
Mama Maria merasa begitu marah kepada suaminya karena Papa Antoni bisa begitu mudahnya memaafkan perbuatan pemuda yang telah membuat anaknya harus menanggung masalah yang begitu besar seperti sekarang ini. Mama Maria juga tak habis pikir kenapa suaminya itu malah meminta pemuda itu untuk ikut tinggal di rumah mereka.
Saking jengkelnya, Mama Maria sampai merajuk dan ingin membuat pelajaran kepada suami dan pemuda yang akan menjadi calon mantunya itu. "Sembarangan saja menyetujui masalah pernikahan Salisa, bagaimana jika nanti putriku yang malang ini malah semakin dibuat mederita karena menikah dengan laki-laki yang salah." gumam Mama Maria yang pagi itu tak memasak dan sengaja pergi meninggalkan rumah tanpa makanan. Mama maria ingin membuat para laki-laki itu menyadari betapa pentingnya seorang istri di dalam sebuah hubungan pernikahan. "Lihat saja berapa lama kalian bisa bertahan tanpa bantuan seorang istri yang selalu memasak dan menyiapkan segala sesuatu untuk kalian." Dengan hati yang mendongkol, Mama maria mempercepat langkahnya menuju ke rumah Alisya dan Aldo untuk melihat keadaan putri bungsunya.
Walaupun Mama maria sudah tau latar belakang dari pemuda itu yang tak lain adalah anak dari sahabatnya yang telah meninggal, akan tetapi naluri seorang ibu melihat jika sepertinya hubungan diantara Salisa dan Jacob tidaklah begitu baik. Apalagi setelah mendengarkan kisah yang Jacob katakan mengenai peristiwa itu, Mama maria menyimpulkan bahwa hubungan yang didasari karena sebuah kecelakaan tidaklah sehat. Bagaimana jika nantinya putrinya Salisa tidak merasa bahagia dengan pernikahannya. Bayang-bayang yang menakutkan itu selalu menghantui pikiran Maria.
"Siapa yang datang sepagi ini?" gumam Alisya yang terbangun karena mendengar suara ketukan di pintu rumahnya. Salisa masih sangat mengantuk karena semalaman kurang tidur demi bisa menemani Salisa. Dengan mata yang sedikit terpejam Alisya berjalan menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.
"Mama? Kenapa Mama datang sepagi ini? Ayo masuk Ma, diluar sangat dingin." ajak Alisya sambil menggandeng tangan Mama Maria.
"Mama sangat khawatir dengan Adikmu Salisa. Bagaimana keadaanya sekarang? Apakah semalam ia bisa tertidur?"
"Mama tenang saja Ma, Alisya rasa Salisa yang sekarang adalah seorang gadis yang sudah bisa berpikir lebih dewasa. Semalam Alisya memberi sedikit pengertian untuknya, dan sepertinya saat ini Salisa sudah berusaha untuk berdamai dengan keadaan."
"Baguslah kalau begitu. Semalaman Mama juga tidak bisa tidur karena memikirkan nasib adikmu itu. Selama ini Salisa belum pernah menerima gunjangan hidup yang cukup berat. Mama sangat takut jika Adikmu itu bisa saja bertidak gegabah dan melakukan hal yang tidak seharusnya."
"Salisa tidak akan melakukan hal bodoh yang bisa merugikan dirinya sendiri Ma. Alisya juga yakin jika Salisa tidak pernah berniat untuk membuat keluarga kita malu. Semalam Salisa bercerita jika ia takut Mama dan Papa tidak akan menyayanginya lagi karena kejadian ini. Tapi Alisya sudah meyakinkan Salisa jika itu semua tidaklah benar."
"Terimakasih Alisya, kamu selalu bisa menjadi Kaka yang baik untuk adikmu. Mama yakin dengan dukungan dari kita semua, Salisa akan segera kembali menjadi gadis yang ceria kembali."
"Alisya juga berharap seperti itu Ma. Bolehkan Alisya tidur lagi Ma? Alisya masih sangat mengantuk karena begadang semalaman." tutur Alisya sambil menguap.
"Ya sudah sana. Mama juga mau melihat kondisi adikmu."
Alisya kemudia pergi ke kamarnya meninggalkan Mama Maria. Alisya melihat Aldo masih tertidur dengan pulas. Alisya kemudian mendekati suaminya itu dan membetulkan selimut Aldo yang sudah tak menyelimuti tubuhnya. Dengan pelan-pelan Alisya naik ke atas tempat tidur agar tak membangunkan saminya. Sayangnya usahanya sia-sia, Aldo terbangun menyadari ada yang datang mendekatinya.
"Alisya, akhirnya kamu pulang juga kedalam pelukanku. Aku sudah sangat merindukanmu. Ayo kemarilah." pinta Aldo dengan menepuk kasus di sebelahnya sebagai tempat untuk istrinya.
Dengan senang hati Alisya datang ke pelukan Aldo dan kembali tertidur di hangatnya dekapan suaminya.
Dikamar yang ditempati Salisa, Mama Maria terenyuh melihat wajah Salisa yang bengkak karena sudah dipastikan anaknya itu menangis semalaman. Mama maria membelai lembut rambut Salisa yang terurai panjang.
__ADS_1
"Mama?" ucap Salisa lirih.
"Iya sayang, Mama disini. Ayo tidurlah kembali, setelah ini Mama akan memasak sarapan yang enak untukmu."
"Tidak Ma, Salisa mau bangun." jawab Salisa yang kini sudah duduk dan membuka selimut yang menutupi kakinya. "Ayo Ma, Salisa bantu masak. Sekarang Salisa harus benar-benar belajar memasak dengan baik agar kelak bisa membuatkan makanan yang lezat untuk anak Salisa."
Mama Maria sangat terharu mendengar perkataan putrinya. "Baiklah kalau begitu, ayo cuci mukamu dulu agar lebih segar." peritah Mama Maria kepada Salisa.
Tanpa menunggu lama, Salisa langsung bangun dan mencuci mukanya. Sementara Mama Maria menuju ke dapur untuk memeriksa bahan makanan agar tau masakan apa yang akan mereka buat untuk pagi ini.
Setelah selesai mencuci muka, Salisa menyusul Mama Maria ke dapur. Saat itu terlihat Mamanya sedang memotong-motong kacang panjang.
"Mau masak apa kita Ma?" tanya Salisa dengan lembut.
"Sepertinya kita akan membuat sayur asem, Tempe dan ayam goreng, sambal, dan kerupuk."
"Aah, bukankah itu semua masakan favorit Salisa? Terimakasih Mama." ucap Salisa yang kemudian mencium pipi Mamanya itu.
"Tapi Ma, setidaknya bantu Salisa agar pekerjaan ini bisa selesai dengan lebih cepat. Salisa takut nanti yang lainnya keburu kelaparan karena menunggu masakan Salisa yang tak kunjung selesai." bujuk Salisa kepada Mamanya.
"Tidak akan. Lagi pula Kakakmu pasti akan bangun lebih lambat. Jadi kamu tenang saja. Gunakan waktumu dengan baik-baik untuk konsentrasi dan belajar memasak." Mama maria mengambil sebuah bangku dan mendudukinya untuk mengawasi putrinya yang sedang belajar memasak. Dengan sangat sabar Mama Maria selalu memberikan intruksi kepada Salisa.
Di dalam rumah, Antoni memanggil-manggil nama istrinya namun tidak ada jawaban. "Tak biasanya Maria bersikap seperti ini. Dimana sebenarnya Maria sekarang?" gumam Papa Antoni.
"Ada apa paman? Apakah ada yang bisa Jacob bantu?" tanya Jacob yang terbangun akibat teriakan-teriakan Papa Antoni yang memanggil istrinya.
"Ahh tidak apa-apa Jacob. Paman hanya sedang mencari Mama Maria."
"Huum, kalau begitu kenapa tidak dicari lagi paman. Jacob rasa sepertinya Mama Maria saat ini sedang berada di rumah Alisya."
"Benar juga katamu, kemana lagi dia bisa pergi selama ini? Ayo kita juga kesana. Paman sudah sangat lapar dan ingin segera sarapan."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu Paman, Jacob akan berganti baju dulu sebentar."
Jacob dan papa Antoni, segera menuju ke rumah Alisya untuk mendapatkan sarapannya. Sesampai di rumah Alisya, ternyata Salisa belum menyelesaikan tugas memasaknya.
"Sayangku, kenapa kamu pergi meninggalkan rumah tanpa memasak terlebih dahulu. Aku kan jadi kelaparan." Kata Papa Antoni menghampiri istrinya.
"Aku memang sengaja, tak membuatkanmu sarapan. Sekarang tunggulah dengan sabar sampai Salisa selesai memasak." jawab Mama maria dengan sinis.
"Baiklah-baiklah. Tapi setidaknya bantulah anakmu agar masakannnya bisa lebih cepat selesainya." bujuk Antoni kepada Mama Maria.
"Tidak mau. Biarkan Salisa belajar memasak dengan benar."
"Tapi tetap saja, apa kamu akan membuat Aldo dan Alisya juga ikut menunggu sarapannya? Jacob kemarilah! Sekarang kamu bantu Salisa dalam memasak. Sekarang Paman sudah sangat kelaparan."
"Baik Paman, Paman tunggulah sebentar, Jacob akan membuatkan minuman hangat untuk Paman."
"Terimakasih Jacob. Kalau begitu buatkanlah teh untuk kami berdua. Kami akan menunggu di teras samping sambil membaca koran pagi." kata Papa Antoni yang tiba-tiba menggandeng tangan Mama Maria agar ikut dengannya.
"Saat ini Mama sedang memberi mentor untuk Salisa, jadi sebaiknya kalian berdua saja yang menunggu makanan siap untuk sarapan." kata Mama Maria dengan kekeh pada pendiriannya.
"Tenang Saja bibi, biarkan Jacob membantu Salisa kali ini. Sejak kecil Jacob sudah ditinggal orang tua dan harus membiasakan diri untuk hidup madiri. Jadi selama ini Jacob juga belajar memasak agar tak kelaparan ketika perut ini ingin terasa lapar."
Dengan sigap, Jacob sudah memakai celemek dan sudah memegang pisau untuk membatu Salisa memasak. Akhirnya dengan berat hati, Mama Maria menuruti kemauan suaminya dan ikut duduk di teras samping sambil membaca koran.
*
*
~Bersambung~
*
__ADS_1
*