Cinta Sheila

Cinta Sheila
Danny dan Lusia : The Engagement


__ADS_3

Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, weekend ini akan dilangsungkan acara lamaran resmi Danny kepada Lusia yang dilanjutkan dengan pertunangan. Acara diadakan di kediaman Angga karena memang hanya mengundang keluarga dan kerabat dekat saja.


Sempat terjadi perdebatan antara Steven dan Sheila mengenai mereka yang akan ikut dalam rombongan pihak mana. Keduanya tentu saja ingin menemani sahabat masing-masing.


Dilema bagi Steven, di satu sisi dia tidak ingin melewatkan moment penting sahabatnya dan ingin menemaninya. Tapi di sisi lain Steven juga tidak ingin membiarkan Sheila sendirian di tempat Lusia, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap istrinya itu.


"Udah deh Mas, jangan lebay ah. Kan udah ada Mbak Santi sama Yas yang nemenin aku, ngawasin aku," kata Sheila sebelum naik ke mobil.


Ya, akhirnya mereka bisa menemani sahabat masing-masing. Dan Steven meminta Santi dan juga Yas untuk menemani dan mengawasi Sheila, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Steven yang berdiri di hadapan Sheila masih nampak cemberut, tidak rela istrinya pergi tanpa dirinya. Sementara Santi dan Yas sudah menunggu di dalam mobil.


"Udah ih, jangan manyun terus. Sana buruan berangkat, nanti telat loh. Aku juga mau berangkat nih."


"Iya deh iya. Tapi kamu baik-baik ya disana, kalau ada apa-apa pokoknya harus langsung menghubungi Mas," pesan Steven untuk yang kesekian kalinya.


"Iya Mas, pasti itu. Lagian kan juga ada Mbak Santi sama Yas, mereka pasti jagain aku dengan baik," kata Sheila.


"Hmm. Hati-hati ya sayang," kata Steven akhirnya kemudian mencium kening Sheila. Beralih ke perut Sheila yang sudah membuncit, "Anaknya Ayah baik-baik ya disana nanti, jagain Bunda buat Ayah, oke," pesan Steven sambil mengusap perut Sheila memutar kemudian menciumnya.


"Siap Ayah," jawab Sheila dengan menirukan suara anak kecil.


Steven mendongak dan tertawa pelan. Menegakkan tubuhnya kembali kemudian mengusap lembut kepala Sheila.


Sheila meraih tangan kanan Steven kemudian menciumnya.


"Assalamu'alaikum Mas," pamit Sheila.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya sayang," balas Steven. "Yas, Santi, jaga istri dan anak saya dengan baik," pesan Steven kepada Yas dan Santi.


"Baik Pak," balas Yas dan Santi bersamaan.


Sheila kemudian masuk ke dalam mobil. Yas kemudian melajukan mobil tersebut. Setelah mobil yang ditumpangi Sheila, Yas, dan Santi meninggalkan halaman rumah, Steven kemudian naik ke mobilnya sendiri dan berangkat menuju ke rumah Danny.


...

__ADS_1


Sheila disambut langsung oleh Linda, Mama Lusia.


"Assalamu'alaikum Tante," sapa Sheila setelah turun dari mobil kemudian menghampiri Linda.


"Wa'alaikumsalam sayang," balas Linda sambil mencium pipi kanan dan kiri Sheila. "Langsung naik ke atas aja ya, Lusia udah nungguin kamu tuh di kamarnya."


"Oke deh Tante. Dyah sama Tya belum dateng ya Tan?" tanya Sheila.


"Belum sayang. Mungkin sebentar lagi."


"Ya udah, kalau begitu aku langsung naik ya Tante," kata Sheila.


"Iya sayang, silahkan," Linda mempersilahkan.


"Mbak Santi ikut aku ke atas ya. Yas disini aja, bantuin persiapan apa yang sekiranya masih kurang," kata Sheila.


"Baik Bu," Yas dan Santi menjawab bersamaan lagi.


Sheila dan Santi naik ke lantai dua, menuju ke kamar Lusia.


"Wa'alaikumsalam. Shei," pekik Lusia.


Lusia langsung menghampiri Sheila dan memeluknya.


"Mbak Santi," Lusia menyapa Santi dan memeluknya juga.


"Cantik banget kamu Lus, selamat ya," kata Santi.


"Makasih Mbak," jawab Lusia. "Akhirnya Lo dateng juga Shei. Gue gugup banget nih dari tadi," kata Lusia beralih kepada Sheila lagi.


"Kenapa harus gugup sih Lus?" tanya Sheila.


"Ya gue ngerasa deg-degan banget tau. Gimana penampilan gue? Ada yang kurang enggak? Make up gue udah luntur belum?" tanya Lusia heboh sendiri.


Sheila tertawa kecil. Dia lalu mengajak Lusia untuk duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Tarik nafas dalam-dalam, keluarkan perlahan lewat mulut," instruksi Sheila.


Lusia melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Sheila tadi.


"Tenang aja Lus. Penampilan kamu udah oke banget kok. Bismillah saja ya, semoga semuanya berjalan dengan lancar," kata Sheila mencoba menenangkan Lusia.


Lusia tersenyum dan mengangguk. Tidak lama kemudian Dyah dan Tya datang. Mereka semua menemani Lusia sekaligus memberi dukungan kepada sahabatnya yang sedang gugup itu.


Rombongan keluarga Danny pun akhirnya tiba. Mereka disambut dengan hangat oleh Angga dan keluarga yang lainnya. Setelah semuanya dipersilahkan untuk duduk di kursi yang telah disediakan di halaman samping, tempat diadakannya acara yang telah di dekorasi dengan sangat cantik. Tidak lama kemudian Lusia pun keluar dengan digandeng oleh Sheila dan Dyah. Tya dan Santi mengikuti di belakangnya.


Steven yang sudah tidak sabar lagi segera saja menghampiri Sheila setelah istrinya itu selesai mengantarkan Lusia kepada kedua orang tuanya bersama sahabatnya yang lain. Acara demi acara pun berjalan dengan lancar. Suasana haru dan bahagia melingkupi hati semua yang hadir pada acara tersebut.


Danny dengan ditemani oleh ibu dan adik perempuannya kini nampak memasangkan cincin ke jari manis Lusia yang didampingi oleh kedua orang tuanya. Ayah Danny sudah meninggal sejak Danny masih kuliah karena sakit.


Danny sebagai anak pertama pun lalu mengambil alih tugas sang ayah menjadi tulang punggung keluarga. Itu sebabnya mengapa Danny tidak pernah berpikiran tentang hubungan dengan seorang wanita selama ini. Dia masih memiliki tanggung jawab seorang adik perempuan yang masih sekolah.


Dan sekarang setelah adik perempuannya berhasil menyelesaikan pendidikannya, ternyata Tuhan juga mempertemukan dirinya dengan Lusia, gadis cantik yang sudah berhasil mencuri hatinya dengan sifat mandiri dan dewasanya.


Dewi, ibu Danny, memiliki beberapa restoran yang dulu dibangunnya bersama mendiang sang suami. Kini restoran-restoran tersebut dia kelola bersama Denia, putri keduanya, adik Danny yang baru saja menyelesaikan studinya sebagai seorang chef di luar negeri.


"Jadi itu ya Mas yang namanya Denia, adik perempuan Danny?" tanya Sheila kepada Steven, sambil melihat ke arah Denia yang sedang duduk bersama Dewi.


"Iya sayang, itu Denia adiknya Danny. Dia baru sebulan ini kembali dari luar negeri setelah menyelesaikan pendidikannya sebagai seorang chef."


"Mas, apa cuma perasaanku saja ya, tapi kok aku perhatikan dari tadi Yas ngelihatin Denia terus. Denia juga sering curi-curi pandang tuh ke arah Yas," kata Sheila lagi setengah berbisik.


Steven tertawa pelan sebelum menjawab pertanyaan Sheila. Dicubitnya hidung Sheila pelan.


"Istri Mas ini pinter banget sih mengamati seseorang. Iya, memang dulunya Denia dan Yas sempat dekat saat mereka masih sama-sama sekolah menengah sampai mereka kuliah. Hubungan mereka terputus semenjak Santi ditinggalkan begitu saja oleh Ryo karena orang tua Ryo yang menganggap Santi tidak pantas untuk Ryo. Mungkin saat itu Yas merasa kalau dia pun belum pantas untuk Nia. Makanya Yas memilih untuk fokus terlebih dahulu pada pendidikannya untuk kemudian menjadi orang yang sukses. Nia yang kecewa saat itu kemudian memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Dan ya, hubungan mereka benar-benar terputus setelah itu," Steven menjelaskan panjang lebar.


"Sebenarnya pemikiran Yas tidak salah, dia hanya ingin memantaskan diri terlebih dahulu. Tapi Nia yang merasa kecewa juga sangat wajar dan bisa dimaklumi. Hmh, mungkin itu sudah menjadi jalan untuk cerita cinta mereka berdua. Tapi aku berharap semoga nanti Yas dan Nia tetap bisa bahagia, entah mereka ditakdirkan untuk bersama ataupun tidak."


"Aamiin Yaa robbal 'aalamiin," kata Steven meng-amin-kan do'a Sheila.


Steven dan Sheila tersenyum bersamaan, menyaksikan dua anak muda yang sedang sibuk mencuri-curi pandang di depan sana.

__ADS_1


__ADS_2