
Salisa masuk kedalam rumah kakaknya yang dianggapnya begitu sederhana itu. Ia melayangkan pandangannya ke berbagai sudut ruangan yang begitu kecil dibandingkan dengan rumah mereka.
"Kaka yakin bisa kuat tinggal di rumah seperti ini?"
"Memangnya kenapa Salisa? Bukankah waktu kita kecil dulu juga tinggal di rumah sederhana seperti ini? Jadi dimana masalahnya?"
"Iya sih. Tapi kan sekarang kita sudah dewasa. Kaka juga sudah menikah. Kenapa malah harus tinggal di rumah seperti ini? bagaimana kalau kaka tinggal di rumah kita lagi saja. Pasti papa dan mama juga setuju."
"Tidak Salisa. Tinggal di rumah ini juga merupakan pemikiran dari kaka. Ka Alisya ingin membantu Aldo agar bisa lebih berhemat. Saat ini kan kamu tau sendiri kaka ipar mu itu sedang ingin merintis perusahaan baru yang membutuhkan dana yang begitu besar. Ditambah perusahaan papa mertua juga sedang bermasalah. Jadi apa salahnya juka harus tinggal disini untuk beberapa waktu. Lagipula kaka yakin dengan kehebatan kakakmu Aldo dalam berbisnis, pasti nanti akan meraih kesuksesan. Kaka sebagai istrinya juga harus mendukungnya dengan sepenuh hati."
"Baiklah-baiklah jika memang itu sudah menjadi keputusan kaka. Salisa cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk kaka."
Kaka beradik itu kemudian saling berpelukan. Pelukan kerinduan dari keduanya yang cukup lama tak bertemu.
"Sudah-sudah, ayo temani kaka tidur lagi. Bangunkan kaka saat jam makan siang. Kakakmu Aldo sudah memesankan makan siang untuk kita berdua."
Alisya mengajak Salisa ke kamarnya dan segera membaringkan tubuhnya di atas kasur. Salisa juga ikut berbaring di samping kakaknya itu.
"Kenapa tidur lagi sih ka? Aku kan pengen curhat-curhatan sama kaka." Salisa merengek seperti anak kecil sambil mengguncang-guncang tubuh kakaknya.
"Ya sudah curhat saja loh. Kaka akan mendengarkannya." Jawab Alisya yang sudah memejamkan matanya dengan membelakangi adiknya.
"Kenapa sih jam segini kaka ngantuk. Nggak biasanya juga kaka seperti ini."
"Cerewet sekali sih kamu ini. Semalaman kaka tidak bisa tidur Makanya sekarang masih mengantuk. Katanya mau curhat. Kalau nggak jadi kaka tidur nih. Ayo cepat, jangan banyak tanya lagi."
"His nyebelin." Salisa memeluk Alisya dari belakang dengan begitu erat.
"Salisa kangen banget tau. Setelah kaka menikah, di rumah jadi makin sepi. Nggak ada yang ngomelin Salisa lagi. Tapi Salisa juga bahagia sih, Akhirnya kaka bisa menikah dengan orang yang benar-benar kaka suka dan yang paling penting kalian saling cinta. Salisa berharap, nantinya juga bisa menemukan pasangan hidup yang seperti kaka. Menikah karena dilandasi rasa sayang dan cinta yang begitu besar dari keduanya."
"Tentu saja. Kaka pasti akan mendoakan yang terbaik untukmu. Ngomong-ngomong apakah sekarang kamu sudah punya pacar? atau punya seseorang yang disukai?"
"Entah lah ka, Salisa juga kurang yakin. Saat ini Salisa punya pacar tapi Salisa masih belum yakin dengannya."
"Pelan-pelan saja Salisa. Lagipula kamu kan masih muda. Dia juga merupakan pacar pertamamu kan? Jadi wajar saja kalau masih ada ragu diantara kalian. Sekarang gunakan saja waktu kalian untuk saling mengenal."
"Iya ka. Salisa juga tau itu."
Alisya kemudian memutar badannya dan menghadap ke arah adiknya."Lalu kenapa masih cemberut. Ada masalah apa lagi? Ayo coba ceritakan tentang laki-laki yang berhasil mencuri perhatian adikku ini."
__ADS_1
Salisa memandangi Alisya yang kelihatannya sudah tidak mengantuk lagi. Kemudian ia mulai bercerita mengenai kekasihnya."
"Namanya Johan ka, awalnya Salisa juga heran kenapa akhir-akhir ini begitu sering tak sengaja bertemu dengannya. Tadinya Salisa juga cuek sih sebenarnya. Tapi karena sering kebetulan bertemu lagi, jadi Salisa terima ajakan untuk berkenalan dengannya."
"Huum begitu ya. Bisa jadi kalian memang jodoh." Saut Alisya yang sekarang terlihat begitu antusias mendengarkan cerita dari adiknya.
"Salisa juga sempet mikir gitu sih ka. Semenjak hari perkenalan itu kami jadi lebih dekat. Johan begitu perhatian dan sepertinya dia menyukaiku. Mungkin Salisa tertarik karena melihat semangatnya untuk bisa mengenal dan mengejar cintaku."
"Lalu?"
"Lalu Salisa menerima ungkapan cintanya setelah dua bulan berkenalan."
"Wow. Kamu langsung menerima cintanya? Memangnya hal apa saja yang sudah dia lakukan untukmu?"
"Huum tidak banyak sih. Tapi dia selalu menyempatkan diri datang setiap hari ke kantorku hanya untuk membawakan ku makan siang ka. Dia juga selalu memberiku hadiah-hadiah kecil seperti bunga, coklat, permen, boneka, hiasan-hiasan kecil. Pokoknya tiap hari itu Salisa selalu diberi kejutan darinya."
"Lumayan romantis juga ya orangnya. Lalu apakah kamu sudah mencari tau lebih dalam tentangnya."
"Salisa menggelengkan kepala sambil memonyongkan sedikit bibirnya."
"Kaka kan tau sendiri, akhir-akhir ini Salisa sangat sibuk. Pernah beberapa kali Johan mengaja ku untuk pergi ke tempat tinggalnya. Tapi kan kaka juga tau, kalau mama selalu melarang kita untuk datang ke tempat laki-laki yang hanya tinggal sendirian di rumah. Johan pernah bilang jika dia tinggal seorang diri di apartemennya. Makanya Salisa juga tidak mau jika di ajak kerumahnya."
"Katanya kedua orangtuanya sudah meninggal. Selama ini Johan diasuh oleh pamannya. Tapi setelah bekerja, dia memutuskan untuk hidup mandiri dan membeli sebuah apartemen."
"Lalu apakah kamu sudah dikenalkan dengan pamannya itu?"
"Nah itu dia ka. Sepertinya Johan tidak suka jika Salisa mulai bertanya-tanya tentang pamannya itu. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu mengenai keluarganya. Maka dari itu Salisa juga masih begitu kurang yakin dengan hubungan kami saat ini."
"Jangan terlalu dipikirkan Salisa. Jika dia memang jodohmu, nanti juga bakalan dibukakan jalan untuk kalian berdua. Tapi mama dan papa sudah tau kan mengenai masalahmu ini?"
"Tentu saja. Salisa sudah beberapa kali mengajak Johan untuk berkunjung ke rumah."
"Apa kata mama dan papa?"
"Papa fine-fine aja sih. Tapi mama kelihatannya tidak begitu suka dengannya. Katanya mama belum menemukan ketulusan dari Johan."
Saat mereka masih asik mengobrol, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Sepertinya itu tukang delivery. Coba kamu cek dulu Salisa."
__ADS_1
"Baiklah. Kaka tunggu sebentar ya. Salisa akan membukakan pintu untuknya."
Tak lama kemudian Salisa masuk kembali dengan membawa beberapa kantung makanan dan membawanya ke meja makan.
"Ka Alisya, ayo makan siang dulu. Salisa sudah laper nih."
"Iya-iya. Sebentar lagi kaka ke sana. Kamu bantu siapkan untuk kaka juga ya."
"Ok." Saut Salisa sambil menyiapkan piring dan sendok untuk mereka makan.
Alisya kemudian menyusul adiknya ke ruang makan sambil mengikat rambutnya yang tadi tergerai.
"Aldo pesan apa untuk kita?"
"Sate Madura ka. Tapi kenapa ada tiga porsi ya ka? Kita kan cuma berdua. Atau jangan-jangan ka Aldo mau pulang untuk ikut makan bersama kita."
"Tidak salisa, tadi Aldo sudah berpesan jika ia akan pulang malam utuk lembur. Makanya dia memintamu untuk datang menemani kaka. Mungkin Aldo tau jika kamu tidak akan kenyang hanya dengan satu porsi. Makanya kakakmu itu sengaja memesan satu porsi lagi untukmu."
"Benarkah? Perhatian sekali kaka ipar ku itu. Tapi coba pastikan dulu ka. Salisa takut jangan-jangan ini buat ka Aldo."
"Baiklah, kalau begitu coba kaka telfon dulu ya."
"Halo Aldo, kamu pesan satu porsi lagi sate ini untuk Salisa kan? Dia tidak berani menyentuhnya sebelum ku pastikan dulu kepadamu."
"Iya sayangku. Aku tau kalau Salisa pasti kurang, Makanya sengaja aku pesan lebih."
"Terimakasih cintaku. Kamu juga begitu menyayangi adikku yang manja ini. Kalau begitu sudah dulu ya. Kamu lanjut kerja lagi. Semangat suamiku sayang. Muach muach muach. Jangan lupa makan siang"
"Sama-sama istriku yang cantik. Muach muach muach."
"Hoek. Salisa geli sendiri mendengar percakapan kalian. Tapi nggak papa deh. Yang penting Salisa punya kaka ipar yang begitu baik padaku."
*
*
~Bersambung~
*
__ADS_1
*