pandangan Sonia seketika jatuh pada noda merah di atas sprei. Sonia mendudukkan dirinya di pinggiran tempat tidur.
Jujur, Sonia tidak menyesal karena sudah memberikan mahkotanya kepada Sean yang berstatus sebagai suaminya. Hanya saja, semuanya terjadi di luar kesadaran Sean. Entah bagaimana reaksi suaminya itu nanti.
Sonia tidak menyadari sudah berapa lama dirinya hanyut dalam lamunannya. Dan ketika suara adzan subuh pada aplikasi di ponselnya berbunyi, kesadaran Sonia pun tertarik kembali. Sonia segera beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lagi kemudian melaksanakan ibadah sholat subuh setelahnya.
Selesai sholat subuh Sonia kemudian berniat untuk membangunkan Sean.
"Mas,,," panggil Sonia seraya mengguncang pelan bahu Sean.
Tiga kali panggilan dan Sean hanya merespon dengan sedikit menggeliatkan tubuhnya serta bergumam tidak jelas.
"Mas, bangun. Sholat subuh dulu," panggil Sonia untuk kesekian kalinya.
Perlahan-lahan Sean mulai membuka matanya. Mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu di kamar mereka.
"Hmm?" tanya Sean yang belum pulih kesadarannya.
"Udah waktunya sholat subuh. Mas bangun, mandi, habis itu sholat ya. Maaf aku udah sholat duluan tadi."
"Hmm," balas Sean seraya menutup mulutnya yang sedang menguap.
"Aku ke bawah dulu ya Mas bikin sarapan," pamit Sonia.
Sean hanya membalas dengan menganggukkan kepalanya. Setelah Sonia keluar dari kamar mereka, Sean pun bangun dan mendudukkan tubuhnya. Memijat pelipis kanannya, Sean masih merasakan sedikit pusing di kepalanya. Dan ketika Sean menyibak selimutnya Sean langsung membulatkan kedua matanya karena terkejut.
"Astaga," lirih Sean ketika mendapati dirinya dalam keadaan polos dan terdapat noda darah pada sprei di sebelahnya.
Sean meraup wajahnya kasar. Ingatannya langsung tertarik pada kejadian malam panas yang sudah dia lewati bersama dengan Sonia beberapa jam yang lalu.
Sean masih mengingat dengan jelas setiap detail kejadiannya. Sean juga ingat kalau dia mengulanginya sampai tiga kali. Dan itu semata bukan hanya karena efek obat melainkan karena Sean yang merasa belum puas dengan kenikmatan baru yang baru saja dia alami dan rasakan sehingga Sean menginginkan lebih.
"Apa yang udah aku lakuin? Sonia pasti kecewa banget," keluh Sean lirih.
Sean segera turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi. Selesai mandi dan sholat Sean segera turun ke bawah. Begitu sampai di dapur, Sean melihat Sonia yang sedang sibuk memasak.
"Mas udah selesai?" tanya Sonia dengan menolehkan kepalanya sebentar setelah menyadari kedatangan Sean.
"Hmm," gumam Sean sebagai jawaban.
"Duduk dulu Mas. Ini lagi aku buatin kopi buat Mas."
Menuruti perkataan Sonia, Sean kemudian mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan. Tidak lama kemudian Sonia datang dengan membawa secangkir kopi di tangannya.
"Silahkan Mas."
"Makasih."
__ADS_1
Sonia tersenyum sebagai jawaban. Sonia kemudian berbalik, hendak melanjutkan aktivitas memasaknya. Sean melihat cara berjalan Sonia yang sedikit berbeda. Agak kesusahan karena menahan rasa sakit pada bagian pangkal pahanya. Merasa begitu bersalah Sean kemudian bangkit dari duduknya.
Grep!!!
Sean langsung memeluk Sonia dari belakang. Sesaat Sonia sempat terkejut, namun kemudian tersenyum kecil.
"Maaf. Tolong maafkan Mas yang udah egois. Tolong maafkan Mas yang udah memaksakan kehendak Mas ke kamu. Tolong maafkan Mas yang udah buat kamu kecewa. Maaf Sonia, maaf," ucap Sean dengan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sonia yang saat ini tidak mengenakan hijab.
Sonia tersenyum lagi. Merenggangkan pelukan Sean, Sonia kemudian berbalik dan menghadap ke arah Sean.
"Mas nggak salah apa-apa, kenapa Mas harus minta maaf?"
Sean menunduk, menyatukan keningnya dengan kening Sonia. Sean memejamkan kedua matanya. Penyesalan nampak jelas di wajah Sean.
"Mas udah memaksakan kehendak Mas ke kamu semalem. Maaf, pengaruh obat itu bener-bener bikin Mas nggak bisa ngendaliin diri Mas," sesal Sean dengan penuh penyesalan kepada Sonia.
"Mas bener-bener merasa bersalah sama kamu. Tolong maafin Mas ya sayang," lanjut Sean yang memanggil Sonia dengan sebutan sayang, membuat Sonia tersenyum lembut.
"Mas tau kamu pasti kecewa banget sama Mas. Tolong maafin Mas ya sayang."
"Mas nggak salah kok. Aku juga nggak merasa kecewa sama Mas. Seperti yang Mas bilang semalem, itu udah kewajiban aku sebagai seorang istri Mas. Bahkan meski tanpa pengaruh obat pun, seandainya Mas meminta hak Mas sebagai seorang suami, aku nggak akan nolak."
Seketika Sean membuka matanya dan mengangkat wajahnya.
"Sungguh?"
Sonia kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Enggak kok Mas."
"Kamu nggak kecewa sama Mas?"
"Enggak Mas."
"Beneran?"
"Iya bener."
"Berarti nanti Mas minta lagi boleh kan?"
"Maaassss..."
"Tapi rasanya benar-benar menakjubkan loh sayang. Makanya semalem Mas nggak puas kalau cuma sekali."
"Mas Sean..."
"Hahahahaha, iya-iya sayang. Maaf deh maaf."
Sean sangat suka menggoda Sonia. Apalagi kalau sudah melihat wajah Sonia yang memerah karena malu. Sean mengelus lembut rambut Sonia kemudian menarik Sonia ke dalam pelukannya. Keduanya berpelukan hangat, menyalurkan perasaan kasih dan sayang masing-masing.
🌸🌸🌸
Karena sekarang adalah hari Minggu jadi Sean dan Sonia pulang ke rumah Steven. Seperti biasa kedatangan mereka selalu disambut dengan hangat.
__ADS_1
Para laki-laki sedang berbincang di ruang keluarga ketika Sheila, Sonia, dan Safa sedang memasak bersama di dapur untuk makan siang dengan dibantu oleh asisten rumah tangga Sheila.
"Sonia, ikut Bunda sebentar, sayang," kata Sheila.
"Iya Bun."
Sonia kemudian mengikuti langkah Sheila yang menjauh dari dapur menuju ke taman belakang. Sonia dan Sheila duduk di kursi rotan yang ada di dekat kolam renang.
"Minum ini sayang," kata Sheila mengangsurkan sebuah obat dan segelas air putih kepada Sonia.
"Ini obat apa Bun?" tanya Sonia bingung setelah menerima obat yang diberikan oleh Sheila.
"Pereda rasa nyeri. Biar kamu bisa lebih nyaman saat jalan."
"Bunda," kata Sonia dengan wajah yang sudah memerah menahan malu.
"Baru yang pertama ya semalem? Abang nggak main kasar kan?" tanya Sheila setengah berbisik.
"Bunda,,," rajuk Sonia lagi.
Sheila tertawa kecil.
"Maaf deh. Bunda nggak ada maksud buat ngeledek kamu kok. Kan Bunda dulu juga pernah ngalamin. Makanya Bunda tau," kata Sheila masih dengan sisa tawanya.
"Semoga segera jadi ya. Bunda udah nggak sabar pengen nimang cucu," lanjut Sheila lagi.
"Aamiin Bun," jawab Sonia lirih dengan wajah yang sudah memerah karena malu.
🌸🌸🌸
"Apa-apaan ini?" tanya Grizelle marah sambil melangkah masuk ke dalam ruangan bos agensi model tempatnya bekerja.
Sang bos nampak duduk tenang di kursi kebesarannya memeriksa beberapa dokumen. Dia kemudian mendongakkan kepalanya melihat kedatangan Grizelle yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam ruangannya.
"Kenapa tiba-tiba job iklan gue digantiin sama orang lain? Nggak cuma satu, bahkan semuanya. Ada masalah apa sih ini sebenarnya?" tanya Grizelle lagi emosi.
"Ini semua baru peringatan saja," jawab seseorang dengan suara tegasnya.
Grizelle membalikkan badannya. Dan betapa terkejutnya Grizelle melihat Sean yang sudah duduk manis di sofa di dalam ruangan tersebut.
"Sean?" tanya Grizelle tidak percaya.
"Jangan berani untuk mengusik gue lagi. Ini baru peringatan kecil saja. Sekali lagi Lo berani cari masalah, jangan salahkan gue kalau perusahaan bokap Lo gue hancurin dalam sekejap," ancam Sean tegas seraya berdiri dari duduknya.
"Maksud kamu apa sih Sean?" tanya Grizelle berpura-pura tidak mengerti.
"Gue tau apa yang Lo lakuin kemarin di pesta Monic. Pelayan yang Lo bayar udah gue dapetin dan dia udah ngomong jujur ke gue tentang semua rencana busuk Lo. Gue bahkan juga udah dapet rekaman CCTV dari pihak hotel. Jangan lagi Lo berani cari masalah sama gue. Atau Lo akan tau sendiri akibatnya."
"Sean, aku-"
"Cukup. Gue nggak mau denger apapun dari mulut Lo. Sekali lagi gue peringatin sama Lo, jangan coba-coba Lo berani cari masalah lagi sama gue. Atau akibatnya akan lebih fatal dari ini."
Sean kemudian berbalik dan melangkah keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Grizelle yang masih terpaku dengan segala pemikirannya.
__ADS_1