Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 First Kiss


__ADS_3

Suasana makan malam di rumah Steven kali ini benar-benar terasa berbeda. Aura kebahagiaan begitu terasa di meja makan tersebut. Obrolan, canda dan tawa menghiasi acara makan malam mereka kali ini.


Selesai makan malam semuanya kembali berkumpul di ruang keluarga. Mereka melanjutkan acara bercengkrama mereka disana. Tidak lama kemudian Opa Ricko dan Oma Amelia pamit untuk pulang duluan. Tentu saja semua memahami, tidak baik untuk kesehatan beliau berdua kalau sampai terlalu malam apalagi kecapekan.


Saat ini Sean sedang mengajak Sonia untuk duduk di taman samping. Keduanya duduk bersisian di atas rumput. Berbincang sambil melihat indahnya langit malam yang malam ini begitu cerah dengan bulan purnama dan bintang yang bertaburan.


Steven mengajak Syafiq dan Adrian membahas sesuatu di ruang kerjanya. Sementara Sheila dan Safa di dapur sedang mempersiapkan minum dan camilan. Sebuah kesengajaan untuk memberikan kesempatan kepada pasangan pengantin baru itu baru saja dilaksanakan.


"Syukurlah semuanya berjalan sesuai harapan kita. Semuanya bisa menerima pernikahan kita dengan baik," kata Sean.


"Iya Mas, aku juga senang sekali."


"Apa kamu bahagia bisa bertemu lagi dengan Safa?"


"Sangat. Terima kasih banyak Mas untuk semuanya," jawab Sonia tersenyum bahagia memandang ke arah Sean.


Sean ikut tersenyum kemudian mengusap lembut kepala Sonia.


"Teruslah tersenyum. Kamu cantik sekali kalau sedang tersenyum," puji Sean yang seketika membuat pipi Sonia merona merah.


Tiba-tiba saja angin bertiup cukup kencang dan membuat debu masuk ke mata kanan Sonia.


"Aakht," pekik Sonia pelan.


Sonia berusaha membersihkan debu yang masuk ke mata sebelah kanannya dengan mengucek pelan mata kanannya tersebut.


"Hei, jangan dikucek. Nanti malah semakin sakit," cegah Sean dengan memegangi tangan Sonia. "Sini biar Mas tiup."


Sean kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Sonia. Membuka perlahan mata kanan Sonia dengan jarinya kemudian meniupnya beberapa kali.


"Gimana? Udah mendingan?" tanya Sean seraya menghapus sedikit air mata yang keluar dari mata kanan Sonia yang tadi ditiupnya.


"Udah lumayan Mas. Makasih ya," jawab Sonia dengan tersenyum.


Sean ikut tersenyum. Kedua tangan Sean masih menangkup pipi Sonia. Sean menggerakkan ibu jarinya, mengelus pipi Sonia lembut. Wajah Sonia yang kembali merona merah benar-benar membuat Sean gemas. Dan tiba-tiba saja perhatian Sean beralih ke bibir mungil Sonia yang dilapisi warna nude.


Jantung Sean dan Sonia sama-sama berdetak tidak beraturan. Sonia yang malu dan salah tingkah mendapatkan perlakuan dan tatapan yang begitu intens dari Sean. Sementara Sean yang terpesona dengan kecantikan wajah Sonia. Belum lagi bibir mungil Sonia yang seakan mengundang Sean untuk merasakan kelembutannya dan mencicipi rasa manisnya.


Seperti terhipnotis Sean tiba-tiba mendekatkan kembali wajahnya ke wajah Sonia. Dan detik berikutnya Sonia merasakan bibir Sean sudah menempel pada bibirnya. Beberapa detik bibir keduanya benar-benar hanya saling menempel. Sean dan Sonia sama-sama memejamkan mata mereka, meresapi kelembutan bibir satu sama lain.


Dan sedetik kemudian Sean mulai menggerakkan bibirnya, mengulum lembut bibir Sonia yang dirasakannya begitu manis. Sonia mencengkeram pelan bagian depan kaos yang Sean pakai, menyalurkan semua perasaan asing yang baru pertama kali ini dia rasakan. Perlahan, dengan gerakan yang masih begitu kaku, Sonia membalas dan mengikuti alur permainan bibir Sean.


Sean dan Sonia sama-sama tidak bisa berhenti. Keduanya seakan tenggelam dengan euforia yang sama-sama baru pertama kali mereka rasakan itu. Dan ketika mereka berdua sudah sama-sama kehabisan nafas, mereka melepaskan pertautan bibir mereka. Dengan nafas yang terengah-engah Sean menyatukan keningnya dengan kening Sonia.


"This is the first time for me. And it's feel so amazing," bisik Sean.

__ADS_1


"Me too," balas Sonia.


"Is it your first kiss too?"


"Yeah."


Dan sedetik kemudian Sean kembali menyatukan bibir mereka. Sean tidak bisa menahan diri. Bibir Sonia benar-benar sudah menjadi candu bagi Sean. Rasanya Sean tidak ingin berhenti. Sampai tiba-tiba,


"Ekhem,,,"


Pertautan bibir Sean dan Sonia terlepas seketika. Keduanya menoleh ke arah sumber suara dan melihat Safa yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka dengan cekikikan.


"Sorry ganggu. Abang dipanggil Ayah tuh. Ditungguin di ruang kerja Ayah sekarang," kata Safa memberitahu.


Sean berdehem untuk menormalkan ekspresi wajah dan detak jantungnya.


"Mas tinggal dulu sebentar ya," pamit Sean kepada Sonia.


"Iya Mas," jawab Sonia masih dengan menundukkan wajahnya karena malu.


Sean mengusap kepala Sonia kemudian beranjak berdiri dari duduknya. Sean kemudian berjalan mendekati Safa.


"Kamu temani Sonia dulu ya. Abang ke ruang kerja Ayah dulu."


Setelah Sean masuk ke dalam rumah Safa segera menghampiri Sonia. Safa duduk di sebelah Sonia kemudian mengenggol pelan lengan sahabatnya yang wajahnya masih memerah itu.


"Cieeee, ada yang habis mesra-mesraan nih," goda Safa.


"Apaan sih Sa," balas Sonia malu.


"Menghayati banget So, baru pertama kali ya?" goda Safa lagi dengan menaik turunkan alisnya beberapa kali.


Sonia tidak menjawab. Tapi melihat wajah Sonia yang semakin memerah Safa sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tadi.


"Ohh, jadi beneran ya sama-sama first kiss? Pantes aja masih sama-sama kaku gitu," kata Safa kemudian terkikik kecil.


"Dih, sombong. Kayak sendirinya udah ahli aja," cibir balik Sonia.


"Ooo, jangan salah Non. Gini-gini juga lebih berpengalaman aku lah daripada kamu."


"Hilih."


"Eh, nggak percaya? Perlu aku panggilin Mas Rian sekarang buat buktiin sama kamu?" tantang Safa tidak terima.


"Modus. Bilang aja kamu iri, pengen dicium juga sama Mas Rian. Pake alesan mau buktiin segala," cibir Sonia menggoda balik Safa.

__ADS_1


"Sonia,,," teriak Safa kemudian berdiri dan berlari mengejar Sonia yang sudah lebih dulu bangun dan melarikan diri.


"Dasar tukang modus," goda Sonia lagi sambil berlari.


"Sonia, awas kamu ya kalau ketangkep," geram Safa.


"Coba aja tangkap kalau bisa. Wleee wleee."


Teriakan saling menggoda mewarnai aksi kejar-kejaran dua sahabat itu. Dan ketika Sonia lengah Safa pun berhasil menangkap Sonia. Safa langsung menggelitiki Sonia sampai sahabatnya itu tertawa terpingkal-pingkal.


"Udah Sa. Ampun. Iya deh iya, aku percaya. Udah Sa, please," mohon Sonia masih dengan terus tertawa.


"Rasain, siapa suruh macem-macem sama Safa."


"Iya-iya, maaf."


Safa pun menghentikan gelitikannya pada Sonia. Keduanya sama-sama mengatur nafas mereka yang ngos-ngosan. Tersenyum satu sama lain, Safa dan Sonia kemudian berpelukan erat.


"Aku seneng banget bisa tertawa kayak gini lagi sama kamu So," kata Safa.


"Aku juga Sa. Rasanya seperti mimpi, akhirnya aku bisa meluk kamu lagi seperti ini," balas Sonia.


Sheila tersenyum penuh haru dari balik jendela kaca di ruang keluarga, melihat interaksi Safa dan Sonia.


Dan ternyata hal tidak jauh berbeda pun terjadi di lantai dua. Steven, Adrian, dan Syafiq juga sedang melihat interaksi dua sahabat itu dari jendela kaca di ruang kerja Steven. Sean yang menyusul di belakang mereka pun ikut tersenyum melihat istri dan adiknya itu berpelukan penuh sayang.


"Syukurlah akhirnya Safa dan Sonia bisa bertemu kembali. Ayah ikut bahagia melihat kebahagiaan mereka berdua," kata Steven.


"Kita semua juga ikut bahagia Yah," balas Sean.


"Tapi jangan senang dulu," kata Steven lagi membuat Sean, Adrian, dan Syafiq bingung.


Steven mengajak ketiga anak muda itu untuk duduk terlebih dahulu.


"Om Darius tadi siang menghubungi Ayah. Om Darius marah karena dia baru tau tentang berita pernikahan Abang dan Sonia setelah mendapat laporan dari anak buahnya di kota S. Anak buah Om Darius melaporkan kejadian waktu Abang dan Sonia pulang karena meninggalnya nenek Sonia kemarin itu."


"Setelah Ayah menjelaskan semuanya, Om Darius akhirnya bisa mengerti. Tapi Om Darius juga memberikan peringatan kepada Ayah, sepertinya Raka belum benar-benar melepaskan Sonia. Diam-diam Raka masih menyuruh anak buahnya untuk mencari informasi keberadaan Sonia."


Sean, Adrian, dan Syafiq begitu kaget mendengar perkataan Steven tersebut.


"Kita harus lebih berhati-hati Bang. Dan sepertinya, kita juga belum bisa mempublikasikan pernikahan kalian secara terang-terangan. Tidak sebelum kita yakin bahwa Raka tidak akan mencari masalah lagi pada Sonia," kata Steven.


"Abang ngerti Yah," balas Sean.


Sean menerawang, sepertinya semuanya tidak akan mudah untuk kedepannya.

__ADS_1


__ADS_2