Cinta Sheila

Cinta Sheila
Keputusan Yang Berat


__ADS_3

Tiga hari sudah Sheila dirawat di Rumah Sakit. Dan selama tiga hari itu juga Steven selalu menemani Sheila. Pekerjaan kantor dia kerjakan dari Rumah Sakit, sesekali Santi datang membawa dokumen-dokumen yang perlu ditanda tangani oleh Steven. Sementara untuk meeting dan pertemuan dengan klien di-handle oleh Danny dan Ken dibantu dengan Andika sesekali.


Sarah dan Amelia bergantian menemani Steven dan Sheila. Begitu juga dengan Max dan Leon yang bergantian menginap setiap malamnya.


Sore ini Lusia, Dyah, dan Tya kembali berkunjung. Sarah baru saja pulang karena sebentar lagi Jefri juga pulang dari kantor. Max dan Leon juga datang, setelah meeting di luar mereka tidak kembali lagi ke kantor katanya.


Steven baru saja selesai melaksanakan ibadah sholat Ashar ketika ponselnya berdering. Ada nama Andika disana.


"Halo Bang," sapa Steven begitu menggeser icon hijau.


"Ke gudang sekarang. Anak-anak udah berhasil nangkap Nila dan Joe."


"Jadi bener mereka?" tanya Steven berusaha tetap tenang.


"Lebih tepatnya Nila. Joe ikut karena gak mau ninggalin Nila sendirian."


"Oke, gue otewe."


Menutup sambungan ponselnya Steven kemudian menghampiri Max dan Leon.


"Max Lo ikut gue. Biar Leon disini nemenin Sheila dan yang lainnya."


"Kemana Steve?" tanya Max.


"Anak-anak udah dapetin orangnya."


"Oke, kita pergi sekarang," sahut Max antusias.


"Kontrol emosi kalian, jangan sampai menimbulkan masalah baru," pesan Leon.


Steven dan Max sama-sama mengangguk. Steven lalu mendekat ke bed Sheila.


"Mas sama Max pergi dulu sebentar ya, kamu ditemenin Leon sama sahabat-sahabat kamu dulu," pamit Steven sambil mengelus kepala Sheila.


"Iya. Hati-hati ya Mas."


Steven mengangguk kemudian mencium kening Sheila.


"Assalamu'alaikum," pamit Steven dan Max.


"Wa'alaikumsalam," jawab yang lain bersamaan.


Sengaja Sheila tidak bertanya lebih jauh. Sheila percaya pada Steven. Kalau sudah tiba saatnya Steven pasti akan bercerita sendiri pada Sheila. Dalam hati Sheila hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk suami dan kakaknya.


...


Steven dan Max sampai di gudang tua yang masih terawat di pinggiran kota. Gudang ini memang sengaja dijadikan basecamp oleh anak buah Steven.


Turun dari mobil Steven dan Max sudah disambut oleh salah seorang anak buahnya.


"Bos."

__ADS_1


"Dimana mereka?" tanya Steven dingin.


"Di ruang bawah tanah Bos. Bos Dika sudah di dalam, Bos Danny dan Bos Ken sedang dalam perjalanan," anak buah tersebut memberi laporan.


"Bagus. Tetap waspada."


"Siap Bos."


"Ayo Max."


Max mengangguk. Keduanya lalu masuk ke dalam gudang dan langsung menuju ke ruang bawah tanah. Terlihat Nila dan Joe dalam kondisi tangan yang terikat sedang duduk di kursi. Melihat Steven datang Andika bangkit dari sofa dan menghampiri.


"Retasan CCTV udah Abang kirim ke email kamu. Nila lagi hamil Steve, tiga bulan. Itu kenapa Joe nekat pengen ikut."


Steven terkejut mendengar penjelasan dari Andika.


"Tetap kontrol emosi kamu," kata Andika menepuk pundak Steven pelan.


"Ya Bang, thanks."


Steven menarik kursi untuk duduk di depan Nila dan juga Joe. Max dan Andika menunggu tidak jauh dari tangga. Nila dan Joe sontak mendongakkan kepalanya ketika Steven duduk di depan mereka.


Nila menyeringai sebelum akhirnya bicara.


"Gimana kabar wanita murahan itu? Kemarin aku lihat darahnya banyak banget."


Kedua tangan Steven terkepal. Tapi Steven tetap berusaha tenang dan tidak terpancing emosi.


"Kamu bermain-main dengan orang yang salah Nila. Kamu tahu benar bukan apa yang kumaksud?" kata Steven tetap tenang.


"Sayangnya aku tidak takut dengan ancamanmu," balas Nila tak kalah tenangnya. "Tiga tahun Steve, aku selalu menemani kamu dalam suka dan duka, dan kamu mencampakkan aku begitu saja."


"Bukan aku yang mencampakkan kamu, tapi kamu yang mengkhianati aku, kalau kamu lupa."


"Tapi kamu menyakitiku lebih dulu dengan menikahi wanita murahan itu," sentak Nila mulai emosi.


"Kamu tahu benar alasan di balik pernikahan itu dari awal, bahkan kamu juga sudah menyetujui pernikahan itu terjadi."


"Dan jangan munafik, aku tahu kamu sudah berhubungan dengan Joe di belakang aku jauh sebelum aku menikah dengan Sheila," Steven membalas dengan telak perkataan Nila.


Nila dan Joe membulatkan matanya karena kaget, rupanya Steven sudah mengetahui hal tersebut.


"Ah, rupanya kamu sudah tahu ya, jadi aku tidak perlu menyembunyikan apapun lagi sekarang," kata Nila sambil menyeringai.


"Bodohnya aku yang tidak pernah mempercayai sahabat-sahabatku dan selalu saja tertipu dengan mulut manismu."


"Jangan salahkan aku Steve, kamu yang terlalu naif dan kolot, gaya pacaranmu kaku sekali. Tentu saja aku merasa bosan. Aku tidak munafik Steve aku juga menginginkan kepuasan. Kita sudah sama-sama dewasa. Tapi jangankan menyentuhku, ciuman pun harus selalu aku yang memulai duluan. Jadi jangan salahkan aku ketika Joe datang menawarkan kepuasan itu dan aku meng-iyakan-nya," kata Nila membela diri.


Steven tersenyum kecut. "Siapa yang naif disini, aku yang selalu berusaha menjaga kehormatanmu atau kamu yang justru sudah merusak kehormatanmu sendiri?" sindir Steven.


"Cukup Steve, kamu tidak perlu mencari pembenaran untuk kesalahanmu karena sudah mengabaikan aku semenjak kamu menikah dengan wanita murahan itu," teriak Nila emosi.

__ADS_1


PLAK!!!


"Nila," teriak Joe.


"Steven," Andika dan Max pun berucap bersamaan.


Satu tamparan mendarat keras di pipi Nila membuat Joe, Andika, dan Max terkejut. Steven berdiri dengan wajah yang begitu murka.


"Jangan pernah kamu sebut lagi istriku dengan sebutan wanita murahan karena kamulah yang lebih pantas disebut sebagai wanita murahan dan bukan Sheila," teriak Steven menggelegar membuat nyali siapapun yang mendengarnya menjadi ciut.


Nila justru mulai terisak.


"Aku hanya ingin membalaskan rasa sakit hatiku, apa aku salah?"


"Rasa sakit hati mana yang kamu maksud? Disini seharusnya aku yang sakit hati, kamu sudah mengkhianatiku, membohongiku begitu lama."


"Tapi kamu mencampakkan aku begitu saja," teriak Nila dengan masih terisak.


"Lalu menurutmu apa yang harus aku lakukan ketika aku melihat kekasihku sendiri mengkhianatiku, bercinta dengan laki-laki lain di depan mataku sendiri?" intonasi Steven pun tak kalah tinggi.


Hening. Hanya isakan Nila yang terdengar dan deru nafas Steven yang memburu karena emosi yang memuncak.


"Sudah Steve, tolong hentikan semua ini. Aku juga turut andil dalam semua kesalahan ini. Aku yang tidak bisa menahan perasaanku pada Nila, padahal aku tahu Nila sudah memiliki dirimu sebagai kekasih," lirih Joe penuh penyesalan.


"Kalau kamu bisa tolong maafkan kesalahan kami yang sudah membohongimu Steve," pinta Joe, dia lalu menjatuhkan dirinya dan berlutut di depan Steven dengan kedua tangan terikat ke belakang, "Dan tolong maafkan Nila, demi bayi kami yang ada di dalam kandungannya. Tolong jangan bawa kasus ini ke pihak yang berwajib Steve. Aku mohon padamu," Joe memohon dengan penuh pengharapan.


"Setelah dia membuat istriku terluka dan terbaring di Rumah Sakit saat ini? Tidak, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."


"Kalau begitu biar aku yang menggantikan Nila Steve. Kamu boleh melakukan apapun sama aku, aku gak akan melawan. Aku tidak ingin Nila dan bayi kami kenapa-kenapa."


"Kenapa aku harus menyakiti orang yang tidak bersalah kalau pelaku kejahatan yang sebenarnya ada di depan mata?"


"Steve aku mencintai Nila, begitu juga dengan bayi dalam kandungannya. Aku rela menukarkan nyawaku sendiri demi keselamatan mereka. Sekali lagi tolong Steve, setidaknya demi bayi kami yang belum sempat terlahir ke dunia ini," pinta Joe masih berlutut di depan Steven dengan kepala menunduk.


Nila masih terisak di samping Joe. Steven diam, mencerna semua yang sudah terjadi. Berusaha untuk tidak mengambil keputusan yang salah yang akan disesalinya nanti. Biar bagaimanapun juga tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Sudah banyak kenangan yang Steven dan Nila lalui bersama.


"Bisakah kamu membawa wanita ini pergi dari kehidupan kami? Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi, atau aku tidak akan pernah memaafkan dia lagi," Steven bertanya pada Joe.


Joe langsung mendongakkan kepalanya, seakan tidak percaya mendengar perkataan Steven.


"Iya. Kami akan pergi ke luar negeri. Aku berjanji kepadamu Steve, kami tidak akan pernah mengganggu kehidupan kalian lagi," jawab Joe mantap.


"Aku pegang janjimu sebagai sesama laki-laki," kata Steven menepuk pelan pundak Joe.


"Pasti Steve. Terima kasih banyak Steve," seru Joe dengan wajah berbinar.


"Aku memaafkanmu kali ini, demi bayi yang ada dalam kandunganmu. Belajarlah dari pengalaman Nila, hargai orang yang mencintaimu dengan tulus sebelum akhirnya kamu kehilangan dia dan hanya bisa menyesal pada akhirnya."


Steven berbalik, meninggalkan Nila dan Joe. Andika dan Max tersenyum kemudian menepuk pundak Steven yang berhenti di depan mereka.


"Bereskan sisanya Bang."

__ADS_1


"Oke. Kamu tenang aja, Abang akan pastikan semua berjalan sesuai keinginan kita. Abang bangga sama kamu Steve," kata Andika.


__ADS_2