
Alisya dan Aldo akhirnya sepakat untuk belajar mandiri dengan membeli sebuah rumah sederhana dan tinggal di sana.
Walaupun terasa berat, namun baik orang tua Aldo maupun Alisya juga tidak bisa menolak dan menghentikan rencana anak-anaknya untuk belajar arti berumahtangga yang sesungguhnya dengan memutuskan tinggal di rumah mereka sendiri.
Hari ini kedua keluarga yang saling ber besanan itu ikut menghantar kepindahan Alisya dan Aldo di rumahnya yang baru. Mereka semua bergotong royong merapikan dan menata perabotan rumah kecil yang begitu sederhana itu.
Rumah dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, dan ruang tamu itu dipilih oleh Alisya dan Aldo untuk memulai petualangan bahtera rumahtangga mereka. Berulang kali Antoni dan Winata menawarkan rumah yang jauh lebih besar dan mewah namun keduanya menolaknya.
"Kamu yakin bisa betah tinggal di rumah kecil seperti ini Aldo?" tanya Rahma yang tau betul jika anaknya dari dulu hidup dalam keluarga yang berada.
"Tenang saja ma. Asalkan bersama Alisya, rumah kecil ini akan terasa seperti sebuah istana. Justru Aldo lebih khawatir dengan Alisya. Aldo seharusnya membahagiakan Alisya dengan rumah yang nyaman dan serba berkecukupan sesuai dengan impiannya. Tinggal di puncak dan mendirikan rumah di atas bukit di kebun teh kita. Tapi sekarang Alisya malah harus tinggal di tempat seperti ini. Maafkan aku ya Alisya."
"Untuk apa minta maaf Aldo. Bukankah tinggal di rumah ini juga merupakan ide ku. Kamu jangan merasa bersalah seperti itu. Aku bahagia kok dengan semua ini." Jawab Alisya sambil menggenggam tangan Aldo.
"Aku berjanji akan bekerja keras agar kita bisa mewujudkan semua impian kita Alisya." Aldo mencium tangan Alisya yang masih dalam genggamannya itu.
"Aku percaya kamu akan melakukan yang terbaik untuk kita Aldo."
"Baiklah anak-anakku yang manis, Kemarilah. Mama peluk kalian berdua. Doa kami semua selalu merestui kalian."
Melihat Rahma memeluk Alisya dan Aldo, Maria yang sedang menata buku di dalam rak ikut terharu dan tak mau melewatkan momen bersama mereka dalam pelukan kasih sayang itu.
"Sudah-sudah. Nanti lagi bikin acara Teletubbies nya, kalau berpelukan terus kapan rumah ini akan selesai dibereskan." Winata datang dan membubarkan event kecil yang dibuat pasangan ibu dan anak-anaknya itu.
"Iya-iya. Kami segera bekerja kembali. Dasar bapak-bapak tidak tau nyamannya berpelukan dengan anak-anak. Mulai sekarang mama kan tidak bisa bertemu dengan mereka setiap hari. Pasti mama akan sangat merindukan mereka. Benar kan Maria? Kita sebagai Ibu mereka paling tau bagaimana rasanya harus melepas anak untuk hidup mandiri."
"Aku setuju denganmu Rahma" Maria ikut memberikan suaranya sambil melingkarkan tangannya di pinggang Rahma sebagai tanda bahwa ia satu suara dengan Rahma.
"Kalian ini kenapa jadi berlebihan begini sih. Lagi pula anak kita sekarang kan sudah ada yang saling menjaga. Mereka lebih membutuhkan pasangannya untuk menemani mereka. Aku sudah merasa tenang karena sekarang mereka sudah ada yang menemani sampai akhir hayat mereka. Kita kan tidak bisa terus merawat mereka seperti dulu lagi. Kita juga tak selamanya ada di dunia ini untuk mereka. Jadi biarkan mereka saling menjaga. Aku sudah menyerahkan tugasku menjaga Alisya kepada Aldo. Aku juga yakin Aldo tidak akan mengecewakan kita. Benar kan Aldo?"
"Tentu saja papa Antoni. Papa tidak perlu khawatir mengenai hal itu. Aldo akan selalu ingat kata-kata papa ini. Aldo juga berterimakasih karena papa Antoni sudah mempercayakan putri papa yang cantik ini kepadaku."
"Papa jangan khawatir lagi ya pa. Papa harus jaga kesehatan papa. Jangan lupa minum obat secara rutin. Alisya dan Aldo pasti akan sering-sering berkunjung ke rumah papa Antoni dan juga papa Winata."
__ADS_1
Akhirnya sesi pindahan rumah itu selesai juga. Semua barang-barang dan perabotan sudah tertata rapi berkat kerjasama mereka. Setelah makan malam bersama, Kedua pasangan orang tua Alisya dan Aldo itu berpamitan dan pulang ke rumah mereka masing-masing.
Kini tinggal Alisya dan Aldo yang sedang duduk di teras depan rumah sambil minum kopi dan camilan hangat.
"Mulai hari ini aku akan berkerja lebih giat lagi Alisya. Aku akan secepatnya mengejar target untuk segera menyelesaikan pembangunan pabrik teh kita. Dengan begitu sedikit-demi sedikit kondisi keuangan kita juga akan semakin membaik. Sementara ini aku juga akan membatu menangani kekacauan yang terjadi di perusahaan papa. Aku yakin kita bisa melewati ini semua."
"Aku percaya kamu bisa menanganinya dengan baik Aldo. Dengan kemampuan bisnismu yang tak perlu diragukan lagi, pasti akan banyak investor yang mau menanamkan saham untuk perusahaan kita. Mengenai berita fitnah yang membuat perusahaan papa Winata jadi bangkrut pasti juga akan terselesaikan. Walaupun akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengembalikan kondisi perusahaan seperti semula, tapi Alisya yakin kebenaran akan selalu mendapatkan kemudahan untuk membuktikannya."
"Terimakasih Alisya. Kamu masih mau menemaniku disaat kondisiku terpuruk seperti ini."
"Hei, kenapa kamu jadi melankolis seperti ini sih. Dimana Aldo yang selalu ceria dan suka usil jahilin aku itu. Walaupun sering jengkel tapi entah kenapa aku malah sering kangen dengan tingkah usil mu itu."
"Benarkah? Kalau begitu jangan salahkan aku karena kamu yang sudah mengingatkanku Alisya."
Aldo segera berdiri dan membopong Alisya masuk kedalam rumah dan membawanya ke kamar. Aldo membaringkan istrinya itu di atas ranjang dan menggelitik i nya sampai Alisya menjerit-jerit minta ampun karena menahan rasa geli yang tak tertahankan.
"Ampun Aldo, tolong hentikan. Aku benar-benar tak kuat lagi." Alisya memohon berulang kali namun tak dihiraukan oleh Aldo.
"Aldo kumohon. Jika kamu tak menghentikannya aku akan marah dan tak mau berbaikan lagi."
"Alisya, apakah kamu sungguh marah kepadaku?" Aldo ikut bangun dan menghampiri istrinya.
"Maafkan aku Alisya. Tadi aku memang sedikit keterlaluan."
"Apa katamu? Sedikit keterlaluan?" Alisya menjawab dengan ketus dan memalingkan wajahnya dari Aldo. Alisya masih saja meneruskan aktingnya dengan pura-pura sibuk membaca buku.
"Iya-iya. Kalau begitu tadi aku sungguh keterlaluan. Apakah sekarang kamu mau memaafkan ku?"
Alisya memang bukan orang yang pintar berbohong. Kali ini Alisya tak bisa lagi menahan senyumannya lagi melihat wajah Aldo yang begitu polos dan bersungguh-sungguh meminta maaf.
Melihat Alisya tersenyum, hati Aldo kembali lega. Aldo mengambil buku yang dipegang Alisya dan meletakkannya kembali di atas rak. Aldo hendak memeluk Alisya namun Alisya menolaknya.
"Siapa bilang aku sudah memaafkan mu." Alisya kembali menampakan wajah cemberutnya. Alisya ingin mengambil lagi buku yang tadi diambil Aldo dan dikembalikan di rak buku. Namun saat ingin mengambilnya, Alisya memperhatikan susunan buku-buku itu.
__ADS_1
"Kenapa buku-buku ini tercampur seperti ini. Mulai sekarang buku-buku ini harus dipisah menurut kepunyaannya. Buku mikik ku akan aku taruh di rak Atas. Sedangkan milikmu akan aku susun di bagian bawah."
"Sejak kapan ada aturan seperti itu? Kenapa harus di atas dan dibawah. Kalau begitu aku mau aku yang di atas dan kamu yang dibawah." Aldo menyela tak terima dengan pendapat Alisya.
"Memangnya ada peraturan yang mengharuskan wanita yang harus selalu dibawah dan laki-laki yang di atas. Aku tidak mau, pokoknya aku mau yang di atas." Kata Alisya dengan serius tak mau kalah.
Aldo melirik ke arah Alisya yang begitu tampak emosi dan menggebu-gebu berusaha mempertahankan argumennya.
"Kenapa kamu terlihat imut saat marah-marah seperti ini Alisya. Baiklah aku yang mengalah. Lagi pula aku juga suka jika kamu mau yang berada di atas. Kalau begitu kita buktikan di atas ranjang saja sekarang."
Aldo membopong kembali Alisya dan membaringkannya perlahan di atas ranjang.
"Tunggu dulu Aldo. Kita kan belum menata buku-buku itu. Kenapa kamu malah membawaku kesini. Lalu apa yang dibuktikan di atas ranjang?"
Aldo semakin gemas mendengar jawaban dari Alisya. Aldo kemudian menindih Alisya dan membisikan kata-kata di telinganya.
"Apakah sekarang kamu sudah mengerti maksudku. Ayo sekarang buktikan. Bukankah kamu lebih suka berada di Atas?" Aldo kemudian menggigit dengan lembut telinga Alisya dan mulai menghujani Alisya dengan kecupan-kecupan penuh hasrat.
"Kamu curang Aldo. Kamu terus saja memperdayai ku." Alisya jadi sedikit malu dan merasa geli dengan ucapannya sendiri. Alisya juga tak bisa menghindar dari serangan-serangan Aldo yang membangkitkan hormon testosteronnya itu.
Alisya mendorong tubuh Aldo, kemudian ia menempatkan tubuhnya di atas tubuh suaminya itu.
"Jika malam ini aku memuaskan mu, kamu harus terima dan membiarkanku menata buku-buku milik ku berada di rak atas dan buku mu di rak bawah."
"Oke. Aku akan menerimanya dengan senang hati. Jika perlu aku akan memberikan seluruh rak itu untuk mu."
Keduanya kemudian terhanyut dalam buaian mesra yang begitu menggebu. Mereka menikmati setiap sentuhan, ciuman, dan belaian yang semakin membuat detak jantung meningkat. Hasrat yang semakin menjadi membuat peluh dan keringat mulai membasahi tubuh mereka. Malam itu mereka lewati dengan begitu indah seirama dengan setiap ******* yang semakin membuat gairah keduanya tak pernah surut.
*
*
~Bersambung~
__ADS_1
*
*