
Setelah kaki Karin diobati, Jacob meminta kepada Aldo dan Alisya untuk ikut makan siang bersama. Jacob juga mengajak Karin ikut serta karena merasa segan pegawainya jatuh saat masih jam kerja.
Jacob mengajak ketiganya untuk makan di sebuah resto dengan menu khas timur tengah. Mereka memesan Nasi Kebuli,Kebab, Nasi Biryani, Samosa, Kari Kambing dan juga Roti Canai.
Alisya masih saja cemberut dan bersikap dingin kepada suaminya Aldo. Hal itu karena Nona Karin yang masih saja curi-curi pandang dan cari perhatian kepada Aldo walaupun Karin sudah tau jika Laki-laki yang disukainya telah beristri.
Setelah pesanan mereka datang, Mereka mulai makan karena memang sudah lapar karena jam makan siang yang sedikit tertunda. Akan tetapi tidak begitu dengan Alisya, ia hanya mengorak-arik Nasi Biryani di piringnya dan tak memakannya.
"Ada apa Alisya? Kenapa kamu tidak memakannya? Apakah tidak enak? Atau kamu mau ganti menu yang lain? Aku akan memesankannya lagi untukmu. Ayo katakan, menu apa yang kamu sukai."
Alisya hanya diam saja dengan memasang wajah ceberut.
"Apakah kamu mau Nasi Mandi? Atau Gulai Kambing?" Tanya Aldo kepada istrinya yang terlihat murung.
Alisya tetap diam dan hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Ah aku tau, kamu pasti mau aku menyuapimu bukan? Baiklah ayo istriku sayang aku akan menyuapimu terlebih dulu." Ucap Aldo sambil menggeser piring Alisya ke hadapannya dan mengambil sesuap nasi untuk Alisya.
"Ayo sayang, buka mulutnya lebar-lebar!" Ucap Aldo dengan lembut sambil menyodorkan sendok di hadapan Alisya.
Alisya tersenyum dengan sedikit malu, karena disitu juga ada Jacob dan juga Karin. Akhirnya Alisya membuka mulutnya dan makan dengan lahap berkat suaminya.
"Maaf ya Jacob dan Nona karin, mungkin hal ini membuat kalian jadi sedikit merasa canggung. Tapi aku tak bisa membuat Anak dan Istriku kelaparan karena aku yang tak bisa merawat mereka dengan baik." Kata Aldo sambil terus menyuapi Alisya. Aldo bahkan menunda makan siangnya sendiri untuk memastikan bahwa Istri dan calon anaknya kenyang terlebih dahulu.
Karin menahan rasa iri dan dengkinya. "His menyebalkan sekali, kenapa juga aku harus menyaksikan keromantisan mereka di depan mataku seperti ini." Gumam Karin melirik sinis ke arah pasangan mesra di hadapannya. Karin juga semakin dibuat jelous karena ia menyadari bahwa saat ini Alisya sedang hamil. Karin mengumpat dalam hatinya bahwa kenyataan selalu saja tak berpihak padanya. Laki-laki yang perfect dan begitu sempurna itu sudah jadi milik orang lain.
Sedangkan Jacob hanya tersenyum dan berusaha untuk tidak tau dan seolah-olah tidak melihat kejadian yang membuat semua orang akan merasa iri tersebut. Jacob sendiri sangat mengagumi sosok Aldo yang begitu tegas dan berjiwa pemimpin dalam mengelola perusahaannya. Aldo juga tipe orang yang gigih dan pekerja keras, mengutamakan kejujuran dan selalu cekatan dalam bekerja. Sungguh sisi lain yang amat berlawanan saat Aldo berhadapan dengan Istrinya. Aldo akan bersikap begitu lembut dan sabar dengan Alisya.
Setelah mereka selesai makan siang. Aldo pamit dan meminta ijin kepada Jacob untuk meminjamkan mobil Off Road nya demi memenuhi janjinya kepada Alisya mengajaknya berkeliling perkebunan.
Aisya dan Aldo mulai berkeliling menelusuri perkebunan Kopi yang begitu luas itu dengan Jeep Wrangler berwarna merah milik Jacob. Akan sedikit kesulitan jika Aldo menggunakan mobilnya untuk berkeliling dengan kontur tanah yang licin dan berlendut.
"Bagaimana kalau aku mengajakmu utuk mengunjungi kandang Luwak untuk memberinya makan. Kamu pasti akan menyukainya Alisya." Ucap Aldo sambil menggenggam tangan Alisya. Sebisa mungkin hari ini dirunya harus mengembalikan mood istrinya itu agar tak berwajah murung lagi.
"Apakah sudah banyak luwak yang di pelihara disini?" Tanya Alisya terlihat antusias.
"Tentu saja. Bulan lalu kami sudah mendapat tambahan tujuh ekor luwak yang didapatkan dari para penjual ilegal. Jika nanti proses pembangunan pagar keliling sudah selesai, maka Luwak-Luwak itu akan dilepas liarkan di dalam perkebunan yang sangat luas ini. Aku yakin mereka akan bisa hidup dengan tenang seperti di habitat asli mereka. Apalagi disini tersedia behitu banyak makan yang akan membuat mereka bisa nyaman dan cepat berkembang biak."
Akhirnya Alisya dan Aldo sampai di kandang penangkaran sementara yang disiapkan dengan begitu baik. Jacob bahkan mempekerjakan doter hewan secara khusus untuk merawat Luwak yang sakit akibat para pemburu liar yang sebelumnya menangkap hewan yang sudah mulai berkurang populasinya itu.
Dengan mata berbinar-binar, Alisya mendatangi kandang para Luwak itu. Alisya juga memberi mereka makan dengan biji Kopi yang telah Aldo petikan sebelumnya.
"Aah lucu sekali mereka." Kata Alisya saat melihat beberapa jenis Luwak yang ada disana."
Hewan termasuk dalam golongan hewan Nokturnal atau beraktifitas di malam hari ini memang cukup lucu, dengan wajah yang mirip dengan kucing dan memiliki bulu yang lembut. Jadi tak heran jika banyak juga orang yang memelihara mamalia yang satu ini.
"Apakah kamu senang Alisya?" Tanya Aldo sambil mengambilkan segenggam biji Kopi lagi dan memberikannya kepada Alisya.
__ADS_1
"Huum tentu saja. Teeimakasih suamiku." Jawab Alisya dengan senyuman.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu Alisya?"
"Ya, ada apa Aldo?" Alisya menoleh ke arah Aldo dan menghentikan sejenak aktifitasnya memberi makan Luwak.
"Emm kenapa hari ini kamu kelihatan murung dan tak seceria biasanya? Apakah ada hal yang mengganggu pikiranmu?" Selidik Aldo yang ingin tau alasan istrinya terlihat murung dan cemberut.
"Aku tidak papa Aldo, mungkin aku hanya sedikit lelah saja." Jawab Alisya menutupi kecemburuannya, Alisya tau bahwa Karin hanyalah pegawai di perusahaan Jacob, dan Alisya juga tau bahwa suaminya tak akan pernah tergoda ataupun memanfaatkan keadaan ketika ada angin segar datang.
"Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau setelah ini kita pulang. Aku akan memberi pijatan untukmu. Aku yakin nanti setelah selesai dipijat, kamu akan kembali segar dan bersemangat lagi." Ucap Aldo yang sebenarnya tau jika Alisya menyembunyikan sesuatu darinya. Wanita akan cenderung bilang tidak ada apa-apa ketika ditanya keadaanya. Begitu pikir Aldo sejauh yang ia tau ketika membaca subuah buku tentang psikolog wanita. Akan tetapi Aldo juga tak bisa memaksa Alisya untuk jujur kepadanya, Aldo akan memberi sedikit ruang untuk Alisya sampai nanti akhirnya Istrinya itu mau menceritakan yang sebenarnya.
Sesampai di rumah, Alisya dan Aldo segera mandi karena keringat dan bau yang membuat mereka tidak nyaman setelah seharian beraktifitas dan berkeliling ke perkebunan juga.
Alisya merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan matanya sejenak, sampai akhirnya Aldo yang baru selesai mandi datang menghampirinya.
"Kamu masih lelah Aliya?"
Alisya mengangguk dengan tetap menutup matanya.
"Selonjorkan kakimu dengan baik. Aku akan memijatmu dengan minyak urut." Perintas Aldo yang sudah memegang minyak urut di tangannya.
Alisya kemudian duduk dan meluruskan kakinya.
"Kenapa tidak sambil rebahan saja Alisya?" Tanya Aldo yang lembut.
"Tidak. Aku akan menemanimu sambil berbincang. Jika aku di pijit sambil rebahan nanti bisa-bisa aku malah ketiduran." Ucap Alisya sambil meringis ketika Aldo menekan sedikit terlalu keras di kakinya.
"Maka dari itu Aldo, kali ini aku ingin menemanimu sampai malam sambil berbuncang." Jawab Alisya dengan bibir mengerucut.
"Baiklah-baiklah. Terimakasih istriku yang cantik. Apakah nanti aku akan mendapat imbalan karena telah memijitmu?" Goda Aldo sambil mengelus paha Alisya dengan lembut.
"Jangan mulai lagi deh. Aku capek hari ini Aldo. Kapan kamu akan berhenti mencari kesempatan dalam kesempitan seperti itu?" Gerutu Alisya.
"Tak akan pernah berakhir Alisya. Siapa suruh kamu begitu cantik dan selalu membuatku terpesona setiap waktu." Ucap Aldo dengan santainya.
Pipi Alisya memerah hanya dengan gombalan dari suaminya itu. "Oh iya Aldo, apakah besok kamu sudah bekerja sendiri di perusahaan kita? Kamu tidak perlu lagi datang ke perusahaan Jacob bukan? Aku dengar kalian sudah berhasil meyakinkan investor untuk menandatangani perjanjian kerjasama. Aku ikut senang karenanya."
"Emm sepertinya besok aku akan datang ke perusahaan Jacob lagi untuk menyelesaikan beberapa masalah implementasi yang masih bermasalah. Untuk kedepannya aku mungkin akan tetap rapat seminggu sekali dengan Jacob dan timnya seminggu sekali untuk evaluasi dan perbaikan. Ada apa memangnya Alisya? Apakah kamu mau ikut lagi kesana?"
"Tidak, sepertinya akhir-akhir ini agak sedikit bosan datang ke perkebunan."
"Baiklah kalau begitu. Jika sewaktu-waktu kamu ingin ikut lagi, maka bilang saja kepadaku." Jawab Aldo sambil tetap mempekerjakan tangannya memijit di kaki Alisya.
"Kenapa kelihatannya kamu semangat sekali dan begitu suka datang ke perusahaan Jacob. Apakah karena Nona Karin ada di sana?" Tanya Alisya dengan wajah cemberut seperti siang tadi saat di perkebunan.
"Aah aku tau sekarang. Jadi selama ini yang membuat kamu mengerutkan dahi dan cemberut seperti ini karena kamu cemburu ya?" Goda Aldo sambil mendongakkan wajah Alisya dengan tangannya.
__ADS_1
"Tidak. Siapa juga yang cemburu. Aku kan hanya bertanya." Elak Alisya dengan malu karena ketahuan akan sikap cemburunya. Alisya hanya tidak ingin suaminya menyebut dirinya kekanak-kanakan karena cemburu dengan masalah pekerjaannya.
"Kamu tenang saja Alisya. Aku tidak akan pernah tergoda lagi oleh wanita manapun. Hanya kamu yang akan selalu menempati singgasana dihatiku.Tapi...."
"Tapi apa? Jangan-jangan kamu mau berselingkuh ya."
Aldo tak dapat lagi menahan tawanya. Suara gelak tawanya begitu keras dan menggema dinseluruh ruangan. "Kamu ingin tau siapa yang akan bisa merebut hatiku Alisya? Sepertinya sainganmu sebentar lagi akan menampakan dirinya. Sebaiknya kamu mulai hati-hati dan mulailah selalu bersikap manis padaku agar aku tak berpaling darimu." Aldo semakin senang ketika melihat wajah Alisya yang berubah seperti bola api karena cemburu.
"Ooh jadi benar kamu ingin bermain hati dengan wanita lain. Baiklah, terserah kamu saja Aldo. Aku tidak akan melarangmu. Tapi jangan harap kamu bisa menyentuhku lagi." Kata Alisya sambil menarik kakinya dan tak membiarkan Aldo melanjutkan pijitannya.
Aldo semakin dibuat gemas dengan respon Alisya yang begitu lucu dan membuatnya tertawa sampai terbatuk-batuk.
Gelak tawa Aldo terhenti begitu saja ketika melihat ada butiran bening menetes dari ujung mata Alisya.
"Hei, kenapa kamu menangis Alisya? Aku kan hanya bercanda." Ucap Aldo dengan lembut sambil mengusap air mata Alisya dengan kedua ibu jarinya.
"Lepaskan, aku sudah bilang jangan menyentuhku lagi." Sergah Alisya menyingkiran tangan Aldo dengan kasar.
"Astaga Alisya, maafkan aku. Aku tak bermaksud seperti itu." Tutur Aldo mencoba menenangkan Alisya dan meyakinkannya lagi akan cintanya.
Alisya hanya diam dengan mendekap lututnya. Buliran Air mata terus saja membasahi pipinya.
"Apakah kamu tau apa yang sebenarnya ingin aku katakan tadi Alisya. Orang yang aku maksud bisa meluluhkan hatiku lagi itu tentu saja Anak kita nanti Alisya. Aku akan menciuminya dan menyayanginya sama seperti aku menyayangimu. Apakah kamu akan cemburu dengan anakmu sendiri jika aku juga akan menciuminya setiap hari?"
Alisya jadi merasa malu karena sikap cemburu butanya yang tak beralasan. Untuk menutupi malunya, Alisya membenamkan wajahnya di dalam lipatan tangannya sambil tetap meringkuk seperti sebelumnya.
Aldo kemudian mengelus rambut Alisya dengan lembut dan mendekapnya dengan erat. Aldo sedikit lega karena Alisya tidak berontak dan menolaknya lagi.
"Jangan menangis lagi Alisya. Maafkan aku karena tadi kata-kataku memang keterlaluan dan membuatmu salah paham. Apakah kamu mau memaakanku Alisya?" Tanya Aldo dengan penuh harap.
Alisya kemudian mengangkat wajahnya dan mengangguk dengan pelan.
Aldo tersenyum puas dan mencium bibir Alisya dengan lembut untuk mencairkan suasana. Ciuman yang semakin lama semakin menyalakan hasrat keduanya. Alisya membalas kecupan demi kecupan dari suaminya yang berhasil menggerakan alam bawah sadarnya untuk menyambutnya dengan luapan emosi cinta yang tak terkendali lagi.
Merasa ucapan maafnya sudah terbalas, Aldo dapat berbangga hati karena akhirnya ia dapat menyalurkan hasratnya yang sebenarnya sudah mulai terangsang berkat kaki mulus dan jenjang yang Alisya miliki.
Keduanya kembali berseteru di atas kasur. Bedanya jika tadi penuh dengan air mata dan kesidihan, sekarang berubah menjadi gairah cinta dan kebahagian yang tak akan ada obatnya.
*
*
~Bersambung~
*
*
__ADS_1
Jangan sungkan-sungkan untuk terus mendukung author dengan cara pencet tombol like, vote,favoritin, dan ikuti juga akun Gloria ya..!!
๐Thank you so much and Happy Reading.๐