CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
KEBENARAN YANG MENYAKITKAN


__ADS_3

Sementara Salisa sudah dibuat tak sabar dengan pertanyaan yang dari tadi melintas di benaknya. "Hal penting apa yang sebenarnya ingin Jacob katakan?" Salisa yang lebih dulu menghabiskan sarapannya hanya bisa menunggu dengan harap-harap cemas. Salisa terus saja memandangi Jacob yang tengah asik berperang dengan sendok dan garpunya.


Selesai dengan sarapannya, Jacob masih saja berdiam diri tanpa mengucapkan sepatah katapun. Seperti ada yang mengunci mulutnya, sudah cukup lama semenjak mangkuk berisi Soto mie itu tak lagi tersisa. Suasana masih saja hening. Tak banyak pengunjung di tempat makan itu. Matahari juga belum terlalu tinggi. Aroma masakan yang gurih dan wangi memenuhi ruangan berdinding putih dengan dekorasi yang sederhana layaknya rumah makan pada umumnya itu.


"Sebenarnya hal penting apa yang ingin kamu sampaikan Jacob?" Salisa akhirnya bertanya, berharap rasa penasarannya segera menghilang.


"Sebenarnya aku tak ingin ikut campur dengan masalah pribadimu Salisa. Tapi hati kecilku terus saja berkata bahwa aku harus memberitahumu tentang hal ini." Jacob mengeluarkan ponselnya dan memutar ulang rekaman yang semalam ia dapatkan.


Salisa mendengarkan setiap percakapan antara Johan dan perempuan yang sepertinya adalah Mita itu dengan begitu seksama. Sesekali Salisa menarik nafasnya dengan berat. Tak terasa bulir-bulir air mata mulai menetes dan membanjiri pipinya.


Jacob menyodorkan sebuah sapu tangan dan memberikannya pada Salisa. Jacob tau betul bagaimana perasaan Salisa saat ini. Pasti hatinya begitu remuk menyadari bahwa selama ini cintanya bertepuk sebelah tangan. Apalagi dia juga tertipu dengan semua omongan dan perlakuan Johan selama ini.


Salisa masih menangis dengan sesenggukan. Bahkan ia tak mempedulikan bagaimana tampilannya saat ini saat sedang menangis dengan ingus yang ikut keluar dari hidungnya. Salisa seperti lupa diri jika saat ini dihadapannya masih ada seorang laki-laki yang belum lama ini ia kenal sedang menatapnya dengan kedua bola matanya yang berwarna coklat.


Setelah rekaman itu selesai, Salisa langsung beranjak dan pergi meninggalkan Jacob begitu saja. Entah mau kemana tujuannya itu.


"Hei Salisa, kau mau kemana?" Jacob akhirnya ikut beranjak dan mengejar Salisa yang setengah berlari dengan mata yang masih berair itu. "Tunggu Salisa, setidaknya lap dulu air mata dan ingusmu itu."


Jacob berlari mengejar Salisa dan menyaut tangannya agar Salisa berhenti. "Hei, tenangkan dulu hatimu." Jacob memang paling tak kuat jika harus melihat seorang perempuan menangis di hadapannya. Jacob mengusap air mata Salisa dengan kedua tangannya.


"Kamu mau kemana Salisa? Kamu jangan melakukan hal yang bodoh. Jika ada hal yang bisa kubantu, aku akan membantumu." Ucap Jacob dengan lembut sambil menggenggam kedua tangan Salisa.


"A aku hanya ingin mencari Johan. Aku ingin memastikan tentang rekamam itu." Sepertinya suasana hati Salisa sudah mulai membaik. Salisa mengelap hidung dan matanya dengan sapu tangan yang Jacob berikan tadi. Salisa juga sudah tidak menangis lagi, namun sesekali ia masih sesenggukan.


"Baiklah, aku akan menemanimu." Jacob melepaskan genggamannya kemudian merapikan rambut Salisa yang terlihat sedikit berantakan. "Ayo! sepertinya Johan masih berada di hotel."


Mereka berjalan kaki menuju ke hotel, karena memang tak jauh dari tempat dimana mereka mencari sarapan.


Sesampai di hotel, Salisa langsung mencari Johan di kamarnya. Ternyata kamar Johan tak di kunci. Ketika Salisa masuk, Terlihat Johan sedang menonton Televisi dengan Mita. Mereka duduk bersebelahan dengan tangan Johan merangkul pundak Mita. Johan dan Mita sangat kaget ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan yang mereka lihat adalah Salisa.


"Salisa, kenapa kamu tiba-tiba kemari? Ini semua tidak seperti yang kamu lihat. Aku bisa menjelaskan semuanya kepadamu. Hari ini bahkan aku berencana untuk melamarmu. Aku sudah memesan tempat VVIP di cafe yang telah aku beritahukan semalam. Aku juga sudah menyiapkan makan malam romantis untuk kita."


"Aku sudah tau semuanya Johan. Kalian tidak perlu bersandiwara lagi. Aku sudah mendengar semua percakapan kalian dari rekaman ini." Salisa kemudian memutar kembali rekaman di ponsel Jacob.


"Dari mana kamu mendapatkannya? Semua itu tidak benar Salisa. Itu hanya fitnah." Johan masih saja mengelak dan tak mengakui perbuatannya.

__ADS_1


"Oh pasti laki-laki itu yang telah memberi rakaman itu kepadamu. Dasar kurang ajar." Johan mendatangi Jacob dan melayangkan pukulan untuk Jacob. Sayangnya usahanya sia-sia. Jacob berhasil menghindar dan menangkis pukulannya.


"Aku tak suka berkelahi, Jika kamu memang laki-laki. Maka akuilah perbuatan busukmu itu. Jangan menjadi banci yang tak mau mengakui kesalannya."


"Baiklah kalau begitu, Aku memang bersandiwara selama ini. Aku tidak pernah menyukaimu Salisa. Semua ini aku lakukan hanya demi uang. Puas kalian. Jadi mulai sekarang jangan perhah lagi kamu menghubungiku dan berurusan lagi denganku."


Mendengar semua ucapan itu membuat Salisa sangat marah. Seketika itu juga Salisa menampar Johan kemudian menyaut gelas di atas meja yang berisi jus jeruk dan menyiramkanya ke muka laki-laki yang selama ini ia anggap mencintainya itu.


"Berani sekali kau Salisa. Memang dasar wanita kampungan." Johan mengangkat tanhannya hendak membalas tamparan Salisa. Namun sebelum tangan itu mendarat di pipi Salisa, tangan Jacob lebih dulu menggenggam pergelangan tangan Johan dan mencengkeramnya dengan kuat.


"Siapa kau berani sekali ikut campur urusan kami." Johan membulatkan kedua matanya dan menarik tangannya agar cengkeraman Jacob terlepas. Sayangnya hal itu tak semudah yang dibayangkan. Jacob tak membiarkannya begitu saja. Jacob memutar lengan Johan hingga membuat laki-laki itu meringis kesakitan. Karena kasian melihat Johan mulai tak kuat menahan sakitnya, akhirnya Jacob melepaskan tangan Johan dan menghempaskannya dengan kuat.


"Jangan sekali-kali kau main kasar dengan wanita. Jika kau memang laki-laki sejati, ayo kita adu permainan di lapangan."


"Baiklah, kuterima tantanganmu. Ayo kita beradu main basket." Karena Johan merasa jago bermain basket dan mengira dia pasti menang maka ia mengusulkan beradu permainan dengan bola dan ring itu.


"Oke. Tapi kau harus berjanji, jika kau kalah dalam permainan ini, maka kau harus berlutut dan meminta maaf kepada Salisa."


"Siapa takut, tetapi jika kau yang kalah. Kau harus pus up seribu kali dan mengumumkan di hadapan umum jika kau telah kalah dariku."


Salisa hanya bisa mengikuti rencana kedua pria itu dan bersiap dengan semua kemungkinan yang akan terjadi. "Apakah kamu yakin bisa mengalahkan Johan? Bagaimana jika nanti kamu kalah? Aku pasti akan merasa bersalah sekali kepadamu. Saat ini belum terlambat, bagaimana kalau sekarang aku kembali ke kamar itu dan meminta maaf kepada Johan agar dia mau membatalkan permainan ini. Yang aku tau, Johan itu pernah juara main basket di kejuaraan saat SMA."


"Kau ini bodoh ya? Dimana harga dirimu? Kamu tenang saja. Kau hanya perlu menyemangatiku dan bersiaplah menerima permintaan maaf dari laki-laki ******* itu." Jacob berbicara dengan nada tinggi seolah sedang marah dengan Salisa.


"Baiklah kalau begitu. Aku kan hanya mencemaskanmu. Jadi kamu juga tidak perlu berbicara keras-keras seperti itu." Salisa terlihat memelas dengan memperlihatkan raut wajahnya yang cemberut.


"Iya-iya. Maafkan aku, aku hanya terbawa suasana saja. Sudah jangan sedih lagi. Nanti aku akan mentraktirmu makan es krim."


"Benarkah? Kalau begitu ayo kita segera bergegas, aku juga sudah tidak sabar melihat laki-laki baj*ngan itu berlutut minta maaf kepadaku. Kau harus janji kepadaku bahwa kamu harus menang." Salisa mengangkat tangannya dan menjulurkan jarinya untuk mengikat janji kelingking dengan Jacob.


"Kau ini kekanakan sekali. Aku tidak mau." Jacob terus berjalan dengan melipat kedua tangannya di atas perut.


"Ayolah, apa susahnya mengangkat sebentar tanganmu."


"Tidak mau." Jacob masih saja teguh dengan pendiriannya.

__ADS_1


Salisa menarik paksa tangan kiri Jacob dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari Jacob. Sedangkan Jacob yang melihat tingkah Salisa yang kekanakan itu hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauannya.


Sesampai di lapangan basket. Jacob dan Johan berganti baju dan pakaian mereka dengan kostum olahraga yang disiapkan di tempat itu. Kedua laki-laki itu mulai beradu keterampilan dalam memasukan benda bulat berwarna orange itu ke dalam ring. Mereka saling menghalangi dan tak membiarkan lawannya berhasil mencetak score.


Kebetulan di tempat itu tadinya sedang digunakan oleh anak-anak pencinta basket untuk latihan. Pertandingan Jacob dan Johan disaksikan oleh seluruh peserta latihan itu dan diwasiti oleh seorang pelatih.


Tak ada yang mau mengalah diantara keduanya. Pertandingan itu berlangsung sengit. Mereka saling mengejar score, namun sayangnya Johan tak menyangka jika dia akan dikalahkan oleh Jacob. Pertandingan itu berakhir dengan score 31-38.


Johan yang terlalu menyepelekan lemampuan Jacob akhirnya harus menerima kekalahannya. Setelah kembali berganti baju Johan berencana untuk segera meninggalkan tempat itu untuk kabur dan tidak perlu meminta maaf kepada Salisa.


Rencana busuk Johan sudah bisa di tebak oleh Jacob. Jacob sudah menghadangnya di depan pintu danemaksa Johan untuk kembali dan meminta maaf kepada Salisa.


"Baiklah-baiklah. Aku akan menemui Salisa dan meminta maaf kepadanya. Tapi tidak disini, setidaknya biarkan aku meminta maaf di ruang ganti saja." Johan pasti akan merasa malu jika ia harus berlutut di hadapan seorang wanita dan dilihat oleh orang lain.


"Terserah kau saja. Yang penting kau harus menepati janjimu." Dengan berat hati akhirnya Johan berlutut di depan Salisa dan meminta maaf kepadanya. Setelah meminta maaf Johan lansung beranjak dan menyeret dengan kasar Mita, yang waktu itu juga ikut menyaksikan pertandingan dan mereka segera meninggalkan tempat itu.


Sementara di ruang ganti. Salisa berterimakasih kepada Jacob atas semua yang dilakukan untuknya.


"Bagaimana caraku untuk membalas semua kebaikanmu Jacob? Aku berhutang banyak kepadamu. Bahkan aku masih belum mengembalikan cincin ini dan membuat acara lamaranmu berantakan." Salisa masih mengira jika gagalnya lamaran Jacob disebabkan olehnya.


"Emmm bagaimana kalau setelah ini kamu ikut denganku. Kamu pasti butuh waktu untuk menenangkan hatimu kembali. Lagi pula aku juga butuh teman untuk sama-sama mengusir rasa sesak di hati ini."


"Baiklah, tapi mau kemana kita?"


"Sudah jangan banyak tanya, ayo kita kembali ke hotel untuk mengambil mobil." Akhirnya Salisa menyetujui rencana Jacob dan ikut pergi dengannya.


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


__ADS_2