CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
DI PULAU DEWATA


__ADS_3

Akhirnya Salisa menyetujui pergi bersama Jacob dalam perjalanan bisnis kali ini. Salisa juga berharap ia bisa segera mengembalikan cincin itu agar tak ada lagi beban di hatinya.


"Hei kenapa kamu duduk di belakang, memangnya aku ini supir kamu? Ayo cepat pindah ke depan."


"Hehehe maaf tuan." Salisa segera pindah ke bangku depan di samping Jacob. Sementara Jacob menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankan mobilnya. Suasana menjadi hening, sepertinya mereka menjadi canggung karena sebenarnya mereka tak mengenal satu sama lain.


"Maaf tuan, boleh kah saya tau nama tuan. Setidaknya agar saya bisa menyebut nama anda ketika berbicara. Oh iya, perkenalkan nama saya Salisa." Salisa menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan, namun sepertinya Jacob sedang fokus dengan kemudinya dan tk merespon tangan Salisa yang sudah menunggu dari tadi.


"Ah benar juga, maafkan saya tuan, saya sudah mengganggu fokus anda."


Seketika Jacob menoleh ke arah Salisa dengan ekspresi datarnya. "Kenapa sepertinya dari kemarin aku hanya selalu mendengar kata maaf darimu. Hal itu membuatku tidak nyaman. Panggil saja aku Jacob"


"Maafkan saya tuan Jacob." Menyadari jika ia baru saja mengulang kembali kata maaf sontak membuat Salisa menutup mulut dengan tangannya.


Jacob tersenyum menyadari tingkah polos gadis di sampingnya itu.


"Apakah baru saja tuan tersenyum? Banyak-banyaklah tersenyum tuan. Anda terlihat lebih tampan jika selalu tersenyum"


Jacob hanya kembali menoleh ke arah Salisa dengan wajah datarnya.


"Astaga, apa yang baru saja aku katakan. Astaga Salisa, kamu ini memalukan sekali." Guman Salisa dalam hati. Salisa begitu malu karena telah mengucapkan kata-kata yang menurutnya terlewat batas itu. Akhirnya Salisa memutuskan untuk membungkam mulutnya dan tidak berbicara lagi.


Akhirnya mereka sampai di tujuan pertama tempat dari daftar yang harus dikunjungi Salisa. Jacob menunggu di dalam mobil milik Salisa. Didalam mobil Jacob cukup bosan karena Salisa pergi cukup lama. Setelah bosan bermain ponsel, akhirnya Jacob mulai mengamati interior dan acesories mobil yang di dominasi warna pink dan biru itu.


Jacob juga melihat sekatung penuh makanan dan beberapa minuman di bangku belakang. Karena cukup lapar, Jacob memutuskan untuk mengambil beberapa snack dan memakannya. Ia berpikir pasti gadis itu tak keberatan jika ia mengambil sedikit makanannya.


Di laci depan Jacob juga menemukan beberapa novel dan komik yang sepertinya cukup menarik. Ia mulai membuka buku yang dianggapnya menarik untuk dibaca. Saat membuka lembaran itu, Jacob menemukan foto yang sepertinya memuat keluarga gadis yang sedang memakai cincinnya itu.

__ADS_1


"Cukup manis juga gadis ini, sepertinya ia berasal dari keluarga yang harmonis dan begitu hangat." Jacob juga memperhatikan foto anggota lain dari keluaga Salisa. Di dalam foto itu ada Papa Antoni, Mama Maria, Alisya dan juga Salisa yang terlihat sedang berkumpul dan sedang menikmati waktu bersama di sebuah gasebo yang cantik.


Jacob mengembalikan foto itu pada tempatnya dan kembali melanjutkan membaca bukunya. Tanpa sadar Jacob tertidur di dalam mobil ketika Salisa kembali. Sepertinya Jacob tertidur dengan lelap dan tak terbangun saat Salisa masuk ke salam mobil dan menutup pintunya dengan cukup keras.


"Bagaimana ini, haruskah aku membangunkannya. Tapi bagaimana caranya?" Salisa kebingungan sendiri bagaimana caranya untuk membangunkan Jacob.


Salisa mengamati wajah Jacob yang sedang tertidur dengan seksama. Alisnya yang cukup tebal dengan warna kulit yang putih bersih, Rambutnya hitam tersisir dengan rapi. Hidungnya sedikit mancung dan bibirnya terlihat merah muda tampak seperti lelaki yang bukan perokok. Secara keseluruhan wajahnya memang begitu menawan. Pasti banyak wanita yang akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Sayangnya kepribadiannya cukup dingin dan tidak mudah untuk didekati.


Salisa sedikit mendekat dan menggoyang-nggoyangkan bahu Laki-laki itu. "Tuan-tuan, bangun." beberapa kali Salisa melakukan hal yang sama sampai akhirnya Jacob terbangun.


"Apakah tuan masih mengantuk? Bagaimana jika kali ini saya saja yang mengendarai. Tuan Jacob bisa melanjutkan tidur tuan."


"Tidak perlu nona. Saya bisa melanjutkan perjalanan ini. Sepertinya saya hanya butuh secangkir kopi agar bisa segar kembali."


"Baiklah tuan, kalau begitu saya akan bembelikan anda kopi. Tunggulah sebentar tuan. Saya tidak akan lama." Salisa langsung bergegas pergi membeli kopi tanpa menunggu jawaban dari Jacob. Ia sedikit tersentuh ketika Jacob tak membiarkanya untuk bergantian mengemudi.


"Astaga, aku lupa menanyakan kepada tuan Jacob kopi apa yang dia suka." Akhirnya Salisa memutuskan untuk membeli beberapa cup copi yang berbeda ada yang dingin dan juga ada yang panas.


"Kamu ini ada-ada saja. Lalu siapa yang akan menghabiskan kopi sebanyak ini?" Jacob mengambil salah satu dari kopi itu dan meminumnya. "Untung disini ada kopi hitam, jika tidak ada mungkin kamu harus kembali lagi kesana. Kenapa tadi kamu langsung pergi begitu saja? Sisanya kamu saja yang meminum semuanya, aku tidak suka."


"Maaf tuan, saya memang sedikit ceroboh. Tapi dengan begini saya jadi tau kalau tuan hanya suka kopi hitam, lain kali saya jadi sudah tau."


Jacob kembali tersenyum dengan kelakuan Salisa yang terkesan suka bicara apa adanya itu tanpa harus berpikir panjang terlebih dulu. "Baiklah lain kali kamu boleh membelikanku kopi lagi, dan juga panggil saja aku Jacob, lagi pula sepertinya usia kita tak berbeda jauh."


"Baiklah tuan Jacob, maksud saya Jacob. Kalau begitu tuan sebaiknya juga memanggil nama saya saja, Salisa."


"Baiklah salisa, kemana tujuan kita selanjutnya?" Salisa segera memberi tau tujuan mereka kali ini. Di tengah perjalanan Salisa terlihat begitu asik dengan snack dan makanan ringan yang ia bawa. Salisa sempat menawarkan makanan yang ia makan kepada Jacob, tapi sepertinya Jacob adalah tipe orang yang selalu fokus dengan pekerjaannya dan tidak terlalu suka jika di ganggu.

__ADS_1


Karena merasa di abaikan, akhirnya Salisa menikmati sendiri makananya. Salisa juga menghabiskan beberapa kopi yang sempat ia beli tadi. Beberapa kali Jacob terlihat melirik ke arah Salisa dan keheranan dengan nafsu makan gadis mungil yang cukup banyak itu.


Seperti sebelumnya, Jacob menunggu di dalam mobil sambil melanjutkan membaca buku yang tadi sempat ia baca ketika Salisa pergi dengan urusan bisnisnya.


Mereka juga makan siang bersama di sebuah restoran yang cukup menarik untuk dikunjungi. Restoran itu bergaya klasik dengan interior khas bali. Pelayan dan seluruh pegawainya juga mengenakan pakaian adat dari pulau yang dipenuhi dengan pantainya yang sudah terkenal dengan keindahannya itu. Jacob kembali dikagetkan dengan porsi makan Salisa yang masih cukup banyak ketika tadi ia yakin jika gadis itu telah memakan cukup banyak makanan dan kudapan selama perjalanan.


Akhirnya kini tinggal tersisa satu tempat yang harus meraka datangi lagi. Kali ini Salisa harus mendatangi sebuah konfeksi yang letaknya tak jauh dari pantai.


Ketika baru saja turun dari mobil, sepertinya Salisa melihat sosok Johan sedang bersama seorang wanita cantik dan seksi dengan dress berwarna merah. Wanita itu terlihat sedang menempel dan mengalungkan lenganya di lengan Johan. Mereka terlihat begitu mesra sambil berjalan beriringan menyusuri toko-toko souvenir.


"Bukankah itu adalah Johan, sepertinya aku memang tidak salah lihat." Untuk meyakinkan bahwa itu adalah Johan, Salisa memutuskan untuk mencoba menghubungi nomor Johan. Namun sayangnya Johan tidak mengangkat panggilan itu. Dari kejauhan, laki-laki yang terlihat seperti Johan itu juga tidak menunjukan respon dan tampak tidak terjadi apa-apa.


Melihat Salisa masih berdiri mematung di samping mobil membuat Jacob penasaran dan ikut keluar dari mobil. "Kenapa kamu dari tadi masih berdiri terus di situ Salisa. Hari sudah mulai sore, sebaiknya kamu bergegas."


"Tunggu sebentar tuan Jacob, sepertinya tadi saya melihat pacar saya sedang bermesraan dengan wanita lain. Saya hanya ingin memastikan apakah dia pacar saya atau bukan."


"Dimana kamu melihatnya?"


"Disana tuan." Kata Salisa sambil menunjuk kearah laki-laki dan perempuan yang terlihat seperti sepasang kekasih.


"Jika kamu penasaran, kenapa kamu tidak pergi dan memastikannya saja Salisa."


*


*


~Bersambung~

__ADS_1


*


*


__ADS_2