
Aldo memicingkan matanya ke Arah Alisya yang sedari tadi memperhatikan luka di pahanya.
"Hei gadis mesum. Kamu sudah tak tahan ingin mengetes kehebatan ku ya? Dari tadi liatin paha terbuka saja sampai nggak berkedip."
"Astaga Aldo. Kamu itu yang pikirannya mesum. Aku hanya memperhatikan bekas lukamu." Alisya tampak begitu malu karena kepergok Aldo sedang melihat pahanya yang terekspose dengan celana pendeknya yang meninggi karena dibuat duduk oleh Aldo.
"Aku pakai celana panjang ku dulu lah. Lagi pula rumahmu juga sudah hampir sampai. Bisa-bisa nanti aku diperkosa olehmu jika lama-lama seperti ini."
"Aldo.... Terserah kamu saja lah. Siapa juga yang nafsu cuma gara-gara liat paha berbulu lebat. Lagian mana ada cewek perkosa cowok. Kamu ini bicaranya terlalu ngelantur"
"Hahahaha, Aku nggak bilang loh soal paha berbulu." Aldo tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai Alisya dengan permainan kata-katanya.
Aldo kemudian menepikan mobilnya dan memakai celana panjangnya. Walaupun kakinya masih terasa perih, namun semua itu masih dapat ia tahan. Aldo tak mau terlihat tidak sopan jika bertamu dengan mengenakan celana pendek.
Sementara Alisya menutup mata dengan tangannya, karena begitu malu melihat Aldo memakai celana di hadapannya itu. Aldo tak keluar dari dalam mobil. Ia menyaut celana panjang kain yang ia letakan di bangku belakang dan memundurkan kursi kemudinya agar ia lebih mudah dalam mengenakan celananya itu.
"Sudah selesai, kau boleh membuka matamu. Ayo kita berangkat lagi." Aldo kemudian melajukan mobilnya lagi.
Alisya dan Aldo akhirnya sampai di kediaman Alisya. Aldo memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
"Bukankah itu mobil milik Adrian. Kenapa ada disini. Tadi dia bilang mau langsung ke bandara kan Alisya?"
"Eh iya Aldo. Kamu benar, apakah ka Adrian ketinggalan pesawat? jadi dia kembali lagi kesini ya?"
"Entahlah. Aku juga tidak tau."
Aldo turun dan mengitari mobilnya untuk membukakan pintu untuk Alisya.
Keduanya masuk ke dalam rumah. Semua masih berkumpul di ruang tamu.
"Alisya pulang." Gadis itu langsung mendaratkan tubuhnya duduk di samping mama Maria sambil memeluk wanita itu.
"Eh nak Aldo. Ayo mari ikut duduk ngobrol-ngobrol bersama kami."
"Oh iya tante, Terimakasih." Aldo kemudian ikut duduk di sofa yang kosong. Kali ini pandangannya berpindah ke arah Adrian yang kelihatannya sudah begitu akrab dengan keluarga Antoni.
"Ka Adrian nggak jadi pulang ke Swiss? Katanya tadi buru-buru takut ketinggalan pesawat. Kok sekarang masih disini.? Atau jangan-jangan kaka sudah ketinggalan pesawat ya?"
"Heem. Sebenarnya kaka nggak jadi pulang hari ini Alisya. Ka Adrian sengaja membiarkanmu pulang bersama Aldo karena kaka ingin menyampaikan sesuatu terlebih dulu kepada Om Antoni."
__ADS_1
Alisya mengalihkan pandangannya kepada papa Antoni. "Apa ada yang belum Alisya ketahui? kenapa semuanya tampak aneh bagi Alisya."
Bukanya menjawab pertanyaan putrinya. Antoni justru melemparkan pertanyaan untuk Aldo.
"Aldo, Paman ingin bertanya sesuatu kepadamu. Tolong dijawab dengan jujur."
"Baik Paman. Aldo akan menjawab sejujur-jujurnya."
"Apakah Aldo mencintai Alisya?"
Mata Aldo terbelalak membulat dengan sempurna. Ia benar-benar tak menyangka mendapat pertanyaan tersebut dari Antoni.
"Aldo yakin 100% paman, yang jelas saat ini Aldo sangat ingin menjadi orang pertama bagi Alisya untuk berbagi suka dukanya. Aldo ingin membuat Alisya bahagia dan melihatnya selalu tersenyum. Aldo Mohon kepada paman untuk mempercayakan Alisya kepada Aldo."
"Lalu bagaimana dengan putri Papa? Apakah Alisya juga cinta kepada Aldo?"
"Kenapa papa bertanya seperti itu? Bukankah sebentar lagi Alisya akan menikah dengan ka Adrian."
"Adrian sudah menceritakan segalanya kepada papa. Tadi Adrian juga sudah bilang, jika akan membatalkan pernikahan kalian."
"Membatalkan pernikahan? Apakah itu benar ka Adrian? Tapi kenapa? Apakah Alisya berbuat kesalahan?"
Alisya terdiam seribu bahasa. Ia memikirkan semua perkataan dari Adrian itu. Alisya mulai berkaca-kaca, setelah mendengar pernyataan dari Adrian.
"Alisya sangat beruntung bisa mengenal orang seperti ka Adrian. Jika memang kita tak jadi menikah, bolehkah Alisya menganggap ka Adrian sebagai kaka laki-lakiku?"
Adrian melebarkan senyumannya. "Tentu saja Alisya. Karena Om Antoni juga sudah mengangkat ku sebagai anak tertuanya. Benar kan Om?"
Antoni menganggukkan kepalanya, sembari tersenyum ia juga ikut terharu melihat kejadian langka yang sedang berlangsung didepannya itu.
Alisya kemudian memeluk Adrian. Hatinya begitu bahagia. Semua beban dan momok yang selama ini menghantui dirinya telah lenyap. Alisya mengalihkan pandangannya ke arah Aldo yang juga terlihat sangat bahagia. Tanpa Alisya sadari matanya meneteskan air mata kebahagiaan.
Setelah sesi berpelukan itu selesai, Adrian memposisikan tubuhnya menghadap ke arah Aldo.
"Untuk kamu Aldo. Kamu jangan terlalu senang dulu, Karena aku akan selalu mengawasi mu. Jika sampai sekali saja aku melihatmu membuat Alisya menangis. Atau kau membuat hidup Alisya menjadi sengsara. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan merebut kembali Alisya darimu. Kamu harus berjanji kepadaku bahwa kau akan selalu membuat Alisya bahagia. Apa kau mengerti?"
"Baiklah Adrian. Aku berjanji kepadamu. Akan aku buktikan semuanya kepadamu." Kemudian Adrian dan Aldo juga saling berpelukan dan saling menepuk bahu satu sama lain.
"Wah, senangnya hati Salisa kali ini. Akhirnya kakakku yang cantik ini bisa bersatu dengan kekasih hatinya dan mendapatkan restu dari semua orang. Kalau begitu kita sudah bisa menentukan kapan hari pernikahannya kan ka?"
__ADS_1
"Kau ini, ada-ada saja. Kaka kan jadi malu." Alisya kemudian juga berpelukan dengan adik kesayangannya itu.
"Kamu benar sekali Salisa. Sebaiknya Aldo segera mengajak Rahma dan juga Winata untuk melamar Alisya." Tutur Mama Maria yang sedari tadi juga berkaca-kaca ikut merasakan kebahagiaan putrinya. Maria dari dulu sudah tau jika putrinya itu sebenarnya menaruh hati kepada Aldo.
"Baiklah tante. Aldo akan segera mengabarkan kabar bahagia ini kepada mereka. Aldo akan secepat mungkin datang kembali ke rumah ini beserta dengan keluarga untuk meminang Alisya."
Seisi rumah itu kini dipenuhi dengan senyuman bahagia. Terutama untuk pasangan Alisya dan Aldo yang dari dulu saling menahan diri dengan perasaannya. Semua dinding penghalang dan jurang pemisah antara mereka sudah musnah.
Aldo merasa tak sabar untuk mengabarkan kabar bahagia itu kepada keluarganya. Ia begitu bersyukur akhirnya Tuhan mendengar doanya selama ini dan membukakan jalan keluar bagi mereka berdua.
"Aku tak menyesal dengan semua rasa sakit yang ku tahan saat ini. Walaupun kakiku masih terasa perih ditambah gesekan dari kain celana ini membuat kulitku semakin panas dan perih. Tetapi semua rasa sakit ini setimpal dengan apa yang aku dapatkan saat ini."
"Bagaimana kalau kita merayakan kebahagiaan ini dengan makan malam bersama? Kaka mau kan membuatkan masakan terlezat untuk kami semua?" Tutur Salisa dengan penuh semangat.
Alisya mengusap air mata harunya dan mengangguk tanda menyetujui ide dari adiknya itu.
"Sudah-sudah, jangan menangis lagi. Ayo ka Alisya, Salisa juga akan ikut membatu membuatkan masakan terlezat untuk semuanya. Kali ini Mama duduk manis disini saja ya! biarkan Salisa dan kaka yang menghandle semua pekerjaan di dapur."
Salisa kemudian mengajak Alisya untuk beranjak dan menuju ke dapur untuk memasak.
"Apakah aku boleh ikut? Aku juga ingin membantu memasak untuk kalian. Aku ingin berterimakasih kepada kalian semua dengan membatu menyiapkan makan malam ini" Ucap Aldo yang sudah ikut berdiri agar diperbolehkan kedua gadis yang sudah lebih dulu beranjak dari tempat duduknya itu.
"Ya sudah. Kamu gantikan Tante Maria untuk membantu mereka. Kami bertiga akan ngobrol santai disini sambil menunggu hidangan makan malamnya siap."
"Terimakasih Tante." Aldo kemudian mengekor kedua gadis itu menuju ke dapur.
Alisya, Salisa dan Aldo kemudian saling bekerjasama untuk membuat hidangan spesial untuk makan malam kali ini.
Sesekali Alisya tersenyum melihat Aldo beberapa kali mendesis karena sebenarnya sedari tadi menahan rasa sakit di pahanya. Alisya juga tertegun melihat kesungguhan Aldo dalam membatu menyiapkan makan malam itu.
*
*
~Bersambung~
*
*
__ADS_1