
Alisya dan Adrian masih dalam perjalanan sepulang dari pantai. kini perasaan alisya sudah lebih membaik, namun ia masih enggan untuk banyak berbicara. Alisya memandang dengan kelu keluar jendela mobil. sementara Adrian mengemudi dengan kecepatan sedang, sesekali Adrian menoleh ke arah Alisya ia inhin sekali memulai obrolan dengan Alisya, namun hal itu beberapa kali ia urungkan.
pikiran Alisya masih begitu kacau. Alisya teringat dengan Aldo, laki-laki pujaan hatinya yang tiba-tiba mengenalkan kekasihnya. walaupun tidak ada hubungan special diantara mereka saat ini, namun hal itu membuat Alisya begitu patah hati, Alisya bergumam dalam hatinya untuk mengubur dalam-dalam perasaannya pada Aldo dan memcoba untuk melupakan semua impiannya untuk bisa bersama dengan Aldo.
Alisya berusaha dengan sekuat tenaga agar tak memikirkan Aldo lagi. ia ingin fokus untuk menata kehidupannya sendiri yang sedang dilanda masalah. Perjodonhannya dengan Bastian belum terselesaikan, Alisya masih mencari cara agar bisa menolak dan membatalkan perjodohan itu tanpa menyakiti perasaan orangtuanya,Bastian dan tentunya paman Doni Harianto yang berusaha begitu ngotot ingin menjadikannya menantu.
Semua pikiran itu membuat Alisya begitu pusing, tanpa sadar Alisya memijat-mijat di ujung kedua pelipis matanya.
"Alisya apa kamu baik-baik saja..?" tanya Adrian yang sedari tadi memperhatikan Alisya. " Apa kepalamu terasa pusing..? Bagaimana kalau kubelikan obat..? atau kita perlu ke rumah sakit Alisya..? " pertanyaan Adrian menghujani Alisya. Adrian begitu khawatir melihat Alisya yang sedari tadi memijit kepalanya.
"Eeh ka.. Alisya nggak papa kok. Alisya cuma lagi banyak pikiran aja." Alisya begitu tak enak hati melihat ka Adrian yang begitu peduli padanya.
"Kamu boleh bercerita padaku Alisya, aku siap kadi pendengar yang baik."
"Ah iya ka, trimakasih sudah begitu perhatian dengan Alisya."
Alisya begitu enggan untuk bercerita tentang masalahnya kepada ka Adrian.
"percayalah Alisya, jika kamu mau berbagi masalahmu dengan orang lain, beban di pikiranmu akan terasa sedikit berkurang. barangkali aku juga bisa membatumu Alisya." Adrian berusaha menyakinkan Alisya agar mau bercerita.
"Baik lah ka, aku akan bercerita. lagipula ka Adrian juga sudah tau masalahku kemarin dari papa."
"Apakah itu tentang perjodohan itu Alisya..? aku kan sudah berjanji pada paman juga, untuk membatu menyelesaikan masalah perjodohanmu. Aku sebagai temanmu juga tidak rela jika kamu harus menikah dengan lelaki seperti itu."
"Iya ka, Aku masih bingung bagaimana menyampaikan penolakanku kepada paman Doni dan Bastian."
"tenang saja Alisya, Aku sudah mencari tau tentang keluarga om Doni Herianto.mereka adalah kolega papaku, kurasa jika Aku yang menemanimu berbicara dengan keluarga bastian, mereka tidak akan berani lagi memaksamu untuk jadi menantu mereka."
"Benarkah ka Adrian..? Bagaimana bisa..?" Alisya begitu bersemangat ketika mendengar ada secercah harapan untuk mengakhiri drama perjodohan itu.
"Iya Alisya, percayalah padaku. tapi apakah kamu mau sedikit membantuku..?"
"Tentu saja ka, apa yang bisa Alisya bantu..?"
"Emm.. Aku butuh bantuanmu untuk berpura-pura mencintaiku dan akan segera menikah denganku." hal itu untuk meyakinkan keluarga Paman Doni. Tapi jika kamu keberatan, kita bisa cari cara lain Alisya."
Alisya terdiam sejenak, ia mencerna perkataan dari Adrian. "Mungkin ini caranya untuk meyakinkan keluarga paman Doni.tadinya Alisya juga ingin melakukan hal yang sama tetapi dengan meminta bantuan Aldo, sayangnya semua rencananya itu tak bisa ia lakukan lagi dengan Aldo." Alisya masih berpikir dalam hatinya. berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika bantuan dari ka Adrian adalah jalan keluar terbaik.
"Baiklah ka Adrian, Alisya setuju dengan rencana itu. kapan kita akan pergi menemui paman Doni...?"
"Terserah kamu saja Alisya, aku yang akan menyesuaikan jadwalku utukmu."
"Baiklah ka, bagaimana kalau besok saja..? tapi nanti Alisya akan bercerita dulu dengan papa dan mama dan meminta persetujuan mereka."
"Ok Alisya, nanti kasih kabar saja ya..!!" saut Adrian dengan senyuman. Sebenarnya Adrian sangat senang Alisya menyetujui rencananya.
__ADS_1
***
Sesampainya dirumah Alisya, Adrian langsung berpamitan karna hari sudah sore. Alisya segera mandi, kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. rasanya begitu lelah setelah seharian melewati hari yang begitu menguras hati dan pikirannya.
Dalam sekejap Alisya sudah terlelap dalam tidurnya.
Tok tok tok..
Salisa mengetuk pintu kamar kakaknya.
Karna begitu lama tak ada jawaban, Salisa akhirnya membuka pintu kamar kakaknya, ia takut kakaknya melakukan hal yang membahayakan diri mengingat tadi sedang patah hati, walau sebenarnya Salisa juga tau jika kakaknya tak akan semudah itu melakukan hal bodoh hanya karna patah hati.
Salisa begitu lega melihat Alisya tertidur dengan pulasnya.
"Kak... !! Kakak..!!" Salisa mencoba membangunkan kakaknya.
"Hemm"
"Mama sama papa sudah menunggu kita di Gasebo tuh ka. ayo kita menyusul, lagi pula ini masih sore, jangan tidur dulu."
"Hemm"
Salisa masih begitu malas untuk membuka matanya.
Rengek salisa sambil menggoyang-nggoyangkan tubuh kakaknya itu.
"kalau kaka tidak segera bangun, aku akan bererita kalau tadi kaka berbohong soal menghadiri pesta ulangtahun dan pergi bersama ka Adrian."
"kau ini" Alisya seketika bangun dan mengucek kedua kelopak matanya.
"Tadi kaka pergi kemana dengan ka Adrian..? aku lihat setelah kaka pulang tadi, kaka udah bisa tersenyum lagi." Goda Salisa yang kepo dengan apa yang dilakukan kakaknya tadi.
"Rahasia, kau ini kepo banget, nanti saja kaka ceritakan, ayo kita ke Gasebo saja, pasti mama papa udah nungguin. " tukas Alisya sambil menggandeng lengan adiknya.
Papa Antoni dan mama Maria belum pulang dari acara pernikahan Rendi. ketika Salisa pulang tadi. kakak beradik itu berjalan bergandengan menuju gasebo, ketika melewati dapur Salisa melepaskan gandengan tangan dari Alisya.
"Kaka duluan aja deh, salisa mau ambil camilan dulu di kulkas." tutur salisa yang sudah menuju almari es di ruang dapur.
"Hah dasar Salisa" Alisya kemudian meninggalkan salisa yang sedang asik memilih camilannya untuk dibawa ke Gasebo.
"Papa, mama, gimana tadi pestanya..?"
"Ramai sekali Alisya, papa sama mama sampai kelelahan karna hampir seharian menyapa dan menemani para tamu yang berdatangan." jawab mama maria yang sedang menuangkan teh hangat untuk kedua putrinya. " Ayo sini nak, ceritakan juga bagaimana tadi di pesta ulang tahunnya..? mana Adikmu..? bulannya tadi mama menyuruh salisa untuk membangunkanmu..?"
"Biasa ma, salisa lagi asik mempersiapkan camilannya."
__ADS_1
"Memang dasar adikmu itu nggak bisa lepas dari mengunyah, tutur papa antoni sambil menyeruput kopinya."
biasanya mama maria akan membuat berbagai kudapan tradisional ataubun berbagai macam bolu untuk menemani sore mereka digasebo, tetapi karna hari ini mama seharian di pesta, jadi tak ada kudapan istimewa disana, akhirnya Salisa mengambil beberapa snack ringan dan kue kering di dalam kulkas.
"Oh iya ma, pa.. tadi ka adrian ke rumah, dan kami tadi sempat ngobrol soal perjodohan itu, ka Adrian mau membatu kita utuk menolak permintaan paman doni tanpa mempermalukan mereka pa."
"Oh ya.. bagaimana caranya sayang..? saut papa Antoni dengan antusias.
Alisya kemudian meceritakan semua rencana mereka, papa dan mamanya tersenyum mendengar ucapan dari putrinya. mereka sudah paham dengan muslihat dari Adrian yang sepertinya menyukai Alisya.
Papa antoni beberapa kali melirik istrinya kemudian seperti memberi isyarat yang tak dimengerti oleh putrinya. Sepertinya Alisya masih begitu polos untuk memahami tujuan dibalik bantuan dari Adrian itu.
Salisa telihat berjalan menuju gasebo dengan membawa penuh makanan di dekapannya. gadis itu menyelonong masuk di tengah kerumunan keluarganya dan meletakan harta karunnya ditengah mereka.
"Kenapa jadi hening sekali..? " tanya salisa sambil memandangi ketiga keluarganya secara bergantian." Tadi ku dengar kaka bercerita panjang lebar, apa itu tentang ka Adrian..? ayo ka ceritakan lagi..?" rengek Salisa yang begitu penasaran.
"Hahaha kamu ini datang-datang sudah menjengkelkan sekali." tutur Alisya yang tempat duduknya di desak oleh salisa.
"Ayo geser dulu tempat dudukmu, ruang kaka terlalu sempit." pinta alisya sambil mendorong lembut tubuh adiknya.
"Iya-iya, kakak ini pelit sekali." Salisa kemudian menggeser tubuhnya yang sebagian menindih kaki kakaknya.
"Nanti kaka akan bercerita padamu secara khusus, sekarang kita persiapkan makan malam dulu saja, kaka sudah laper. ayok ma kita masak" ajak alisya kepada mamanya.
"hah itu tidak adil, bahkan aku belum membuka salah satu makanan ringanku, gerutu salisa tak terima"
Mereka lalu tertawa dengan tingkah menggemaskan salisa yang menggoyang-nggoyangkan tubuhnya saat berbicara.
"baiklah, kali ini kau terbebas dari tugas memasak, temani papa saja dan habiskan semua harta karunmu itu, biar kaka dan mama sja yang masak" balas Alisya yang tak tega melihat adik kesayangannya begitu kecewa.
*
*
~Bersambung~
*
*
Jangan berhenti kasih dukungan untuk Author ya, cukup dengan like dan coment saja sudah sangat berarti untukku mengumpulkan kembali semangat berkarya..
Thank you and Enjoy the Read..
♡♡♡♡♡♡ \(^-^)/ ♡♡♡♡♡
__ADS_1