Cinta Sheila

Cinta Sheila
Kumpul Bersama Teman-Teman


__ADS_3

Weekend ini semuanya berkumpul di apartemen Steven. Kemarin mereka sudah merencanakan akan menghabiskan waktu bersama. Sheila, Lusia, Dyah dan Tya sedang memasak di dapur dibantu Bik Lastri.


Tak lama kemudian Danny datang. Disusul Max, Leon dan Sylvia ( kekasih Max ). Ken datang terakhir bersama Kania dan putri kecilnya yang berusia 5 tahun, Kiara.


"Om ganteng," teriak Kiara antusias sambil berlari menghampiri Steven.


"Hai princess."


Steven lalu berjongkok dan merentangkan kedua tangannya menyambut Kiara dalam pelukannya. Digendongnya gadis kecil itu lalu diciumi seluruh wajahnya membuat Kiara terkikik geli.


"Udah om udah, ampun om," teriak Kiara sambil terkikik kegelian.


Steven menghentikan hujan ciumannya pada Kiara lalu beralih ke Kania. " Kak Jery gak ikut kak?"


"Yah, kamu tahu sendirilah gimana sibuknya suami kakak itu. Dia kan sama aja kayak kamu tuh, gila kerja," jawab Kania berseloroh.


Selesai acara sapa menyapa mereka semua lalu duduk di sofa. Sylvia dan Kania menyusul para gadis di dapur. Para pria mengobrol di sofa. Sementara Steven sedang main kejar-kejaran dengan Kiara.


"Ada yang bisa kami bantuin Shei?" tanya Sylvia.


"Ah, ini udah selesai kok kak, tinggal nyusun di meja makan aja," jawab Sheila.


Mereka lalu menyusun semua makanan itu di meja makan. Steven berlari ke arah dapur dengan Kiara mengejar di belakangnya. Tawa riang terdengar dari mulut keduanya. Steven lalu bersembunyi di balik tubuh Kania sambil terus menggoda Kiara.


"Om ganteng curang, sini gak," rajuk Kiara berusaha menggapai Steven yang terus bergerak membawa tubuh Kania ke kiri dan ke kanan untuk menghindar.


"Tangkep aja kalo bisa, wlee wlee," ejek Steven lalu menjulurkan lidahnya.


"Steve, Ara, haduh kalian berdua ini kalo ketemu, bikin riweuh aja," gerutu Kania sambil geleng-geleng kepala.


Sheila tersenyum kecil, hatinya menghangat melihat Steven yang terlihat begitu menyayangi anak kecil seperti Kiara.


Lalu tiba-tiba Steven berlari ke arahnya. Tapi naas, Steven terus menoleh ke belakang sehingga tidak menyadari Sheila yang berdiri di depannya. Sheila pun tidak sempat menghindar. Alhasil Steven menabrak Sheila sampai tubuh keduanya terhuyung ke belakang. Beruntung Sheila tidak sedang memegang piring.


Terkejut, Steven reflek menarik Sheila yang hampir jatuh ke dalam pelukannya. Mata mereka saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


"Yeay ketangkep, horeee," teriak Kiara memegang Steven dari belakang, menyadarkan Sheila dan Steven dari keterkejutan dan aksi saling tatap mereka.


Baru saja Steven ingin mengatakan sesuatu, Kiara sudah lebih dulu menggelitikinya sehingga dia pun tertawa dan membalikkan tubuhnya ke arah Kiara kemudian terduduk di lantai karena terus mendapat serangan dari Kiara.


"Rasain nih pembalasan Ara. Makasih ya Tante cantik udah bantuin nangkep om ganteng," kata Kiara pada Sheila sambil terus menggelitiki Steven.


Sheila hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Udah udah, cukup. Ayo kita makan dulu, udah siap nih makanannya. Ayo Ara sayang," lerai Kania kemudian menarik Kiara dan menggandengnya ke meja makan.


Sheila membantu Steven berdiri.


"Gak pa-pa kan mas?"


"Gak pa-pa kok. Maaf ya tadi."


"Iya gak apa-apa. Ya udah yuk, gabung sama yang lain," ajak Sheila.


Mereka semua makan bersama di meja makan sambil ngobrol dan bercanda. Suasana tampak begitu akrab dan hangat.


Handphone Steven berdering, tertera nama Nila di layarnya. Steven lalu pamit hendak mengangkat telepon tersebut. Steven masuk ke kamarnya, tidak enak kalau sampai yang lain mendengar pembicaraannya dengan Nila.


"Halo," sapa Steven setelah menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Sayang anterin aku belanja ya. Beliin aku baju baru buat ke pesta temen aku nanti malem," pinta Nila.


"Kalau sekarang aku gak bisa sayang," tolak Steven halus.


Tanpa Steven ketahui ternyata Sheila sedang berada di kamar mandi. Sheila sudah akan keluar saat mendengar suara Steven yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Sheila lalu mengurungkan niatnya. Tidak ingin mengganggu pembicaraan suaminya, dia memutuskan menunggu di dalam kamar mandi. Sesak kembali Sheila rasakan ketika dia tahu kalau suaminya sedang berbicara dengan Nila.


"Iiisshhh kamu kok sekarang gitu sih sayang. Susah banget kalau aku minta kamu temenin aku. Ini pasti gara-gara wanita murahan itu kan."


Tangan Steven terkepal, lagi hatinya seakan tidak terima Nila menyebut Sheila sebagai wanita murahan.


"Bukan gitu sayang. Tapi sekarang emang beneran gak bisa. Lagi ada acara sama temen-temen. Aku gak mungkin pergi gitu aja," elak Steven berusaha sabar.

__ADS_1


"Jadi kamu lebih mentingin temen-temen kamu daripada aku yang?"


"Bukan gitu. Tapi aku beneran gak bisa."


"Ya udah, kalau gitu kamu gak usah temuin aku lagi."


Sambungan telepon langsung diputus sepihak oleh Nila. Steven menghembuskan nafas kasar lalu meraup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Biarin ajalah. Cuma sekali-sekali ini aku gak nurutin maunya dia," kata Steven pasrah.


Steven lalu beranjak keluar dari kamar dan bergabung dengan yang lainnya di ruang tamu. Sementara di dalam kamar mandi, Sheila tersenyum kecil. Merasa tersentuh karena Steven lebih memilih tetap bersama mereka dan tidak menemui Nila. Meski mungkin alasannya hanya karena merasa tidak enak kalau harus meninggalkan tamu-tamunya. Sheila tetap menghargainya.


...


Malam harinya, Steven dan Sheila sudah naik ke atas ranjang dan bersiap untuk tidur. Sheila menarik selimut untuk mereka berdua sampai sebatas dada.


"Mas, besok kita pulang aja ya ke rumah. Luka aku udah gak begitu kelihatan kok. Gak enak juga sama mama sama papa. Udah hampir seminggu kita disini," kata Sheila sambil berbaring miring menghadap Steven.


Steven lalu ikut memiringkan badannya menghadap ke arah Sheila.


"Beneran udah gak pa-pa?" tanya Steven meyakinkan.


Sheila menganggukkan kepalanya yakin.


"Ya udah. Besok kamu udah mulai kuliah lagi kan? Kita pulang setelah kamu selesai kuliah aja ya."


Sheila kembali menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. Steven tanpa sadar mengusak rambut Sheila karena merasa gemas. Membuat Sheila terdiam dan menegang.


"Udah malem, tidur gih!" perintah Steven kemudian memejamkan matanya.


Sheila memegangi dadanya yang berdegup tidak beraturan.


'Ya Allah, ini kenapa rambut aku yang diacak-acak tapi hati aku yang acak-acakan ya.'


Sheila merubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Belum juga reda rasa berdebar-debar di dadanya, tiba-tiba saja Steven melingkarkan tangannya di perut Sheila. Entah laki-laki itu sadar atau sudah terlelap. Membuat jantung Sheila semakin menaikkan tempo detakannya.

__ADS_1


Susah payah Sheila memejamkan matanya. Tapi rasa nyaman itu segera mengambil alih. Sampai akhirnya Sheila terlelap dengan tangan Steven melingkar di perutnya.


__ADS_2