Cinta Sheila

Cinta Sheila
Tantangan Terang - Terangan


__ADS_3

Sheila sedang memasak di dapur bersama Amelia dan Bik Minah ketika tiba-tiba Celine datang menghampiri mereka.


"Selamat sore Tante Amel," sapa Celine riang dengan sedikit berteriak.


Sheila dan Amelia sontak membalikkan tubuh mereka.


"Astaga, Celine?" tanya Amelia tidak percaya.


Mereka berdua kemudian berpelukan untuk melepas rindu.


"Gimana kabarnya sayang? Kapan dateng?" tanya Amelia antusias.


"Baik Tante. Celine sampai tiga hari yang lalu Tan. Maaf ya baru sempet mampir, kemarin masih repot ngurusin pindahan."


"Nggak pa-pa sayang. Gimana kabar Mama sama Papa kamu? Mereka nggak ikut pulang?" tanya Amelia lagi sambil membawa Celine duduk di kursi meja makan.


"Mama Papa baik Tante. Tapi mereka nggak ikut pulang. Perusahaan Papa di London tidak bisa ditinggal Tante, makanya Celine yang disuruh pegang perusahaan Papa disini."


"Wah, berarti kamu akan stay di Indonesia dong?"


"Iya Tante."


"Oh senangnya. Nanti sering-sering main kesini ya sayang."


"Celine usahakan Tante kalau tidak repot di kantor Celine pasti main kesini."


"Kamu tinggal di rumah lama kamu atau dimana sayang?"


"Celine tinggal di apartemen Tante, biar lebih dekat sama kantor. Lagian di rumah sebesar itu kalau hanya tinggal sendiri Celine pasti merasa kesepian."


"Oh, ya sudah nggak pa-pa sayang."


Sheila tersenyum melihat keakraban ibu mertuanya dengan Celine. Mereka sudah lama tidak bertemu, wajar kalau Amelia seantusias itu.


"Sheila sayang, sini nak," panggil Amelia kepada Sheila.


"Iya Ma," jawab Sheila kemudian bergegas mencuci tangan dan mengeringkannya lalu menghampiri Amelia dan Celine.


"Sayang Mama mau kenalin kamu sama Celine. Dia ini anaknya teman Mama."


"Iya Ma, kemarin kita sudah ketemu kok di kantor Mas Steven," kata Sheila.


"Oh ya? Jadi kamu langsung ketemu kakakmu tapi lupa sama Tante Celine, ckckck," Amelia berdecak dan memasang wajah garangnya.

__ADS_1


"Maaf Tante," Celine membalas manja dan bergelayut di tangan Amelia.


"Ya sudah, syukurlah kalau kalian berdua sudah saling kenal. Makan malam disini ya sayang. Sebentar lagi Om dan kakakmu juga pulang."


"Iya Tante," jawab Celine antusias.


"Sheila sayang kamu temenin Celine ngobrol aja ya, biar Mama sama Bik Minah yang lanjutin masaknya. Kamu kan juga harus banyak istirahat," kata Amel.


Sheila bisa melihat penolakan pada raut wajah Celine yang nampak tidak senang.


"Mama saja yang nemenin mbak Celine ngobrol. Kan sudah lama nggak ketemu, pasti banyak yang mau dibicarakan. Lagian Sheila juga mau masakin capcay pesenan Mas Steven, takutnya nanti Mas Steven marah kalau nggak Sheila bikinin. Kalau cuma masak insya Allah Sheila nggak akan kecapekan kok Ma," tolak Sheila halus.


"Capcay? Kak Steven kan nggak suka sayur Tante?" tanya Celine heran.


"Itu dulu sayang. Setelah ngerasain masakan Sheila kakak kamu itu jadi suka makan sayur sekarang. Tapi ya itu, harus Sheila yang masakin. Bahkan masakan Tante pun kakak kamu itu nggak mau, dia bisa membedakan rasanya katanya. Hebat banget kan kakak ipar kamu ini," puji Amelia yang membuat Celine tambah tidak suka kepada Sheila.


"Mama bisa aja. Sheila kan juga masih belajar Ma," kata Sheila merendah. "Ya sudah, Mama sama mbak Celine ngobrol aja di ruang keluarga ya. Biar lebih nyaman. Nanti Sheila minta Bik Minah untuk mengantarkan minum dan camilan."


"Oke deh. Mama tinggal dulu ya kalau begitu. Ayo Celine."


Amelia lalu mengajak Celine berpindah ke ruang keluarga untuk melanjutkan obrolan mereka. Sheila kembali ke dapur.


"Bik tolong buatin minum ya buat Mama sama mbak Celine. Sekalian camilannya," pinta Sheila.


...


Malam hari saat makan malam.


Seperti biasanya Sheila melayani Steven dengan baik, begitu juga dengan Amelia. Perhatian-perhatian kecil yang ditunjukkan Steven kepada Sheila sukses membuat Celine semakin terbakar rasa cemburu. Belum lagi Ricko dan Amelia yang nampak begitu menyayangi Sheila, membuat Celine semakin tidak menyukai Sheila.


"Sayang kamu nggak usah ikut beresin meja makan. Istirahat aja ya, kan kamu nggak boleh kecapekan," kata Steven setelah makan malam selesai.


"Cuma bantuin bibik Mas. Aku nggak akan kecapekan kok."


"Ya sudah. Mas ke ruang kerja dulu, nanti anterin teh kayak biasanya ya," kata Steven akhirnya mengalah.


Sheila mengangguk sambil tersenyum lembut. Steven mencium kening Sheila sebelum meninggalkan meja makan.


"Steven duluan ya Pa, Ma," pamit Steven sudah berdiri dari kursinya.


"Tapi Steven, kan masih ada Celine, masak kamu nggak mau nemenin ngobrol?" tanya Amelia.


"Maaf Ma, bukannya nggak mau nemenin, tapi memang ada berkas penting yang harus Steven kerjakan sekarang. Untuk bahan presentasi besok. Nggak pa-pa kan Celine kamu kakak tinggal?"

__ADS_1


"I-iya kak, nggak pa-pa kok."


"Oke kalau gitu kakak duluan ya," pamit Steven kemudian benar-benar pergi ke ruang kerjanya.


"Kita lanjutin ngobrolnya di ruang keluarga saja yuk sayang," ajak Amelia.


Ricko, Amelia, dan Celine beranjak meninggalkan meja makan menuju ke ruang keluarga.


Sesaat kemudian Celine kembali ke dapur, beralasan ingin mengambil minum. Dilihatnya Bik Minah sedang membersihkan meja makan, Mbak Siti sedang mencuci piring, dan Sheila menyisihkan sisa lauk.


"Ikut aku," kata Celine seraya menarik tangan Sheila menuju ke halaman belakang.


Sheila mengikuti Celine tanpa bantahan. Sesampainya di halaman belakang Celine menghempaskan tangan Sheila sedikit kasar. Tapi Sheila mencoba untuk tetap bersabar.


"Ada apa mbak?" tanya Sheila sopan karena memang usia Celine tiga tahun diatasnya.


"Kamu sengaja kan mau manas-manasin aku dengan menunjukkan kemesraan kamu sama kak Steven di hadapanku?"


"Tentu saja enggak mbak. Kenapa aku harus manas-manasin mbak?"


"Asal kamu tahu ya, sejak kecil aku sudah lebih dulu suka sama kak Steven. Dan kamu, kamu cuma gadis hasil perjodohan dari Om Ricko. Emangnya siapa kamu sehingga kamu merasa pantas untuk mendampingi kak Steven? Kamu cuma seorang mahasiswi, nggak punya nilai lebih apapun, nggak pantes kamu mendampingi kak Steven yang hebat," kata Celine berapi-api.


Sheila tersenyum mendengar semua perkataan Celine.


"Mbak bener, mungkin aku bukan siapa-siapa. Tapi untuk menjadi pantas atau tidak sebagai pendamping Mas Steven, bukan dari status atau kedudukan mbak, tapi lebih kepada rasa nyaman dan bahagia. Dan aku bersyukur karena selama bersamaku Mas Steven merasa nyaman dan bahagia, itu yang paling penting," jawab Sheila tetap tenang.


"Bullshit. Diperlukan wanita yang hebat untuk bisa mengimbangi dan mendampingi kak Steven yang hebat dalam bisnis. Dan kamu, tahu apa kamu tentang bisnis? Nol besar. Kamu sama sekali nggak pantas mendampingi kak Steven. Aku yang lebih pantas mendampingi kak Steven. Dari segi manapun, aku jauh lebih unggul daripada kamu."


"Mbak, Mas Steven itu suami aku. Suami sah aku, secara hukum dan agama. Mbak Celine cantik loh, pinter, sukses, tapi kenapa sih berambisi banget sama suami aku? Mbak Celine bisa kok dapetin laki-laki manapun, bahkan yang jauh lebih sukses dari Mas Steven."


"Tapi aku maunya sama kak Steven."


"Tapi dia suami aku mbak. Kenapa mbak Celine harus merendahkan diri dengan menjadi perebut suami orang?"


"Kamu-" Celine tidak dapat melanjutkan perkataannya, merasa marah dan tertohok dengan ucapan Sheila tadi.


"Baiklah. Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang. Bersiaplah, karena sebentar lagi aku pasti akan merebut kak Steven dan menggantikan posisimu. Kak Steven hanya boleh menjadi milikku seorang."


"Mas Steven bukan barang yang bisa diperebutkan mbak. Dan kenapa aku harus meladeni mbak? Mas Steven suami aku, aku istri sah Mas Steven. Bahkan sebentar lagi akan hadir buah hati kami ke dunia ini. Kami hanya perlu menjaga dan mempertahankan keutuhan rumah tangga kami dari segala macam cobaan dan ujian yang menerpa rumah tangga kami," kata Sheila tenang tapi penuh ketegasan.


"Cih. Sombong sekali kamu. Oke, kita lihat saja nanti. Aku pastikan aku akan merebut kak Steven dari kamu. Bersiaplah," tantang Celine secara terang-terangan.


Celine kemudian berbalik dan meninggalkan Sheila sendirian di halaman belakang. Sheila hanya tersenyum menanggapi semua ancaman dari Celine yang begitu berambisi. Ternyata benar yang dikatakan suaminya kemarin, Celine tidak akan menyerah semudah itu.

__ADS_1


Dalam hati Sheila berdo'a, semoga Allah SWT senantiasa menjaga keutuhan rumah tangganya dengan Steven suaminya. Dan semoga Allah SWT berkenan memberikan kekuatan kepada mereka berdua untuk dapat bertahan dan menghadapi segala macam badai yang akan menerpa biduk rumah tangga mereka.


__ADS_2