CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
KELUARGA AMBURADUL


__ADS_3

Berbeda dengan kondisi rumah keluarga Salisa saat ini. Jacob terus saja berpura-pura tidak peduli dengan Salisa yang masih belum pulang dan tidak tau entah kemana perginya itu.


Karena Jacob tidak dapat menemukan Salisa di rumah Kakaknya, maka Jacob memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya. Kini hari semakin gelap bahkan hampir mendekati jam makan malam. Jacob terus saja mondar-mandir di dalam kamar karena belum melihat batang hidung Alisa semenjak perdebatannya dengan Salisa yang sepertinya telah membuat Salisa memutuskan untuk pergi dari rumah tanpa berpamitan.


Jacob akhirnya memutuskan untuk mandi terlebih dulu dan akan kembali pergi mencari Salisa dengan mencoba mendatangi rumah mertuanya. Saat Jacob selesai mandi, ia dikejutkan dengan keberadaan Salisa yang sedang duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya.


Salisa sendiri terperanjat kaget dengan kemunculan Jacob dari kamar mandi yang hanya berbalutkan kain handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya. Melihat Jacob bertelanjang dada, Alisya langsung menjatuhkan ponselnya begitu saja dan menutup matandengan kedua tangannya.


"Apa-apaan kamu ini Jacob. Kenapa kamu keluar dengan kondisi seperti itu? Cepat kembali ke kamar mandi dan pakai bajumu." Teriak Salisa dengan mata yang masih tertutup.


"Kenapa sepertinya Salisa tidak marah lagi denganku. Jika Salisa sedang marah biasanya dia bahkan tidak mau berbicara dan bertegur sapa denganku." Gumam Jacob tanpa memperdulikan perkataan Salisa yang menyuruhnya kembali ke kamar mandi.


Jacob malah berdiri di depan cermin dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk lainnya. Jacob tak bersuara karena dirinya masih dibuat geram dengan Salisa yang pergi dari rumah tanpa berpamitan dengannya.


"Apakah kamu sudah ke kamar mandi Jacob?" Tanya Salisa yang ingin segera membuka matanya kembali. "Astaga Jacob, apakah kamu tidak mendengar kata-kataku? Kenapa kamu masih berdiri dan malah bersantai di situ?" Kata Salisa dengan kembali memejamkan matanya.


"Kamu ini cerewet sekali. Aku kan tidak bugil. Jadi kamu tidak perlu menutup matamu seperti itu. Lagi pula siapa yang menyuruhmu untuk tetap berada di sini jika tidak ingin melihatku." Ucap Jacob dengan ketus.


"Baiklah, kalau begitu aku akan keluar." Jawab Salisa begitu saja.


"Tunggu! Tetap berada di sana dan jangan bergerak sedikitpun. Aku harus menginterogasi kepana kamu pergi seharian ini."


"Ok aku tidak akan pergi. Tapi pakailah dulu bajumu. Aku tidak nyaman karenanya."


"Apa? Tidak nyaman? Bukankah kamu sudah melihat seluruhnya Salisa? Kamu kemarin bahkan sengaja mengganti bajuku agar kamu bisa melihat kembali isinya bukan?" Goda Jacob kepada Salisa yang terlihat begitu canggung dengan tubuhnya yang hanya tertutup selembar kain handuk.


"A a apa? Kenapa kamu terus saja menuduhku seperti itu? Aku kan sudah bilang jika aku hanya kasian dan berusaha untuk membantumu." jawab Salisa terbata-bata karena Jacob yang mendekatinya dan membuat dirinya harus memundurkan badannya yang terus saja di sudutkan Jacob yang semakin menyondongkan tubuhnya dengan menatap lekat matanya.


Salisa sudah tak bisa lagi bergerak karena sandaran sofa yang menghalanginya, hal itu membuat Salisa begitu grogi dan gugup dibuat oleh Jacob yang berada tepat di hadapannya dengan mata yang begitu tajam menatapnya dan hanya menyisakan beberapa sentindengan wajahnya saat ini.


"Apa yang ingin kamu lakukan Jacob. Kamu jangan berani-berani berbuat sesuatu kepadaku." Ucap Salisa begitu saja.

__ADS_1


Jacob tersenyum dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya. "Memangnya siapa yang ingin melakukan sesuatu dengan wanita sepertimu? Aku hanya ingin bertanya kemana kamu pergi seharian ini? Ingat Salisa bahwa saat ini kamu sedang memerankan peran sebagai istri dari Jacob Oetama. Jadi agar kamu tak membuatku merasa geram dan marah kamu harus lapor dan berpamitan kepadaku kemana dan dengan siapa kamu pergi." Kata Jacob dengan penuh penekanan.


Kini giliran Salisa yang memaksa Jacob memundurkan tubuhnya secara teratur. Salisa beranjak berdiri dan terus memojokan Jacob yang terlihat takut dengan apa yang akan dilakukan wanita itu kepadanya.


"Apa jangan-jangan Salisa ingin menciumku dan akan menghabisiku setelah melihat tubuhku yang sexi ini" gumam Jacob sambil terus menghindar dari tatapan maut wanita dihadapannya itu.


"Apa kamu bilang? Menyandang setatus istri? Jika kamu bisa mendakwaku seperti itu maka aku juga bisa marah sebagai seorang istri yang tidak di beri tahu ketika suaminya berangkat bekerja. Lagi pula, sebenarnya tadi aku juga ingin berpamitan denganmu. Tapi karena kamu tidak ada dirumah maka aku hanya bisa berpamitan kepada Kakek. Satu lagi, aku juga tidak punya nomor kontakmu. Jadi aku tidak bisa mengirimimu pesan untuk sekedar berpamitan. Paham?"


"Apa? Kakek? Jadi Kakek tau kemana kamu pergi?"


"Tentu saja. Aku kan sudah berjanji bahwa aku akan berpura-pura menjadi cucu menantu yang baik. Tentu saja aku berpamitan kepada Kakek ketika aku akan keluar rumah." Jawab Salisa santai.


Jacob teelihat kesal karena menyadari dirinya telah ditipu dan dipermaikan oleh Kakeknya. "Lalu kemana tadi kamu pergi?" Tanya Jacob yang kini bergantian lagi merungsek tubuh Salisa hingga terjatuh dan terpepet di sandaran sofa.


"Tadi aku pergi ke pameran buku. Hari ini adalah hari terakhir mereka beroperasional. Jadi aku sengaja seharian berada disana." Ucap Salisa dengan sedikit takut dengan wajah Jacob yang semakin mendekatinya.


"Dengan siapa kamu pergi?"


"Dengan teman SMA ku."


"Hei kenapa kamu malah duduk. Cepat kenakan pakaianmu. Sebentar lagi jam makan malam, jangan sampai Kakek harus menunggu lama karenamu." Ucap Salisa sambil mendorong tubuh Jacob.


"Benar juga, kenapa aku malah duduk." Jacob kemudian beranjak dan mengambil pakaiannya di dalam Almari dan meletakannya di atas kasur.


"Hei orang gila. Apakah kamu mau memakai baju di hadapanku seperti itu? Pakai bajumu di kamar mandi." Teriak Salisa dengan keras.


"Memangnya kenapa? Ini kan kamarku. Jadi terserah pasaku untuk melakukan apa saja sesuka hatiku. Kamu yang menumpang disini. Kalau tidak suka kamu saja yang pergi ke kamar mandi."


Karena Salisa juga malas beranjak, akhirnya Salisa hanya menutup matanya rapat-rapat. "Katakan padaku jika kamu sudah selesai." Tutur Salisa dengan kedua tangannya kembali menutup matanya yang tak mau kembali ternoda dengan pemandangan bugil di hadapannya.


"Kenapa kamu lama sekali Jacob?" Tanya Salisa yang merasa sudah megitu lama menutup matanya. Akan tetapi ternyata tak ada sautan dari pertanyaanya. Salisa kemudian sedikit mengintip untuk melihat keadaan sekitar.

__ADS_1


Ternyata Jacob sudah berpakaian dan kini sedang asik mengutak-atik ponselnya dengan duduk di atas eanjang sanbil menyelonjorkan kakinya.


"Jahat sekali kamu Jacob. Aku sudah memintamu untuk memberitahuku. Kenapa kamu diam saja." Ucap Salisa begutu kesal.


Jacob hanya tersenyum sinis dan melanjutkan kesibukannya memaikan benda kotak ditangannya.


Salisa menghampiri Jacob dan merampas ponsel yang sedang dipegang Jacob.


"Hei, kenapa kamu kasar sekali seperti itu? Kamu kan bisa memintanya dengan baik-baik." Gerutu Jacob dengan membulatkan kedua matanya menatap Salisa dengan tajam.


"Maaf ya Tuan Jacob. Tapi aku akan bertindak sesuai dengan bagaimana Tuan memperlakukan saya. Jika Tuan memperlakukan saya dengan baik , maka mungkin saya akan mempertimbangkan lagi untuk menjadi temanmu lagi." Kata Salisa ketus.


"Apa yang ingin kamu lakukan dengan ponselku?" Tanya Jacob tak kalah ketusnya.


Salisa hanya siam saja dan mengutak atik ponsel milik Jacob. Ternyata Salisa sesang menyimpan kontaknya sendiri si ponsel Jacob dengan membubukan nama "Tuan Putri Salisa" sebagai penandanya. Salisa kemudian menelfon nomornya dari ponsel Jacob yang masih di tangannya.


Salisa sangat kaget ketika menyadari bahwa orang yang tadi pagi membangunkannya dengan menelponnya berulangkali adalah Jacob. "Apa maksud daei semua ini Jacob?" Salisa menunjukan riwayat panggilan yang begitu banyak dengan nomor yang sama itu.


"Emm itu, Hapeku sepertinya tadi pagi sesang rusak. Jadi aku mencoba mengetesnya dengan menelponmu. Jika kamu tak bisa mendengar suaraku berarti memang benar hapeku sedang rusak." Jawab Jacob mencari alasan.


"Pintar sekali kamu berkilah Jacob? Tadi pagi aku benar-benar ingat bahwa kamu sedang memnaca buku saat teror panggilan itu datang."


"Hehehe" Jacob nyengir karena tak bisa mengelak lagi. "Untuk apa kamu menyimpan nomorku? Apakah kamu sudah mulai ada rasa terhadapku Salisa?" Tanya Jacob dengan pedenya.


"Cih, amit-amit. Aku menyimpan nomormu karena jika suatu saat aku ingin pergi dan kamu sedang rak asa dirumah maka aku bisa mengirimimu pesan. Jadi mulai sekarang kamu tidak akan ada lagi alasan untuk mengomeli ku karena tak berpamitan lagi." Balas Salisa dengan santainya.


*


*


~Bersambung~

__ADS_1


*


*


__ADS_2