
Selesai berpakaian, Salisa keluar dari kamar mandi. Alisya melihat Jacob juga sudah berpakaian rapi kembali. Suasana di kamar itu berubah menjadi begitu hening. Lebih sepi dari kuburan di tengah malam.
Salisa sengaja duduk di kursi untuk menjaga jarak dan menghindar dari tatapan mata Jacob yang pasti akan membuatnya salah tingkah.
Tak ada diatara mereka berdua yang berinisiatif untuk membuka pembicaraan dan meluruskan semua kejadian yang telah mereka alami.
Selama hampir tiga puluh menit, ruangan itu masih saja sunyi. Yang terdengar hanyalah suara detak jam dinding yang entah mengapa terdengar lebih keras dari biasanya.
Dengan sedikit ragu, Jacob memberanikan diri untuk bertanya kepada Salisa. "Salisa, apakah kamu marah kepadaku?"
"Tidak."
"Lalu apakah kita masih berteman?"
Salisa terdiam, entah pikiran apa yang membuatnya harus berpikir seribu kali tentang apa yang seharusnya ia lakukan kali ini. Salisa tak mau jika suatu hari nanti ia akan menyesali keputusannya.
"Salisa?" Jacob menghampiri Salisa dan duduk di hadapan Gadis itu. "apa yang sedang kamu pikirkan?" Jacob berusaha memahami Salisa yang sedari tadi tak banyak bicara seperti biasanya.
"Kamu adalah seorang gadis yang baik Salisa, aku tidak mau kehilangan teman seperti dirimu. Jujur saja dari dulu aku tidak banyak memiliki teman. Entah mengapa, aku selalu merasa nyaman jika sedang bersamamu. Kamu boleh berpikir jika aku ini seorang yang sangat egois. Karena setelah kejadian tadi malam aku masih berani untuk memintamu tetap menjadi temanku."
Entah mengapa suara Jacob terdengar lembut dan nyaman didengarkan oleh Salisa. Salisa masih saja terdiam, seperti tak mengubris semua perkataan Jacob.
"Aku minta maaf atas semua yang terjadi diantara kita Salisa. Aku sangat menyesal telah melakukan semua itu kepadamu. Mungkin kamu berpikir aku ini laki-laki biadap, hidung belang, baj*ngan atau semacamnya. Tapi entah mengapa aku tidak rela jika kamu perpikiran seperti itu tentangku. Aku benar-benar bingung dengan perasaanku saat ini Salisa."
Jacob memandangi Salisa yang menunduk dan tak bergeming sedikitpun. Hal itu semakin membuat Jacob kebingungan.
__ADS_1
"Jika kamu masih saja diam, aku anggap jika kamu sudah memaafkanku Salisa. Aku berjanji akan menebus semua kesalahanku dan akan menjadi teman terbaik untukmu. Katakan apa yang harus aku lakukan untukmu Salisa? Bolehkah aku memindai Whats App milikmu?"
Tanpa memdapatkan ijin terlebih dulu dari pemiliknya, Jacob mengambil ponsel Salisa yang tergeletak di meja untuk memindai barcode aplikasi pertemanan.
Melihat Jacob mengambil ponselnya, Salisa langsung mengambil kembali ponselnya. "Tidak bisa Jacob. Semua jawabanku adalah tidak. Sebaiknya setelah ini kita tidak usah berteman lagi. Jika suatu hari kita tak sengaja bertemu lagi, maka anggap saja kita tidak pernah bertemu dan tidak pernah saling kenal."
"Tapi kenapa Salisa? Aku benar-benar tak mau kehilanganmu. Apakah kamu masih marah? Apakah kamu jadi benci kepadaku? Aku memang bersalah Salisa, tolong maafkan aku dan katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa memaafkanku." Jacob meminta maaf dengan tulus dengan bersimpuh dihadapan Salisa dan menggenggam erat tangan gadis di hadapannya.
"Tolong lepaskan tanganmu Jacob. Aku sudah memaafkanmu, aku juga tidak membencimu. Semua yang terjadi diantara kita bukanlah seratus persen kesalahanmu. Aku tau itu, tetapi kita benar-benar tidak bisa berteman lagi." Salisa mencoba menguatkan hatinya yang terasa pilu dan sedih. Salisa juga tidak tau apa yang sebenarnya terkadi kepada dirinya.
"Bagaimana jika aku tetap menjadi temanmu dan suatu saat aku bertemu dengan Nona Ana. Aku juga seorang wanita Jacob, aku tau bagaimana rasanya jika hal itu terjadi padaku. Aku pasti tidak bisa menghadapi Nona Ana saat itu. Karena aku tau jika kekasihnya pernah tidur dengan wanita lain dan itu adalah aku. Bayangkan apa yang akan Nona Ana rasakan jika tau yang sebenarnya."
Jacob diam seribu bahasa, ia juga tak bisa memungkiri perkataan Salisa.
"Katakan berapa harga cincin ini, Karena cincin ini tidak bisa terlepas, setelah pulang dari sini aku akan mengganti cincin ini dengan uang. Aku akan mencatat nomor rekeningmu dan berusaha secepat mungkin untuk membayarnya."
"Kalau begitu, aku akan berusaha berdiet agar cincin ini bisa terlepas dan mengembalikannya padamu. Jika hari itu tiba, aku akan mengirimkan cincin ini ke alamat perusahaanmu."
"Apakah kamu benar-benar membenciku Salisa? Kenapa kamu jadi seperti ini. Aku tetap berharap kita bisa selalu menjadi teman yang baik. Aku merasa kamu adalah satu-satunya orang yang sepertinya tau apa yang sedang aku pikirkan dan mengerti apa yang aku butuhkan. Walaupun itu hal-hal kecil yang sepertinya sepele." Sepertinya Jacob memang tidak mau dan tidak rela jika harus kehilangan seorang teman seperti Salisa.
"Apakah kamu ingat ketika kamu memberiku sebutir permen saat kita sedang berkendara kemarin, sepertinya kamu tau jika aku sedikit mengantuk dan ingin makan permen untuk mengurangi rasa kantukku. Atau disaat kamu memesankan lagi minuman untukku saat aku merasa kepedesan dan air di dalam gelasku sudah habis. Atau juga disaat aku ketiduran di dalam mobil ketika sedang menunggumu. Kamu sengaja tak membangunkanku dan merubah posisi kursi kemudi agar aku bisa tidur dengan lebih nyaman. Aku berterimakasih atas perhatianmu dan aku merasa sangat senang dengan semua itu Salisa."
"Semua itu hanya instingku saja Jacob. Mungkin saja itu hanya kebetulan aku menyadarinya. Aku tidak pernah berusaha untuk membuatmu merasa tersentuh seperti itu" Salisa hanya terdiam dan mengucapkan kata-katanya di dalam hati.
"Aku harus kembali siang ini. Percayalah bahwa aku tidak akan kabur dan membawa lari cincin ini. Aku pasti akan mengembalikannya. Aku yakin cincin ini sangat mahal dan berharga sekali untukmu."
__ADS_1
"Sudah berapa kali aku bilang, jika aku tak membutuhkan lagi cincin itu." Jacob menekankan sekali lagi bahwa ia tidak ingin Salisa merasa tertekan karena harus segera mengembalikan cincinnya.
"Tapi tetap saja, cincin ini seharusnya jadi milik Nona Ana. Aku akan merasa bersalah seumur hidup jika aku tidak menhembalikan cincin ini."
"Baiklah, terserah kamu saja. Jam berapa kamu akan pulang? Aku akan mengantarmu sampai ke bandara." Jacob tetap ingin selalu berurusan dengan gadis yang sebenarnya belum lama ia kenal itu, tapi sepertinya Jacob belum menyadari jika gadis itu sudah memiliki tempat tersendiri di dalam hatinya.
"Tidak usah, aku akan pergi sendiri. Dan ingat, jika suatu saat kita berjumpa aku tidak akan menyapamu, karena aku sudah memutuskan untuk tidak mengenalmu lagi." Nada bicara Salisa sedikit ketus. Setelah ia merasa sudah menyampaikan semua yang harus ia sampaikan, Salisa beranjak dan pergi meninggalkan ruangan itu begitu saja.
****
Siang itu Salisa telah mengemas semua barang-barangnya dan bergegas pergi ke bandara agar jangan sampai ketinggalan penerbangan yang sudah ia pesan.
Salisa masuk ke dalam pesawat dan menunggu beberapa saat untuk lepas landas. Ia duduk disamping seorang pria yang menggunakan jemper dan mengalungkan kantung kepala jaket itu di kepalanya. Laki-laki itu sepertinya tertidur karena ia tak bergerak sedari tadi. Pria itu juga menundung dan melipat kedua tangannya diatas perut, selain itu pria disebelahnya itu juga mengenakan masker. Jadi Salisa tidak dapat melihat wajah orang itu sama sekali.
Salisa tidak memperdulikan semuanya itu. Gadis itu berusaha untuk membuat duduknya senyaman mungkin dan mengambil headset untuk mendengarkan musik. Tanpa Salisa sadari, air mata terjun bebas begitu saja dari pelupuk matanya dan membuat pipinya basah karennya.
Tanpa sadar, Salisa juga menimbulkan suara kecil saat ia sedang menangis. Gadis itu merusaha untuk menahan tanhisannya, tetapi sepertinya sia-sia. Ia tidak dapat membendung luapan hatinya. Salisa teringat kembali akan apa yang baru saja menimpanya.
Salisa bahkan menemukan sapu tangan milik Jacob di dalam tasnya yang waktu itu dipinjamkan Jacob kepadanya. Hal itu membuat Salisa semakin sedih. "Kenapa aku harus bertemu dengan laki-laki bangsa*t seperti Johan dan harus tertipu olehnya. Lalu kenapa aku juga harus bertemu dengan laki-laki baik dan perhatian seperti Jacob, tetapi harus berakhir seperti ini. Apakah aku tidak berhak untuk bahagia dan menemukan pria yang benar-benar mencintaiku apa adanya. Andai saja Jacob belum memiliki nona Ana. Aku pasti.... Ya Tuhan, apa yang sudah aku pikirkan. Ayolah Salisa, kamu tidak boleh berpikir yang tidak-tidak."
*
*
~Bersambung~
__ADS_1
*
*