
Saat ini Sean sedang duduk di ruang tunggu IGD rumah sakit milik Opa Wirawan. Sean sedang menunggu Sonia yang sedang diobati oleh Kiara di dalam ruang IGD.
Yup, Kiara, putri pertama Jery dan Kania, serta Kikandrya, putri kedua Ken dan Santi, mereka berdua yang meneruskan jejak keluarga menjadi dokter di keluarga Wirawan. Sementara Jimmy, adik Kiara, dan Kenzie, kakak Kikandrya, lebih tertarik terjun ke dunia bisnis, mengikuti jejak Daddy dan Papih mereka.
Tidak lama kemudian Sonia nampak keluar dengan dibantu oleh seorang perawat. Sean segera berdiri dan menghampiri.
"Gimana keadaan Ana kak?" tanya Sean pada Kiara yang ada di sebelah Sonia.
"Untungnya tidak ada masalah yang serius, hanya terkilir. Kakak sudah membalutnya dengan perban elastis untuk mengurangi pembengkakan dan membuat pergelangan kakinya lebih baik," jawab Kiara.
"Syukurlah," balas Sean nampak lega.
"Tapi selama tiga hari ke depan kakak sarankan untuk mengurangi aktifitas yang bisa memperparah cedera dan menyebabkan bengkaknya meluas. Kamu juga bisa menaruh bantal di bawah kakimu yang terkilir ini ketika tidur Ana, agar lebih nyaman," pesan Kiara.
"Baik Dok," kata Ana.
"Panggil aja kakak, kayak Sean. Oh ya, minimal dua kali dalam sehari perbannya harus dibuka, ya sekitar setengah jam lah, untuk melancarkan aliran darah di daerah yang sakit. Setelah itu perbannya harus dipasang lagi. Kamu paham kan Ana?" kata Kiara lagi.
"Iya kak, insya Allah saya paham," jawab Sonia.
"Ya udah, kalau gitu kita pamit dulu ya kak," kata Sean kemudian mengambil alih posisi perawat yang memegangi tangan Sonia untuk membantunya berjalan.
Sonia merasa sangat canggung, tidak jauh berbeda dengan Sean. Tapi mau tidak mau Sonia tetap harus berpegangan pada Sean karena dia memang tidak bisa berjalan sendiri dengan baik untuk saat ini.
"Oke, hati-hati ya kalian berdua. Obatnya jangan lupa diminum. Istirahat yang cukup. Semoga lekas sembuh ya Ana," pesan Kiara lagi.
"Iya kak. Sekali lagi terima kasih banyak ya kak. Saya permisi dulu," pamit Sonia juga.
"Assalamu'alaikum," ucap Sean dan Sonia.
"Wa'alaikumsalam," balas Kiara dan perawat tersebut.
Sean menuntun Sonia perlahan-lahan sampai tiba di mobilnya yang terparkir di depan. Kemudian mengantarkan Sonia pulang. Di tengah perjalanan,
"Terima kasih banyak ya Pak untuk semuanya," kata Sonia tulus.
"Ana, udah berapa kali sih kamu bilang terima kasih terus ke saya? Jangan berlebihan seperti itu, santai saja," balas Sean.
"Seharusnya tadi bapak mengejar kekasih bapak, saya merasa nggak enak melihat Mbak-nya sampai menangis seperti tadi," Sonia merasa tidak enak hati.
"Dia bukan kekasih saya Ana, hanya teman semasa kuliah dulu. Dan kamu menyuruh saya untuk mengejarnya, lalu membiarkan kamu yang sedang terluka? Tentu saja saya tidak akan pernah melakukan hal itu," ucap Sean sedikit emosi.
Sonia menundukkan kepalanya, merasa menyesal. Belum pernah Sonia melihat Sean yang emosi seperti saat ini.
"Ana maaf, saya tidak bermaksud memarahi kamu. Kamu takut ya melihat saya marah seperti tadi?" tanya Sean menyadari perubahan sikap Sonia.
__ADS_1
"Tidak kok Pak. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak, dan maaf sudah merepotkan bapak," jawab Ana dengan mengangkat wajahnya, melihat ke arah Sean kemudian memberikan senyuman lembutnya.
Hati Sean jumpalitan melihat senyum Sonia. Sekuat tenaga Sean menahan rasa gugupnya, tapi justru tangannya terangkat secara tiba-tiba dan mengusap lembut kepala Sonia yang dibalut hijab.
"Jangan pernah berkata seperti itu lagi, kamu tidak pernah merepotkan saya," kata Sean.
"I-iya Pak, ma-maaf," Sonia menjadi begitu gugup mendapati Sean yang mengusap kepalanya dengan lembut.
🌸🌸🌸
Sampai di daerah tempat kost Sonia, mereka harus berjalan sedikit jauh karena kebetulan sedang ada acara bazar yang diadakan oleh para pemuda di kampung tersebut. Meski acara bazar sudah berakhir tapi tetap saja stand-stand belum dibongkar sehingga jalan masih belum bisa dilewati oleh mobil.
Sudah jam 11 malam lebih ketika mereka turun dari mobil, suasana tentu saja sudah sedikit sepi. Sean membantu Sonia untuk berjalan.
Dan ketika mereka hendak melewati pos ronda, nampak beberapa pemuda sedang nongkrong sambil bercanda dan tertawa. Sonia mengeratkan genggaman tangannya pada Sean, membuat Sean seketika waspada. Sean bisa merasakan kalau Sonia merasa takut, mungkinkah Sonia sering diganggu oleh pemuda-pemuda itu?
Dan benar saja. Tiba-tiba saja ada seorang pemuda yang menghadang jalan Sonia dan Sean.
"Wow, liat gengs, si anak baik pulang malem dianterin cowok, pake acara dipapah pula, emang habis diapain neng?" kata Jordan, pemuda yang menghadang jalan Sean dan Sonia.
"Gayanya aja nolak-nolak sama Lo Jo, eh ternyata murahan juga," cibir salah seorang pemuda.
Rahang Sean langsung mengeras mendengar ejekan pemuda itu kepada Sonia. Sonia menyentuh tangan Sean yang menuntunnya.
"Jangan hiraukan mereka Pak. Kita lanjut jalan saja," kata Sonia setelah Sean mengalihkan perhatian padanya.
"Buru-buru amat neng, udah nggak tahan ya? Entar kalo udah selesai sama dia giliran Abang ya neng," ucap Jordan menyebalkan.
Dan ketika Jordan mengulurkan tangannya hendak mencolek dagu Sonia, Sean refleks langsung menepisnya.
"Jaga tangan Lo," peringat Sean dingin.
"Jangan ikut campur Lo, brengs*k," teriak Jordan yang langsung mendorong Sean sekuat tenaga.
Sean yang tidak siap sebelumnya terdorong ke belakang hingga membentur tiang salah satu stand bazar. Sean meringis pelan, pundak kanannya tergores paku yang ada di tiang stand bazar tersebut. Pegangan tangan Sean yang terlepas dari Sonia membuat Sonia menjadi terhuyung.
"Ana," pekik Sean yang langsung memburu ke arah Sonia sebelum Sonia terjatuh, tanpa menghiraukan rasa sakit di pundaknya.
Sean berhasil menangkap Sonia.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Sean khawatir.
"Saya tidak apa-apa Pak. Mari Pak, kita pergi dari sini sekarang juga," ajak Sonia dengan wajah penuh harap.
Sean tidak tega melihat wajah Sonia yang begitu memelas. Sean pun mengesampingkan segala keinginannya untuk memberi pelajaran kepada pemuda-pemuda kurang ajar itu. Sean kemudian membawa Sonia untuk melanjutkan perjalanan mereka dan meninggalkan kumpulan pemuda tersebut.
__ADS_1
"Hei, urusan kita belum selesai ya. Dasar gadis murahan yang bersembunyi di balik sikap alim. Cuih,,, tunggu pembalasan dari gue," umpat Jordan yang masih bisa didengar oleh Sean dan Sonia.
Sonia kembali mengeratkan genggaman tangannya pada Sean ketika menyadari Sean yang hendak berbalik ke arah Jordan. Sonia menggelengkan kepalanya pelan.
"Tolong jangan Pak," pinta Sonia.
Menghembuskan nafasnya kasar, Sean kemudian melanjutkan langkahnya untuk mengantar Sonia.
Sesampainya di depan kamar kost Sonia.
"Mari masuk dulu Pak. Biar saya bersihkan luka di pundak bapak. Takutnya jadi infeksi kalau tidak segera dibersihkan," kata Sonia
"Kau tau?" tanya Sean seakan tidak percaya kalau ternyata Sonia mengetahui luka di pundaknya.
Sonia tersenyum lembut.
"Tentu saya tau Pak. Mari Pak, silahkan masuk," jawab Sonia sekaligus mempersilahkan.
Sean akhirnya ikut masuk ke dalam kamar kost Sonia. Sonia sengaja membiarkan pintu kamar kost-nya terbuka, menghindari fitnah yang mungkin bisa terjadi.
"Silahkan duduk dulu Pak, biar saya ambilkan air hangat dulu," kata Sonia.
Sean mengangguk, kemudian mendudukkan dirinya di kursi panjang yang ada di dalam kamar tersebut. Pandangan Sean memindai seisi kamar kost Sonia. Tidak terlalu besar tapi cukup nyaman dan sangat bersih serta rapi.
Dengan sedikit tertatih Sonia kembali dengan membawa baskom kecil berisi air hangat di tangannya.
"Maaf Pak, boleh dibuka kemejanya?" pinta Sonia canggung.
Sean kemudian membuka kemeja yang dipakainya. Ya, Sean selalu melepaskan jas dan dasinya sebelum masuk ke dalam cafe tempat Sonia bekerja, Sean tidak ingin mengundang perhatian berlebih dari pengunjung lainnya.
Setelah Sean melepaskan kemejanya Sonia kemudian membersihkan luka di pundak Sean dengan hati-hati. Sesekali Sean terlihat meringis, karena ternyata lukanya memang sedikit dalam dan agak panjang.
"Kenapa kamu tidak mengijinkan saya untuk membalas perlakuan buruk mereka An?" tanya Sean begitu penasaran.
"Maaf Pak, saya hanya tidak ingin membuat masalahnya semakin berlarut-larut. Disini saya tinggal sendiri, jauh dari keluarga, saya hanya ingin bisa bekerja dengan tenang dan tidak ingin membuat masalah dengan siapapun," jawab Sonia sambil terus membersihkan luka Sean.
Sean bisa memahami alasan yang diberikan Sonia kepadanya. Tanpa Sean dan Sonia sadari, seseorang dengan sengaja menutup sebagian pintu kamar kost Sonia pelan-pelan.
"Sudah selesai. Saya ambilkan obat merah dan plester dulu ya Pak," pamit Sonia.
Setelah mendapat anggukan kepala dari Sean, Sonia kemudian beranjak berdiri dari duduknya. Namun sayang Sonia tiba-tiba saja menjadi oleng karena kakinya yang belum kuat untuk berpijak. Tanpa sengaja Sonia terjatuh dan menimpa Sean yang masih terduduk.
"Aaahhh," pekik Sonia.
Sean berhasil menangkap Sonia dalam pelukannya. Belum hilang rasa kaget keduanya, tiba-tiba saja mereka sudah dikejutkan dengan suara gaduh dari luar.
__ADS_1
"Ana, keluar kamu. Jangan kotori kampung kami dengan perbuatan mesum-mu," teriak orang-orang dari luar.
Sonia dan Sean kompak membulatkan kedua matanya masing-masing.