CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
SUNRISE


__ADS_3

Setelah berhasil melewati medan yang cukup sulit, akhirnya semua rombongan sampai ke Desa S. Mereka semua disambut dengan hangat dan antusias oleh warga sekitar.


Jalanan yg menjadi licin dan hujan yang mengguyur begitu lebat, membuat perjalanan mereka lebih lambat dari perkiraan waktu yang direncanakan. Akhirnya mereka memutuskan untuk bermalam di desa itu dan melakukan kegiatan esok pagi.


Tak banyak yang bisa mereka lakukan setiba disana. Rencana yang sudah mereka siapkan akhirnya harus disusun ulang.


Hal yang ingin mereka lakukan saat ini adalah membersihkan diri dan istirahat, mengumpulkan kembali tenaga yang terbuang.


Mereka tinggal di sebuah balai desa yang kebetulan memiliki satu ruangan luas yang biasanya digunakan untuk pertunjukan seni di desa itu. Penduduk desa bilang tempat itu didirikan dengan gotong royong dan swadaya dari para warga desa.


Banyak warga yang tidak memiliki televisi, jadi dengan menonton wayang atau ketoprak yang di adakan sesekali oleh warga itu sendiri bisa untuk menghibur mereka yang memang letak desanya terisolasi dari hingar bingar kota.


Warga bemberikan suguhan berupa jagung, ubi, dan singkong rebus yang mereka tanam sendiri.


Hari semakin malam, hujan juga masih mengguyur tak henti. Suara gemercik air terdengar bak alunan lagu. Setelah selesai berdiskusi dengan rencana esok hari akhirnya mereka semua bersiap untuk istirahat. Laki-laki tidur di lantai dan hanya beralaskan tikar yang terbuat dari daun pandan.


Sementara utuk yang perempuan yang hanya berjumlah 6 orang, mereka disediakan sebuah kamar yang letaknya di samping aula itu, sebenarnya kamar itu biasanya digunakan bagi para pemeran seni untuk berganti baju. Penduduk desa memberikan sebuah kasur dan beberapa lembar selimut.


****


Kokokan ayam jago membangunkan Alisya, ia mengucek kelopak matanya berulang kali, dan melihat teman-teman dan adiknya masih tidur semua.


Alisya menggoyang-nggoyangkan tubuh Salisa adiknya. "Bangun dek sudah pagi ayo kita jalan-jalan sebentar mengelilingi desa."


"Heemm. Jagungnya aku minta lagi ka!" Salisa mengigau sambil mengecap-ngecapkan bibirnya.


"Hahaha, astaga Salisa kamu ini pasti mimpi lagi makan jagung gara-gara semalam mau nambah tapi udah habis."


Gelak tawa Alisya yang begitu nyaring sontak membuat seluruh penghuni kamar itu terbangun.


"Alisya kau ini berisik sekali, ini masih gelap, tidurlah lagi." Teriak salah satu temannya merasa terganggu.


"Maaf-maaf." Akhirnya alisya mengurungkan niatnya membangunkan adiknya karna takut suaranya mengganggu teman yang lainnya.


Pagi itu memang masih gelap, tetapi alisya ingin sekali melihat sunrise dan mengabadikannya dengan camera. "Siapa tau jika nanti aku posting foto-foto mengagumkan desa ini ke medsos, akan banyak orang yang mau berkunjung kesini." Pikir Alisya dalam hati.


Alisya ingin sekali membantu warga desa ini untuk meningkatkan perekonomian mereka. Setidaknya dengan memajukan sektor wisatanya.


Alisya merogoh kamera DSLR di dalam tas kemudian mengalungkan di lehernya. Ia juga mengenakan jaket dan sepatunya. Alisya menoleh ke adiknya Salisa yang masih lelap dengan tidurnya. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi sendiri.


Terlihat diaula depan para laki-laki juga masih tidur, Alisya melangkah dengan hati-hati agar tak membangunkan mereka.


Aldo yang mendengar langkah kaki membuka matanya tanpa bereaksi dari posisi tidurnya, ia hanya penasaran siapa yang sudah bangun sepagi ini. Melihat Alisya yang membuka pintu dan berlalu meninggalkan tempat itu Aldo seketika bangun dan diam-diam mengikuti Alisya.


"Mau ngapain Alisya keluar sepagi ini?" Tutur Aldo dalam hati. Akhirnya Aldo mengekor di belakang Alisya tanpa sepengetahuan gadis itu.


Alisya yang berada jauh di depan Aldo sedang sibuk menyusuri jalan setapak menanjak, mencoba mencari spot untuk berburu sunrise.

__ADS_1


Langit mulai terlihat sedikit terang dengan semburat-semburat berwarna jingga. Sepanjang perjalanan Alisya menyusuri jalan setapak dan begitu menikmati suasana pagi yang idah itu, beberapa kali ia berpapasan dengan bapak-bapak yang hendak menuju kebunnya untuk mencangkul.


"Mau kemana neng?" Tanya seorang bapak yang berjalan sambil memanggul sebuah cangkul di bahunya.


"Mau lihat sunrise pak." Jawab Alisya sambil menyunggingkan senyumnya.


"Sunrise itu apa neng? Bapak kok tidak paham?"


"Ooh itu lho pak, maksud Alisya matahari terbit. Mau Alisya foto." Jawab Alisya sambil mengangkat sedikit Camera didadanya. "Kira-kira dimana ya pak biar bisa dapet foto yang cantik?"


"Owalah, baru tau Bapak neng. Maklum wong ndeso. Neng terus aja naik, di depan sana nanti ada batu besar di sampingnya juga ada sebuah gubuk, neng ambil foto dari situ saja, dijamin cantik."


"Iya pak terima kasih."


"Kalau begitu, Bapak berangkat nyakul dulu ya neng."


"Silahkan pak." Jawab Alisya dengan senyuman, kemudian membungkukan badannya.


Alisya melanjutkan langkah kakinya, beberapa saat kemudian tiba-tiba Alisya kehilangan keseimbanganya karna terpeleset jalan yang licin bekas hujan semalam.


"Eh e e e e eh.. Woooaaaa...."


Alisya jatuh tersungkur kebelakang, namun sebelum Alisya terjatuh, sebuah tangan menyangga tubuhnya dari belakang.


Kini tubuh Alisya dipeluk seseorang yang menolongnya itu. Laki-laki itu memeluk dengan erat untuk menyangga tubuh Alisya yang semakin berat.


Dua pasang mata kini bertemu saling bertatapan. Seperti dihipnotis, tatapan itu tak mau berpaling dari wajah mempesona yang mengalihkan dunianya.


"Aldo?"


Begitu sihir itu hilang keduanya terlihat canggung dengan posisi mereka saat ini.


Alisya langsung berusaha berdiri dengan tegap dan menyeimbangkan kembali pijakannya.


"Aldo aku nggak papa kok, kamu boleh melepaskan pelukanmu."


"Eh iya-iya sory." Aldo kelimpungan berusaha menutupi tingkahnya yang masih grogi setelah memeluk Alisya.


"Kamu kok tiba-tiba bisa ada disini sih, trimakasih ya udah nolongin aku, kalau nggak ada kamu mungkin bajuku sekarang sudah kotor kena lumpur" Seru Alisya dengan tatapan polosnya.


"Iya nggak papa, tadi kebetulan aku pas lewat liat kamu oleng jadi langsung lari."


"Ooh. Mau kemana tadi kamu Al?"


"Mau lihat sunrise" Aldo mencari alasan agar tak ketahuan kalau mengikuti Alisya dari tadi. Sebenarnya tadi Aldo juga bertemu dengan bapak yang berpapasan dengan Alisya, Bapak itu bilang kalau temannya ke arah sana mau lihat sunrise.


"Eeh kebetulan sekali, kalau gitu

__ADS_1


ayo kita bareng aja" Saut Alisya dengan girang.


Setiba di tempat yang ditunjukan oleh bapak tadi, mereka duduk berdampingan menunggu moment yang mereka nanti.


"Lain kali kalo mau pergi keluar jangan sendirian, gimana tadi kalo terjadi apa-apa?" Aldo terlihat begitu khawatir dari raut wajahnya.


"Iya-iya maaf" Jawab Alisya dengan sedikit takut, namun sebenarnya Alisya juga merasa senang karna akhir-akhir ini Aldo berubah jadi lebih manis dan begitu perhatian padanya. Walau jailnya juga masih ada sih.


"Aldo coba lihat itu"


Alisya menunjuk pemandangan yang begitu memesona dihadapannya. Dengan sigap Alisya mengambil beberapa foto dari berbagai Enggle yang berbeda.


Sementara Aldo malah terpesona dengan tingkah wanita yang sedang sibuk modar-mandir mencari posisi yang pas untuk mendapatkan jepretan yang bagus itu.


"Berdirilah disitu Alisya, aku akan menganbilkan beberapa foto untukmu."


Aldo mengambil Camera dari tangan Alisya kemudian mundur beberapa langkah untuk mengambil foto Alisya. Sedangkan Alisya berpose menghadap matahari, Aldo mengambil foto sejajar dengan matarahi terbit agar menimbulkan efek siluet.


Foto berikutnya Alisya sengaja mengambil payung yang tadi ia bawa untuk berjaga-jaga jika hujan turun, kemudian Aldo mengarahkan Alisya agar melompat setinggi mungkin dengan posisi seperti sedang melangkah.


Cukup lama mereka mengulang pose kali ini agar mendapatkan foto yang diinginkan. Bukanya merasa lelah justru Alisya begitu menikmati semua tingkahnya kali ini. Mereka tertawa lepas bersama-sama berulang kali melihat hasil cepretan yang dari tadi belum mendapatkan moment seperti yang mereka inginkan.


"Ayo Alisya kita coba lagi, mungkin kali ini kita akan beruntung" Ucap Aldo memberi semangat.


"Baiklah, kamu hitung mundur lagi ya Al"


"Ok, Siap?"


"Tiga,Dua,Hap"


"Alisya melompat sekuat tenaga"


"Woow. Coba lihat hasil kali ini Alisya!"


"Perfecto." Terlihat Alisya bak seorang Gadis cantik yang sedang melayang di atas mega dengan matahari sebagai pijakan kakinya untuk terbang sambil memegang payung di tangannya.


*


*


~Bersambung~


*


*


Jangan lupa vote dan comentnya ya Sayang.. 👌👌👌

__ADS_1


__ADS_2