
Setelah pengajuan judul skripsi Sheila dan teman-temannya yang lain disetujui dosen pembimbing, kini Sheila sudah dalam tahap pembuatan skripsi-nya.
Dari awal Steven sudah mengatakan kalau dia akan menyewa jasa profesional untuk membantu Sheila dalam pembuatan skripsi tapi Sheila menolaknya mentah-mentah. Sheila ingin semuanya adalah murni dari kerja keras dan pemikiran Sheila sendiri. Sheila ingin merasakan menjadi seorang mahasiswa sesungguhnya.
Tidak salah memang. Tapi Steven juga tidak ingin istrinya itu sampai stress yang akan berimbas kepada janin dalam rahim Sheila, calon bayi mereka yang sedang berjuang untuk tumbuh di dalam sana. Belum lagi dengan mual muntah juga pusing yang sering dialami Sheila. Steven tidak tega melihat Sheila masih harus berjuang keras untuk membuat skripsi.
Dan akhirnya, setelah perdebatan panjang yang diakhiri dengan bujuk rayu manja, Sheila yang keluar sebagai pemenang. Steven mengijinkan Sheila membuat skripsi-nya sendiri dengan banyak janji dan peraturan yang harus dipatuhi Sheila, demi menjaga kondisi kesehatan janin dalam kandungan Sheila.
Tapi bukan Steven namanya kalau dia menyerah kalah begitu saja. Sekarang hampir setiap hari Steven selalu pulang lebih awal. Steven sendiri yang langsung turun tangan membantu Sheila dalam pembuatan skripsi-nya.
"Diminum dulu susunya sayang," kata Steven sembari mengangsurkan segelas susu khusus ibu hamil yang dibuatnya untuk Sheila.
Sheila mendongak dari laptop-nya, tersenyum lembut kemudian menerima gelas susu tersebut dari Steven.
"Makasih Mas."
Setelah mengucapkan bismillah Sheila segera meminum susu itu sampai habis kemudian meletakkan gelasnya di meja.
"Mas kalau bikin susu ditambahin apa sih?" tanya Sheila kepada Steven yang sudah mendudukkan diri di sampingnya.
"Emangnya kenapa sayang? Nggak enak ya?"
"Bukan, kalo nggak enak masa aku habisin secepat ini. Justru susu yang Mas buat tuh rasanya enak, beda banget sama yang aku buat. Tiap pagi habis minum susu yang aku buat sendiri aku pasti langsung muntahin lagi, tapi kalau malam minum susu yang Mas buat nggak pa-pa tuh. Bahkan mual pun enggak. Kok bisa gitu ya Mas, padahal susu yang kita buat sama loh," jelas Sheila panjang lebar.
Steven tertawa kecil kemudian menarik Sheila ke dalam pelukannya dan mencium puncak kepalanya.
"Bilang aja kalau mau dibuatin susu sama Mas tiap pagi dan malem," kata Steven dengan terkekeh kecil.
"Iiisshhh, bukan gitu Mas. Tapi aku beneran penasaran ini. Kok bisa gitu ya?"
"Mungkin dedek bayi suka kalau Ayah-nya yang buatin susunya makanya nggak dimuntahin lagi. Kan Mas buatnya dengan cinta jadi dedek pasti juga suka lah."
"Ih narsis. Aku kan buatnya juga dengan cinta dan kasih sayang Mas."
"Berarti dedek bayi lebih sayang sama Mas."
"Enak aja, nggak bisa gitu dong, orang aku yang mengandung juga, sayangnya harus sama pokoknya," Sheila mendelik tidak terima.
Steven justru tertawa menanggapinya.
"Ya udah, kalau gitu biar Mas aja yang buatin kamu susu tiap pagi dan malem, ya. Biar nggak dimuntahin lagi sama dedek bayi," kata Steven mengalah.
__ADS_1
Sheila kemudian memeluk Steven lebih erat lagi.
"Terima kasih suamiku sayang."
"Sama-sama sayang. Yuk dilanjutin. Gantian ya biar Mas yang ngetik, kamu istirahat dulu sebentar ," kata Steven setelah mengurai pelukan mereka.
"Mas tiap hari pulang cepet, kerjaan di kantor gimana?"
"Kan ada Santi, Danny, Ken, dan yang lainnya yang bantuin Mas. Bang Dika juga sering bantuin kok," jawab Steven sambil mulai mengetik di laptop Sheila.
"Maaf ya Mas, gara-gara skripsi aku Mas Steven jadi ikutan repot."
"Nggak repot kok sayang. Kan Mas juga yang mau. Mas nggak mau kamu sampai kecapekan, apalagi sampai berimbas ke dedek bayi."
"Makasih ya Mas. Sheila sayang banget sama Mas Steven," kata Sheila lalu mencium pipi Steven sekilas.
"Iya sayang, Mas juga sayang sama kamu, sama dedek bayi juga," balas Steven kemudian balas mencium kepala Sheila yang bersandar di bahunya.
...
Pagi itu Steven terbangun karena Sheila melepas paksa pelukan Steven pada Sheila. Sheila langsung turun dari ranjang dan berlari ke arah kamar mandi dan langsung memuntahkan isi perutnya di wastafel.
"Mas Steven keluar aja, ini jijik loh," kata Sheila merasa tidak enak.
"Enggak pa-pa. Mas nggak ngerasa jijik kok, biasa aja tuh. Justru Mas lagi menikmati setiap momen dalam kehamilan kamu sayang. It's so amazing," balas Steven penuh antusias.
Setiap pagi Sheila selalu terbangun dengan rasa mual yang hebat di perutnya. Itu juga yang membuat Steven selalu mengkhawatirkan keadaan Sheila selama dirinya berada di kantor.
Pikirannya selalu tidak tenang dan khawatir. Hampir tiap satu jam sekali Steven selalu menghubungi Sheila, sekedar menanyakan bagaimana keadaannya saat itu. Belum lagi masalah skripsi yang saat ini sedang dibuat Sheila. Membuat kekhawatiran Steven menjadi berlipat-lipat.
"Kamu beneran nggak pa-pa sayang? Pucet banget loh," tanya Steven setelah mereka berdua duduk di tepian ranjang.
"Nggak pa-pa kok Mas. Kan kak Kania juga udah bilang kalau morning sickness kayak gini tuh hal yang wajar dialami ibu hamil, apalagi di trimester pertama," jawab Sheila menenangkan Steven.
"Hari ini Mas nggak ke kantor aja ya. Mas nggak tega ninggalin kamu dalam keadaan kayak gini, belum lagi kamu masih harus ngerjain skripsi kamu."
"Jangan dong Mas. Aku beneran nggak pa-pa kok. Mual muntahnya juga cuma kalau pagi aja. Di atas jam 10 udah enggak kok. Kan ada Mama juga di rumah Mas, Bik Minah, Mbak Siti, aku kan nggak sendirian."
"Ya udah ya udah, kita sholat subuh dulu ya sekarang," ajak Steven.
Sheila mengangguk. Mereka berdua kemudian melaksanakan sholat subuh berjamaah.
__ADS_1
Di meja makan saat sarapan pagi.
"Maaf ya Ma, Sheila jarang bantuin masak sekarang," kata Sheila kepada Amelia.
"Nggak pa-pa sayang. Mama paham kok kalau kamu mual muntah di pagi hari. Kamu juga lagi sibuk bikin skripsi kan. Jangan sampai kecapekan ya sayang, inget yang ada di perut kamu,jangan terlalu memaksakan diri," pesan Amelia.
"Iya Ma. Makasih ya Ma."
"Sama-sama sayang."
"Sayang nih udah Mas buatin susu. Diminum dulu ya," kata Steven berjalan dari arah dapur kemudian menyerahkan segelas susu ibu hamil kepada Sheila.
"Terima kasih Mas."
Sheila segera meminum susu tersebut sampai habis. Beberapa saat kemudian,
"Eh, tumben nggak dimuntahin lagi?" tanya Amelia heran.
"Nggak tahu Ma. Kalau Mas Steven yang buat rasanya enak banget, Sheila juga nggak merasa eneg tuh."
"Itu berarti anak kalian maunya cuma susu bikinan Ayah-nya tiap hari, biar nggak dimuntahin lagi," kata Ricko.
"Bisa gitu ya Pa?" tanya Steven sedikit sangsi.
"Papa yang udah ngalamin," protes Ricko mendengar Steven seakan tidak percaya dengan ucapannya.
Amelia tertawa melihat perdebatan suami dan anaknya itu.
"Dulu Mama juga kayak gitu pas hamil kamu Steve. Apa-apa pokoknya maunya dari tangan Papa kamu. Kalau enggak, pasti Mama muntahin lagi."
"Sungguh Ma?" tanya Sheila.
"Iya sayang, beneran."
"Belum lagi ngidamnya minta yang macem-macem, harus dituruti saat itu juga pula mintanya. Harus ekstra sabar pokoknya Steve," kata Ricko.
"Eh, jadi Papa mengeluh nih ceritanya karena ngidam Mama dulu?" tanya Amelia dengan memicingkan kedua matanya.
"Enggak Ma, bukan gitu. Papa cuma lagi nasehatin Steven aja tuh biar dia nggak kaget nanti, hehe," Ricko mencari jalan aman.
Steven terkikik pelan melihat Papa-nya salah tingkah seperti itu. Seorang Ricko yang masih gagah di usianya yang sudah kepala lima ternyata bisa salah tingkah seperti itu di depan istrinya. Eh, apa nanti Steven juga akan seperti itu ya?
__ADS_1