Cinta Sheila

Cinta Sheila
Kabar Bahagia


__ADS_3

Steven duduk di samping bed rumah sakit Sheila. Steven menggenggam tangan kiri Sheila yang tidak diinfus, sesekali menciuminya, dengan tatapan mata yang terus terkunci pada Sheila yang masih belum sadarkan diri sampai sekarang.


Beberapa saat yang lalu Kania memberi kabar kepada Steven bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan ternyata Sheila dinyatakan sedang hamil tiga minggu.


Perasaan Steven seketika membuncah bahagia, pun dengan Leon yang saat itu ikut mendengarkan pernyataan dari Kania. Steven akan menjadi seorang ayah. Akhirnya apa yang selama ini menjadi impiannya akan terwujud. Memiliki sebuah keluarga kecil bersama dengan Sheila, wanita yang dicintainya, dengan anak-anak mereka sebagai pelengkap kebahagiaan keluarga kecilnya.


Acara resepsi pernikahan Max dan Sylvia tetap berjalan lancar sampai akhir. Meski keluarga sempat panik, tapi setelah Leon mengabarkan bahwa Sheila pingsan karena sedang hamil tiga minggu, kepanikan tersebut berubah menjadi kebahagiaan dan ungkapan syukur yang tak terhingga kepada Allah SWT atas kabar bahagia yang mereka terima.


Steven meyakinkan semuanya kalau Sheila baik-baik saja. Mereka tidak perlu datang ke rumah sakit malam ini, biar Steven dan Leon yang menemani Sheila. Steven menyadari kalau semua pasti lelah karena acara pernikahan hari ini. Maka dari itu Steven menginginkan agar mereka beristirahat dulu malam ini dan besok baru mereka boleh menyusul ke rumah sakit.


Tidak lama kemudian Sheila mulai sadar. Perlahan-lahan mencoba membuka mata lalu mengerjabkan matanya pelan, menyesuaikan dengan silau cahaya lampu. Steven segera mengelus lembut kepala Sheila.


"Sayang," panggil Steven lembut.


"Mas Steven," balas Sheila lemah. "Aku dimana Mas?"


"Kamu di rumah sakit sayang. Tadi kamu pingsan."


Sheila mencoba mengingat semuanya. Ya, tadi saat di pesta Sheila merasa tiba-tiba kepalanya sangat pusing dan setelah itu Sheila tidak mengingat apa-apa lagi.


"Apa yang kamu rasain sekarang sayang?" tanya Steven.


"Kepala aku masih pusing banget Mas. Badan rasanya juga lemes," jawab Sheila.


"Nggak pa-pa sayang, kata kak Kania itu hal yang wajar untuk kondisi kamu sekarang," kata Steven sambil tersenyum lembut.


"Memangnya aku kenapa Mas?" tanya Sheila bingung.


"Kamu lagi hamil sayang, udah tiga minggu," jawab Steven memberitahu dengan mata berbinar bahagia.


Sheila menutup mulutnya dengan tangan satunya yang tidak digenggam Steven. Matanya sudah berkaca-kaca karena merasa haru sekaligus bahagia.


"Beneran Mas? Aku hamil?" tanya Sheila masih belum percaya.


"Iya sayang, kamu hamil. Ada calon bayi kita yang sedang berjuang untuk tumbuh di dalam rahim kamu ini sayang," jawab Steven sembari beralih mengelus perut Sheila dengan gerakan memutar yang lembut.


Air mata bahagia sudah mengalir di pipi Sheila. Steven langsung memeluk Sheila erat. Hatinya menghangat penuh dengan kebahagiaan sampai tak terasa satu butir air mata lolos dari matanya. Segera Steven menghapusnya kemudian mencium puncak kepala Sheila dalam.


"Terima kasih ya sayang, sudah memberikan kebahagiaan ini kepada Mas," ucap Steven kemudian mencium bibir Sheila sekilas.


"Alhamdulillaah, kita sama-sama bersyukur kepada Allah SWT ya Mas, karena sudah diberi kepercayaan dengan hadirnya calon buah hati kita ini."


"Iya sayang, alhamdulillaah," balas Steven kemudian memeluk Sheila lagi.


"Assalamu'alaikum," sapa Leon setelah membuka pintu ruang rawat Sheila.

__ADS_1


Steven dan Sheila melepaskan pelukan mereka.


"Wa'alaikumsalam," jawab Steven dan Sheila bersamaan.


"Kamu udah sadar dek?"


"Alhamdulillaah udah kak."


"Dari tadi Steve?" tanya Leon sambil mengangsurkan satu cup kopi panas.


"Baru aja. Thanks ya," jawab Steven menerima kopi dari Leon.


"Sama-sama. Makan dulu yuk semuanya, kalian juga tadi belum sempet makan kan pas di pesta? Ini aku udah beliin buat kita bertiga."


"Kak Leon sama Mas Steven aja ya, aku nggak laper."


"Jangan gitu dong dek. Inget, sekarang kamu makan nggak cuma buat kamu sendiri, tapi juga buat bayi kamu," kata Leon menasehati.


"Mas suapin ya, kita makan sama-sama," bujuk Steven.


Akhirnya Sheila mengangguk setuju. Leon menarik satu kursi lagi mendekat ke sebelah Steven. Mereka pun mulai makan bersama.


"Oh iya, kakak ucapkan selamat ya dek atas kehamilan kamu. Semoga sehat terus dan lancar sampai melahirkan nanti," kata Leon tulus.


"Aamiin. Iya kak, terima kasih ya," balas Sheila.


...


Pagi harinya Jefri, Sarah, Max, dan Sylvia datang menjenguk ke rumah sakit. Tapi ternyata Ricko dan Amelia sudah lebih dulu sampai disana.


"Assalamu'alaikum," sapa Jefri dan yang lainnya setelah membuka pintu.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua yang ada di dalam ruangan.


"Wah, rupanya kami kalah cepat ya. Kalian sudah sampai disini lebih dulu," kata Jefri menghampiri Ricko kemudian menjabat tangannya dan memeluk Ricko sesaat.


"Tentu saja, kami begitu bersemangat mendengar kabar kalau kita akan segera memiliki cucu," balas Ricko.


Yang lain pun ikut bersalaman dan menyapa satu sama lain.


"Bagaimana kondisi kamu sekarang sayang? Apa yang dirasakan?" tanya Sarah setelah mencium kening putrinya itu.


"Sheila udah nggak pa-pa kok Bun. Cuma masih sedikit pusing aja."


"Nggak pa-pa, itu wajar untuk wanita hamil. Mual enggak?"

__ADS_1


"Alhamdulillaah nggak begitu mual Bun."


"Syukurlah kalau begitu. Selamat ya sayang, udah mau jadi ibu sekarang. Bunda do'akan semoga kehamilan kamu berjalan lancar sampai melahirkan nanti ya," kata Sarah.


"Aamiin, makasih ya Bun do'anya."


"Selamat ya dek, kakak ikut seneng denger kabar kehamilan kamu, semoga sehat selalu kamu dan 'debay' ya," kata Sylvia.


"Aamiin, makasih kak. Aku do'akan kak Sylvia juga nanti segera hamil ya," balas Sheila tulus.


"Aamiin, makasih do'anya dek."


"Hebat Lo Steve, tokcer juga Lo. Gue kira gue bakalan bisa ngeduluin Lo, eh ternyata gue kalah cepat," kata Max yang berdiri di samping Steven.


"Hei, gue lebih dulu nikah ya daripada Lo, enak aja mau ngeduluin. Lagian Lo aja sama gue masih tua-an gue setahun, jadi ya wajar dong kalau anaknya juga tua-an anak gue," balas Steven.


"Ah, asem Lo, bawa-bawa umur kita segala."


"Biarin, siapa yang mulai coba?" tanya Steven mengimbangi keusilan Max.


"Nggak asik ah Lo Steve, mainnya gitu."


"Di-asik-in aja kali."


"Haduh, dulu Sheila sekarang Steven. Hobi kok cari temen ribut sih Max," keluh Sarah.


"Justru karena sekarang nggak bisa ribut sama Maemunah makanya cari mangsa baru Bun," jawab Max cepat.


Bugh!


Steven memukul bahu Max.


"Panggil yang bener, gue sleding juga Lo lama-lama," ancam Steven tidak terima Sheila dipanggil Maemunah oleh Max.


"Weiss, sorry bro sorry. Nggak gue ulangi lagi deh, kalau nggak khilaf lho ya," kata Max sambil mengangkat kedua tangannya.


"Coba aja kalau berani khilaf," ancam Steven lagi.


"Syukurin Lo dapet lawan yang seimbang sekarang," ejek Leon.


"Ah, bener juga Lo Yon. Asem... asem," keluh Max.


Semua yang ada di ruangan itu pun tertawa mendengar perdebatan mereka. Dalam hati Sheila terharu, Steven sekarang sedekat itu dengan kakak-kakak dan keluarganya yang lain.


Sheila juga bersyukur atas kepercayaan yang telah diberikan Allah SWT kepadanya saat ini. Dan Sheila berjanji akan menjaga amanah ini sebaik mungkin, agar kehamilannya berjalan dengan lancar. Sheila bahagia melihat binar kebahagiaan yang nampak pada wajah semua keluarganya yang ada di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Mengusap perutnya lembut, senyum Sheila tidak pernah pudar menghiasi wajah cantiknya. Sheila melihat ke arah Steven dan ternyata Steven pun sedang melihat ke arahnya. Senyum lembut Sheila dapatkan dari Steven, suaminya. Sheila membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis.


__ADS_2