Cinta Sheila

Cinta Sheila
S2 Sonia Diculik


__ADS_3

"Waktu kita cuma sepuluh menit aja, manfaatin dengan sebaik-baiknya," kata seseorang kepada temannya.


"Oke," balas temannya.


Keduanya kemudian berjalan keluar dari lift. Secepat kilat melumpuhkan empat orang anak buah Bima yang berjaga di depan pintu apartemen Sean. Dua orang itu kemudian menekan bel pintu apartemen.


Setelah pintu terbuka kedua orang tersebut pun nampak masuk ke dalam apartemen. Tidak lama setelah itu, sekitar lima menit kemudian, dua orang tersebut keluar dari apartemen Sean dengan membopong tubuh Sonia yang nampak tidak sadarkan diri dan membawanya pergi.


🌸🌸🌸


Saat ini Sean sedang memeriksa beberapa dokumen di dalam ruangannya di kantor. Suara dering ponselnya yang berbunyi nyaring pun kemudian mengambil alih perhatian Sean. Sean segera meraih ponselnya dan mengernyit heran ketika melihat nama Bima tertera di layar ponselnya itu.


Sean segera menerima panggilan telepon dari Bima tersebut. Entah kenapa Sean seketika merasakan ada sesuatu yang tidak beres sudah terjadi.


"Assalamu'alaikum Om," sapa Sean cepat.


"Wa'alaikumsalam. Kita kecolongan Sean, anak buah Raka berhasil menculik Sonia."


"APA???" teriak Sean yang langsung berdiri dari duduknya.


"Om tunggu di apartemen kamu sekarang juga."


"Baik Om. Sean pulang sekarang."


Sambungan telepon terputus. Sean kemudian bergegas keluar dari ruangannya.


"Pak-" ucapan Nadirga yang terkejut ketika melihat Sean berlari keluar dari ruangannya dengan panik itupun terpotong.


"Sonia diculik anak buah Raka. Gue pulang sekarang Ga. Tolong Lo handle dulu urusan kantor," potong Sean cepat.


"Baik Pak," balas Nadirga cepat tanggap, meskipun jujur saja dirinya juga sangat kaget mendengar apa yang dikatakan Sean barusan.


Sean pun segera berlari menuju ke lift khusus direktur dan berusaha agar secepat mungkin bisa sampai di apartemennya.


🌸🌸🌸


Sesampainya Sean di unit apartemennya, Sean melihat empat orang anak buah Bima yang tadi berjaga di depan pintu apartemennya itu sudah mulai sadar dan sedang dibantu oleh beberapa temannya yang lain untuk memulihkan keadaan mereka.


"Bos," sapa para anak buah tersebut.


Sean hanya mengangkat sebelah tangannya sebagai balasan. Sean kemudian bergegas masuk ke dalam apartemennya. Dilihatnya Bima sedang mengutak-atik laptopnya di ruang tamu. Sean juga melihat Sena dan Mbak Ratmi yang nampak masih memegangi kepalanya. Sepertinya mereka berdua juga baru saja sadarkan diri.


"Apa yang sebenarnya terjadi Om?" tanya Sean memburu.


"Mereka berhasil meretas CCTV kita dan mematikannya. Secepat mungkin Om berusaha menghidupkan kembali CCTV kita saat dalam perjalanan menuju kesini. Om juga sudah menghubungi anak buah kita yang lainnya. Tapi sayangnya ketika Om sampai disini dan berhasil menghidupkan kembali CCTV kita, Om mendapati semuanya sudah dalam keadaan tidak sadar. Dan ketika Om periksa, ternyata Sonia tidak ada dimanapun juga," jawab Bima menjelaskan.

__ADS_1


"Oh S H I T !!!" umpat Sean keras kemudian mengusap wajahnya kasar.


"Maafin Sena, Bang. Sena nggak bisa jagain Mbak Sonia dengan baik," sesal Sena.


"Bagaimana mereka bisa masuk?" tanya Sean dingin sembari mencoba mengendalikan dirinya yang sedang kalut.


"Mereka memakai pakaian teknisi gedung Bang. Kebetulan memang tadi pagi kita meminta pihak apartemen untuk mengirimkan teknisi karena kran di kitchen sink ( bak cuci piring ) tersumbat," jawab Sena.


"Dan anak buah Raka dengan cerdiknya memanfaatkan kesempatan itu dan menjalankan aksinya," imbuh Bima.


"Sudah coba memeriksa ke seluruh sudut apartemen ini untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa kita jadikan petunjuk Bim?" tanya Steven yang tiba-tiba sudah berada di dalam apartemen Sean bersama dengan Andika dan Danny.


"Sudah Steve. Tapi kita tidak menemukan satu petunjuk apapun," jawab Bima.


"GPS di jam tangan dan kalung Sonia?" tanya Sean penuh harap.


"Ini Om masih berusaha untuk mengaktifkannya dari sini. Semoga saja-"


Perkataan Bima terpotong karena bunyi notifikasi pada laptop miliknya yang berbunyi nyaring. Perhatian semua orang sontak langsung beralih ke laptop Bima yang berada di atas meja tersebut.


"Ada apa ini?" tanya Bima lebih kepada dirinya sendiri.


"Kenapa Bim?" tanya Andika.


"GPS di kalung Sonia tiba-tiba menyala sendiri. Sementara dari rekaman CCTV yang berhasil gue dapatkan, Sonia dalam keadaan tidak sadar saat dia dibawa pergi," jawab Bima.


"Sepertinya mereka memang sengaja ingin memberi tahu dimana lokasi keberadaan mereka kepada kita," kata Danny.


"Dan pasti mereka sudah menyiapkan jebakan untuk kita disana," sambung Steven.


"Ya, Daddy dan Ayah benar. Sepertinya memang seperti itu rencana mereka," ucap Sean membenarkan.


"Kita harus punya rencana yang matang untuk menghadapi Raka dan anak buahnya," balas Andika.


"Abang benar. Karena gue ngerasa ini bukan hanya karena Sonia. Raka pasti tahu kalau Sean adalah anak gue. Dia sengaja ingin balas dendam ke gue melalui anak gue, sekaligus mendapatkan Sonia seperti yang dia inginkan dulu," kata Steven yang seketika membuat semua orang yang ada disana menjadi terkejut.


"Ayah benar. Abang juga ngerasa seperti itu Yah. Raka sengaja mempermudah kita menemukan keberadaan mereka karena dia memang ingin membalas dendam kepada kita," ucap Sean membenarkan pemikiran Steven.


Andika, Danny, Bima, dan Sena pun menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan Steven dan Sean. Sementara Mbak Ratmi sudah tidak berada di antara mereka karena ijin ke dapur setelah tidak terlalu merasa pusing lagi tadi.


🌸🌸🌸


Setelah menyusun rencana matang bersama-sama dengan Darius juga, akhirnya Sean berangkat bersama Adrian, Syafiq, Nadirga, dan Sammy menuju ke lokasi keberadaan Sonia sesuai dengan yang ditunjukkan oleh GPS pada liontin di kalung Sonia.


Sementara Alvin, Kenzie, dan Lucky akan memimpin bala bantuan untuk menyerang secara sembunyi-sembunyi. Tristan dan Dylan ( putra kedua Danny yang berusia 18 tahun ) ikut dalam rombongan Darius dan para ayah yang bergerak di paling akhir, memantau situasi terlebih dahulu.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan, Sean yang duduk di samping Nadirga yang sedang menyetir hanya diam saja. Adrian, Syafiq, Sammy, dan Nadirga pun mencoba untuk memahami perasaan Sean saat ini dan membiarkan Sean dengan keterdiaman-nya itu.


Saat ini Sean sedang bergelut dengan perasaan cemas dan khawatir tentang keadaan Sonia. Dan entah kenapa, tiba-tiba semua kenangan-kenangan kejadian beberapa hari belakangan ini yang dia alami bersama Sonia seakan menari-nari dalam ingatan Sean.


Raut wajah bahagia Sonia ketika memakan martabak pesanannya setelah Sean pulang dari kantor dan ketika memakan nasi goreng yang sangat diinginkannya di tengah malam waktu itu. Keseruan dan ekspresi bahagia Sonia ketika Sean memboncengnya dengan sepeda motor Ninja ZX-10R milik Sean. Dan canda tawa mereka berdua ketika menikmati es krim di taman kota malam itu.


Dan yang paling membuat Sean merasa begitu kacau adalah ketika mengingat pembicaraan mereka berdua sebelum tidur, setelah pulang dari taman kota malam itu.


Flashback


"Sayang, Mas boleh tanya sesuatu nggak?"


Saat ini Sean sedang bersandar pada headboard kasur sambil mengelus lembut rambut Sonia dalam dekapannya. Sementara Sonia menyandarkan kepalanya di dada Sean sembari memejamkan matanya dan memeluk Sean, menikmati kenyamanan dekapan hangat sang suami.


"Hmm. Mas mau tanya apa emangnya?"


"Biasanya kamu datang bulan tanggal berapa?"


Sonia membuka kedua matanya, sedikit merasa heran mendengar pertanyaan suaminya itu.


"Memangnya kenapa Mas? Kok tiba-tiba Mas tanya masalah itu?"


"Enggak, cuma tanya aja. Perasaan setelah kita menikah, Mas baru sekali lihat kamu datang bulan. Padahal kan kita nikah udah tiga bulan loh sayang."


Sonia langsung menegakkan tubuhnya, bangun dari dekapan Sean karena merasa terkejut setelah menyadari kebenaran perkataan Sean tersebut.


"Eh, iya juga ya Mas. Kok aku malah nggak nyadar sih kalau bulan kemarin aku nggak menstruasi."


"Sayang, kamu mau kan kalau besok kita periksa ke dokter?" tanya Sean hati-hati sambil memegangi kedua tangan Sonia.


"Maksud Mas Sean..... A-aku....." Sonia terbata-bata dan tidak mampu melanjutkan perkataannya.


"Mas menduga seperti itu. Melihat dari keanehan sikap kamu beberapa hari belakangan ini, belum lagi kesukaan kamu sama rujak yang tiba-tiba. Apalagi setelah Mas tau kamu benar-benar telat datang bulan. Jadi, mau ya besok kita periksa ke dokter untuk memastikan?"


"Tapi kalau hasilnya negatif bagaimana Mas?" tanya Sonia lirih.


"Ya nggak pa-pa. Waktu kita masih panjang sayang. Kita masih bisa berusaha lebih keras lagi. Tapi jika memang hasilnya positif, kan kita jadi bisa memberikan yang terbaik sejak awal," jawab Sean meyakinkan.


"Aku takut Mas kecewa kalau nanti hasilnya negatif," lirih Sonia lagi.


"Enggak akan sayang. Mas memang sangat mengharapkan kehadiran buah hati kita. Tapi seandainya Allah belum memberikannya pun, Mas akan tetap ikhlas dan sabar menantinya. Jadi jangan pernah kamu merasa terbebani dengan masalah itu, ya."


Sonia menganggukkan kepalanya pelan. Sean kemudian menarik Sonia ke dalam pelukannya.


"Besok kita periksa ya. Apapun hasilnya, kita serahkan saja kepada Allah SWT. Kalau positif ya alhamdulillah, seandainya negatif pun tidak jadi masalah, kita masih bisa berusaha lagi. Dan ingat pesan Mas, jangan pernah merasa terbebani, oke?"

__ADS_1


Sonia mengangguk dalam pelukan Sean. Sean pun mencium puncak kepala Sonia dan semakin mengeratkan pelukannya pada istrinya itu. Keduanya saling menyalurkan perasaan kasih dan sayang masing-masing melalui pelukan hangat mereka tersebut.


__ADS_2