CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
ALDO VS ADRIAN


__ADS_3

Alisya sedang merebahkan tubuh di kamarnya, matanya memandangi langit-langit dengan tatapan kosong. Begitu banyak hal yang sedang mengganggu pikirannya.


Sudah tiga hari semenjak liburan ke pantai itu Aldo belum memberi kabar sama sekali. Aldo hanya bilang jangan merindukanku ya, karena beberapa hari setelah ini aku akan mengerjakan suatu hal yang sangat penting, ujarnya saat perjalan pulang dari pantai.


"Huh, katanya bilang cinta, tapi kasih kabar aja nggak," Gerutu Alisya dalam hatinya.


"Masak aku harus nanyain kabar duluan sih, Kan gengsi."


Alisya kemudian tersadar jika calon suaminya saat ini adalah Adrian dan bukan Aldo.


"Seharusnya aku menanyakan kabar ka Adrian, dan bukan malah memikirkan Cowo jail dan nyebelin itu." Alisya berdebat sendiri dengan dirinya.


"Andaikan aku bisa memutar waktu kembali, aku akan setia menunggumu Aldo."


****


Tanpa sepengetahuan Alisya Aldo terbang ke Swiss untuk menemui Adrian. Aldo hanya berbekalkan Alamat yang diberikan Salisa kepadanya.


"Untung aku punya adik ipar yang pengertian," Ucap Aldo yang kini telah sampai di depan gedung mewah, perusahaan milik keluarga Adrian.


Aldo memasuki lobi dan mendatangi meja resepsionis.


"Selamat Siang Nona, Saya Aldo dari Indonesia ingin bertemu dengan Tuan Adrian, Apakah beliau ada ditempat..?"


"Maaf sebelumnya tuan, Apakah tuan sudah membuat janji sebelumnya..?"


"Belum, tapi tolong katakan jika saya datang untuk membicarakan tentang Nona Alisya. Saya yakin Tuan Adrian akan segera menemui saya."


"Baiklah kalau begitu, saya akan menghubungi sekretaris tuan Adrian terlebih dulu."


Wanita dengan Name tag Rebeca itu kemudian menelfon Sekretaris Adrian, setelah berbincang beberapa saat, Rebeca mempersilahkan Aldo untuk mengikuti seorang yang tak lain adalah sekretaris pribadi Adrian.


"Mari Tuan, Saya hantarkan ke ruangan Tuan Adrian."


Aldo mengikuti wanita itu dari belakang sambil memandangi desain dan interior gedung itu yang terlihat sangat modern dan mewah.


Wanita itu membukakan pintu dan mempersilahkan Aldo masuk. Di ruangan itu terlihat Adrian sedang duduk di meja kerjanya.


Adrian berdiri kemudian menyambut Aldo. Adrian mempersilahkan Aldo duduk di sofa dalam ruangan itu. Sekretaris Adrian pamit undur diri seraya menutup pintu kembali.


"Tuan Aldo, Apa kabar..? Panggil saya Adrian saja. Saya dengar dari sekretaris, katanya anda ingin berbicara tentang Alisya. Bukankah Anda ini temannya Alisya calon istriku."


"Baiklah Adrian. Kalau begitu cukup panggil saya Aldo saja. Memang benar saya adalah teman dekat Alisya."


Adrian menatap Aldo dengan penuh selidik. "Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan laki-laki ini," Gumam Adrian dalam hatinya.


"Sebelum anda yakin untuk menikahi Alisya, Saya ingin bertanya, Apakah anda tau Alisya juga mencintai anda atau tidak..?"


Aldo langsung melemparkan pertanyaan tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Tentu saja aku tau, Alisya sudah menerima dan bahkan memakai cincin yang aku berikan kepadanya sebagai bukti jika Alisya menerima cintaku dan mau menikah denganku."


Adrian sebenarnya tau jika Alisya belum sepenuhnya bisa move on dari cinta pertamanya. Ia juga tau keputusan Alisya memakai cincin itu juga demi Papanya yang sedang sakit.


"Apakah dengan begitu cukup membuktikan jika Alisya benar-benar menerima anda dan bahagia dengan rencana pernikahan ini..?"


"Tentu Saja."


"Tunggu..!!"


"Jangan-jangan anda ini adalah laki-laki yang membuat Alisya menangis waktu itu."


"Iya benar, itu adalah aku. Dan aku sangat menyesal atas semua itu. Aku sangat mencintai Alisya, namun aku bertindak bodoh hingga membuat Alisya menangis. Anda pasti juga tau jika sebenarnya Alisya mau memakai cincin itu karena situasi yang memaksanya dan hanya untuk pelarian semata."


Adrian mengerutkan dahinya, ada rasa tidak senang terpancar dari raut wajahnya.


"To the poin saja, apa maksud kedatangan mu kemari..?"


"Aku ingin memohon kepadamu untuk memberikanku satu kesempatan untuk menebus semua kesalahanku. Beri aku waktu Enam bulan. Aku akan berusaha untuk meyakinkan Alisya dan keluarganya."


Adrian seperti mendapat serangan bom Atom di hatinya.


Adrian terdiam beberapa saat. Ia memikirkan perkataan dari rival cintanya itu.


Aku ingin menikahi Alisya karena aku yakin bisa membahagiakan Alisya, dan aku juga yakin pasti lambat laun Alisya juga akan mencintaiku. Aku sudah mengenal Alisya cukup dekat. Namun karena aku peduli dan sangat mencintai Alisya, aku akan memberikanmu kesempatan itu. Tapi aku tak mau jika harus menunggu selama itu. Akan kuberikan kamu waktu Tiga bulan. Apakah kamu setuju ..?"


"Terimakasih Adrian, aku tau jika kamu bukan orang yang jahat. Namun ada satu hal lagi yang aku minta, tolong rahasiakan pertemuan ini."


Aldo kemudian berpamitan. Aldo langsung terbang lagi ke Indonesia dengan penerbangan tercepat. Ada rasa lega sekaligus rasa takut di hati Aldo saat ini.


Ini adalah kesempatan yang sangat berarti bagiku. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya.


Setiba di Tanah Air, Aldo langsung mengirimkan pesan kepada Alisya.


"Alisya, aku mengirimkan paket untukmu. Ambilah di depan rumah."


Alisya yang sedang membaca buku di kamarnya kemudian bergegas ke depan rumah setelah membaca pesan dari Aldo.


"Mana paketnya, katanya kirim paket. Kok nggak ada." Alisya clingak-clinguk mencari keberadaan paket yang dimaksud.


Aldo sudah sampai di depan rumah Alisya, dan ia sengaja bersembunyi dan mengirimkan pesan itu untuk menjahili Alisya.


Saat Alisya merasa kecewa dan ingin masuk kembali. Aldo muncul dan seperti biasa, menusuk pinggang Alisya yang sudah berbalik ke arah pintu dengan jari telunjuknya.


"Hei.."


Sontak Alisya berjungkit kemudian berbalik badan.


"Aldo, Apa yang kamu lakukan disini..? katanya kirim paket, kok nggak ada..?"

__ADS_1


"Hehehe, aku kangen. Ini dia paketnya." Aldo menunjuk dirinya sendiri.


"Haaah, Sudah kuduga. Kemana saja kau akhir-akhir ini..? Nggak ada kabar, Eh langsung nyelonong dateng ke rumah."


"Ada urusan penting yang harus segera aku kerjakan Alisya, kan aku susah bilang. Heemm, Kangen ya..?"


"Siapa juga yang kangen, Ih pede banget." Pipi Alisya terlihat memerah. "Ada apa kamu kemari..?"


"Aku merindukan, gadis cantik dihadapan ku." Aldo kemudian menyodorkan sekuntum mawar merah yang ia sembunyikan dari balik badannya.


"Ini untukmu."


Alisya menerima bunga itu sambil tersenyum malu-malu. Pipinya kini sudah semerah tomat.


"Terimakasih Aldo." Alisya kemudian mencium wangi bunga mawar itu.


"Oh iya Alisya, Aku kesini juga ingin menjenguk paman Antoni. Aku juga membawakan obat herbal yang sama dengan waktu itu. Tante Maria bilang keadaan paman semakin membaik setelah mengkonsumsi obat yang aku berikan."


"Iya Aldo. Keadaan papa sekarang memang menunjukan perkembangan yang sangat baik. Bahkan papa bilang jika ia akan segera kembali ke kantor untuk bekerja."


"Benarkah..? Syukurlah kalau begitu."


"Ayo masuk Al, Mungkin Papa dan yang lainnya sedang nonton TV di raung keluarga."


Alisya kemudian mempersilahkan Aldo masuk.


"Aku ke kamar dulu ya..!! Aku mau taruh bunganya dulu. Nanti aku nyusul."


"Ohh, Ok."


Aldo kemudian menuju ruang keluarga Alisya. Ia disambut hangat oleh Antoni, Maria, dan juga Salisa yang sedang asik nonton bareng.


Sementara Alisya bergegas ke kamarnya, Alisya berulang kali mencium wangi bunga pemberian dari Aldo. Hal itu membuatnya senyum-senyum sendiri.


Beginikah rasanya merasakan cinta yang berbalas cinta. Hatiku terasa begitu gembira dan damai.


Alisya kemudian menaruh bunga itu dalam sebuah Vas. Kemudian ia bergegas kembali menuju ruang keluarga untuk ikut bergabung dalam kehangatan keluarga.


*


*


~Bersambung~


*


*


Hi pembacaku yang setia, mampir juga ke novel terbaruku judulnya " ABANG KETEMU GEDHE" Barang kali kalian juga suka alur ceritanya.

__ADS_1


Jangan lupa kasih dukungan dengan cara klik tombol Favorit, like, komen, vote, dan kasih lima bintang juga ya..!!


Thank you and Enjoy the Read.. (^-^)/


__ADS_2