
Empat bulan kemudian
Pernikahan dua pasangan pengantin diadakan bersamaan di sebuah ballroom hotel mewah. Pernikahan Toni dengan Dyah dan juga pernikahan Leon dengan Tya.
Acara ijab kabul kedua pasangan pengantin telah berjalan dengan lancar dan khidmat tadi pagi. Dan malam ini adalah acara pesta resepsi pernikahan mereka. Kedua pasang mempelai pengantin saat ini telah menempati pelaminan mereka masing-masing.
Dekorasi pelaminan kali ini tentu saja sedikit berbeda dengan dekorasi pesta pernikahan pada umumnya. Kursi kedua orang tua Toni dan Tya berada di tengah sementara pelaminan Toni berada di sebelah kiri kedua orang tuanya disusul dengan kursi untuk kedua orang tua Dyah. Sedangkan pelaminan Tya berada di sebelah kanan kedua orang tuanya disusul dengan kursi untuk kedua orang tua Leon.
Satu per satu rangkaian acara pesta berjalan dengan lancar. Dan ketika acara memberi ucapan selamat telah selesai, tiba-tiba saja Leon menggandeng tangan Tya menuju ke panggung musik. Berkoordinasi dengan para anggota band kemudian meraih mikrofon yang diangsurkan kepadanya oleh seorang anggota wedding organizer.
"Mohon perhatian semuanya," kata Leon meminta atensi dari semua orang yang hadir di ballroom tersebut.
"Saya ucapkan terima kasih untuk semuanya yang sudah berkenan hadir dan memberikan do'a restunya untuk kami. Dan sekarang, ijinkan saya mempersembahkan sebuah lagu untuk istri saya tercinta," lanjut Leon yang diakhiri dengan menoleh ke arah Tya.
Wajah Tya semakin merona merah, tapi senyum manis terus tersungging di bibirnya.
"This song is for you, my sweetie," kata Leon kemudian mengecup punggung tangan Tya yang sedari tadi digenggamnya.
Alunan musik yang merdu pun mulai terdengar.
I think of you in everything that i do
To be with you what ever it takes i'll do
Cause you my love, you all my heart desires
You've lighten up my life forever i'm alive
Since i found you my world seems so brand new
You've show me the love i never knew
Your presence is what my whole life through
Since i found you my life begin so new
Now who needs a dream when there is you
For all of my dreams came true
Since i found you
Your love shines bright
Through all the corners of my heart
Maybe you are my dearest heart
I give you all i have my heart, my soul, my life
__ADS_1
My destiny is you
Forever true... i'm so in love with you
Since i found you my world seems so brand new
You've show me the love i never knew
Your presence is what my whole life through
Since i found you my life begin so new
Now who needs a dream when there is you
For all of my dreams came true
Since i found you
My heart forever true...
In love with you...
( Christian Bautista - Since I Found You )
Tya menutup mulutnya dengan sebelah tangannya yang tidak digenggam Leon. Air mata haru sudah meluncur dari mata indahnya sejak tadi. Menyerahkan mikrofon kepada anggota wedding organizer yang stand by disana, Leon kemudian menghapus air mata di pipi Tya. Mencium kening Tya kemudian langsung memeluk istrinya itu. Tepuk tangan meriah membahana, memenuhi ballroom hotel tersebut.
"Kak Leon ternyata bisa romantis banget kayak gitu juga ya," kata Sheila yang bersandar di bahu Steven.
Steven tersenyum kemudian mengecup puncak kepala Sheila.
"Cinta memang bisa merubah segalanya sayang."
Dan ternyata bukan hanya Steven dan Sheila saja yang ikut merasa terharu, karena semua sahabat mereka saat ini juga sedang merangkul pundak pasangan masing-masing. Bahkan banyak tamu undangan yang juga ikut merasa terharu mendengar lagu dari Leon tersebut.
...
Tujuh tahun kemudian
Suara riuh anak-anak yang sedang bermain dan berkejaran memenuhi halaman belakang rumah Ricko. Sesuai kesepakatan bersama setiap dua minggu sekali para sahabat itu akan berkumpul dan menghabiskan waktu bersama. Dan kali ini Steven yang menjadi tuan rumahnya. Perkumpulan mereka juga semakin ramai dengan bertambahnya pasangan Yas dan Nia. Sehingga sekarang mereka berjumlah sembilan pasangan.
Tujuh tahun sudah berlalu, kehidupan rumah tangga sembilan pasangan itu pun semakin lengkap dengan kehadiran putra putri mereka.
~ Steven dan Sheila sudah memiliki 3 orang anak, Sean ( 7 ), Syafiq ( 4 ), dan putri kecil mereka Safaniya ( 1 ).
~ Danny dan Lusia baru memiliki seorang putri bernama Ghania ( 6 ).
~ Ken dan Santi memiliki dua orang anak, Kenzie ( 5 ) dan Kikandrya ( 3 ).
~ Andika dan Anita memiliki dua orang putra, Adrian ( 7 ) dan Alvin ( 5 ).
__ADS_1
~ Max dan Sylvia memiliki seorang putra bernama Sammy ( 6 ) dan saat ini Sylvia sedang hamil anak kedua.
~ Leon dan Tya memiliki dua orang anak, Lathifah ( 4 ) dan Lucky ( 1 ).
~ Toni dan Dyah memiliki seorang putri bernama Raindyta ( 3 ) dan saat ini Dyah pun juga sedang hamil anak kedua nya.
~ Jery dan Kania memiliki dua orang anak, Kiara ( 13 ) dan Jimmy ( 5 ).
~ Yas dan Nia memiliki seorang putra bernama Nadirga ( 3 ).
Suara riuh berasal dari Syafiq, Kenzie, Sammy, Lucky, Alvin, Jimmy, dan Nadirga yang sedang asyik bermain bola. Sementara Kiara, Ghania, Kikandrya, Lathifah, dan Raindyta sedang asyik bermain boneka dan pesta minum teh mereka di atas tikar piknik yang sudah digelar.
Tapi nyatanya kebisingan itu bahkan tidak mampu mengganggu fokus Sean dan Adrian yang sedang duduk di bawah pohon untuk membaca buku. Kedua anak laki-laki yang hanya terpaut usia 4 bulan itu memang mewarisi sifat kaku dan serius ayah mereka. Kecerdasan mereka berdua pun bahkan di atas rata-rata anak seusia mereka. Dan hal itu membuat mereka berdua bisa loncat naik kelas dengan mudah.
"Lo yakin Dan nggak mau nambah anak lagi? Lucu gini loh," tanya Leon sambil mengangkat kedua tangan mungil Lucky yang sedang dipangkunya.
Saat ini para ayah sedang duduk berkumpul sambil mengawasi anak-anak mereka bermain di halaman belakang. Sementara para ibu sedang sibuk menyiapkan hidangan untuk makan bersama di dapur.
"Beneran masih trauma gue ngelihat gimana susahnya perjuangan istri gue pas lahiran Ghania kemarin. Masih takut gue," jawab Danny sejujurnya.
"Ck, jangan egois dong Lo," decak Ken. "Hamil dan melahirkan adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang wanita."
"Tapi kita udah sepakat kok, nggak usah nambah lagi nggak pa-pa. Lusia juga udah setuju," Danny membela diri.
"Yakin Lo?" cibir Toni.
"Beneran," kekeuh Danny.
"Jujur aja nih ya bro, Sheila pernah cerita ke gue kalau Lusia curhat sama dia. Lusia tuh sebenernya pengen punya anak lagi. Paling enggak satu lagi aja, biar Ghania ada temennya dan nggak sendirian," kata Steven bercerita sambil memangku putri kecilnya, Safaniya.
"Sungguh? Tapi kok tiap kali gue bilang nggak usah hamil lagi dia juga nggak protes ya?" tanya Danny heran.
"Dasar nggak peka kamu Dan. Dia begitu karena menghormati kamu dan nggak mau kalau sampai ribut dengan kamu," jawab Andika.
"Istri gue aja yang dikasih hamil agak susah, dia selalu berdo'a dan berharap agar bisa hamil lagi. Dan alhamdulillah setelah 6 tahun akhirnya sekarang Sylvia bisa hamil lagi. Itu aja dia senengnya bukan main Dan, apalagi istri Lo yang nggak ada kelainan apa-apa. Hal yang wajar kalau dia juga pengen bisa hamil lagi," imbuh Max.
Danny terdiam, mencerna semua perkataan sahabat-sahabatnya.
"Tapi gue beneran masih merasakan ketakutan itu," lirih Danny.
"Lawan ketakutan nggak berdasar Lo demi kebahagiaan istri Lo Dan," kata Toni.
"Hamil dan melahirkan adalah proses yang akan dijalani setiap wanita untuk menjadi seorang ibu. Dan semuanya itu tidak akan sama antara wanita yang satu dengan wanita yang lainnya," nasehat Jery.
"Jangankan beda wanita, Sheila aja tiga kali hamil dan tiga kali melahirkan prosesnya beda semua, nggak ada yang sama, beneran" Steven pun menambahkan.
"Saran Abang, sebaiknya nanti malam kamu bicarakan lagi dengan istri kamu baik-baik. Bicara dari hati ke hati, apa keinginan masing-masing. Dan sebisa mungkin, tahan ego kamu, kalau memang istri kamu menginginkan untuk bisa hamil lagi. Pikirkan baik-baik, jangan gegabah dalam mengambil keputusan," nasehat Andika.
"Iya Bang," jawab Danny dengan lesu. "Makasih untuk semua saran dan masukan kalian guys."
__ADS_1
"Sama-sama Bro," jawab yang lainnya.
Danny mengesah pelan. Sepertinya benar, selama ini dia sudah terlalu egois dengan tidak menginginkan Lusia untuk hamil lagi, hanya karena ketakutan tidak berdasarnya tentang sulitnya proses persalinan yang akan dijalani Lusia nanti. Ingatan tentang sulitnya Lusia ketika melahirkan Ghania dulu masih meninggalkan trauma tersendiri bagi Danny.