CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
PERNIKAHAN


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Akhirnya waktu yang dinantikan datang juga. Hari itu adalah pernikahan Alisya dan Aldo.


Mereka menggelar resepsi di villa milik keluarga Aldo yang berada di puncak. Resepsi itu diadakan secara sederhana dan hanya mengundang kerabat dan teman-teman terdekat.


Walaupun kedua keluarga ini bisa dibilang keluarga terpandang dan berada, namun pernikahan sederhana adalah pilihan Alisya dan Aldo yang tak mau mengadakan pesta yang mewah dan hingar-bingar. Apalagi sampai mengundang awak media untuk meliput acara sakral mereka.


Alisya begitu tampak anggun dan cantik dengan balutan gaun berwarna putih. Begitu pula dengan Aldo yang terlihat tampan dan menawan dengan setelan tuksedo nya.


Pesta digelar secara outdoor di depan villa dengan pemandangan kebun teh nan hijau layaknya permadani yang begitu luas. Tema yang diusung adalah pernikahan modern dengan nuansa serba putih hijau. Rangkaian bunga-bunga mawar putih menambah keindahan tempat itu.


Seorang laki-laki paru baya berdiri di dekat mobilnya. Dari kejauhan ia mengamati kedua pasang mempelai yang begitu tampak bahagia berdiri berdampingan sambil menyalami tamu-tamu yang datang. Walaupun dia adalah tamu undangan, namun sepertinya orang itu begitu enggan untuk menghadiri pesta itu. Wajahnya dipenuhi kebencian dan dendam.


"Antoni, tega-teganya kamu mempermainkan sahabatmu sendiri. Aku akan memastikan putrimu tidak akan hidup tenang dan bahagia."


Laki-laki itu kemudian mengurungkan niatnya untuk menyalami sahabatnya yang mengundangnya itu. Ia masuk kembali kedalam mobil dan pergi meninggalkan tempat resepsi.


Akhirnya acara pernikahan itu sudah selesai. Tamu-tamu undangan juga sudah tak ada lagi di pesta itu. Tinggal keluarga inti yang masih berkumpul di dalam villa untuk melepas lelah setelah seharian disibukan dengan pesta pernikahan.


Villa itu cukup luas dan mempunyai banyak kamar untuk ditinggali kedua keluarga Alisya dan Aldo.


Hari semakin gelap dan dihiasi gerimis yang memaksa mereka semua untuk tetap berada di dalam villa.


Alisya dan Aldo berpamitan untuk menuju ke kamar mereka untuk membersihkan diri dan beristirahat. Sepertinya bukan hanya mereka berdua yang memutuskan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Di dalam kamar Aldo langsung melepas jasnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur sambil mengendurkan dasinya. Sementara Alisya duduk di depan meja rias untuk menghapus make up nya sebelum dibersihkan kembali dengan mandi dan mencuci wajahnya.


Alisya mengambil selembar kapas dan mulai mengusap wajahnya dengan cairan pembersih. Berulang kali Alisya mengulangi aktivitas itu jika dirasa mukanya belum benar-benar bersih.


Aldo yang masih berada di atas kasur kemudian memiringkan badannya menghadap ke arah Alisya yang masih sibuk mengusap-usap wajahnya.


Aldo tersenyum dan bergumam dalam hatinya. "Aku benar-benar tak menyangka hari ini datang juga. Wanita yang begitu ku dambakan bisa menjadi milikku seutuhnya."


Alisya yang sadar sedang diamati oleh sepasang mata kemudian memandang Aldo dengan tatapan tajamnya dari pantulan kaca meja rias dihadapannya.

__ADS_1


"Kenapa kamu memandangiku dengan tatapan seperti itu? Apakah ada yang aneh dengan wajahku?" Alisya bertanya sambil mengamati wajahnya kalau-kalau ada yang aneh, tapi ia tidak mendapatinya.


"Tidak Alisya, aku hanya sedang bangga dan ingin sekali memamerkan kepada dunia jika aku berhasil memilikimu. Kemarin aku masih takut jika kamu akhirnya akan jadi milik orang lain, tapi kenyataannya sekarang kamu jadi milikku seutuhnya."


Alisya tersenyum manja tanpa menoleh ke arah laki-laki yang kini menjadi suami sahnya itu. Entah mengapa akhir-akhir ini Aldo begitu banyak mengungkapkan kata-kata gombal yang membuat Alisya tersipu malu.


Aldo kemudian beranjak dan mendekati Alisya. Ia duduk di samping Alisya kemudian mengambil alih kapas dan cleanser yang dipegang Alisya.


"Hadaplah kemari Alisya. Aku akan membantumu membersihkan wajahmu. Bisa-bisa nanti aku tak bisa mencicipinya jika kubiarkan kamu sendiri yang membersihkan wajahmu."


"Apa yang dicicipi Al? Memangnya tadi kamu belum makan? Bukankah tadi kita sudah mencicipi hidangan catering bersama-sama?"


"Astaga Alisya. Kenapa kamu menggemaskan sekali sih. Lupakan saja." Aldo begitu serius membersihkan wajah istrinya dengan lembut dan hati-hati.


Alisya yang masih sedikit bingung dengan ucapan Aldo hanya bisa pasrah ketika suaminya itu menyuruhnya diam dan cukup memejamkan mata saja.


"Nah sekarang sudah selesai" Ucap Aldo sambil mencubit kedua pipi Alisya.


"Aww, sakit tau." Alisya menggerutu kesakitan.


Alisya syok mendengar kata-kata Aldo yang semakin membuat bayangan di pikirannya menari-nari semakin menghantuinya.


"Tidak-tidak. Aku bisa melakukannya sendiri." Sontak Alisya langsung berlari kecil menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar itu dan segera menguncinya dari dalam.


"Astaga, kenapa jantungku jadi maraton seperti ini sih. Ayolah Alisya, Aldo itu sekarang sudah jadi suamimu. Kenapa kamu masih begitu gugup dengannya." Alisya menggerutu tak jelas.


Alisya segera mandi dan berharap rasa deg-degan di hatinya semakin berangsur hilang. Tapi kini Alisya malah semakin menerka-nerka apa yang akan terjadi nanti sambil terus melanjutkan mandinya.


Selesai mandi Alisya baru sadar jika ia lupa membawa baju gantinya.


"Ya ampun Alisya. Kenapa bisa sampai lupa sih? Ini gara-gara tadi aku langsung berlari ke kamar mandi tanpa memikirkan jika sekarang di kamar ini juga ada Aldo yang masih terjaga di sana menunggu kamu selesai mandi. Ya Tuhan, apa yang harus aku perbuat."


Alisya mencoba membuka kunci pintu dengan sangat hati-hati dan membukanya sedikit untuk mengintip apa yang sedang dilakukan Aldo. Terlihat Aldo sedang duduk bersandar di ranjang sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


Dengan selembar handuk yang membalut tubuhnya, Alisya berjalan mengendap-endap menuju Almari. Berharap Aldo tidak menyadari kedatangannya. Namun hal itu mustahil. Aldo yang sedari tadi sudah tau jika Alisya sedang kebingungan mencari cara untuk mengambil baju ganti hanya bisa menahan tawanya.


Dengan seksama Aldo mengamati lekuk tubuh Alisya yang terlihat begitu seksi. Alisya berjalan berjingkit sambil berpaling memunggungi Aldo karena takut aldo melihat wajahnya yang kini merah padam menahan malu.


"Apakah kamu sudah selesai Alisya?" Kata-kata Aldo mengagetkan Alisya yang sedang mengambil piyama dan pakaian dalamnya di Almari.


"Belum. Sebentar lagi." Alisya menyahut bajunya dan langsung berlari lagi menuju kamar mandi.


Melihat tingkah Alisya Aldo hanya bisa tertawa terbahak-bahak.


Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Alisya segera keluar dan menghampiri Aldo.


"Kenapa kamu menertawakan aku Aldo? Ini semua kan karena salahmu yang tadi mencoba menggodaku."


"Hahaha siapa juga yang menertawakan mu. Iya deh anggap saja aku yang salah. Tunggu aku ya Alisya. Aku akan menyelesaikan sesi mandi ku menjadi lebih cepat." Aldo segera beranjak untuk melakukan gilirannya membersihkan badan.


Alisya kembali diserang rasa gugup. Ia mulai membayangkan adegan-adegan yang membuat jantungnya bergetar. Alisya bahkan sempat membayangkan Aldo seperti Serigala liar yang siap menerkam dan mencabik-cabik tubuhnya dengan cakarnya.


*


*


~Bersambung~


*


*


Apakabar Readers? Gimana jalan ceritanya? Tambah seru nggak sih?


Kasih komentarnya dong!


Kasih supportnya juga untuk Author ya! Biar tambah semangat lanjutin jalan ceritanya.

__ADS_1


(^-^)/ Happy Reading.


__ADS_2