CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
PENYESALAN ALDO


__ADS_3

Aldo begitu menyesal dengan perbuatannya sendiri, ia berasa begitu bodoh kenapa membuat keputusan yang justru membuat Alisya menjauh darinya.


Tadinya Aldo hanya ingin tau apakah Alisya cemburu atau tidak jika ia bersama wanita lain. Ketakutan Aldo selama ini yang tak berani mengungkapkan perasaannya pada Alisya karna persepsi pribadinya yang mengira Alisya akan menjauhinya jika Aldo menyatakan cinta dan4 Alisya sama sekali tak mencintainya.


Kini Aldo merasa begitu salah mengambil keputusan. Semenjak kejadian di pesta itu Aldo dan Alisya belum bertegur sapa lagi, Aldo ingin segera menemui Alisya dan menjelaskan semuanya. Sialnya Aldo harus menggantikan kakanya bekerja di luar kota tempat Rendi bekerja. Rendi sedang bulan madu bersama Istrinya, dan hal itu memaksa Aldo untuk berbesar hati menggantikan kakaknya untuk seminggu jauh dari keluarga dan alisya.


"Alisya maafkan aku, aku terlalu mencintaimu. aku sangat takut jika harus jauh darimu, dengan hal bodoh yang kulakukan ini,apakah kau masih mau memaafkanku" Aldo mengucapkan maaf itu dalam hatinya karna begitu menyesal. aldo membenamkan wajahnya di kedua tangannya yang melipat di atas meja kerjanya. Aldo begitu frustasi dan tak tau harus berbuat apa untuk mengembalikan kepercayaan Alisya padanya.


"Kenapa bisa jadi seperti ini..?" Aldo mengusap wajahnya dengan kasar kemudian mengacak-acak rambut di kepalanya.


"Sepulang dari sini aku harus segera menemui Alisya, ya benar..! aku harus segera menjelaskan semuanya pada Alisya sebelum terlambat." pekik Aldo dalam hatinya yang begitu kalut.


Aldo meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. ia mencari nama Alisya di dalam daftar kontaknya. disana tertulis Alisya Cintaku dengan foto Alisya yang sedang tersenyum manis.


"Apa aku telfon Alisya saja ya..?" gumam Aldo dalam hatinya. " Tidak-tidak masalah seperti ini harus diselesaikan denhan bertemu lanhsung dengan orangnya." pikir Aldo yang tak mau jika Alisya semakin salah sangka.


Aldo menyandarkan tubuhnya di kursi kerja dengan memejamkan matanya. kini bayang-bayang Alisya mulai muncul. Aldo teringat dulu saat jaman SMA, ketika itu Aldo yang menang bermain game dengan Alisya berhak mengajukan satu permintaan dan harus disetujui pihak yang kalah. Aldo sengaja mengajak Alisya ke Rumah Hantu di sebuah wahana bermain yang kebetulan baru saja dibuka di kotanya. Aldo tau Alisya paling takut dengan Hantu, dan permintaan dari hukuman game itu pasti sangat berat bagi Alisya.


Aldo sengaja mengerjai Alisya, ia sangat ingin melihat Ekspresi Alisya yang ketakutan. pasti sangat menyenangkan. guman Aldo kala itu.


Alisya yang kalah dari permainan terpaksa menerima hukuman itu, karna tidak mau dibilang pengecut.


"Ayo cepat Alisya, aku sudah sangat penasaran. Seperti apa rumah Hantu di wahana ini. Aku sudah mencoba beberapa di kota kita ini tapi belum menemukan yang benar-benar menyeramkan."


Perkataan Aldo semakin membuat bulu kuduk Alisya merinding. Mereka sudah tiba di depan wanaha permainan Rumah Hantu, Aldo membeli karcis dan menghampiri Alisya yang sudah ketakutan melihat lukisan-lukisan menyeramkan di dinding gedung dan patung muka iblis yang bertaring dan lidah menjulur panjang, bermata merah dengan kuku-kuku yang begitu panjang.


"Aldo bisakah kamu cari hukuman yang lain saja..? Aku sepertinya tak berani masuk. Ucap Alisya dengan jujur."


"Eits mana boleh. Kamu kan sudah menyetujuinya dari awal.lagi pula aku juga sudah beli karcisnya nieh." Aldo berbicara dengan nada memaksa sambik menyodorkan karcisnya kepada Alisya.


Memang betul Sih sebelum mereka bertading main game, mereka sudah membuat perjanjian. jika Aldo menang Alisya harus mau diajak ke rumah Hantu, Sedangkan jika Alisya yang menang ia meminta Aldo untuk makan Durian. Buah yang sangat dibenci Aldo karna baunya.


"Ayo cepat ikut Aku..!" Peritah Aldo pada Alisya yang masih berdiri membelakangi patung menyeramkan di depan wanaha Rumah hantu itu.


" Iya-iya.."

__ADS_1


Akhirnya Alisya berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mengikuti Aldo dari belakang.


"Aldo tunggu aku..!!" teriak Alisya yang tak mau ditinggal Aldo yang sudah mendahuluinya hendak masuk dan membuka pintu wahana itu.


"Setidaknya jika aku berada di dekat Aldo, mungkin rasa takutku akan sedikit berkurang." pekik Alisya yang segera menyusul Aldo dan mengekor persis di belakang Aldo, bahkan tangan Alisya mencengkeram baju Aldo dengan sangat erat.


"kau ini apa-apaan Alisya, ayo lepaskan genggamanku, nanti bajuku bisa lusuh. ini tidak akan semenakutkan yang kau bayangkan." Tutur Aldo sambil melepaskan tangan Alisya yang masih mengeratkan pegangan di bajunya.


"Tapi Al, aku kan belum pernah masuk ke wanahan seperri ini. membayangkannya saja aku sudah takut." Rengek Alisya dengan wajah memelas.


"Kalau begitu kamu berada disampingku saja. dan pastikan jangan sampai tertinggal. Ok..!!"


Alisya mengangguk dengan pelan. Keduanya mulai masuk ke wahana itu, setiba di dalam. tiba-tiba pitu yang baru saja mereka lewati terutup sendiri dengan suara kencang. Alisya kaget bukan main, bahkan ia sampai menjerit. Alisya yang masih berada di dekat pintu kemudian mencoba membuka knop pintu itu, namun hasilnya nihil.


"Bagaimana ini Aldo..? pintunya terkunci." Alisya bersuara dengan wajah paniknya. Alisya mengedarkan pandanganya keseluruh ruangan yang terlihat menyeramkan. disana terdapat patung-patung dan boneka yang berwajah menakutkan.


"Itu tandanya, setelah kita masuk kita tidak boleh keluar lagi. kita harus menyelesaikan permainan ini dengan menyusuri ruangan-ruangan yang ada dan cukup mengikuti jalur kuning yang ada di lantai untuk mencari jalan keluar.Begitu saja tidak tau. " jawab Aldo dengan ketus. Aldo mulai menahan tawanya melihat Ekspresi wajah Alisya yang ketakutan.


Tiba-tiba lampu di ruangan itu berkedip beberapa kali dan Pet. Seluruh ruangan berubah menjadi gelap. Hanya ada pencahayaan minim agar pengunjung tetap bisa melihat jalan mereka.


"Sudah, ayo kita jalan. kalau kamu ingin segera keluar dari sini sebaiknya kamu ikut aku dan jangan banyak bicara. ini akan sangat mengasyikan Alisya."


"Apa ..? mengasyikan..? Itu bagi kamu, bagiku ini seperti mimpi buruk."


"Pegang pistolmu dengan benar dan tembak lampu LED merah yang kau temukan." Tentu saja pistol itu cuma pistol mainan yang akan mengeluarkan cahaya laser jika ditekan pelatuknya.


Para pemain harus menembak sasaran dengan tepat berupa titik-tikik merah kecil yang ada di beberapa sudut ruangan. nanti ketika keluar dari wahana akan muncul skor sesuai nama yang di daftarkan di tempat registrasi tadi.


"Aldo apa itu..? Menakutkan sekali, aku tak mau melihatnya." Alisya sontak menutup wajahnya ketika melihat seperti seorang gadis berambut panjang yang nyaris menutupi wajahnya, ia duduk di kursi goyang, deritan kursi itu membuat Alisya merinding ditambah Alunan musik menyeramkan semakin membuat bulu kuduknya berdiri. tak dipungkiri Aldo juga merasakan armorfer yang mendebarkan jantungnya, namun ia sudah terbiasa mengunjungi wahana seperti ini, jadi kali ini pun Aldo sudah tak begitu merinding.


"Kalau kamu takut kamu cukup fokus dengan target kamu saja, kamu bisa melihat titik-titik kecil berwana merah itu kan Alisya..? ini hanya permainan Alisya semua yang ada di sini cuma bo'ongan"


"Iya aku lihat, tapi sepertinya semua titik itu sengaja di tempatkan di dekat penampakan-penampakan yang menyeramkan, Aldo aku takut melihatnya." Protes Alisya sampil mengeratkan tanganya di lengan Aldo.


"Baiklah terserah kau saja, yang penting kamu jangan sampai ngompol, Ejek Aldo sambil mempercepat langkahnya. "

__ADS_1


"Hihihihihihihi" tawa yang menyeramkan memenuhi ruangan itu, alisya yang ketakutan hanya bisa memejamkan matanya dan mencoba mengimbangi langkah Aldo, kini suara tangisan menggema menggantikan suara-suara yang tiba-tiba menghilang. kesunyian begitu terasa tangisan itu membuat Alisya penasaran dan membuka sedikit matanya.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriakan Alisya pecah, ia begitu kaget ketika secara mendadak ada benda berwarna putih jatuh dari atas kepala mereka dan mendarat tepat di hadapan mereka.


" Pocoooong.... Sontak Alisya menarik paksa Aldo dan berlari kekencang mungkin menjauh dari benda menyeramkan itu."


"Alisya kita mau kemana..? Kita harus tetap mengikuti jalur kuning yang sudah disediakan." tutur Aldo sambil memandu Alisya kembali ke jalur yang benar.


Ketika itu, tiba-tiba kaki Alisya di pengang oleh sebuah tangan dengan kuku-kuku merah dan panjang. Alisya begitu kaget dan ketakutan dengan tangan yang mencengkeram kakinya begitu kuat.


Alisya langsung memeluk tubuh Aldo dengan begitu erat. bahkan tak ada jarak lagi diantara tubuh mereka, wajah Alisya nyaris berhadapan dengan wajah Aldo. Alisya menenggelamkan wajahnya di bahu Aldo dan menangis sejadi-jadinya.


"Aldo Aku takut ayo kita keluar dari sini" pinta Alisya dengan tangisannya.


"baiklah Alisya, maafkan aku. Aldo kemudian membopong Alisya dan segera mencari jalan keluar dari ruangan itu."


Alisya yang masih ketakutan hanya bisa memejamkan matanya dan membenamkan wajahnya di bahu Aldo yang membopongnya.


*


*


~Bersambung~


*


*


Hai para readers..?


Menurut kalian Alisya cocok sama Aldo atau Adrian ya..?


kasih comennya donk..!!


Terimakasih..

__ADS_1


__ADS_2