
Malam itu Salisa memohon kepada Mama Maria agar ia tetap bisa tinggal di rumah Kakaknya Alisya. Salisa masih merasa terpukul dengan semua kenyataan yang membuatnya beranggapan bahwa dunianya telah berakhir.
Alisya tau betul dengan apa yang dirasakan Salisa saat ini. Alisya juga tau jika adiknya yang masih begitu polos dan jarang sekali mempunyai hubungan dekat dengan laki-laki itu kini malah harus dihadapkan dengan masalah yang akan kepercayaan dirinya menjadi hilang.
Melihat Salisa yang kembali menangis secara diam-diam di kamar tamu, membuat Alisya ikut merasa sedih kembali. Alisya meminta ijin kepada Aldo jika malam ini Alisya ingin tidur menemani adiknya Salisa.
Aldo juga tau, jika saat ini Salisa sangat membutuhkan dukungan dan penghiburan. Aldo memberi ijin kepada istrinya untuk tidur bersama Salisa. "Aku tau kamu juga sangat sedih dengan peristiwa yang menimoa Salisa, tapi aku berpesan jangan biarkan kesedihan itu berlarut-larut sampai terlalu lama. Kamu juga hiburlah Salisa. Buat Salisa semangat dan berusaha untuk bagkit kembali. Akan tidak baik bagi kandungan kalian jika terus bersedih seperti ini." ucao Aldo yang kemudian mencium kening istrinya sebelum Alisya akan pergi ke kamar adiknya.
"Terimakasih suamiku. Aku berjanji akan membuat Salisa bisa tersenyum kembali dan kita bisa kembali tersenyum seperti hari-hari kemarin." saut Alisya kemudian membalas ciuman suaminya dengan mengecup bibir Aldo dengan lembut. Alisya kemudian berbalik hendak ke kamar Salisa.
"Tunggu sebentar Alisya!" pinta Aldo menahan Alisya dengan meraih tangannya.
"Ada apa lagi Aldo?"
"Aku belum mengucapkan selamat malam untuk anak kita." ucap Aldo yang kemudian mengelus perut Alisya dan menciuminya. "Selamat malam anakku sayang, malam ini kamu bobo dengan tante dulu ya! Satu malam saja, besok kamu harus tidur dengan Papa lagi." tutur Aldo berbisik di depan perut istrinya.
"Kamu ini ada-ada saja. Sudah-sudah jangan bercanda lagi, kasian Salisa jika melihat kita mesra-mesraan seperti ini." kata Alisya yang kemudian meninggalkan suaminya sambil melambaikan tangannya.
Alisya mengetuk pintu kamar yang ditempati Salisya kemudian masuk dan menghampiri adiknya yang terlihat sedang meringkuk di tempat tidur sambil sesengukan.
"Jangan bersedih lagi Salisa. Apapun yang terjadi Kaka akan selalu menyayangi dan menjagamu seperti adik kecilku yang selalu manja kepada Kakaknya."
"Trimakasih banyak Ka Alisya. Salisa sangat menyayangi Kaka." ucap Salisa yang kemudian tenggelam dipelukan Alisya.
__ADS_1
Lalu kenapa kamu masih menangis, kamu harus berjanji kepada Kaka bahwa kamu akan segera kembali ceria seperti biasanya. Kamu harus semangat Salisa, berpikirlah dari sudut pandang yang baik saja. Bukankah sebentar lagi kita akan menjadi seorang ibu? bagusnya lagi nanti anak kita akan menjadi teman seoermainan. Apakah kamu tidak senang? coba bayangkan kita akan menjaga dan membesarkan anak kita bersama-sama. Bukankah itu menyenangkan? Ayolah Salisa hapus air matamu."
Salisa kemudian mengelap pipinya yang basah dengan kedua tangannya. Gadis itu terlihat sangat buruk dengan matanya yang bengkak dan sembab. Rambutnya juga terlihat acak-acakan tak seperti penampilan Salisa setiap harinya yang selalu tampak ceria dengan dandanan yang modis.
"Salisa hanya tak mengerti kenapa hal seperti ini bisa menimpaku Ka, Salisa merasa bahwa hidup Salisa ini hanya seperti peran pendukung dalam sebuah drama Ka. Kenapa Salisa tidak bisa mendapatkan laki-laki yang baik dan menyayangi Salisa dengan tulus. Kenapa sekarang Salisa malah harus menikah dan hiduo dengan orang yang tidak aku cintai. Salisa sangat mendambakan bisa hidup bahagia seperti Ka Alisya. Salisa juga tidak mengerti kenapa disaat Salisa ingin mencoba mempercayai seorang pria dan ingin serius denganya tetapi pada kenyataannya semua itu hanyalah lelucon saja. Kenapa semua ini terjadi padaku Ka? Apakah seorang pemeran pendukung juga tidak bisa mendapatkan kebahagiannya Ka?"
"Kamu ini bicara apa Salisa. Kaka rasa kamu hanya terlaku sering menonton serial drama cinta dan kebanyakan membaca novel romantis. Menurut Kaka, di dunia ini tidak ada yang namanya pemeran pendukung atau apalah itu namanya. Kita semua adalah tokoh utama dalam hidup kita Salisa. Kamu jangan beranggapan konyol seperti itu. Kamu harus yakin bahwa semua ini sudah menjadi garis kehidupan kita masing-masing. Kamu juga tidak boleh menyalahkan takdir yang sudah diatur untuk kita. Kamu harus memperjuangkan kebahagiaanmu sendiri Salisa. Kamu harus tetap semangat karena masih banyak orang-orang disekitarmu yang sangat menyayangimu."
"Tapi Ka"
"Tidak ada tapi-tapian lagi. Kamu harus yakin dengan dirumu sendiri Salisa. Kaka yakin suatu saat kamu akan menyadari hikmah dari semua kejadian yang sedang kamu alami ini. Kaka juga yakin suatu saat kamu juga akan menemukan kebahagian dalam hidupmu sendiri. Sekarang jangan lagi memikirkan hal-hal yang dapat merusak kebahagiaanmu. Ingatlah untuk selalu berpikir positif saja Salisa."
"Huum." Salisa mengangguk pelan. "Terimakasih Ka Alisya, Kaka memang yang terbaik." ucap Alisya sambil memeluk Alisya kembali.
Salisa kemudian tidur di pelukan Kakaknya. Sejak kecil mereka memang sangatlah dekat, walau terkadang mereka sering saling meledek, saling ngambek, akan tetapi tak bisa dipungkiri bahwa mereka adalah Kakak beradik yang tumbuh bersama sedari kecil.
Sementara di ruangan lain. Jacob tidak bisa tidur karena baru pertama kali ini Jacob tunggal di rumah calon mertuanya itu. Jacob tidak tau apa yang harus dilakukan esok hari. Jacob teringat akan wajah dari Mama Maria yang menurutnya sangat menyeramkan saat menatapnya lekat. Sepertinya Mama Maria menaruh dendam kepadanya.
Berulang kali Jacob mombolak-mbalikan tubuhnya agar ia bisa tertidur. Malam itu ia tidur dimana Salisa biasanya tidur saat menginap disana. Karena tidak bisa tidur akhirnya Jacob memutuskan untuk bangun dan melihat-lihat isa kamar itu.
"Bukankah ini kamar Salisa? Kenapa tidak banyak barang disini? aku lihat dirumah ini juga sangat minim sekali perabotan. Apakah keluarga Salisa itu benar-benar kekurangan uang. Kenapa mereka mau tinggal di rumah yang sederhana seperti ini? Tapi dilihat dari mobil yang dipakai oleh Salisa, sepertinya mereka punya cukup uang. Ah entahlah, kenapa aku malah jadi memikirkan tentang keluarga Salisa."
Jacob tertarik dengan sebuah album foto yang tergeletak di atas meja. Jacob kemudian meraihnya dan mulai membuka satu-persatu foto-foto yang ada di dalamnya.
__ADS_1
"Astaga, ini kan foto yang pernah aku lihat di mobil Salisa saat itu. Kenapa aku jadi pelupa seperti ini? Seharusnya aku sudah menyadari sejak awalah semenjak aku bertemu dengan istri Aldo waktu itu. Pantas saja waktu itu aku merasa Alisya sangat mirip dengan Salisa. Bodohnya aku. Seharusnya aku sudah tau ika Salisa adalah adik ipar dari Aldo. Jika aku sudah menyadarinya sejak dulu, mungkin saja aku tidak akan melanjutkan lagi kerjasama ini dan aku bisa langsung kabur agar tidak bertemu dengan Salisa lagi." Pikiran jahatnya tiba-tiba menari-nari di benaknya.
"Laki-laki macam apa sebenarnya kamu ini Jacob. Kenapa kamu ingin bersikap seperti pengecut dan ingin lari seperti pecundang. Kamu harus ingat bahwa semua ini terjadi juga karena kesahanmu. Kamu harus bisa mengatasi semua masalah ini Jacob, ayo semangat. Kamu pasti bisa."
Jacob teringat kembali kejadian dimana akhirnya ia bisa sekamar dengan Salisa waktu itu. Jacob juga teringat bahwa sebenarnya Salisa tidak salah sedikitpun. Waktu itu Salisa malah yang sudah bersusah payah membantunya kembali ke hotel saat ia sudah dibuat mabuk oleh minuman keras.
"Aku seharusnya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada Salisa dan membuat dia bisa kembali bahagia dan tak tirikat dengan pernikahan paksa seperti ini. Kasian sekali Salisa, saat ini dia pasti kebingungan dan tak tau harus bagaimana mnyikapi semua ini." gumam Jacob yang akhirnya merasa dirinya begitu egois karena hanya memikirkan kepentingannya sendiri.
"Besok aku harus menemui Salisa dan meminta maaf atas semua ini." gumam Jacob meyakinkan dirinya sendiri.
"Tapi kenapa waktu itu aku merasa benar-benar tidak bisa mengendalikan hasratku ya? apakah semua itu karena efek dari minuman keras? tapi tetap saja aku merasa waktu itu aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Apakah aku perlu menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi? mungkinkah ada orang yang sengaja menjebak Aku dan Alisya." Pikiran Jacob terus saja melayang-layang entah kemana saja perginya. Hal itulah yang membuatnya tidak bisa tidur sedari tadi.
"Ah sudah lah, sebaiknya aku memikirkan tentang hal lain saja. Semua ini terlalu membuatku pusing." ucap Jacob dengan kesal. Jacob akhirnya menyadari jika ia masih memegangi album foto milik keluarga Salisa. Jacob kemudian melajutkan kembali membuka lembar demi lembar foto-foto itu. Tanpa Jacob sadari, kumpulan gambar-gambar itu telah membuatnya sedikit terhibur. Berulang kali senyuman mengembang dari bibir laki-laki itu. Jacob merasa senang melihat foto-foto Salisa sewaktu masih kecil yang terlihat hitam kecil dan kurus. Sangat berbeda dengan Salisa yang sekarang. Sebenarnya Jacob menyadari jika Salisa adalah gadis yang cukup cantik baginya.
Akhirnya Jacob merasa mulai mengantuk. Beberapa Album foto yang ia ambil tadi, Jacob kembalikan lagi ke tempat semula. Jacob kemudian mematikan lampu utama dan mulai memejamkan matanya yang sudah terasa begitu berat.
*
*
~ Bersambung~
*
__ADS_1
*