
Baru juga jam tujuh pagi tapi suasana di dalam ruang perawatan VIP itu sudah begitu ramai dengan kehadiran dua pasang kakek nenek baru dan juga dua om serta satu tante. Amelia dan Sarah bergantian untuk menggendong dan menimang cucu mereka. Ricko dan Jefri yang juga nampak begitu bahagia. Dan jangan lupakan Leon, Max, dan Sylvia yang tak kalah antusias.
"Sudah ada namanya Steve?" tanya Amelia sambil mengelus pipi lembut cucunya yang sedang berada dalam gendongan Sarah.
"Sean Ravindra Setyo Aji, Ma," jawab Steven.
"Namanya bagus banget Steve," kata Sarah dan semuanya pun mengangguk membenarkan.
"Hai Sean, cucu Oma yang ganteng. Cepet besar ya sayang, tumbuh jadi anak yang sehat dan kuat," kata Amelia mengajak bicara baby Sean kemudian mencium tangan mungilnya.
"Tentu Oma cantik," Sarah yang menjawab dengan menirukan suara anak kecil, membuat keduanya tergelak.
"Kalau kamu dipanggil oma, aku mau dipanggil nenek aja ah," kata Sarah setelah tawa mereka mereda.
"Oke deh Nenek-nya Sean. Biar komplit juga, Sean punya Oma dan juga nenek," balas Amelia.
Sheila dan yang lainnya ikut tersenyum mendengar pembicaraan dari dua wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak lagi muda itu. Aura kebahagiaan benar-benar memenuhi ruang perawatan VIP tersebut.
"Sylvia sayang, sini nak," panggil Sarah kepada Sylvia.
"Iya Bun," jawab Sylvia kemudian berjalan mendekati Sarah.
"Nih, kamu gendong Sean ya. Biar cepet ketularan katanya," kata Sarah sambil menyerahkan baby Sean kepada Sylvia.
Sylvia menerima baby Sean dan menggendongnya. Mencium pipi baby Sean gemas kemudian menimangnya pelan.
"Duh, kamu udah luwes gitu Syl gendongnya. Udah pantes banget. Semoga cepet nyusul ya, segera hamil dan punya anak," do'a Amelia tulus.
"Aamiin Tante, makasih do'anya," balas Sylvia.
"Nggak pa-pa sayang, yakin aja kalau sudah waktunya pasti juga dikasih sama Allah SWT. Yah, anggap aja ini juga salah satu ikhtiar kamu, kalau kata orang tua dulu sih manjur loh," hibur Sarah.
"Syukur-syukur kalau kamu dipipisin Syl, lebih manjur lagi katanya," imbuh Amelia.
"Mitos itu," sanggah Ricko.
"Iiissshh, Papa nggak tahu apa-apa, nggak usah protes deh," gerutu Amelia.
"Tapi kan bener Ma, itu tuh cuma mitos orang jaman dulu aja," kekeuh Ricko.
"Papaaa... Ah terserah lah. Papa emang nggak pernah sependapat sama Mama," rajuk Amelia
"Lah, kok jadi marah? Papa kan cuma bilang yang sebenarnya aja," kilah Ricko.
"Bodo," sahut Amel acuh.
"Ma, jangan marah dong. Malu tuh dilihatin cucu," bujuk Ricko sambil memegang pundak Amelia.
"Nggak usah bawa-bawa Sean deh. Salah ya salah aja," sewot Amelia.
__ADS_1
"Maaa,,," Ricko masih mencoba membujuk.
"Papa sama Mama lebay deh. Kebiasaan banget sih, nggak mau kalah sama yang muda," cibir Steven.
Yang lain pun tertawa mendengar perkataan Steven dan juga perdebatan Ricko dan Amelia tadi. Dan tiba-tiba saja,
"Eh," kata Sylvia sedikit kaget.
"Yah, Sean pipis. Duh, maaf ya kak," kata Sheila yang segera menyadari.
"Wuaahhh, beneran dipipisin ya. Semoga beneran cepet ketularan hamil juga ya Syl," kata Amelia.
"Aamiin," balas Sarah yang langsung mengambil alih baby Sean untuk dia gantikan popok. "Kamu bersihin baju kamu dulu ya sayang. Biar Bunda yang gantiin popoknya Sean."
"Iya Bun, cuma basah dikit aja kok nggak pa-pa," kata Sylvia.
Max diam-diam mengulum senyum memperhatikan Sylvia dari tadi, berdo'a dalam hati semoga perkataan Amelia dan Sarah diijabah oleh Allah SWT dan Sylvia bisa segera hamil.
...
Sheila sedang menyusui baby Sean. Steven duduk di depannya sambil memainkan tangan mungil putranya itu. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul satu malam.
Tadi siang setelah semua keluarga pamit pulang, Andika dan Anita datang bersama baby Adrian. Ken dan Santi juga datang bersama Jery, Kania, dan Kiara. Tya dan Dyah datang bersama Leon dan Toni. Bahkan sang pengantin baru, Danny dan Lusia, juga menyempatkan datang menjenguk baby Sean sebelum mereka berangkat bulan madu ke Korea Selatan.
"Ayah tidur aja duluan. Pasti capek kan, dari tadi pagi ada aja yang dateng jengukin," kata Sheila.
Semenjak ada baby Sean memang Steven dan Sheila sudah merubah panggilan untuk mereka sendiri dengan sebutan Ayah dan Bunda.
"Tapi Bunda nggak capek kok Yah."
"Kalau gitu sama, Ayah juga nggak capek kok. Ayah kan lagi seneng-senengnya karena kehadiran Sean," kata Steven lagi.
"Ya udah deh kalau gitu. Nanti kalau Sean udah kenyang dan udah bobok lagi kita juga tidur, oke," tawar Sheila pada akhirnya.
"Siap Bunda," balas Steven sambil mengangkat tangan baby Sean yang dipegangnya.
"Ayah mau cuti sampai kapan? Perasaan itu perusahaan ditinggal cuti mulu deh, kasihan Mbak Santi sama Yas dong. Danny, Ken, dan karyawan-karyawan Ayah yang lain juga."
"Walaupun Ayah nggak ke kantor bukan berarti Ayah nggak ngurusin perusahaan dong Bun. Kan Ayah kerja dari rumah juga. Lagian kan emang lagi ada kepentingan juga kan Bun, ada alasan yang kuat. Nanti kalau kita udah pulang dari rumah sakit Ayah juga berangkat ke kantor lagi kok."
"Iya deh iya. Bos mah bebas," cibir Sheila.
"Siapa bilang, justru tanggung jawab Ayah itu besar loh Bun."
"Maka dari itu Bunda ngingetin Ayah supaya nggak melalaikan tanggung jawab Ayah."
"Insya Allah enggak kok Bun. Makasih ya udah diingetin," kata Steven kemudian mencium kening Sheila.
"Sama-sama Ayah."
__ADS_1
"Ayah bahagia banget deh Bun. Keluarga kecil kita sudah lengkap sekarang dengan kehadiran Sean. Tinggal nunggu buat adik-adiknya Sean aja nanti."
"Iiissshh Ayah, nunggu Sean besar dulu."
"Iya-iya Bun, Ayah juga tahu kok. Tapi jatah ayah nggak harus nunggu Sean besar dulu kan Bun?" tanya Steven nyeleneh sambil menaik-turunkan alisnya berkali-kali.
"Ayah apaan sih," wajah Sheila sudah memerah.
Steven tergelak setelah berhasil mengerjai Sheila.
"Sssttt, jangan keras-keras," Sheila mengingatkan sambil menaruh jari telunjuk di depan mulutnya.
"Uups, maaf, nggak sengaja," sesal Steven.
Keduanya terkikik pelan.
"Belum terbiasa ya Yah kalau udah ada Sean sekarang?" tanya Sheila.
"Iya nih Bun. Masih sering lupa kontrol suara," jawab Steven.
"Nggak pa-pa Yah, pelan-pelan nanti juga terbiasa kok," kata Sheila.
Tak lama kemudian baby Sean yang sudah terlelap pun melepaskan mulutnya dari dada Sheila.
"Eh, udah dilepas. Udah bobok lagi tuh Bun Sean-nya," kata Steven.
"Iya Yah," balas Sheila.
Sheila merapikan pakaiannya. Kemudian mengambil tisu untuk membersihkan sisa-sisa ASI di sekitar mulut baby Sean. Sheila mengangkat baby Sean dan merebahkannya di dada dengan posisi kepala di pundak Sheila. Menepuk-nepuk punggungnya pelan. Setelah terdengar baby Sean bersendawa barulah Sheila kembali meletakkan baby Sean ke dalam box bayinya.
"Subhanallah, kamu kok udah pinter banget sih sayang. Kayak yang udah pengalaman banget ngurus bayi," puji Steven melihat ketelatenan Sheila.
"Baca-baca artikel aja Yah, insting seorang ibu juga jadi kayak otomatis bisa, gitu aja sih," balas Sheila.
"Ayah sama Sean beruntung banget deh punya Bunda," puji Steven lagi.
"Udah ah. Yuk tidur, kan Sean juga udah bobok tuh," ajak Sheila.
Steven pun segera naik ke bed Sheila. Merebahkan tubuhnya bersama Sheila kemudian memeluk Sheila erat.
"Terima kasih banyak ya Bunda sayang untuk semua kebahagiaan yang Bunda berikan dalam kehidupan Ayah," kata Steven setelah mencium puncak kepala Sheila.
"Sama-sama Ayah," balas Sheila sambil tersenyum di dada Steven.
"Ayah bersyukur banget memiliki Bunda dan Sean dalam hidup Ayah," kata Steven lagi.
"Bunda juga bersyukur banget memiliki Ayah dan Sean dalam hidup Bunda. Love you Ayah-nya Sean," balas Sheila.
"Love you too, Bunda-nya Sean," kata Steven.
__ADS_1
Steven kembali mencium puncak kepala Sheila, kemudian keduanya pun mulai terlelap.