CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
APA YANG HARUS AKU LAKUKAN?


__ADS_3

Aldo dan Alisya kemudian pamit undur diri. Diperjalanan Alisya tertidur karena kelelahan. Setibanya di rumah, Aldo tak membangunkan istrinya itu, Aldo membopong Alisya dan membawanya ke kamar.


Karena silaunya matahari, Alisya jadi terbangun, bukanya turun Alisya malah semakin meringkuk dan merangkulkan tangannya di bahu suaminya sambil tersenyum manja. Alisya menenggelamkan wajahnya di ketek Aldo agar tak terkena silaunya cahaya matahari sambil menunggu Aldo sampai ke kamar dan membaringkan dirinya di atas kasur.


Aldo tak keberatan dengan semua itu, justru ia senang bisa menyayangi istrinya dengan sepenuh hati. Aldo ikut berbaring di samping Alisya dan endekap erat tubuh wanita yang begitu dicintainya itu. Tak butuh waktu lama, Alisya kembali tertidur pulas dipelukan Aldo.


Menyadari Alisya sudah tertidur lagi, Aldo kemudian juga berusaha memejamkan matanya agar bisa tertidur walaupun sebenarnya Aldo belum mengatuk sama sekali. Aldo tak ingin melewatkan moment-moment kebersamaannya dengan Alisya.


Sore harinya, Alisya dan Aldo dibangunkan oleh suara ketukan pintu dibarengi dengan suara cempreng dari Salisa yang memanggil-manggil nama Kakanya.


Dengan masih mengantuk, Alisya bangun dan membukakan pintu. "Ada apa Salisa? Kaka masih mengantuk."


"Emm hari ini kan week end temani aku berbelanja ya Ka! aku juga ingin sekali makan steak yang double. Ayo Ka, ikut dengan Salisa." pinta Salisa dengan manja.


"Kaka hari ini capek sekali Salisa. Tadi kaka sudah berkeliling ke perkebunan dan duduk terlalu lama di kendaraan. Kaka malas sekali jika harus berkendara lagi." jawab Alisya sabil menguap.


Salisa kecewa mendengar jawaban dari Alisya. Salisa juga tidak ingin memaksa Kakaknya yang sedang hamil untuk ikut dengannya dan menjadi kelelahan karenanya. Dengan berat hati akhirnya Salisa mengurungkan niatnya pergi berbelanja. "Baiklah kalau begitu, tapi temani aku nonton drakor atau dracin setidaknya. Aku sangat bosan dirumah Ka."


"Iya-iya, setelah ini Kaka temani kamu setelah mandi." Alisya kemudian masuk dan diikuti Salisa yang mengekor dibekakangnya.


Alisya kembali ke kamar dan melihat Aldo sudah terbangun dan duduk di pinggiran kasur. "Kamu sudah bangun sayang." sapa Alisya kepada suaminya.


"Iya, siapa yang datang?"


"Biasa, Salisa datang kerumah dan memintaku untuk menemaninya. Aku mau mandi dulu, apa kamu mau ikut?" tanya Alisya dengan sedikit menggoda Aldo dengan membuka sebagian kancing bajunya.


Aldo dapat mengintip isi dibalik blouse yang dikenakan Alisya yang memaksa dirinya menelan salivanya berkali-kali. Apalagi semenjak hamil ukurannya menjadi semakin membesar dan tambah berisi. Tentu saja Aldo tak dapat menolak tawaran mengiurkan itu. Akhirnya mereka berdua mandi bersama di dalam kamar mandi yang terletak di kamar mereka itu. Mereka kembali bercinta setelah beberapa minggu tak melakukannya karena kemarin masih takut jika mereka akan membahayakan janin yang ada di dalam kandungan Alisya. Kali ini pun mereka tidak melakukannya seperti biasanya. Alisya dan Aldo lebih memilih untuk tidak mengambil resiko jika itu cukup riskan dan bisa membahayakan buahhati mereka.


Selesai mandi, Alisya menemui adiknya yang sudah menunggunya di ruang keluarga sambil memilih-milih drama apa yang ingin mereka tonton. Aldo yang tak mau mengganggu kebersamaan Alisya dan Salisa memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya sambil mengkonfirmasi beberapa hal kepada rekan bisnis barunya Jacob.


"Oh iya Salisa, kamu kan baru saja putus dengan Johan. Apa sekarang kamu sudah punya kekasih baru? Kaka tadi bertemu dengan teman bisnis Kakakmu Aldo, Apa kamu mau aku kenalkan dengannya? Sepertinya dia pria yang baik dan sopan. Wajahnya juga tampan. Ditambah lagi dia juga pandai memasak. Kamu pasti suka dengannya." ucap Alisya berusaha menjadi mak comblang untuk adiknya.


"Tidak mau, Salisa sudah tidak mau berurusan dengan laki-laki manapun lagi. Untuk masalah asmara Salisa tidak ingin memikirannya sekarang." jawab Salisa yang masih trauma dengan kejadian yang menimpanya sewaktu di Bali.


"Tapi kemarin, kamu bilang ingin mencari suami yang pandai memasak. Kaka kira kamu sudah ingin menyusul Kaka untuk berumahtangga."

__ADS_1


"Kemarin Salisa kan cuma bercanda Ka. Kaka ini ada-ada saja. Salisa ingin menikah jika benar-benar menemukan pria yang mencintai Salisa. Salisa juga tidak mau dijodoh-jodohkan. Biarkan Salisa sendiri yang menemukannya Ka Alisya."


"Baiklah-baiklah. Terserah kamu saja."


"Oh iya ka, kenapa akhir-akhir ini Salisa sering berkunang-kunang dan mudah lelah ya. Sepertinya Salisa menderita Animea Ka. Besok Salisa akan ke dokter untuk memeriksanya."


"Dengan siapa kamu ke dokter? apa perlu Kaka temani?"


"Salisa sendiri saja ka. Soalnya setelah ke Dokter. Salisa ada janji temu dengan beberapa klien perusahaan."


"Baiklah kalau begitu, lagipula sepertinya Kakamu Aldo juga akan kedatangan tamu lagi. Besok Kakak harus menyiapkan kudapan untuk tamunya."


Setelah puas berbincang mereka kembali larut dalam drama yang mereka tonton.


****


Hari berikutnya Jacob berkunjung ke rumah Aldo sambil membawa kontrak kerjasama mereka. Seperti biasa Aldo memilih untuk tetap berada dirumah karena ingin selalu menemani Alisya.


Setiba di kediaman Aldo, Jacob kembali disambut dengan hangat oleh pemiliknya. Seperti biasanya Aldo dan Jacob berbincang di teras samping rumah. Setelah penandatanganan kontrak selesai, Jacob tak langsung pulang. Jacob berbincang ringan dengan Aldo mengenai beberapa masalah tentang bisnis yang akan mereka garap bersama.


Jacob hanya teringat jika mobil itulah yang kemarin sempat berpapasan dengannya. Mobil yang sangat mirip dengan Mobil milik Salisa yang dikenalnya. Jacob hanya menyimpan penasarannya dalam hati dan tak berani menanyakan hal itu kepada Aldo. Karena mungkin saja itu hanya mirip dan tak ada hubungannya sekali dengan Salisa. Jacob juga beranggaoan bahwa Aldo tak mengenal sama sekali gadis yang Jacob temui waktu di pulay Bali itu. Keduanya kembali mengobrol dan tak memperdulukan siapa yang datang berkunjung.


Akan tetapi tak lama setelah Mobil itu berhenti dan tak terdengar lagi suara mesinnya. Suara tangisan seorang gadis yang menggema dengan keras membuat seisi rumah itu terkaget-kaget.


Dengan isak tangis, Salisa berlari dan masuk ke dalam rumah yang terbuka pintunya. Karena hati dan pikirannya sedang kacau, Salisa tidak menyadari jika di halaman rumah Kakaknya juga ada mobil lain yang parkir disana.


"Ka Alisya, apa yang aku lakukan Ka? Salisa bingung setengah mati. Teriak Salisa memanggil Alisya sambil terus menangis sejadi-jadinya."


"Maaf Jacob, sepertinya sada masalah serius yang sedang dihadapi adik iparku, bagaimana kalau kita lanjutkan besok saja perbincangan kita?" Aldo yang mendengar Salisa menangis kemudian meminta kepada Jacob untuk menlanjutkan percakapan mereka lain waktu.


"Baiklah kalau begitu Aldo, aku juga ada pekerjaan yang ingin aku selesaikan hari ini. Kalau begitu aku pamit dulu." Jacob berpamitan dengan Aldo dan beranjak dari duduknya. Aldo sendiri kemudian undur diri dengan sopan untuk masuk kedalam rumah tanpa mengantar kepergian Jacob.


"Ada apa Salisa?" tanya Alisya dengan cemas. Alisya memeluk Adiknya yang sedang menangis.


Jacob yang mendengar nama Salisa disebut, soktak membulatkan matanya dengan penuh. Pikiran yang selama ini mengganggunya ternyata benar adanya. Mobil yang ia lihat itu benar-benar milik Salisa. Jacob mengurungkan niatnya untuk pulang, ia mencoba mendengarkan perbincangan yang dilakukan Salisa dan kakaknya. Jacob amat penasaran kenapa Salisa bisa menangis sehisteris itu.

__ADS_1


"Ka Alisya, bagaimana ini? Papa dan Mama pasti akan sangat marah kepada Salisa. Apa yang harus Salisa lakukan ka? Salisa sangat takut dan tak tau sekarang harus berbuat apa." kata Salisa sambil terus menangis dipelukan Alisya.


"Ada apa memangnya Salisa, ceritakan pelan-pelan kepada Kaka. Kaka pasti akan membantu mencari jalan keluar masalahmu. Ayo ceritakan kepada Kaka!" bujuk Alisya kepada Adiknya.


"Kaka, tadi saat Salisa pergi ke Dokter, Dokter bilang kalau Salisa saat ini sedang hamil. Bagaimana ini Ka? bisa-bisa Papa akan mengusir Salisa dari rumah jika tau Salisa hamil."


"Apa? Hamil?" Alisya syok mendengar ucapan dari adiknya. Alisya menguatkan hatinya dan berusaha menenangkan Salisa. "Kamu tenangah dulu Salisa, siapa yang telah menghamilimu? apakah si baj*ngan Johan itu? Tenang saja Salisa Kaka akan membantumu menjelaskan semuanya kepada Mama dan Papa. Kaka yakin Johan pasti telah merencanakan semua itu karena perintah dari Paman Doni."


Mendengar Salisa berkata hamil, Jacob terduduk lemas dikursinya. Jacob menyadari bahwa sesungguhnya dialah yang membuat Salisa bisa hamil.


"Sudah jangan menangis lagi Salisa Ka Aldo pasti akan menghajar baj*ngan itu. Aku tau jika kamu tidak akan melakukan hal yang bisa merusak nama baik keluarga kita." Aldo beeusaha ikut menenangkan adik iparnya Salisa.


"Bukan Johan yang mrlakykannya Ka?"


"Jika bukan Johan lalu siapa lagi? Bukankah kamu hanya mengenal laki-laki itu saat ini?" tanya Alisya sambil mengelap air mata dipipi adiknya.


"Sa... sa... Salisa tidak bisa mengatakannya ka. Salisa tau jika sebenarnya laki-laki itu orang yang baik. Semua ini terjadi karena kesalahpahaman Ka. Salisa juga tidak mau merusak hubungan orang lain. Pria itu sudah memiliki kekasih Ka." Salisa menjawab dengan terbata-bata. Saat ini Salisa tak bisa mengatakan kebenaran yang terjadi karena Salisa tak mau merusak masa depan orang lain karenanya.


"Kamu ini jangan terlalu baik Salisa. Dimana-mana jika laki-laki berani menghamili seorang gadis maka dia harus berani mempertanggungjawabkan perbuatannya." ucap Aldo menyakinkan Salisa agar mau mengatakan siapa laki-laki itu.


"Tapi Ka, ini semua bukan mutlak karena kesalahannya saja. Salisa juga bersalah Ka. Ini semua juga karena kecerobohan Salisa." Salisa masih belum mau mengatakan siapa nama laki-laki yang telah membuatnya hamil.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan Salisa? memangnya kamu mau anak yang ada dalam kadunganmu itu tidak memiliki ayah?" tanya Alisya sambil ikut meneteskan air mata atas kepedihan yang dialami adiknya. Alisya tau betul apa yang saat ini dirasakan oleh Salisa.


Jacob yang mendengar semua perdebatan itu merasa syok segaligus ketakutan. Pikiranya melayang etah kemana. Jacob belum siap menghadapi semua itu. Bagaimana dengan Ana kekasihnya jika dia tau, dirinya telah selingkuh dan menghamili wanita lain. Bagaimana dengan Kakeknya jika tau tetang perbuatannya. Bagaimana ia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya itu. Semua pertanyaan itu membuat Jacob kebingungan sendiri. Jacob akhirnya berniat untuk pulang kerumah Kakeknya. Walaupun Jacob takut Kakeknya pasti akan marah besar, namun Jacob tau jika saat ini hanya Kakeknyalah yang ia punya dan satu-satunya orang yang mungkin bisa membatunya.


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


__ADS_2