
Sang surya semakin menampakan kemegahannya menyinari semesta dengan sinarnya. Burung-burung berkicauan menyambut mentari pagi.
Alisya dan aldo memutuskan untuk kembali ke tempat penginapan mereka. Sesekali mereka masih mengambil beberapa foto jika menemukan spot yang bagus.
"Itu dia mereka" Cerin berteriak dengan nada tak suka. "Kalian dari mana? Pagi-pagi udah ngilang aja."
"Apa kalian tidak tau kalau kami sudah menunggu kalian sampai kelaparan?" Imbuh Cerin dengan nada semakin meninggi.
"Sory-sory ya semua, tadi kami abis ngambil beberepa foto sunrise, rencana untuk promosiin desa ini, nanti kita upload di medsos." Alisya mencoba menjelaskan.
"Ya sudah, Alisya, Aldo kita semua sarapan dulu. Setelah itu kita langsung mulai bekerja sesuai rencana. Andre selalu bisa menjadi penengah diantara anggota-anggotanya jika terjadi sebuah ketegangan diantara mereka.
****
Alisya dan beberapa anggota yang lain sedang membagikan Alat tulis kepada anak-anak yang sangat antusias dan terlihat sangat bahagia menerima barang-barang yang dibagikan pada mereka.
Anak-anak itu berjajar dengan rapi dan mengantri dengan tertip menunggu jatah mereka. Senyuman melengkung dan ucapan terimakasih terdengar disana sini.
Ketika Alisya sedang mengambil buku tulis untuk dibagikan, Gambar sampul buku itu mengingatkan kenangan masalalunya dengan Aldo. Dulu Aldo pernah memberi Alisya beberapa buku tulis dengan sampul bergambarkan pemain sepak bola.
Hingga kini buku-buku itu masih tersimpan dengan rapi di kamar Alisya, sering kali Alisya membuka kembali buku-buku itu dan tersenyum mengingat kebaikan Aldo kala itu.
Alisya tak menyangka teman sebangkunya, Aldo yang baru ia kenal beberapa minggu itu memberinya buku. Waktu itu Alisya baru saja pindah ke sekolahan barunya.
Sejak kejadian itu mereka semakin akrab, walaupun Aldo sering jahil namun tak membuat Alisya menjadi benci. Justru tingkah jahil dan usilnya Aldo sering terngiang di pikiran Alisya.
Orang tua Alisya dulunya bukanlah orang kaya seperti sekarang, bahkan bisa dibilang hidup serba berkekurangan, tak heran jika Alisya juga hidup dengan begitu sederhana.
Beberapa kali Aldo bersandiwara, tiba-tiba tak selera dengan makanan yang sudah ia pesan di kantin, Aldo memaksa Alisya untuk memakannya, sementara ia sendiri akan pesan menu lain yang menurutnya lebih menggugah selera.
Sebenarnya Aldo tau jika Alisya tidak membawa uang jajan, jika Aldo terang-terangan ingin mentraktir, pasti Alisya menolaknya.
****
Alisya yang sedang senyum-senyum sendiri mengingat kenangan itu tak sadar jika sedari tadi sepasang mata sedang memperhatikannya.
Aldo mendekati Alisya dari belakang. Kedua telunjuk Aldo menyudut pinggang Alisya.
__ADS_1
"Hei."
Alisya yang kaget seketika menoleh kebelakang dan reflek memukul orang yang sudah membuat jantungnya seperti mau copot.
Belum sempat tangan Alisya mendaratkan pukulannya. Aldo sudah berlari menghindar.
Alisya mengejar Aldo begitu saja, seperti dendam kesumat yang terlanjur mendarah daging.
Semua orang yang menyaksikan itu hanya terheran-heran dan tak bisa berkata-kata menyaksikan tingkah kedua orang yang terlihat seperti dua bocah berumur sepuluh tahunan.
Tetapi tidak begitu dengan Aldo dan Alisya, mereka terhanyut dalam perasaan yang membingungkan, entah harus bahagia, sedih, atau bahkan harus marah, yang mereka tau sekarang dunia seperti milik mereka berdua.
Semua orang bak lenyap dilelan bumi. Alisya dan Aldo memang sudah dewasa, tapi semua pernyataan itu tak berlaku sekarang.
Mereka berlarian kesana kemari, seperti Tom and Jery yang tak pernah bisa akur.
Aldo berlari lebih cepat, hingga Alisya kelelahan dan tak berhasil membalaskan dendamnya. Alisya masih ngos-ngosan dan berusaha mengantur nafasnya yang tersengal-sengal sepeti mau putus.
Alisya berpegangan pada sebatang pohon dan kini menyenderkan tubuhnya yang kelelahan.
Aldo mengambil sebuah botol mineral dan membuka tutupnya, kemudian Aldo menghampiri Alisya menyodorkan botol itu dihadapan Alisya.
Glek glek glek. Terlihat betapa hausnya Alisya saat itu. Aldo yang masih memperhatikan Alisya hanya bisa menahan tawanya. Namun didalam hatinya ia merasa senang.
Sebenarnya Aldo sering merasa bingung bagaimana ia harus mengungkapkan perasaannya, Aldo selalu ingin berada di dekat Alisya dan membuat Alisya tersenyum. Karena dari dulu Aldo terbiasa menjahili Alisya sampai sekarang jadi seperti sebuah ritual.
Setiap bertemu dengan Alisya Aldo seperti mendapat kekuatannya kembali untuk menggangu dan membuat Alisya menjadi kesal dengan tingkahnya.
Salisa yang melihat pertunjukan langka itu tanpa komando langsung mengabadikannya dalam vidio di ponselnya.
Alisya kembali ke tempat penginapan. Ia duduk di teras mengistirahatkan tubuhnya yang masih sedikit kelelahan.
Sementara Aldo pergi mengambil air mineral untuk ia minum sendiri, setelah dirasa dahaganya berkurang, Aldo kembali ke rombogan yang sedang mengecat bangunan sekolah. Aldo mengambil kembali kuas dan se ember cat yang sempat ia tinggalkan tadi.
Kini Aldo melanjutkan kegiatannya mewarnai dinding dihadapannya dengan warna putih. nantinya mereka akan membuat beberapa lukisan di dinding itu untuk menambah keindahan dan menumbuhkan semangat belajar anak-anak yang belajar disana.
Salisa datang menghapiri kakaknya. "Kak lihatlah, akan kutunjukan sesuatu yang menarik." Salisa menjatuhkan dirinya dan duduk disamping Alisya.
__ADS_1
Salisa mengeluarkan Ponselnya dan memutar vidio yang sempat ia rekam tadi.
"Ka, apakah kaka menyukai ka Aldo?" Salisa bertanya dengan nada seperti hakim yang mendakwa seorang tersangka.
Alisya terdiam sejenak mencoba mencerna pertanyaan yang dilontarkan adiknya, ia sendiri tak tau harus memberikan jawaban seperti apa agar adiknya bisa memahami apa yang dirasakannya saat ini.
"Salisa, kamu kan tau sebentar lagi kakak akan menikah dengan ka Adrian, dan kau juga tau jika Aldo punya Nesyah di sampingnya. Semua sudah jelas kan? kenapa masih bertanya dengan pertanyaan konyol seperti itu?"
"Jangan bohong kepadaku ka. Aku bisa melihat dengan jelas ada cinta diantara kalian berdua, bahkan munkin semua orang juga akan berpendapat sama denganku."
Akhirnya Alisya menyerah pada adiknya, ia berkata yang sejujurnya.
"Lagipula aku dan Aldo sudah berteman dan mengenal satu sama lain sejak lama, jika dia ada rasa padaku pasti Aldo sudah menyatakannya sejak dulu, bukankah harusnya seperti itu?"
"Ketika kita menyukai seseorang kau tidak bisa berdiam diri. Kau harus melakukan sesuatu untuk bisa mendapatkannya." Salisa mengucapkan kata-kata yang pernah ia baca di sebuah novel.
"Hahaha. Kata-katamu itu sudah seperti seorang pujangga cinta, darimana kau mendapatkannya?" Alisya merangkul adiknya kemudian tangannya beralih ke kepala saudara perempuannya itu mengacak-acak rambut Salisa dengan jari-jarinya.
"Ketila kau tidak mengutarakannya bukan berarti kau tidak mempunyai perasaan itu."
Salisa melanjutkan kembali koleksi kutipan-kutipannya yang sangat pas momennya untuk diucapkan.
"Semuanya bisa berubah ka, percayalah dengan kata hati kaka sendiri, Salisa juga tidak mau melihat kaka menyesal dan bersedih dikemudian hari karna keputusan yang akan kaka ambil."
Semua kata-kata Salisa begitu mengena di hati Alisya, semuanya begitu masuk akal. Bahkan saat ini Alisya masih tak percaya kata-kata itu bisa keluar dari mulut adiknya yang selalu ia manja itu.
"Kamu benar Salisa, Tapi kaka juga tidak akan tega menghancurkan hati ka Adrian yang juga begitu baik dan perhatian kepada kaka dan keluarga kita. Ka Adrian sudah banyak menbantu dan berkorban banyak untuk keluarga kita."
"Jika bukan karna ka Adrian mungkin kita berdua tidak akan bisa melanjutkan kuliah kita. Dan hidup berkecukupan seperti sekarang ini."
Memang benar, Adrian lah yang membantu papa Antoni dari keterpurukan. Ia meminjamkan modal usaha yang cukup besar pada papa Antoni. Hingga papa Antoni bisa berhasil mengembangkan perusahaannya.
*
*
~Bersambung~
__ADS_1
*
*