CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
TAK MENYANGKA


__ADS_3

"Aldo, kenapa kamu ada disini? jangan-jangan kamu mengikuti ku sampai kemari ya?"


"Apa maksud ucapan mu Alisya? Siapa yang mengikuti mu? Aku disini sedang......."


Belum selesai Aldo melanjutkan kata-katanya, Adrian datang menghampiri mereka dan membuat Aldo menghentikan ucapannya.


"Hi Adrian... Kebetulan sekali kita bisa bertemu disini. Sedang apa kalian disini? Tadi aku tak sengaja melihat Alisya sedang berdiri sendirian disini. Langsung saja aku menghampirinya."


"Ah iya Aldo. Kebetulan sekali. Aku dan Alisya sedang berjalan-jalan kesini. Aku dengar keluargamu yang memiliki kebun teh ini. Aku berniat untuk membeli sedikit lahan di area bukit ini saja apakah kamu bisa menyampaikan pada Ayahmu?"


Aldo melirik ke arah Alisya yang sedang tertunduk. Kelihatannya gadis itu sedikit malu karena menuduh Aldo seperti penguntit yang mengikutinya sampai kesini.


"Astaga... Malunya aku menuduh Aldo yang bukan-bukan. Kenapa aku bodoh sekali. Waktu itu kan Aldo pernah bilang, dia punya kebun teh di area puncak. Bagai mana ini? Aku kan sedang berusaha untuk menghindarinya. Kenapa malah ketemu disini. Ditambah lagi Lahan ini milik keluarga Aldo. Bisa mati kutu aku kalau sampai Aldo tau ka Adrian ingin membeli lahannya untuk membuat rumah untuk kami. Aku harus cari cara agar bisa menghindar dari Aldo. Kalau aku tau lahan ini milik Aldo aku tidak akan mau tinggal disini. Bisa-bisa nanti bakalan sering ketemu Aldo. Aku kan sedang berusaha untuk melupakannya."


"Aduh ka, perut aku mules nih. Bisakah kita cari toilet dulu..?"


"Baiklah Alisya. Tapi disini kan jauh dari kota. Pasti akan sulit menemukan toilet terdekat. Apa kamu kuat menahannya?"


Adrian kemudian berusaha mengingat-ingat kembali dimana ia bisa mencari toilet terdekat.


"Tenang saja. Kalian ikut saja bersamaku ke Villa. Di sana banyak toilet kok."


"Apakah tidak merepotkanmu Aldo..? Bukankah kamu sedang berkeliling untuk meninjau perkebunan ini." Adrian tampak tak suka jika harus berurusan dengan saingan cintanya itu.


"Tentu saja tidak. Kalian ini kan bukan orang lain bagiku. Lagi pula kalian juga tidak bisa masuk ke villa tanpa aku. Penjagaan di sana sangat ketat. Hanya keluarga saja yang bisa masuk. Itu juga kalau kalian mau ikut denganku."


"Baiklah kalau begitu. Kasian juga kalau Alisya harus menahan terlalu lama."


Alisya hanya terdiam. Ia hanya mendengarkan semua yang diperbincangkan dua laki-laki itu. Niatnya ingin menghindari Aldo, tapi kini ia malah terjerat dengan rencananya sendiri.


"Apakah kalian ke atas sini dengan menaiki kuda? jika ia sebaiknya kalian ikut mobilku saja. Nanti akan ku minta petugas mengambil kudanya."

__ADS_1


Akhirnya Adrian dan Alisya ikut ke villa milik Aldo.


Alisya mengirim pesan kepada Adrian jika ia tidak ingin membuat rumah disini. Alisya beralasan jika ia ingin membuat rumah di dekat orang tuanya saja.


Adrian paham jika Alisya membatalkan rencananya itu karena lahan ini adalah milik keluarga Aldo. Pasti hal itu akan membuat Alisya merasa canggung jika harus berurusan dengan keluarga Aldo.


Sesampai di villa, Alisya pura-pura langsung ke toilet. Sementara Adrian dan Aldo berbincang di ruang tamu.


"Aduh, bagaimana ini. Bagaimana kalau Aldo menanyakan perihal pembelian lahannya itu. Tadi kan ka Adrian terlanjur bilang kepada Aldo. Sebaiknya aku mengirim pesan lagi kepada ka Adrian."


"Ka Adrian aku mohon jika nanti Aldo bertanya perihal pembelian lahan. Bilang saja kalau ka Adrian ingin membeli seluruh lahan ini. Pasti Aldo akan menolaknya." ~Alisya.


"Baiklah. Terserah kamu saja" ~Adrian.


Dan benar saja Aldo menanyakan tentang hal itu.


"Adrian, apa maksudmu tadi ingin membeli sedikit lahan ini?"


"Tak usah bersandiwara. Aku tau jika kamu ingin membeli lahan ini untuk membuatkan rumah untuk Alisya kan? Aku tau betul jika Alisya sangat ingin memiliki rumah di pegunungan."


Adrian mengernyitkan dahinya. Ia tak menyangka jika Aldo juga tau tentang keinginan Alisya itu.


"Bukankah waktu itu kamu sudah berjanji untuk memberi kesempatan padaku selama tiga bulan untuk membuktikan bahwa Alisya hanya mencintaiku. Saat ini aku masih berusaha agar Alisya mau menuruti kata hatinya dan tak mengorbankan lagi kebahagiaannya demi orang lain."


"Ya memang aku sudah memberikan kesempatan itu kepadamu, tapi Tiga bulan itu sudah hampir berakhir. Dan sepertinya Alisya juga tidak akan berpaling kepadamu. Apakah aku salah jika ingin mewujudkan keinginan Alisya dan membahagiakannya."


"Tahukah kamu Adrian. Saat itu kami masih kecil. Alisya bilang kepadaku jika ia ingin sekali memiliki rumah di pegunungan yang dikelilingi perkebunan yang menghijau. Sejak saat itulah aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mewujudkan cita-cita Alisya itu."


"Tadinya aku memang hanya bisa membeli sedikit lahan di area bukit tempat kita bertemu tadi. Tapi Ayahku justru membeli seluruh lahan di area kebun teh ini dan menyuruh aku yang mengelolanya."


"Aku berjanji pada diriku sendiri suatu saat aku akan mengembangkan tempat ini dan mendirikan pabrik teh agar aku bisa membeli lahan ini dari ayahku. Saat ini aku memang belum cukup modal untuk mewujudkan impianku itu dan membahagiakan Alisya."

__ADS_1


Adrian begitu tertegun mendengar pernyataan dari Aldo. Adrian menjadi begitu salut dengan kegigihan pria itu.


Berbeda dengan dirinya yang dari kecil memang sudah menikmati kemewahan dari keluarganya dan saat ini ia juga hanya meneruskan bisnis keluarganya. Tapi sepertinya Aldo justru ingin mandiri dan tidak hanya mengandalkan kekayaan dari orang tuanya. Bahkan Aldo bilang ingin membeli lahan itu dari orangtuanya sendiri.


"Baiklah kalau begitu manfaatkan kesempatanmu yang tinggal Dua minggu ini untuk meyakinkan Alisya. Tapi jangan pernah memaksa atau mengancam Alisya untuk bersamamu. Apapun keputusan Alisya nantinya. Kamu harus tetap menghargainya."


"Tenang saja. Jika nanti Alisya akan tetap bersikukuh dengan keputusannya saat ini. Aku juga akan merelakannya dan tidak akan mengganggunya lagi."


Dari kejauhan terdengar suara langkah Alisya yang baru kembali dari toilet. Hal itu membuat kedua pria itu mengakhiri perbincangan mereka.


Cuaca di puncak memang kadang tak menentu. Dari luar villa terdengar suara gemuruh hujan yang datang mengguyur daerah itu.


"Kenapa bisa langsung hujan. Padahal tadi kan cuacanya begitu cerah." Alisya mengamati hujan dari balik jendela.


Hujan turun begitu lebatnya. Langit yang tadinya berwarna biru, kini berubah menjadi begitu gelap. Angin bertiup begitu kencang diiringi dengan petir yang menyambar-nyambar dan guntur yang menggelegar membuat Alisya takut dan kembali ketempat duduknya.


"Sebaiknya kalian disini dulu sampai hujan reda. Akan sangat berbahaya jika kalian memaksakan diri untuk pulang."


Alisya dan Adrian mengangguk tanda setuju. Memang akan sangat berbahaya jika saat hujan begini berada di perjalanan karena jalan akan menjadi licin. Belum lagi bahaya longsor yang bisa terjadi di daerah landai seperti itu.


"Tunggulah disini. Aku akan membuatkan kalian minuman hangat dan memasak sesuatu untuk kalian."


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


__ADS_2