
Setelah selesai bersiap, Salisa mengikuti Jacob yang telah lebih dulu keluar dari kamar dan menuruni tangga hendak mengeluarkan mobil dari garasi. Salisa sudah menyiapkan buah tangan berupa buah-buaan yang telah dibungkus apik dalam keranjang buah.
Malam itu Salisa mengenakan dress berwana krem yang sangat cocok dengan kulitnya, hingga membuat kulit putih Salisa terlihat semakun bersinar.
Jacob menghentikan mobilnya tepat di hadapan Salisa yang sedang menunggu di dekat gerang rumah mereka. Malam itu Salisa dan Jacob juga sudah berpamitan kepada Kakek Wisnu bahwa mereka akan mendatangi undangan Alisya dan Aldo yang berpindah ke rumah barunya.
Sebelum Salisa pergi, ia juga sudah berpesan kepada salah satu pembantu mereka untuk mengingatkan Kakek untuk minum obat sebelum tidur. Walaupun Salisa juga baru mengenal Kakek Wisnu, akan tetapi ia sudah memutuskan untuk menganggap Kakek Wisnu sebagai Kakeknya sendiri. Salisa juga tau bahwa peehatian dan kasih sayang Kakek Wisnu kepadanya bukanlah hal yang perlu dipertanyakan lagi.
Alisya hendak masuk dan duduk di bangku belakang mobil Jacob. Namun sebelum ia mendaratkan badanya, Jacob sudah melarangnya dan meminta Salisa untuk duduk di depan menemaninya.
"Oh iya Jacob, nanti setiba di rumah Ka Alisya aku mohon kita bisa bekerjasama untuk bersikap baik dan seolah kita adalah pasangan yang normal pada umumnya."
"Iya aku tau, kamu tenang saja. Aku akan memainkan peranku dengan baik." jawab Jacob dengan santainya.
Setiba di rumah baru Kakaknya, Salisa segera memeluk Alisya yang kala itu menyambutnya di depan rumah.
"Aku kangen sekali denganmu Ka Alisya." kata Salisa yang belum melepaskan pelukannya.
"Aku juga merindukanmu Salisa. Ayo kita masuk dulu. Diluar sangat dingin" bujuk Alisya kepada adiknya.
"Waaw cantik sekali rumah Kaka. Ka Alisya memang selalu paling jago untuk membuat suasana rumah menjadi begitu nyaman dan sedap dipandang mata seperti ini." Pujian-demi pujian membanjiri Alisya dari mulut Salisa yang sedari tadi tak henti-hentinya merasa kagum dengan keindahan dan keunikan dari setiap sudut ruangan di rumah Kakaknya Alisya.
Ternyata Salisa dan Jacob adalah orang pertama yang tiba lebih dulu di rumah Alisya. Aldo juga menyambut Jacob dengan hangat. Sebelum adik iparnya menikah dengan Jacob, mereka memang sudah saling kenal dan berteman baik. Aldo juga paham dengan kejadian yang menimpa Salisa dan Jacob. Aldo sebagai Kakak ipar Salisa juga tidak bisa menyalahkan keduanya.
Aldo tau jika sebenarnya Jacob bukanlah laki-laki yang akan memanfaatkan keadaan dan sengaja berbuat hal yang tidak baik kepada Salisa. Aldo hanya berharap jika kedepannya Salisa dan Jacob benar-benar bisa menjadi pasangan suami-istri yang saling mencintai seperti dirinya dengan Alisya.
"Bagaimana kalau kita bermain catur dulu Jacob? Aku rasa kita bisa memainkan satu putaran sambil menunggu kedatangan Papa dan Mama kami." ajak Aldo kepada Jacob.
"Oke. Aku pasti akan mengalahkanmu Aldo." tantang Jacob yang merasa dirinya cukup menguasai permainan penuh trik dan strategi itu.
Selagi Aldo dan Jacob bermain catur. Alisya dan Salisa sibuk bercerita kesana kemari melepas kerinduan diantara mereka. Seperti biasa Salisa duduk dengan ditemani sebuah toples yang tak pernah lepas dari tangannya. Hal itu sudah hal biasa bagi Alisya Kakaknya hingga tak lagi membuat kager ataupun terheran-heran jika dalam sekejap saja toples yang di pegang Salisa akan terkuras habis isinya.
"Bagaimana dengan kandunganmu Ka Alisya? apakaj perkembangannya baik? Kemarin aku sempat beekonsultasi dengan Dokter, akan tetapi Dokter yang menanganiku tidak langsung memberikan aku tidakan USG seperti yang Kaka lakukan. Dokter bilang kandunhanku masih terlalu kecil dan belum terlalu terlihat oleh alatnya. Jika mau Dokter akan memasukan alat khusus melalui serviks. Tapi aku menolaknya karena waktu itu Jacob juga ada disana bersamaku Ka. Tentu saja aku akan malu jika Jacob juga akan melihatnya."
"Alisya tersenyum dan menahan tawanya. Kamu ini ada-ada saja Salisa, lalu apa lagi kata Dokter? Kalau Dokter Kakak bilang kandunganku saat ini sehat dan pertumbuhannya juga baik. Dokter hanya menyarankan agar Kakak bisa lebih memperhatikan kebersihan makanan dan harus konsumsi makanan yang mengandung banyak vitamin."
"Kurang lebih sama sih Ka, Tapi kata Dokter bulan depan baru akan dilakukan USG untuk melihat dengan pasti kondisi kandunganku Ka."
"Aaa begitu ya. Oh iya Salisa, bagaimana kalau bulan depan kita ke Dokter bersama-sama saja. Pasti akan lebih menyenangkan jika kita bisa pergi bersama."
"Ide bagus ka. Lagi pula aku juga males jika harus diantar oleh Jacob. Lebih baik aku konsultasi bersama Kakak saja." ucap Salisa tanpa sadar jika tak jauh dari sana juga ada Jacob yang mungkin saja akan mendengarkan perbincangan mereka.
Sepertinya Jacob memang mendengarnya. "Memangnya siapa juga yang ingin pergi denganmu. Aku kan hanya peduli dengan bayi kita." gumam Jacob dalam hati. Karena hal itu tanpa Jacob sadari membuat konsentrasinya sedikit berkurang. Beberapa kali Aldo berhasil membuat langkah Jacob terhalang.
Keingintahuan dan ke kepoannya lah yang membuat Jacob akhirnya dapat dikalahkan Aldo dengan mudah.
"Kau ini sedang banyak pikiran ya Jacob? sepertinya permainan caturmu kali ini tak sebagus waktu itu. Apakah kamu mau membuktikan kehebatanmu lagi Jacob?" tantang Aldo yang ingin bermain satu putaran lagi dengan Jacob.
__ADS_1
"Tidak, tidak. Aku tidak mau memainkannya lagi. Bagaimana kalau kita membahas masalah projek kita saja Aldo? Kali ini aku sedang tidak begitu tertarik dengan permainan." jawab Jacob mencari pengalihan.
"Kamu ini bagaimana? hari ini adalah waktu untuk keluarga. Aku tidak mau membicarakan masalah pekerjaan di saat kebersamaan seperti ini. Lebih baik ayo kamu ikut aku untuk membuat kopi dengan alat penyeduh yang baru saja aku beli. Alatnya memang bukan alat modern dan praktis seperti kebanyakan alat penyeduh kopi yang ada di pasaran saat ini. Aku baru mendaoatkannya di pasar barang antik. Walaupun kita harus menggiling Kopi secara manual, akan tetapi aku yakin kamu pasti juga akan menyukai hasilnya." kata Aldo ingin memamerkan temuan barang antik yang sudah pasti sulit ditemukan lagi.
Jacob sangat tertarik karena berhubungan dengan Kopi. Jacob mengekor kemana Aldo pergi. Ternyata mereka menuju ke dapur untuk melihat dan merasakan hasil seduhan Kopi yang akan dibuat Aldo dengan mesin kebanggaannya.
"Kamu benar sekali Aldo, aku fikir rasa dari kopi ini benar-benar bisa keluar karenanya. Aromanya juga sangat wangi. Membuat hidungku sudah dimanjakan oleh aroma dari Kopi ini." ucap Jacob serelah menyeruput Kopi hitam yang baru saja disajikan untuknya.
Tak lama kemudian, Papan Antoni, Mama Maria, Papa Winata dan juga Mama Rahma datang juga. Kedua pasang besan ini memang selalu kompak dan saling menunggu agar mereka bisa sampai bebarengan di rumah anak mereka.
Setelah mereka saling menyapa dan saling berpelukan untuk melepas rindu. Alisya dan Aldo segera meminta mereka semua untuk berkumoul di ruang makan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan agar jangan sampai hidangannya keburu dingin dan tidak nikmat lagi.
Di meja makan mereka saling bersenda gurau sambil menikmati makanan mereka. Tak terkecuali dengan Jacob yang tadinya merasa canggung, namun berkat Aldo dan Papa Antoni yang selalu mengaitkan semua penbicaraan dengan Jacob maka mau tidak mau Jacob juga harus menanggapinya.
Selesai makan malam mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Papa Antoni mengusulkan untuk meminum anggur untuk merayakan rumah baru Alisya dan Aldo itu. Awalnya Mama Maria yang belum bisa menerima seratus persen Jacob sebagai menantunya tidaklah menyetujui ide dari suaminya itu. Mama Maria tidak ingin membuat kesan ramah kepada Jacob.
Akan tetapi sepertinya Mama Maria akhirnya mempunyai ide untuk memberi sedikit pelajaran untuk menantu barunya itu dan mendukung ide dari Papa Antoni.
Alisya dan Salisa tentu saja tidak akan ikut acara minum-minum itu karena mereka sedang hamil. Lagi pula kalaupun mereka tidak hamil, mereka juga tak berminat untuk mencicipinya. Dengan senang hati Alisya dan Salisa kembali mengobrol berdua sambil menonton film.
Mama Maria bahkan yang berinisiatif untuk mengambil beberapa botol anggur dengan tahun pembuatan yang lama agar ia bisa melancarkan rencananya.
"Baiklah semuanya, sebelumnya mari kita memberikan sambutan untuk anggota baru dalam keluarga kita. Mari kita beesulang untuk Jacob." kata Mama Maria mengambil perhatian kepada semua orang yang ada disana. Mama Maria sengaja menuangkan anggur yang lebih banyak di gelas milik Jacob.
"Sekarang mari kita bersulang untuk rumah baru Alisya dan Aldo." Kali ini Mama Maria juga menuangkan anggur yang lebih banyak di gelas Jacob.
Hari semakin malam, sepertinya Jacob berusaha mati-matian untuk menahan muka dihadapan mertua dan semua orang yang ada disana. Akhirnya mereka semua pamit kepada Alisya dan Aldo.
Sepertinya Salisa tau jika Jacob sebenarnya sudah mulai oleng dan tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri. Ketika sampai di mobil, Salisa meminta Jacob untuk bertukar tempat duduk. Kali ini Salisa juga tidak ingin membahayakan nyawanya dan anaknya yang ada dalam kandungan dengan membiarkan Jacob yang setengah sadar mengendarai mobil untuk mereka.
Jacob menuruti kemauan Salisa, karena ia juga sadar bahwa dirinya baru saja mengonsumsi minuman beralkohol. Jacob akhirnya duduk di kursi yang tadinya untuk Salisa itu. Tak butuh waktu lama Jacob tertidur karena efek mabuknya.
Salisa mengendarai mobil dengan pelan. Sesampai di rumah, seperrinya Kakek Wisnu sudah tidur dengan nyenyak. Hanya Mang Diman yang masih terjaga dan membukakan pintu untuk Salisa dan juga Jacob.
"Ada apa dengan tuan muda Nyonya Salisa? kenapa Tuan dipapah seperti ini." tanya Mang Diman yang langsung membantu majikannya itu untuk menuntun Jacob kembali ke dalam kamar.
"Sedikit minum Mang." jawab Salisa sambil terus menopang tubuh Jacob yang tak bisa berdiri dengan tegap.
Sesampai di kamar, Jacob di baeingkan di atas Kasur dibantu oleh Mang Diman yang sekarang sudah pamit undur diri.
Salisa yang merasa lelah akhirnya juga merebahkan tubuhnya di atas sofa tempatnya tidur setiap hari. Salisa tak memperdulikan lagi Jacob yang masih dibawah kontrol minuman keras.
"Kenapa aku harus bertemu lagi dengan situasi seperti ini." Keluh Salisa yang teringat kembali setiap adegan dimana dirinya dan Jacob akhirnya bisa menghabiskan malam bersama.
Salisa berupaya agar dirinya bisa segera tertidur dan tak memperdulikan Jacob yang kadang kala mengoceh hal-hal aneh dan tidak terdengar dengan jelas olehnya.
Tiba-tiba Jacob bangun dari tidurnya dan memuntahkan semua isi perutnya. karena mereka tadi baru saja makan malam dalam jumlah porsi yang banyak, hal itu membuat dona muntahan mengotori seluruh pakaiannya.
__ADS_1
Salisa mera jijik sekaligus merasa kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan dengan laki-laki dihadapannya yang tentu saja akan menyusahkannya itu.
Salisa tak kan tega membiarkan Jacob tidur dengan kondisi seperti itu. Tapi Salisa juga ragu karena ia mau tidak mau harus melepas semua pakaian Jacob yang terkena dona muntahan itu.
"Bagaimana ini?" Akhirnya Salisa memutuskan untuk membuang semua rasa yang mengganggu hati dan pikirannya. "Ku harap besok kamu akan berterimakasih padaku Jacob." gerutu Alisya yang ikut merasa mual dan jijik dengan pemandangan di hadapannya.
Salisa mulai membuka pakaian yang dikenakan Jacob dengan menutup matanya. Salisa juga masih mempunyai etika dan tidak mau dianggap memanfaatkan keadaan oleh Jacob. Salisa juga sengaja mengambil vidio untuknya agar esok bisa menjadi bukti betapa besar perjuangannya malam ini.
Salisa hampir muntah dengan bau menyengat dari alkohol dan juga munyahan Jacob yang begitu banyak. Salisa mengambil sebuah kranjang sampah dan memasukan semua pakaian Jacob kedalamnya. Kini Jacob hanya tinggal mengenakan pakaian dalamnya.
Salisa ingin segera memakaiakan baju untuk Jacob. Tetapi sekali lagi Salisa tidak tega membiarkan Jacob tidur dengan aroma menyengat bekas muntahannya. Akhirnya Salisa memutuskan untuk membantu Jacob mandi.
Salisa mendekati ponsel yang sengaja ia letakan di atas meja rias untuk merekam mereka. Salisa kemudian beebicara sendiri di hadapan ponselnya yang masih merekam. "Dengarkan Aku Jacob, kali ini aku hanya berniat baik kepadamu. Jadi kamu jangan berbikir yang tidak-tidak."
Setelah itu Salisa kemudian mengambil penutup mata yang biasanya ia kenakan untuk tidur dan memakainya. Salisa kembali kepada Jacob dan berusaha membangunkannya.
"Ayo bangun Jacob. Kamu harus ikut aku ke kamar mandi." kata Salisa sambil mengguncang tubuh Jacob dengan kuat.
"Ada apa Salisa? Aku sangat mengantuk sekali." jawab Jacob setengah sadar.
"Kamu tidak boleh tidur dulu Jacob. Tubuhmu bau sekali. Ayo sekarang kamu bangun dan berjalan ke kamar mandi. Jika tidak aku akan bilang kepada Kakek bahwa kamu membiarkanku tidur di sofa sedangkan kamu tidur nyenyak di atas kasur."
Ternyata ancaman Salisa berguna sekali. Dengan setengah sadar, Jacob bangun dan berjalan dengan sempoyongan menuju kamar mandi. Alisya membantu memapah Jacob agar laki-laki itu jangan sampai terjatuh ataupun menabrak dinding.
Dengan terpaksa Salisa membuka sebentar penutup matanya agar ia bisa menunjukan jalan yang benar untuk Jacob.
Sesampai di kamar mandi. Salisa meminta Jacob untuk masuk dan berendam di dalam batup yang sebelumnya sudah diisi dengan air hangat oleh Salisa. Dengan mata tertutup Salisa meraba-raba tubuh Jacob untuk memandikannya dengan sabun. Salisa dapat merasakan otot-otot kekar dari tubuh Jacob dari setiap sentuhannya.
Salisa berusaha untuk tetap profesionalitas dan mebganggap bahwa dirinya sedang memandikan seekor anj*ng besar. Salisa memandikan Jacob dengan begitu telaten walau ia tidak bisa melihat dengan matanya yang tertutup.
Bahkan tanpa sengaja Salisa salah menuangkan shampo ke wajah Jacob dan bukannya ke rambutnya. Salisa juga menahan tawa dengan kondisi Jacob yang saat ini begitu penurut dan tidak lagi judes seperti bisanya.
Selesai memandikan Jacob, Salisa kemudian masih dijadapkan tantangan lainnya dengan menghanduki tubuh Jacob dan memakaikan pakaian baru kepada laki-laki itu.
Tantangan paling menakutkan adalah ketika ia harus melepas pakaian dalam Jacob yang basah dan mengantinya dengan yang baru. Salisa takut jika ia sampai salah pegang atau menyenggol benda pusaka milik Jacob.
Dengan keteguhan hati dan kerja kerasnya akhirnya Salisa bisa menyelesaikan tugas beratnya kali ini. Setelah Jacob kembali berbaring dengan nyaman di tempat tidurnya. Salisa mengambil ponselnya yang masih tertinggal di kamar mandi dan mematikan vidionya.
Tanpa pikir panjang lagi, Salisa langsung tidur karena begitu lelah menghadapi beruang mabuk yang menyusahkannya itu.
*
*
~Bersambung~
*
__ADS_1
*