
Dua bulan setelah acara lamaran dan pertunangan, hari ini akhirnya pernikahan Danny dan Lusia pun dilangsungkan. Acara akad dan resepsi diadakan di ballroom sebuah hotel mewah.
Sheila, Dyah, dan Tya sedang menemani Lusia di ruang make up.
"Cantik banget sih yang mau nikah," puji Sheila.
"Masak sih Shei? Gue gugup banget ini. Dulu Lo juga gugup gini nggak sih Shei?" tanya Lusia.
"Sama aja Lus. Perasaan yang wajar itu mah. Semua yang akan menikah pasti juga merasakan kegugupan itu. Bismillah aja, insya Allah semua akan berjalan dengan lancar, kan sudah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya," jawab Sheila bijak.
"Iya Lus, bismillah aja. Kita kan ada disini buat nemenin Lo," kata Tya.
"Thanks ya guys untuk semuanya. Gue do'ain Lo sama Dyah juga segera nyusul ya Ya," balas Lusia.
"Aamiin," balas Sheila, Dyah, dan Tya bersamaan.
Sesaat kemudian seseorang dari WO datang dan memberitahu kalau sudah saatnya Lusia sebagai calon mempelai wanita keluar, acara ijab kabul akan segera dimulai. Lusia keluar dengan digandeng Sheila dan Mama-nya, Dyah dan Tya mengikuti di belakangnya.
Lusia didudukkan di kursi di sebelah Danny. Sheila dan yang lainnya kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan, tidak jauh dari meja tempat akad akan dilangsungkan. Sesaat Sheila melihat ke arah Steven dan membalas senyuman lembut sang suami yang duduk di kursi saksi. Ya, Steven diminta menjadi saksi dari pihak Danny.
Acara ijab kabul pun berjalan dengan lancar. Setelah selesai dengan semua prosesi acara pasca ijab yang dilanjutkan dengan pembacaan do'a untuk kedua mempelai, acara pun dilanjutkan dengan sesi foto-foto.
Selesai sesi foto Danny dan Lusia dibawa kembali ke ruang make up untuk berganti pakaian karena acara akan dilanjutkan dengan pesta resepsi pernikahan.
Tamu undangan juga sudah mulai berdatangan. Sheila duduk bersama dengan Steven dan teman-temannya yang lain di meja khusus yang telah disediakan, tidak jauh dari pelaminan.
"Kamu capek ya sayang, kok agak pucat?" tanya Steven sambil menggenggam lembut tangan kanan Sheila.
"Enggak kok Mas," jawab Sheila tidak sejujurnya.
Sebenarnya sejak masih di ruang make up tadi Sheila sudah merasakan rasa tidak nyaman pada bagian inti-nya. Beberapa kali juga Sheila seperti merasakan kontraksi ringan. Tapi Sheila masih menahannya karena tidak ingin membuat khawatir semua orang.
Usia kehamilan Sheila memang sudah sembilan bulan. Steven sebenarnya sudah melarang Sheila untuk hadir pada acara pesta ini, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan juga agar Sheila tidak kecapekan. Tapi tentu saja akhirnya Steven harus mengalah, tidak tega juga melihat kesedihan di wajah cantik istrinya yang ingin menemani sang sahabat di hari bahagianya ini.
Acara pesta resepsi pernikahan pun dimulai. Kedua mempelai pengantin saat ini sedang berjalan beriringan menuju ke pelaminan dengan diikuti orang tua dan keluarga yang lain di belakangnya. Danny dan Lusia nampak begitu bahagia. Senyuman tidak pernah pudar dari wajah keduanya. Begitu juga dengan keluarga dan semua yang hadir saat ini. Semuanya ikut merasa bahagia.
Acara demi acara berjalan dengan lancar. Sampai tiba pada acara memberikan ucapan selamat kepada mempelai berdua.
"Selamat ya Bro, akhirnya nikah juga Lo," kata Steven sambil memeluk Danny.
"Thanks Bro. Makasih juga untuk semua bantuan Lo," balas Danny.
__ADS_1
"Selamat ya Lus, semoga bahagia selalu dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah," kata Sheila setelah melepas pelukannya pada Lusia.
"Makasih banyak ya Shei, masih nyempetin hadir, padahal kandungan Lo udah segede ini," balas Lusia sambil mengelus perut Sheila.
"Nggak masalah kok Lus, dedek bayinya juga pengen jadi saksi di hari bahagianya Onty sama Ongkel-nya," canda Sheila.
"Iya kah? Duh Onty jadi terharu. Sehat terus sampai lahiran nanti ya Shei," kata Lusia.
"Aamiin," balas Sheila, Steven, dan Danny.
Santi dan Ken juga langsung memeluk Lusia dan Danny.
"Congratulation Bro, bahagia selalu ya," kata Ken.
"Thanks Bro, semoga Lo juga segera nyusul," balas Danny.
"Aamiin," kata Ken.
"Selamat menempuh hidup baru ya Lus, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah, dan semoga segera dikaruniai momongan," kata Santi.
"Aamiin Mbak Santi, terima kasih banyak do'anya. Mbak Santi juga semoga segera menyusul ya," balas Lusia.
"Aamiin Lus, makasih juga do'anya."
Ken dan Santi sedang menikmati hidangan mereka ketika beberapa orang teman Ken datang menghampiri mereka.
"Hai Ken," sapa Denis.
"Oh, hai Denis, Aska, Mahendra, David," balas Ken menyapa satu per satu temannya tersebut.
Setelah mereka selesai bersalaman satu sama lain Ken kemudian memperkenalkan Santi kepada mereka.
"Guys, kenalin ini Santi, tunangan gue," kata Ken dengan bangga memperkenalkan Santi.
Santi pun kemudian menyalami teman-teman Ken.
"Widih, Lo diem-diem udah tunangan aja Bro. Kapan acaranya? Tega Lo, nggak ngabarin, nggak ngundang juga lagi " gerutu David.
"Seminggu yang lalu. Sorry, kemarin itu emang acaranya cuma sederhana. Cuma keluarga doang sama kerabat," sesal Ken.
Memang benar, Ken dan Santi sudah resmi bertunangan seminggu kemarin. Acara sederhana yang diadakan di apartemen Santi itu hanya dihadiri Ken dan keluarganya juga Santi, keluarga Ricko, Ummi, Abi, Andika, Danny, dan Lusia saja.
__ADS_1
"Jadi bener nih, Lo dapet bekasnya si Ryo," cibir Aska.
Raut wajah Ken langsung berubah garang mendengar perkataan Aska. Tapi karena melihat Santi yang nampak syok di sebelahnya, Ken berusaha tenang dan mengontrol emosinya. Ken meraih pinggang Santi dan mendekapnya, membuat Santi sedikit terlonjak.
"Dapet gosip murahan darimana Lo? Dilihat dari mananya Santi bisa Lo bilang bekas? Bahkan Santi sama Ryo ciuman bibir aja belum pernah, apalagi yang lainnya. Kalo Lo nggak percaya, tanyain tuh sama Ryo, dia ada disana," kata Ken dengan tenang seraya menunjuk Ryo dengan dagunya.
"Tapi Santi emang bekas pacarnya Ryo kan?" tanya Mahendra juga.
"Mantan. Sopan dikit dong bahasa Lo, tunjukkan kalau Lo itu orang berpendidikan. Santi emang mantan pacar Ryo, dan kalian juga pasti tahu kan alasan mereka pisah dulu karena apa, kita semua tahu cerita itu," jawab Ken.
"Bagi gue dan keluarga gue Santi adalah gadis yang baik, yang pantas untuk diperjuangkan. Oke, mungkin kalian bisa meragukan penilaian gue, tapi apa kalian juga akan meragukan penilaian Steven? Kalian tentu tahu dong kalau Santi adalah sekretaris kepercayaan Steven selama bertahun-tahun yang kinerjanya tidak perlu diragukan lagi?" lanjut Ken telak yang membuat semuanya terdiam.
"Lain kali kalo dapet berita tuh disaring dulu, cari kebenarannya. Kalian orang berpendidikan tapi mudah sekali tertipu dengan gosip murahan seperti itu. Lain kali hati-hati kalo ngomong. Jangan sampai persahabatan kita selama ini rusak cuma gara-gara gosip murahan kayak gini. Gue cabut," pamit Ken sambil membawa Santi pergi dari sana.
"Gue bilang juga apa, kalian sih nekat banget. Gue udah peringatin kan dari awal, jangan langsung percaya sama ucapan Leana, jangan juga langsung negur Ken. Kalo udah kejadian kayak gini kalian juga kan yang nyesel, persahabatan kita semenjak masih SMP dipertaruhkan karena kecerobohan kalian," gerutu David panjang lebar.
Leana masih sakit hati pada Santi, itu kenapa dia menghasut teman-temannya yang juga teman-teman Ken dan Ryo, menceritakan hal-hal buruk tentang Santi. Dan sayangnya ada sebagian dari mereka yang percaya pada hasutan Leana itu.
Ken mengajak Santi untuk duduk kembali bersama Steven, Sheila, Andika, Anita, dan baby Adrian.
"Kenapa Bro?" tanya Steven melihat wajah Ken dan Santi yang sama-sama muram.
"Anak-anak tadi ngerendahin Santi," jawab Ken masih sedikit emosi.
"Kok bisa?" tanya Sheila kaget, kemudian langsung menggenggam tangan Santi yang duduk di sebelahnya, mencoba menguatkan.
"Nggak tahu tuh, dapet gosip murahan darimana mereka. Kalau nggak inget kita udah temenan dari sejak SMP, udah gue hajar mereka semua," jawab Ken dengan mengepalkan tangannya.
"Sabar Ken. Jangan terpancing emosi. Nanti biar Abang coba selidiki," kata Andika.
"Nggak usah Bang, Santi nggak pa-pa kok," cegah Santi tidak ingin merepotkan.
Steven mengangguk sedikit, memberi isyarat kepada Andika yang juga dibalas anggukan kecil oleh Andika.
"Ya udah, yang penting sekarang kamu jangan mikirin hal itu lagi ya San," kata Andika.
"Iya Bang," Santi meng-iyakan.
"Nggak usah dipikirin ya Mbak. Nanti juga mereka tau sendiri mana yang benar dan mana yang salah. Yang penting kami semua tahu siapa Mbak Santi, kami juga sayang sama Mbak Santi, jadi nggak usah perduliin mereka," kata Sheila.
"Makasih ya Shei," balas Santi.
__ADS_1
Keduanya tersenyum lembut. Semenjak bertunangan dengan Ken, Sheila memang meminta Santi untuk memanggilnya dengan nama saja, kare usia Sheila juga lebih muda dari Santi.
Diam-diam Ken merasa sangat menyesal karena teman-temannya telah membuat gadis pujaannya terluka. Ken merasa masih belum mampu melindungi Santi dengan baik.