CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
PINDAH RUMAH PART 1


__ADS_3

Hari itu Aldo sengaja ingin memberikan kejutan untuk Alisya. Proses pengerjaan rumah impian mereka telah selesai. Lagi pula hari itu adalah hari terakhir Aldo mengambil cuti. Esok harinya Aldo harus mulai bekerja kembali.


Akan tetapi pabila mereka sudah pindah ke rumah baru mereka yang cukup dekat dengan kantor Aldo, maka hal itu tentu saja bisa semakin mempermudah Aldo untuk tetap memantau Alisya jika sewaktu-waktu istrinya itu membutuhkan kehadirannya, maka Aldo akan segera pulang untuk menemui Alisya.


Semenjak Alisya hamil, Aldo memang begitu perhatian dan lebih menyayangi Alisya. Aldo tak membiarkan Alisya bekerja terlalu capek ataupun melakukan hal-hal yang terlalu extream. Aldo bahkan begitu memperhatikan makanan dan kebersihan rumahnya. Aldo benar-benar ingin memastikan bahwa istrinya itu selalu merasa aman dan nyaman.


Walaupun terkadang terkesan terlalu protektif, akan tetapi Alisya tetap menyukai perubahan Aldo yang super ketat kepadanya. Alisya menganggap semua itu adalah bentuk pengungkapan cinta dan perhatian dari Aldo untuknya.


Pagi yang cerah turut menjadi saksi kebahagian Alisya dan Aldo yang baru saja terbangun dari tidur malamnya. Alisya yang terlebih dulu bangun kemudian memposisikan tubuhnya menghadap Aldo yang kala itu tertidur dengan posisi miring. Alisya memperhatikan wajah Aldo yang masih tertidur dengan pulas.


Alisya tersenyum sendiri sambil memandangi wajah suaminya yang rupawan itu. Sinar matahari bahkan membuatnya menjadi semakin sempurna di mata Alisya bagaikan lampu sorot yang sengaja dipasang untuk memfokuskan perhatian Alisya saat itu.


Alisya mulai memikirkan hal-hal jail untuk membangunkan suaminya. Alisya sengaja memainkan bulu mata Aldo yang nampak lentik bagi seorang pria. Aldo mengerjap-ngerjapkan matanya merasa geli, namun tetap saja tak membuatnya terbangun.


Alisya kemudian menarik ujung hidung Aldo ke atas hingga membuat wajah Aldo tampak begitu lucu. Alisya cekikian sendiri dengan perbuatannya. Aldo tetap saja belum sadar akan kejailan istrinya, mungkin saja Aldo masih terlalu nyaman dalam mimpinya.


Kini Alisya sengaja menutup lubang hidung Aldo dengan menjepit cupingnya. Tentu saja Aldo yang lama-kelamaan merasa sesak karena tak bisa bernafas terbangun dan mendapati Alisya tertawa dengan penuh kemenangan.


"Hei, berani sekali kamu membangunkan harimau yang sedang tertidur. Apakah kamu mau aku mangsa?" ucap Aldo sambil memegangi kepala Alisya dengan kedua tangannya dan menatapnya dengan lekat.


"Ampun Tuan Harimau, saya tidak berani. Mohon jangan hukum hamba." tutur Alisya sambil menahan tawanya.


"Baiklah, karena hari ini sang raja rimba sedang merasa senang maka aku tidak akan menghukummu. Akan terapi sebagai gantinya kamu kelinci gunung, harus bersedia ikut denganku dan tak boleh menolaknya."


"Eemm, katakan dulu mau kemana kita Tuan Harimau?"


"Ini adalah hak seorang raja untuk tidak mengatakannya kepada hambanya. Akan tetapi setelah aku pikir-pikir, karena kamu sudah bersalah maka aku akan tetap memberi hukuman untukmu." ucap Aldo yang kemudian langsung mencium bibir Alisya.


"Bukankah hukumanku ini sangat menyenangkan? Apakah kamu suka? Jika ya, maka aku akan menjadikan hukuman ini sebagai syarat agar aku bisa memaafkanmu. Aku akan melakukannya setiap hari ketika aku terbangun dari tidurku. Kamu harus menerima titah sang Raja dengan senang hati." ucap Aldo yang begitu senang melihat wajah Alisya yang jadi memerah karenanya.

__ADS_1


"Apa-apaan kamu ini. Aku tidak mau bermain seperti ini lagi. Kenapa setiap kali aku ingin mengerjaimu tapi pada ujungnya tetap aku yang jadi korbannya." tutur Alisya yang kini bibirnya telah mengerucut seperti mulut bebek.


Aldo tertawa kegirangan. "Itu karena kamu terlalu polos dan sedikit bodoh Alisya."


"Apa kamu bilang? aku bodoh?"


"Ya, tentu saja. Jika bukan bodoh apa lagi? tapi karena kebodohanmu itulah aku merasa selalu terhibur dan semakin mencintaimu." Aldo kembali memaksa mencium bibir istrinya yang meronta karena sedang merajuk.


"Kamu jahat sekali Aldo. Aku tidak mau menjadi budak cintamu lagi. Lihat saja sampai kapan kamu akan bertahan jika aku tidak lagi memperdulikanmu." ucap Alisya tak serius dan hanya ingin menggertak suaminya.


"Benarkah? Ohh tidak, tolong... Aku takut sekali." jawab Aldo tak menanggapi pernyataan Alisya dengan serius.


"Huft nyebelin." Alisya berpaling dan membelakangi Aldo sambil memeluk guling yang ada di sampingnya.


Aldo semakin dibuat gemas oleh tingkah Alisya. Aldo tau betul jika istrinya itu seringkali menanggapi candaannya dengan begitu serius. Aldo kemudian menggeser tubuhnya untuk memeluk Alisya dari belakang. Aldo mencium pipi Alisya dan berpindah ke sisi leheh belakang Alisya. Aldo benyibakan rambut Alisya ke samping hingga ia bisa dengan leluasa menciumi leher dan tengkuk Alisya yang membuatnya bergairah.


Alisya menggeliat dan mengerutkan lehernya karena kegelian. Sedangkan Aldo tetap saja tak menghiraukan Alisya yang terus menggeliat dan meronta minta ampun. Hal itu justru membuat Aldo semakin bergairah dan tak mau mengalah sedikitpun.


Karena Alisya masih bersikukuh untuk merajuk, maka ia memberotak dan tak mengijinkan suaminya untuk melanjutkan aksinya. Baru kali ini Alisya tak membalas rangsangan dari Aldo. "Aku tidak mau melayanimu Aldo. Aku masih ngambek. Kamu harus tau kalau aku tidak akan mengijinkanmu bertindak sesuka hatimu." ucap Alisya yang tak ingin membuat suaminya begitu mudah mendapatkan hatinya kembali.


"Benarkah? Kalau begitu mari kita lihat seberapa kuatnya kamu bisa menahan rangsangan dariku."


Walaupun Alisya meronta dan melawan, akan tetapi tetap saja tenaganya tak bisa menghentikan perbuatan suaminya. Sepertinya semakin Alisya berusaha menghindar dan melawan, hal itu justru semakin membuat Aldo semakin liar dan menunjukan taringnya. Entah mengapa kali ini Aldo begitu bergairah dan malah merasa semakin tertantang karena perlawanan Alisya yang menurutnya malah membuat gairahnya semakin tinggi.


Aldo sepertinya merasakan sebuah sensasi baru dalam bercinta dengan istrinya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Alisya meronta dan beralih menghadap suaminya untuk mendorong Aldo dengan kedua tangannya. Tapi ternyata tindakan Alisya tak diperhitungkan terlebih dulu olehnya. Aldo semakin dibuat mudah untuk bisa melepaskan kain yang selama ini membukus tubuh mulus Alisya.


Aldo masih saja selalu dibuat terbelalak dan terkesiap ketika mendapatkan surprise dari balik pakaian yang menahan pertahanan kelima indranya untuk beraksi. Apalagi semenjak Alisya hamil, justru Aldo merasa Alisya semakin dibuat sexi karenanya. Kedua buah benda empuk yang bisa membuat laki-laki sepertinya terlena dalam dunia fantasinya itu memang semakin penuh volumenya. Tanpa ragu lagi, Aldo langsung membenamkan wajahnya dan menikmati sensai panas yang membakar darahnya, menghasilkan luapan kebahagiaan layaknya letusan kembang api yang meledak dan meruntuhkan seluruh hasrat yang tak pernah pudar di dalam dirinya.


Alisya menggeliat dan mendesah merasakan sensasi yang tak bisa ia bendung lagi. Aldo menelentangkan kedua tangan Alisya dan merekatkan jari-jarinya di sela jari Alisya dan menahannya dengan kuat sehingga Alisya tak bisa lagi berkutik dibawah kuasanya.

__ADS_1


"Aku begitu mencintaimu Alisya, aku akan selalu membuatmu merasa bahagia." Aldo membisikan kata-kata itu di dekat daun telinga Alisya dengan begitu lembut yang disusul dengan gigitan kecil di telinga Alisya. Kini diding pertahanan Alisya benar-benar sudah runtuh. Ia tak bisa lagi menahan perlakuan lembut dan juga keganasan suaminya yang tanpa Alisya sadari juga membuatnya berairah dan menikmatinya.


Aldo menciumi Alisya dan membuat beberapa tanda kepemilikannya di sekitar leheh dan telinga Alisya. Kini Aldo semakin turun dan mengapsen setiap lekuk tubuh istrinya yang begitu wangi walau belum mandi sekalipun. Aldo memang tak pernah bosan dan semakin merasa istrinya itu semakin bisa membuatnya tak bisa berpaling darinya.


Kini Alisya menyerahkan seluruh kendali kepada Aldo. Alisya tak bisa menolak lagi dan telah berganti merasa begitu nyaman didalam belenggu cinta Aldo yang memaksanya kembali menjadi budak cinta yang rela menyerahkan semua miliknya yang berharga untuk laki-laki yang begitu ia cintai.


"Aku juga mencintaimu Aldo, aku tidak akan membiarkan diriku menyesal karena telah membuatmu menggila seperti ini. Sekarang biarkan aku yang akan membuatmu takluk dan membiarkan aku menjadi ratu di dalam hatimu." Alisya membalas genggaman erat kedua tangan Aldo. Alisya yang sudah ikut terbakar, kemudian mencium bibir Aldo dengan lembut.


Ternyata hal itu membuat Aldo menjadi relaks dan mengendurkan cengkeraman tangannya. Alisya dengan mudah bisa melepaskan kedua tangannya yang sekarang ia gunakan untuk memekuk dan mendekap tubuh kekar suaminya. Dengan tindakannya itu sudah tentu membuat Aldo patut dibuat bangga memiki istri seperti Alisya.


Giliran Alisya yang mengotrol dan mendapat kedali penuh dengan berada diatas tubuh suaminya. Hari itu keduanya telah menunjukan sisi lain dari keduanya yang tak mau mengalah dan beradu meterampilan dalam memuaskan hasrat pasangannya.


Setelah selesai melakukan kegiatan yang membuat keduanya mandi keringat itu, mereka kemudian membersihkan diri dengan mandi. kemudian Sarapan.


"Kamu sudah siap menerima kejutan manis lainya Alisya?"


"Kejutan? apa itu? Jangan harap aku mau melakukannya lagi Aldo. Aku sudah terlalu capek hari ini. Tadi punggangku sudah berasa mau rontok karenamu." kata Alisya dengan begitu jujur seperti biasanya.


Aldo tergelak karenanya."Kamu ini menggemaskan sekali Alisya. Bagaimana mungkin aku tak bertambah cinta setiap harinya jika kamu seperti ini. Hari ini kamu akan tau jawabannya setelah ikut denganku ke suatu tempat. Syaratnya kamu harus menutup matamu dengan kain dan tidak boleh mengintip apalagi membukanya selagi aku belum mengijinkan kamu untuk membukanya Alisya."


"Memangnya mau kemana kita? kenapa misterius sekali seperti ini." tanya Alisya begitu penasaran.


*


*


~ Bersambung~


*

__ADS_1


*


__ADS_2