CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
BIMBANG


__ADS_3

Alisya sedang bekerja dikantornya. Namun kali ini ia tak dapat berkonsentrasi dalam bekerja. Hati dan pikirannya bahkan tak ada di sana.


Memang begitu berat permasalahan yang sedang mengganggu pikirannya.


Aku tidak boleh mengingkari janjiku sendiri, aku sudah menerima cincin ini. Mungkin aku dan Aldo memang tak berjodoh. Sebaiknya mulai sekarang aku harus menjaga jarak dengannya, sebelum aku benar-benar hancur dan tak bisa pergi darinya.


Tapi hatiku selalu berkata lain. Rasanya sakit sekali. Lebih sakit dari rasa cemburu. Aku sangat mencintai Aldo tapi aku tak bisa memilikinya. Kenapa aku harus terjebak dalam situasi serumit ini.


Saat Alisya masih dilanda dalam ketakutannya, ponselnya berdering. Ia mendapatkan pesan singkat dari Aldo.


"Ayo makan siang bersama Alisya. Aku akan menjemput di kantormu."


"Sepertinya aku tidak bisa Aldo, kali ini aku sedang sibuk sekali." Alisya membuat alasan agar bisa menghindari Aldo.


Tok tok tok..


Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan kerja Alisya.


"Ya.. Masuklah"


Sekretaris Alisya datang dengan membawa buket bunga mawar berwarna merah ditangannya.


"Nona Alisya, ada kiriman bunga untukmu."


"Ah benarkah.. Dari siapa..?"


"Saya tidak tau nona, sebaiknya nona cek sendiri."


"Sekretaris itu menyerahkan buket bunga itu kepada Alisya."


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih ya"


"Sama-sama nona, saya permisi dulu."


Sekretaris itu kemudian keluar dari ruangan sambil menutup pintu kembali.


Alisya memeriksa buket bunga itu, namun tak ada nama pengirim di sana.

__ADS_1


"Dari siapa ya..? Humm wangi sekali. Aku menyukainya."


Pintu ruangan kerjanya tiba-tiba terbuka kembali. Aldo menyelonong masuk dengan membawa makanan di kedua tangannya.


"Aldo, kenapa kamu langsung masuk saja. Apa kamu belum pernah diajarkan cara mengetuk pintu..?"


Alisya yang kaget kemudian reflek menyembunyikan buket bunga yang masih dipegangnya.


Aldo tersenyum pelik, "Apa kamu tidak lihat kedua tanganku sedang tak bisa mengetuk." Aldo kemudian memperlihatkan tangannya yang menenteng dua katung plastik yang terlihat penuh dengan makanan dan minuman.


"Mau apa kamu kesini..?"


"Aku tau kamu belum makan siang, tadi diajak makan katanya sibuk, jadi aku bawa saja makanannya kesini."


"Astaga, bagaimana caranya aku bisa menghindarinya kalau begini." Alisya menggerutu dalam hatinya.


"Ahh benar juga, aku memang sedang sibuk."


"Eem. Bunga dari siapa itu..? kenapa kamu menyembunyikannya..?"


"Tentu saja dari penggemarku. Memangnya dari siapa lagi..?"


"Apa..? Jadi ini bunga darimu..?" Alisya tersipu malu. Pipinya jadi begitu memerah karenanya.


Aldo kemudian mengeluarkan semua isi dalam kantung plastik itu dan menatanya di atas meja.


"Ayo cepat makanlah..!! Apa perlu aku menyuapi mu, baru kamu mau makan..?"


"Iya-iya. Aku akan makan." Alisya kemudian ikut duduk di kursi sofa itu. Ia melihat menu apa yang dibawakan oleh Aldo."


Alisya begitu tertegun, tatkala semua menu makanan yang dibawa Aldo adalah makanan kesukaannya.


"Bagaimana kamu bisa tau kalau aku begitu menyukai Rendang jengkol, Tumis cumi pete, dan jus tomat..?"


"Alisya, apa kamu bercanda..? Aku ini Aldo. Aku sudah mengenalmu lebih dari Tujuh belas tahun. Mana mungkin aku tidak tau makanan kesukaanmu."


Aldo tersenyum dengan bangga.

__ADS_1


"Aku juga tau kamu itu paling benci jika harus dipaksa makan brokoli. Kamu juga tidak suka dengan sayur pare yang pahit. Iya kan Alisya..?"


Alisya tak bisa menyangkal semua yang dikatakan Aldo.


Alisya begitu menikmati makan siangnya. Ia makan dengan begitu lahap. Tentu saja karena semua adalah menu favoritnya.


Aldo ikut makan dengan sesekali memandangi Alisya. Ia sangat senang, usahanya kali ini membuahkan hasil yang tak mengecewakan.


"Alisya, aku tau jika kamu sebenarnya sedang berusaha untuk menjaga jarak denganku. Aku tau kamu bukanlah orang yang egois dan hanya memikirkan diri sendiri, kamu juga tak suka jika harus ingkar janji. Aku sangat tau perasaanmu kali ini."


Alisya tertunduk ia begitu terkejut dan tak percaya, Aldo bisa tau apa yang ada dalam benaknya saat itu.


Jangan-jangan Aldo itu punya indra keenam. Kenapa dia selalu tau apa yang aku pikirkan.


Alisya jadi sedikit takut karenanya.


"Tenang saja Alisya, aku tidak memiliki indra keenam. Aku tau karena aku begitu peduli padamu. Aku mohon berilah aku kesempatan satu kali ini saja."


Sekali lagi Aldo berusaha meyakinkan Alisya.


"Dengarkanlah kata hatimu Alisya, hatimu akan menuntun mu pada cinta sejati mu."


Alisya jadi semakin bingung. Semalam Adrian memberi kabar bahwa besok ia akan pulang ke Indonesia selama Tiga hari. Adrian bilang jika ia mempunyai janji temu dengan kliennya, selain itu Adrian sengaja tinggal Dua hari lebih lama agar bisa bertemu dan menghabiskan waktu dengan dirinya.


"Aku tidak akan memaksamu untuk memilih bersamaku lagi Alisya. Aku hanya ingin kamu memikirkan sekali lagi keputusan yang akan kamu ambil."


*


*


~Bersambung~


*


*


Maaf ya kalau akhir-akhir ini updatenya agak lama. Authornya lagi kejae target Novel yang satunya lagi..

__ADS_1


Yuk ramaikan juga novel baruku. Judulnya "Abang ketemu Gedhe" Trimakasih.. ❤❤❤


__ADS_2