
Perusahaan Aldo berkembang dengan begitu pesatnya, semakin banyak jumlah permintaan pasar yang tentu saja membuat Aldo dibuat bangga dengan seluruh usahanya selama ini yang tidaklah sia-sia.
Bahkan, Aldo juga mendapatkan penghargaan dari pemerintah setempat karena berkat adanya perusahaan itu, banyak warga sekitar yang bisa mencari rezeki dari bekerja di perusahaan milik Aldo. Aldo memang sengaja mengutamakan warga sekitar untuk bekerja di pabrik dan perkebunannya.
Bukan hanya itu saja, Aldo terkenal sebagai pengusaha muda yang patut diakui dan dijadikan panutan. Aldo selalu mengutamakan kesejahteraan para pegawainya. Aldo juga menerapkan sistem saling untung kepada semua orang yang terlibat di dalam perusahaannya. Baik itu bagi para pegawai maupun kepada para investor dan juga patner bisnis yang bekerjasama dengannya.
Jacob sangat beruntung bisa bekerjasama dan berpatner dengan Aldo yang begitu handal dalam berbisnis. Perusahaan groub Sanhai yang di serahkan tanggungjawabnya kepada Jacob itu tadinya hampir bangkrut dan gulung tikar. Berkat bantuan dan kerjasama Jacob dengan Aldo, perusahaan Jacob perlahan juga menampakkan hasil yang positif.
Kakek Wisnu cukup bangga dengan cucunya yang kini bisa bekerjasama dan berbisnis dengan cukup handal. Semua harapan Kakek Wisnu untuk bisa mempercayakan group Sanhai kepada Jacob semakin jelas dan tak ragu lagi. Setelah Jacob menikah dengan Salisa, Kakek Wisnu juga semakin yakin jika nantinya Jacob bisa menjalankan seluruh perusahaan group Sanhai berkat dukungan dari istrinya.
Hari itu Aldo datang ke perusahaan Jacob. Seperti biasa Aldo setidaknya akan datang berkunjung ke perusahaan Jacob untuk meeting atau sekedar untuk mengecek pengerjaan projek yang Aldo kerjakan bersama dengan Jacob.
Saat ini selain sebagai patner kerja sama dengan Jacob. Aldo juga telah menjadi Kaka ipar bagi Jacob. Tentu saja mereka menjadi semakin dekat dan lebih kompak. Jacob yang biasanya tak mudah membuka diri dengan orang asing, bisa dengan mudahnya dekat dan percaya sepenuhnya dengan persahabatannya dengan Aldo.
Jacob sering berbincang dan bertukar pikiran dengan Aldo tentang berbagai hal. Termasuk dalam kehidupan rumah tangganya dengan Salisa. Jacob bercerita bahwa saat ini dirinya memang tidak mencintai Salisa. Jacob takut jika suatu saat hal itu akan mengecewakan keluarga Salisa sekaligus keluarganya juga. Jacob begitu bingung bagaimana harus menyikapi hal itu. Untuk itulah Jacob meminta pendapat sekaligus saran kepada Aldo yang dinilai Jacob cukup bijak dalam menyikapi semua hal.
Mendengar hal itu Aldo juga sempat dibut bingung dan tak menyangka jika Jacob mau berbagi dan menceritakan hal itu kepadanya. Sebagai seorang teman sekaligus sebagai kaka ipar bagi Jacob maupun Salisa, tentu Aldo harus mengambil jalan tengah dan tidak memihak kepada siapapun. Akhirnya Aldo memberi saran kepada Jacob bahwa Jacob setidaknya harus mencoba membuka hati untuk Salisa.
Hal itu tentu saja belum terpikirkan oleh Jacob. Selama ini Jacob selalu begitu setia dan mempertahankan hubungannya dengan Ana kekasihnya. Akan tetapi, setelah Jacob mendengar permintaan putus dari Ana, hal itu juga membuat Jacob sadar jika setidaknya sekarang ia harus memberi kesempatan untuk wanita lain yang mungkin saja juga mencintainya.
Jacob sempat ragu jika ia bisa meluluhkan hati Salisa. Jacob tau jika saat ini Salisa sepertinya enggan untuk membuka hatinya untuk laki-laki. Oleh karena itu Jacob memutuskan untuk bisa memenangkan hati Salisa terlebih dulu.
Jacob juga mulai bertanya-tanya dalam hatinya perasaan apa yang sebenarnya ia rasakan ketika ia berciuman dengan Salisa waktu itu. Jacob benar-benar ingin memastikannya terlebih dulu sebelum ia benar-benar akan memutuskan untuk mengejar cinta wanita yang akan menjadi ibu dari darah dagingnya sendiri.
Jacob juga mulai tak tega jika rencananya untuk menceraikan Salisa dan menjauhkan seorang ibu dari anaknya benar-benar akan ia lakikan. Semua rencana itu memang sempat terbayang dalam benaknya ketika Jacob masih begitu berharap dengan seorang Ana yang sangat ia percayai akan bisa menerima kenyataan dan menjadi ibu sambung bagi anaknya nanti.
Semua itu kini hanya tinggal cerita belaka, Jacob merasa sangat kecewa dan tak menyangka jika Ana memilih untuk berpisah darinya. Bahkan sebelum Jacob bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Salisa.
Sampai saat ini Ana memang belum tau tentang Jacob yang telah mempersiapkan lamaran untuknya. Ana juga belum tau jika saat ini Jacob telah menikah dan akan menjadi seorang ayah. Semua hal yang tadinya begitu dikhawatirkan Jacob mengenai bagaimana nantinya ia akan menjelaskan kepada Ana tidak lagi mengganggu pikiran Jacob.
Kini Jacob malah dibuat bimbang dengan hatinya sendiri. Beberapa kali Jacob merasakan sesuatu yang aneh terjadi di dalam hatinya ketika ia sedang bersama dengan Salisa.
Jacob yang sedari tadi dibuat melamun dengan semua pemikiran itu mendadak tersadar jika sebenarnya saat ini ia sedang bersama dengan Aldo yang sedari tadi duduk di hadapannya untuk membicarakan tentang bisnis mereka.
__ADS_1
"Maafkan aku Aldo, aku malah curhat di saat kita seharusnya membicarakan tentang bisnis kita." Ucap Jacob yang tersentak ketika Aldo baru saja menepuk punggung tangannya dengan cukup keras.
"Tak masalah Jacob. Bukankah selain patner bisnis, kita juga menjadi keluarga? Aku malah senang ketika kamu mau berbagi tentang apa yang kamu rasakan denganku." Jawab Aldo dengan senyuman.
Saat mereka sedang asik berbincang, seorang wanita mendatangi mereka berdua. Wanita itu tak lain adalah Karin akuntan baru yang direkrut perusahaan Jacob.
"Selamat siang Tuan Jacob dan Tuan Aldo. Bolehkah saya ikut bergabung?" Tanya Karin dengan lembut.
"Sepertinya tidak Karin. Hari ini suasana hatiku sedang tidak baik. Aku hanya ingin berbincang dengan Aldo saja." Jawab Jacob dengan tegas.
"Baiklah kalau begitu Tuan Jacob. Saya akan ambilkan kembali bekerja." Saut Karin dengan kecewa.
"Tunggu sebentar Karin. Tolong buatkan kopi untuk kami berdua." Tutur Jacob memberi perintah.
"Tentu saja Tuan Jacob. Sembentar lagi saya akan kembali dengan dua cangkir kopi." Karin kemudian berlalu meninggalkan Jacob dan Aldo yang sedang duduk di ruang tamu khusus yang sering digunakan Jacob untuk menemui tamu-tamu pentingnya.
Rencana picik tiba-tiba terpikirkan oleh Karin. Wanita itu memasukan obat yang bisa sedikit demi sedikit menghilangkan ketidak sadaran seseorang. Karin ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk menjebak Aldo, pria yang telah Karin sukai sejak pertemuan pertamanya. Walaupun Karin sudah tau jika Aldo sudah mempunyai seorang istri, namun hal itu justru semakin membuat hatinya lebih semangat untuk bisa merebut sosok laki-laki yang dianggapnya begitu sempurna dimatanya. Apalagi setelah melihat kepedulian dan perhatian yang diberikan Aldo kepada istrinya membuat Karin begitu iri dan berharap bisa merebut perhatian yang ingin ia rasakan juga.
Karin memastikan betul cangkir mana yang akan diberikan kepada Aldo. Setelah mengantar kopi itu, Karin megintai dari ruang kerjanya memastikan bahwa Aldo akan menghabiskan kopinya.
Jika rencananya berhasil. Karin berencana untuk membawa Aldo ke sebuah hotel alih-alih mengantarnya kembali ke perusahaannya.
Karin terus saja memperhatikan Aldo yang sedari tadi belum mengangkat cangkir kopinya dan menyeruput minuman bercampur obat itu.
Waktu semakin berputar, akan tetapi tetap saja Aldo sepertinya tak terrarik untuk mencicipi kopi buatannya. Kini bahkan sudah hampir mendekati waktu bagi Jacob untuk bertemu dengan klien nya.
Dengan berat hati Jacob meminta undur diri kepada Aldo. Jacob juga berjanji jika nanti ia yang akan berkunjung ke perusahaan Aldo untul melanjutkan perbincangan mereka.
Melihat rencacanya akan gagal, Karin berdecak keras dan mengumpat dalam hatinya. Namun tiba-tiba senyuman mengembang dari bibirnya. Karin melihat jika Aldo menyeruput sedikit kopi yang disiapkan olehnya ketika hendak meninggalkan ruangan itu.
Aldo pamit undur diri dan segera berlalu dari ruangan itu untuk menuju ke gedung parkiran mengambil mobilnya. Tentu saja Karin langsung mengikuti Aldo perlahan-lahan hingga tidak meninggalkan kecurigaan bagi siapapun yang berada di perusahaan itu.
Sesampai di gedung parkiran yang berada di lantai basemen. Aldo memang merasakan sedikit pusing yang ia rasakan di kepalanya. Karin yang sudah mengikutinya langsung datang menghampiri Aldo yang sempat terhuyung karena pusing dan penglihatannya sedikit kabur.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan anda tuan Aldo? Kenapa anda sepertinya dari tadi berjalan sengan sedikit terhuyung?" Tanya Karin dengan tipu dayanya.
"Oh anda Nona Karin. Saya kira siapa. Sepertinya saya mengalami gejala anemia, saya merasa sedikit pusing dan penglihatan menjadi sedikit kabur." Ucap Aldo menjelaskan apa adanya tanpa sedikitpun curiga.
"Astaga, jadi bagaimana mungkin anda bisa berkendara jika keadaannya seperti itu Tuan Aldo. Kebetulan saya sedang ingin keluar untuk kepentingan pribadi, mungkinkah saya bisa membantu anda Tuan?" Tanya Karin yang begitu tak tau mau bisa melakukan hal itu untuk merayu suami milik orang lain.
"Tidak perlu Nona Karin. Saya akan menelfon seorang sopir pengganti saja. Jadi Nona tidak perlu mengkhawatirkannya." Ucap Jacob yang merasa lebih pusing dan tubuhnya menjadi seperti mulai tak berdaya.
Aldo kembali terhuyung, kini bahkan ia hampir terjerembab karenanya. Melihat hal itu Karin lansung memanfaatkan keadaan dengan membantu Aldo agar tidak sampai terjatuh dengan memegangi tubuh Aldo dan memeluknya.
Beruntungnya Aldo kali ini, Reno yang menjadi asistan Jacob baru saja diperintahkan Jacob untuk mengambil sebuah berkas milik atasannya itu yang tertinggal di dalam mobil.
Dari kejauhan Reno yang melihat kejadian itu langsung berlari dan mendatangi Aldo dan Karin. Menyadari ada seseorang yang datang, Karin berpura-pura panik dan berteriak meminta tolong.
"Apa yang terjadi dengan Tuan Aldo, Karin?" Tanya Reno seketika sambil membantu memegangi tubuh Aldo agar tak sampai terjatuh.
"Saya juga tidak tau Reno. Tadi saya melihat Tuan Aldo sedikit terhuyung. Jadi saya langsung berlari kemari dan membantunya." Jawab Karin yang berdusta bagai orang yang tak berdosa.
"Sepertinya Tuan Aldo sedikit kurang sehat hari ini. Biarkan aku saja yang mengurus Tuan Aldo. Kamu pasti akan terlalu berat dan kualahan jika membantunya. Sebaiknya kamu gantikan aku mengambilkan berkas untuk Tuan Jacob saja dan katakan kepadanya mengenai situasi apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Reno yang masih belum curiga.
Dengan terpaksa, Karin menuruti peruntah dari Reno yang memintanya untuk menggantikan dirinya. Karin kemudian menerima kunci yang tadinya dibawa Reno dan segera bergegas mengambilkan berkas dan mengantarnya ke ruangan Jacob saat itu juga.
Karin tau betul jika Jacob atasannya itu akan sangat marah jika mengetahui pekerjanya tak bekerja dengan kompeten dan menyia-nyiakan waktunya.
Reno sendiri langsung membantu Aldo untuk duduk dan masuk ke dalam mobil. Reno bertanya kepada Aldo kemana ia harus mengantarnya kali ini.
Aldo sendiri sangat berterimakasih atas perhatian Reno. Aldo memutuskan untuk meminta bantuan Reno untuk mengantarnya pergi ke rumah sakit terlebih dulu sebelum nantinya ia meminta Reno untuk mengantarnya kembali ke perusahaan miliknya.
*
*
~Bersambung~
__ADS_1
*
*