
Salisa dan Jacob kembali melanjutkan perjalanan mereka. Begitu juga dengan Kakek Wisnu yang sudah lebih dulu berangkat dengan mobilnya.
Selama perjalanan, Salisa hanya diam dan tak berniat untuk bertegur sapa dengan Jacob. Sepertinya Jacob juga enggan untuk berbicang dengan Salisa.
"Sebenarnya apa yang telah aku perbuat tadi? Kenapa sepertinya aku susah sekali mengontrol hasratku dihadapan Salisa? Tidak mungkin kan, jika aku bisa jatuh cinta secepat itu dengan wanita lain. Benar-benar, aku yakin jika selama ini aku hanya terbuai dan terbawa oleh suasana. Mungkin saja semua itu karena Salisa terus saja ada disampingku. Ingatlah Jacob, kamu ini baru saja putus dengan Ana. Seharusnya sekarang ini kamu merasa sedih Jacob." Pergumulan hati yang sengit membuat Jacob merasa tak bisa memutuskan apa yang selama ini menjadi beban pikiran di hatinya. Jacob masih saja tak mendengarkan hati kecilnya dan berusaha mengelak dengan pikiran-pikiran yang membuatnya merasa dibenarkan oleh gejolak hati yang tak bisa ia sembunyikan.
Salisa sendiri selalu merasa jengkel ketika ia juga tak bisa mengelak dari godaan iman yang dilakukan oleh Jacob. Salisa menyalahkan dirinya sendiri karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menutup hatinya untuk laki-laki manapun.
Salisa menatap nanar ke luar jendela dengan melihat jalanan yang ramai dengan kendaraan lain yang lalu lalang.
Lama-kelamaan Salisa mulai mengantuk dan tertidur begitu saja di dalam perjalanan. Jacob menoleh ke arah Salisa yang sedari tadi hanya diam dan tak terlihat bergerak sama sekali.
Jacob mulai merasa iba dengan Salisa yang bisa tertidur dengan pulas walau beberapa kali kepalanya tertunduk bak seperti akan terjungkal. Untungnya Salisa memakai sabuk pengaman yang menopang tubuhnya hingga tak membuat Salisa sampai terantuk ke dasboar mobil.
Jacob menepikan bolilnya dan membantu merubah posisi sandaran kursi untuk Salisa agar wanita itu bisa sedikit lebih nyaman saat tidur. Jacob menatap wajah Salisa yang begitu cantik walau tanpa riasan. Lagi-lagi Jacob hampir dibuat khilaf karena melihat bibir Salisa yang merah.
Salisa adalah wanita pertama yang pernah Jacob cium. Walapun Jacob pernah berpacaran dengan Ana, namun Jacob belum pernah mencium Ana sama sekali. Mungkin karena sedari kecil mereka sudah berteman dan hal itu membuat Jacob malah sedikit canggung ketika ingin mencium Ana.
Pernah beberapa kali Ana memberi sinyal-sinyal dan merayu Jacob untuk berhubungan badan dengannya. Akan tetapi lagi-lagi Jacob selalu menghindarinya.
Sejak berciuman dengan Salisa hal itu seperti candu bagi Jacob sendiri. Hasrat laki-laki yang dimiliki Jacob seolah meronta-ronta meminta pertanggungjawaban walau hanya dengan melihat bibir Salisa saja.
Apalagi saat itu Salisa yang terbaring di atas sandaran mobil malah mendesah dan merenggangkan tubuhnya dengan pisisi yang membuat jacob yang masih diaatasnya dibuat melongo melihat leher jenjang Salisa yang menggoda untuk dicumbunya.
Jacob sampai menampar pipinya sendiri agar ia bisa segera tersadar dan tak memikirkan bayangan absurd yang sedari tadi sudah menari-nari dalam benaknya.
Jacob segera duduk kembali di kursi kemudinya dan menyalakan lagi mesin mobilnya. Jacob mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sampai akhirnya Jacob menerima panggilan telepon dari Kakek Wisnu untuk berhenti di Chainis Resto yang menjadi langganan keluarganya saat dulu Jacob masih kecil. Sekarang Restoran itu juga masih sering Jacob datangi ketika Jacob berkunjung ke makam Orang tuanya.
Rumah lama Jacob yang berada di kota itu juga masih berdiri kokoh dan selalu dirawat setiap hari. Walau rumah lama mereka tidak lagi ditinggali karena Kakek yang akan merasa sedih jika mengingat kedua anaknya yang telah tiada.
__ADS_1
Saat makan siang, Kakek Wisnu sengaja meminta seorang pelayang untuk mengambil foto untuk mereka dengan Salisa yang berada di antara Kakek dan juga Jacob. Tentu saja mau tidak mau Salisa harus tersenyum saat diambil gambarnya. Foto itu terlihat begitu manis seperti sebuah keluarga yang amat bahagia. Tak terlihat jika sebenarnya ada jurang pemisah diantara mereka.
Walau Kakek tau hubungan suami istri antara Jacob dan Salisa tidaklah baik, Kakek selalu mencari cara untuk mendekatkan mereka. Berharap suatu saat mereka bisa saling mencintai dan benar-benar memiliki rumah tangga yang bahagia sesuai harapan Kakek Wisnu yang ingin melihat cucu satu-satunya itu bisa hidup dengan bahagia. Kakek berharap Salisa lah yang akan menemani Jacob dan menggantikannya menjadi orang paling dekat dan bisa diandalkan ketika nantinya Kakek Wisnu juga harus pergi menemui Anaknya yang telah lebih dulu pergi meninggalkannya.
Kakek Wisnu percaya bahwa benih-benih cinta akan tumbuh diantara Jacob dan Salisa. Harapan terakhir yang ingin Kakek wujudkan sebelum nantinya ia pergi dengan tenang.
Merasa sudah kenyang, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dari Restoran itu mereka hanya butuh waktu satu jam lagi sampai akhirnya mereka telah sampai di pemakaman.
Jacob dan Salisa kemudian mengambil bunga tabur dan juga buket bunga sedap malam kesukaan mendiang mamanya.
Hari itu cuaca cukup terik, hingga akhirnya Jacob mengambilkan payung utuk Kakeknya dan juga untuk Salisa. Salisa ikut menyalami mertuanya yang kini sudah damai di alam surga. Salisa juga melihat foto kedua orang tua Jacob yang disematkan pada batu nisan mereka.
Papa Rendra terlihat Tampan dan layak disebut sebagai pemberi garis ketampanan yang dimiliki oleh Jacob. Mereka benar-benar mirip. Mama Renata juga begitu cantik dan terlihat masih muda saat akhirnya kecelakaan itu harus memisahkannya dengan anaknya yang waktu itu masih masih kecil.
"Lihatlah anakku, kali ini kami datang dengan membawa Salisa yang akan menjadi ibu dari cucu pertama kalian. Kakek sangat bahagia karenanya. Bukankah Salisa sangat cantik dan cocok sekali dengan Jacob yang tampan. Kakek berharap kalian akan melihatnya dari atas sana." Ucap Kakek Wisnu dengan mata yang berkaca-kaca.
Saat itu Jacob hanya diam dan tak mengucapkan kata-katanya untuk kedua orang tuanya. Akan tetapi Salisa dapat merasakan kerinduan yang amat dalam sedang dirasakan oleh Jacob saat ini. Walaupun Jacob memakai kaca mata hitam, Salisa tau jika Jacob sedang meneteskan air mata kesedihannya.
Beberapa kali Jacob terlihat mengusap air mata dari balik kaca mata hitam yang dikenakannya. Entah mengapa hal itu juga membuat hati Salisa tersentuh dan akhirnya ikut meneteskan air mata.
Jacob menyalakan dupa untuk kedua orang tuanya. Kemudian mereka juga memanjatkan doa untuk Rendra dan juga Renata.
Cukul lama Jacob mersimpuh dihadapan makam kedua orang tuanya itu. Sepertinya Jacob begitu enggan untuk meninggalkan makam itu. Sampai akhirnya Kakek Wisnu meminta Salisa untuk menemani Jacob sebentar lagi dan membujuk Jacob untuk menyudahi kesedihannya.
Walau Kakek Wisnu juga tak ingin pergi dari sana, akan tetapi Kakek akhirnya pulang terlebih dahulu dengan diatar Mang Diman seperti sebelumnya.
Kaki Salisa mulai kesemutan dan rasanya ia tak tahan lagi untuk bersimpuh menemani Jacob yang masih saja belum mau beranjak dari sana. Akan tetapi Salisa juga ingin sebentar lagi menemani Jacob untuk dan menunjukan rasa kepeduliaanya. Dengan begitu Salisa berharap kesedihan yang dirasakan Jacob akan sedikit berkurang.
"Ayo Salisa, kita pulang." Ajak Jacob yang sudah berdiri di belakang Salisa.
__ADS_1
Salisa hanya diam saja karena kakinya yang seperti mati rasa dan tak bisa digerakan.
"Ayolah Salisa, kenapa malah kamu yang tidak mau pulang dan ingin terus berada disini?" Tanya Jacob yang kebingungan dengan Salisa yang masih saja bersimpuh dan tak segera beranjak."
Salisa ingin segera bangun namun rasanya kakinya begitu kaku untuk bisa ia gerakan. Mungkin saja semua itu juga dari efek kehamilannya.
"Kamu kenapa Salisa?" Tanya Jacob yang mendengar Salisa mengais seperti sedang menahan rasa sakit.
"Kakiku kesemutan dan mati rasa Jacob. Sepertinya aku tidak bisa berdiri saat ini." Jawab Salisa sambil meringis menahan rasa sakit di kakinya.
"Baiklah kalau begitu aku akan menggendongmu. Kamu tahanlah sebentar Salisa." Ucap Jacob yang kemudian langsung mengangkat tubuh Salisa setelah membuka pintu mobilnya.
"Kenapa kamu berat sekali Salisa? Berat badanmu naik berapa kilo? Sepertinya saat ini aku sedang menggendong seekor Gajah bengkak." Kata Jacob yang bertanya tanpa rasa berdosa.
"Apa kamu bilang? Berat? Semua ini juga karena salahmu juga. Jika malam itu kamu tidak mabuk mungkin saja aku tidak akan menjadi seberat sekarang ini. Apakah kamu lupa jika sekarang di tubuhku ini juga ada anakmu?" Kata Salisa begitu jengkel yang disebut sebagai Gajah bengkak.
"Hehehe, benar juga katamu. Tapi kenyataannya kamu memang berat sekali Salisa" keluh Jacob yang kemudian merurunkan Salisa di dalam mobil.
Jacob kemudian memberikan pijatan ringan di kaki Salisa. "Apakah sekarang kamu merasa sudah agak lebih baik Salisa?" Tanya Jacob dengan lembut.
Salisa mengganggukan kepala dan kemudian berterimakasih kepada Jacob. Salisa sedikit tersentuh oleh perlakuan Jacob saat itu. Namun Salisa juga tak mau berharap terlalu banyak, karena Salisa tau jika perlakuan dan sikap Jacob yang begitu manis itu tidak akan bertahan cukup lama. Mungkin saja sebentar lagi Jacob akan bertingkah menyebalkan lagi seperti biasanya.
*
*
~Bersambung~
*
__ADS_1
*