CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
APA YANG SALAH DENGANKU?


__ADS_3

Setiba di kantor, Jacob terus saja dibuat tak tenang dengan pikirannya yang selalu berada di rumah. Ada hal yang terus saja mengusik hatinya. Sepertinya Jacob sangat penasarang dengan laki-laki yang diminta oleh Salisa untuk menjadi mentornya itu.


"Kenapa aku memikirkannya. Bukankah itu adalah masalah pribadi Salisa. Sebaiknya aku fokus bekerja saja." Gumam Jacob menyangkal hati kecilnya.


"Ada apa bos? Kenapa sepertinya dari tadi anda terlihat gelisah? Apakah ada suatu yang mengganggu pikiranmu? Bukankah seluruh masalah perusahaan sudah teratasi?" Tanya Reno bertanya kepada atasannya itu yang sedari tadi mondar-mandir tak jelas.


"Bukan apa-apa reno. Tapi sepertinya aku meninggalkan berkas penting di dalam ruang kerjaku. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tetap saja tidak ketemu." Jawab Jacob mencari alasan.


"Benarkah? Apakah perlu saya datang ke rumah dan mencarikannya untukmu." Ucap Reno yang memang sudah terbiasa keluar masuk kediaman Oetama. Selain sebagai asistannya Jacob, Reno memang sahabat sekaligus teman satu-satunya Jacob yang paling dekat dengannya.


"Tidak perlu Reno. Nanti aku akan menhambilnya sendiri. Sebaiknya kamu mengurus rencana diner bersama dengan klien kita." Jacob sebenarnya sedang mencari alasan agar nanti ia bisa kembali ke rumah untuk melancarkan aksinya.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengkonfirmasi retoran yang telah kita pilih sebelumnya." Jawab Reno yang kemudian keluar dari ruangan atasannya itu.


Jacob kemudian segera menyelesaikan beberapa pekerjaan yang cukup mendesak agar nanti siang ia bisa segera pulang saat jam makan siang. Tepat seperti yang dikatakan Salisa saat Jacob mengupingnya.


Akhirnya jam makan Siang akan segera datang. Jacob buru-buru membereskan pekerjaannya dan bergegas kembali ke rumah untuk melihat seperti apa laki-laki yang begitu dikagumi oleh Salisa.


Karena sudah berjanji kepada Salisa. Hari itu Jason juga sengaja mengerjakan sumua pekerjaannya dengan lebih cepat agar bisa meluangkan waktunya untuk menepati janjinya menjadi mentor menulis untuk Salisa.


Jason dibuat terkesima melihat kediam Salisa yang begitu besar dan mewah. Iya tak menyangka jika keluarga Salisa telah menjadi begitu kaya. "Kenapa Salisa yang sudah begitu kaya dan tak kekurangan uang itu harus bersusah payah dengan menginginkan pekerjaan penulis yang tidak begitu seberapa." Batin Jason yang memeriksa kembali alamat yang diberikan Salisa dan memang benar rumah yang begitu mewah itu adalah rumah yang ia tuju.


Setelah yakin jika tak salah alamat, Jason kemudian memencet bell rumah itu dan menunggu di depan pintu untuk dibukakan pintunya.


Kali ini Salisa sendiri yang membukakan pintu untuk Jason dan meminta para pelayan di rumah itu untuk tidak perlu melayani tamunya.


"Silahkan masuk guru." Ucap Salisa yang kemudian juga mempersilahkan Jason untuk duduk di ruang tamu.


"Trimakasih Salisa. Ngomong-ngomong kenapa rumah sebesar ini begitu sepi. Dimana Tante Maria? Aku ingat betul dengan Tante Maria yang dulu selalu datang ke sekahan untuk atar jemput kamu. Dan menghadiri setiap pertemuan guru dan wali murid." Kata Jason mengingat masa-masa dimana ia dan Salisa dulu pernah menjadi teman sekelas. Jason ingat betul jika dulu hanya Salisa yang masih mau menyapa dirinya dan mau mengapnya sebagai seorang teman.


"Oh itu, Mama sedang berkunjung ke kediaman kerabatnya. Jadi sedang tidak ada dirumah." Jawab Salisa sedikit gugup. Ia sudah berjanji kepada Jacob bahwa ia harus menyembunyikan setatus pernikahannya walaupun itu dengan temannya sendiri sekalipun.


"Jadi begitu. Baiklah kalau begitu langsung saja ya! aku akan memberikanmu sedikit materi tentang bagaimana sebaiknya seorang penulis menulis dengan baik dan benar."


Jason mengeluarkan leptop dan beberapa buku yang sebelumnya sudah ia siapkan terlebih dulu.


Salisa kemudian menerima buku yang diberikan oleh Jason dan mulai membacanya. Belum lama Salisa membaca buku itu sudah terdengar suara mobil Jacob memasuki pekarangan.


"Bukankah itu suara mobil Jacob. Untuk apa dia kembali ke rumah?" Gumam Salisa penuh tanya.


Setiba di rumah, Jacob sudah dibuat tak suka dengan sebuah mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya.


Saat Jacob masuk ke dalam rumah, ia dibuat lebih jengkel dengan pemandangan yang ada di depannya. Menurut Jacob, Salisa dan laki-laki itu terlalu duduk berdekatan dan tiba-tiba saja mengubah suasana hatinya menjadi semakin risau. Apalagi Laki-laki itu cukup tampan dan mengendarai mobil yang cukup mewah juga.

__ADS_1


"Kenapa laki-laki itu harus begitu tampan. Aku kira dia adalah laki-laki cupu yang berkacamata tebal. Hah tapi tetap saja, dia tak bisa menyaingi ketampanan dan kekayaan yang aku miliki." Gerutu Jacob dalam hati dengan menyombongkan dirinya sendiri. Jacob kemudian mendekati Salisa dan juga laki-laki yang duduk disampingnya itu.


"Oh jadi ini guru prifat yang kamu undang itu Salisa? Kenapa kamu tidak mengenalkannya padaku?" Kata Jacob dengan nada yang sedikit sinis.


"Ka kamu benar Jacob." Salisa menjawab dengan begitu gugup. "Jason kenalkan ini Jacob sepupuku yang sedang menumpang tinggal di rumah kami. Dan Jacob, kenalkan ini Jason temanku yang waktu itu aku ceritakan untuk menjadi mentorku." Kali ini Salisa bahkan berbicara sambil gemetar karena takut Jacob nanti pasti akan marah dan siap untuk menghabisinya.


Jason kemudian mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan senyuman di wajahnya. Sementara Jacob bahkan tak menggubris Jason dan malah memelototi Salisa dan menatapnya dengan tatapan seperti seorang pembunuh. Karena merasa diabaikan Jason kemudian menarik kembali tangannya dan mencoba mengetahui keadaan canggung seperti apa yang ada dihadapannya kali ini.


"Tumben sekali kamu pulang saat jam kantor Jacob? Apakah ada sesuatu yang tertinggal hingga kamu harus pulang dan mengambilnya?" Tanya Salisa untuk mengusir Jacob yang telah membuat suasana berubah menjadi menegangkan baginya.


"Hah, licik sekali kamu Salisa. Awas saja nanti. Kamu tadi bahkan berani sekali menyebutku sebagai sepupu dihadapan laki-laki itu. Dan sekarang kamu pasti berniat untuk mengusirku karena kamu ingin bebas untuk bermesraan dengan laki-laki lain." Gumam Jacob dengan tangan yang mengepal dan mencengkeramnya begitu kuat karena geram dengan kelakuan Salisa.


"Ah benar sekali kamu Salisa. Aku memang pulang untuk mengambil dokumen penting di ruang kerjaku. Kalau begitu aku akan mengambilnya terlebih dahulu." Jawab Jacob yang kemudian berlalu pergi menuju ke ruang kerjanya.


"Dasar wanita Sialan. Sebenarnya apa maunya. Apakah kamu ingin secara terang-terangan selingkuh di depan suamimu? Lihat saja, aku tidak akan memudahkanmu untuk melakukannya." Ucap Jacob sambil membanting sebuah buku yang saat itu berada di atas meja kerjanya.


"Tunggu dulu. Kenapa aku jadi marah seperti ini. Bukankah itu sah-sah saja untuk Salisa. Karena dia bukanlah istriku yang sebenarnya. Lihat saja nanti. Aku pasti akan menceraikanmu setelah anakku lahir. Tapi sekarang aku juga tidak bisa membiarkanmu membuat malu keluarga Oetama dengan berselingkuh secara terang-terangan seperti ini." Ucap Jacob membenarkan argumennya.


Jacob kemudian berpura-pura membawa beberapa lebar map dan membawanya keluar dari ruang kerjanya. Sayangnya Jacob tak melihat lagi Salisa dan juga pria yang bernama Jason itu berada di ruang tamu.


"Kemana mereka pergi? Apakah Salisa langsung mengajaknya pergi ke dalam kamar? Tidak-tidak. Sepertinya Salisa bukan tipe wanita yang seperti itu." Gumam Jacob sambil menyapu seluruh sudut ruangan dengan matanya. Berharap ia bisa menemukan keberadaan Salisa.


Jacob kemudian mecari dengan mengikuti sumber suara Salisa yang terdengar sedang tertawa riang. Sepertinya suara itu berasal dari ruang makan. Dan benar saja, kali ini Jacob menemukan Salisa yang sedang makan berduaan dengan laki-laki itu lagi.


"Kenapa kamu ikut kemari Jacob? Apakah pekerjaan pentingmu itu tidak jadi kamu selesaikan?" Kata Salisa ingin sekali lagi membuat Jacob pergi dari sana dan tak membuat keributan dengan Jason.


"Kamu ini bodoh sekali Salisa. Bukankah saat ini jamnya makan siang. Karena aku sudah ada di rumah kenapa aku tidak boleh ikut makan disini? Aku yakin temanmu ini pasti juga tidak akan keberatan jika aku ikut bergabung. Benar bukan?" Kata Jacob Sambil menatap Jason dengan tajam.


"Oh benar sekali Tuan Jacob. Senang sekali bisa makan bersama dengan keluarga Salisa seperti ini." Jawab Jason dengan sungkan.


Sedangkan Salisa sendiri menjadi sangat jengkel dengan perbuatan Jacob yang sepertinya disengaja itu.


Jacob duduk di hadapan Salisa dan langsung menyodorkan piring kosong kepada Salisa untuk mengambilkan nasi untuknya.


Salisa sendiri hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Jacob dengan mengambilkan makanan untuk Jacob yang selalu ia lakukan saat makan bersama di kediaman ini. Karena kesal, Salisa sengaja mengambilkan lebih banyak Sambal di piring Jacob agar suaminya itu merasakan sensasi pedas yang luar biasa. Dengan begitu mungkin saja Jacob kemudian tidak mau makan lagi dan segera pergi kembali ke kantor.


Awalnya Jacob tak curiga sama sekali dan langsung memakan dengan lahap, makanan yang sudah ada dihadapannya itu. Saat Jacob menyadari trik kecil yang dilakukan Salisa untuk mengusirnya kembali itu, Jacob langsung menendang kaki Salisa yang berada di bawah meja makan dan memelototi Salisa dengan tampang yang begitu menakutkan.


Akan tetapi bukannya takut, Salisa kemudian malah berbalik menendang kaki Jacob dengan cukup keras hingga membuat Jacob meringis karena ngilu yang ia rasakan di kakinya.


Akhirnya terjadilah sebuah perang kaki yang tak terlihat oleh Jason. "Wah sepertinya hubungan persaudaraan kalian cukrup akrap ya? Bahkan Salisa mau untuk mengambilkan nasi untuk sepupunya. Aku jadi terharu melihatnya." Kata Jason sambil tersenyum untuk keduanya.


"Tidak seperti itu Jason." Jawab Salisa terus terang.

__ADS_1


"Tentu saja." Jawab Jacob untuk memamerkan kedekatannya dengan Salisa.


Suasana di meja makan itu kini berubah menjadi semakin canggung dan tak banyak obrolan disana. Yang terdengar hanyalah bunyi alat makan yang saling bertarung di atas piring.


Setelah selesai makan. Salisa kemudian mengajak Jason untuk kembali ke ruang tamu. Sepertinya Jacob juga sudah kehabisan ide untuk terus berada di rumah. Akhirnya Jacob kembali ke kantor dengan wajah yang bersungut-sungut.


Malam itu Salisa sudah pindah ke atas ranjang untuk tidur. Sama seperti perkataan Jacob pagi tadi yang telah memperbolehkannya tidur di kasur dan Jacob yang akan menggantikannya tidur di sofa.


Waktu itu Jacob baru saja pulang dari kantor dan masuk ke kamar begitu saja tanpa mengetuk pintu. Seperti itulah kebiasaan Jacob yang memang menganggap ruangan itu adalah kamarnya sendiri dan ia bebas melakukan apapun disana.


Tanpa sengaja, jacob melihat paha Salisa yang terekspose. Saat itu Salisa memang sedang mengoleskan lotion di kakinya dan menyibakan piyama tidurnya sampai ke pangkat paha.


Salisa yang dibuat kaget oleh Jacob langsung menutup kakinya dengan selimut dan tak lagi melanjutkan aktifitasnya.


"Kenapa kamu tiba-tiba saja membuka pintu Jacob? Apakah kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dulu." Ucap Salisa dengan ketus.


"Kamu bercanda Salisa? Kenapa juga aku harus mengetuk pintu kamarku sendiri." Jacob kemudian masuk dan menjatuhkan dirinya di samping Salisa.


"Apa yang kamu lakukan diranjangku? Cepat kembali ke sofamu!" Kata Jacob mengusir Salisa dengan kejam.


"Hah, apakah kamu sudah pikun? Baru tadi pagi kamu memintaku untuk pindah ke sini dan kamu yang akan tidur di sofa." Jawab Salisa tak mau mengalah.


"Ah benar juga. Kenapa aku bisa sampai lupa." Gumam Jacob yang masih tak bergeming dari tempatnya.


"Kamu jangan kelewatan Salisa. Tadi aku memang sudah mengijinkanmu untuk pindah ke kasurku. Tapi bukan berarti kamu jadi lancang dan berani mempermainkan aku di hadapan laki-laki itu. Apakah kamu juga sudah lupa dengan perbuatanmu kepadaku tadi siang?"


"Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Sepertinya aku merasa tak melalukan hal yang menyinggungmu sama sekali. Tragedi di bawah meja itu juga karena kamu dulu yang memulainya. Jadi dimana letak kelancanganku?" Tanya Salisa ingin memperjelas kenyataan.


"Kamu itu memang wanita yang sepertinya hanya berlagak polos Salisa. Mana mungkin kamu bisa berkata bahwa aku ini sepupumu. Sedangkan kenyataannya aku ini adalah suamimu. Apakah kamu ingin berselingkuh di depanku secara terang-terangan?"


Salisa dibuat kaget dengan perkataan Jacob. "Siapa yang selingkuh di hadapanmu. Bukankah aku sudah bilang jika Jason itu adalah mentorku untuk menulis. Lagi pula aku menyebutmu sebagai sepupu juga karena ada alasannya. Kamu sendiri yang bilang kepadaku untuk merahasiakan identitas pernikahan kita. Bahkan keoada teman dekat sekalipun. Jadi dimana letak kesalahanku?" Kata Salisa membela diri.


"Tapi tetap saja. Kamu juga tidak boleh menyebutku sebagai seorang sepupu. Bahkan kamu berkata jika aku ini hanya menumpang di rumah ini. Apakah kamu tidak waras? Karena sebenarnya kamulah yang menumpang di sini." Ucap Jacob masih merasa kesal dengan Salisa.


"Sudahlah jacob. Kamu jangan memperhitungkan masalah ini lagi. Itu semua aku ucapkan begitu saja karena tadi aku begitu grogi." Ucap Salisa ingin menyelamatkan hidupnya. Salisa memang menyadari jika ucapannya tadi memang sedikit keterlaluan dan sangat wajar jika Jacob akan marah seperti sekarang ini.


*


*


~ Bersambung~


*

__ADS_1


*


__ADS_2