CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
MENCOBA BERDAMAI


__ADS_3

Siang itu Salisa terbangun dari tidurnya. Saat ia membuka matanya tepat di hadapannya sesosok wajah pria tampan tepat berada di depannya. Salisa dapat melihat dengan jelas betapa bersih dan mulusnya wajah laki-laki di hadapannya itu. Wajah putih tanpa jerawat yang mungkin saja akan membuat banyak wanita yang iri melihatnya.


Salisa memandangi wajah itu dengan cukup lama. Ia ingat jika kemarin dirinya masih duduk di kursi sambil sesekali mengompresnya. Salisa kemudian tersenyum karena pasti Jacob yang telah memindahkannya ke ranjang.


Jacob merenggangkan tubuhnya dan bangun. Sepertinya rasa laparlah yang membuat keduanya terbangun. Bahkan sekarang sudah jam satu siang. Pasti para pelayan di rumah itu juga tidak berani membangunkan majikannya.


Kini giliran Jacob yang memandangi wajah Salisa. Ternyata karena gugup, Salisa kembali memejamkan matanya dan pura-pura masih tidur.


Jacob memandangi Salisa cukup lama. Jacob bahkan sempat menyibakkan rambut Salisa yang menjuntai ke depan. "Terimakasih Salisa, kamu sudah merawatku saat aku sedang sakit. Kamu jadi mengingatkanku akan masa kecilku yang amat bahagia. Dulu ibuku juga akan membuatkan minuman herbal sepertumu saat aku sedang sakit." Jacob kemudian terdiam sejenak mengenang masa kecilnya itu.


Saat itu Jacob merasa sedih sekaligus merasa senang. Jacob sedih karena setelah kecelakaan yang merenggut kedua orang tuanya, Jacob tak pernah lagi merasakan kasih sayang dan perhatian orang tua yang sangat ia rindukan. Akan tetapi kali ini Jacob juga merasa sedikit senang berkat Salisa yang merawatnya dengan begitu sabar.


Jacob kemudian bangun dan membenahi selimut Salisa yang tak lagi pada tempatnya. Setelah itu Jacob kemudian beranjak dan keluar dari kamar untuk makan siang.


Setelah terdengar pintu kamar tertutup, Salisa kemudian bangun. Perutnya juga lapar akan tetapi entah mengapa Salisa tidak mau bertemu dengan Jacob yang akan membuatnya merasa canggung. Salisa ingat betul kejadian tadi saat Jacob menyibakkan rambutnya dan kemudian mengusap pipinya dengan lembut.


"Apakah resep obatku itu bisa merubah sifat orang yang tadinya begitu menyebalkan jadi super lembut dan pengertian. Bahkan dari kemarin aku selalu mendengar ucapan terimakasih dari Jacob yang jarang sekali aku dengar." Salisa dibuat bingung dengan perubahan sikap Jacob kepadanya.


Salisa berencana untuk pergi turun setengah jam lagi. Mungkin saja Jacob sudah selesai makan siang dan ia tidak perlu semeja dengan laki-laki yang baru saja tidur seranjang dengannya. Hangatnya tangan Jacob saat menyentuh pipinya saja masih terasa dan membuat Salisa menahan dirinya untuk tetap tenang dan tak membuat Jacob sadar jika sebenarnya ia sudah bangun sedari tadi.


Salisa sudah menunggu cukup lama di dalam kamar. Bahkan rasa laparnya kini sudah tak bisa di tahan lagi. Akhirnya Salisa memutuskan untuk bangun dan keluar dari kamarnya.


Sayangnya niatnya ia batalkan ketika mendengar derap langkah kaki yang menuju ke kamarnya. Salisa langsung menyaut buku yang ada di meja kecil disamping tempat tidurnya dan pura-pura sedang membaca buku.


Ceklek,


Terdengar suara pintu dan dibarengi dengan kemunculan Jacob yang membawa sebuah nampan dari balik pintu.


"Kamu sudah bangun Salisa? Kebetulan sekali. Aku sudah menyiapkan makan siang untukmu. Ayo turunlan dari ranjang dan segera kemari." Ucap Jacob yang sudah meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja dan segera duduk di atas sofa.


"Ah iya Jacob. Terimakasih, sebentar lagi aku akan memakannya. Tapi biarkan aku menyeesaikan satu bab Novel yang sedang aku baca. Kamu tak perlu menungguku, jika ingin keluar maka keluar saja. Lakukan kegiatan yang kamu suka." Jawab Salisa dengan sedikit gugup.


Jacob tersenyum dan malah mendekati Salisa dan ikut duduk di pinggiran ranjang. "Novel apa yang sedang kamu baca?" Tanya Jacob dengan tatapan yang misterius.


"I..i..ini Novel tentang cinta. Aku sedang mencari inspirasi dari Novel-novel percintaan agar aku dapat lebih menjiwai dan mendapatkan feeling yang tepat untuk karyaku nanti." Jawab Salisa semakin dibuat gugup sampai ia berkata dengan terbata-bata.


"Ah brgitu ya ternyata.Tapi aku sangat kagum padamu Salisa. Aku bahkan sempat dibuat begitu terkesima sesaat karenamu."


"Apa maksud dari perkataanmu Jacob? Aku tak bisa memahaminya dengan baik." Tanya Salisa yang dibuat bingung oleh perkataan Jacob.


"Kamu itu manusia super ya? Kamu bahkan bisa membaca dengan buku yang terbalik." Kata Jacob sambil memutar buku yang sedang di pegang Salisa.


Salisa merasa sangat malu dan tak bisa berkata-kata lagi. Jika ia saat ini adalah burung unta, maka Salisa pasti sudah membenamkan kepalanya ke dalam tanah.


"Jangan di pikirkan lagi. Aku hanya bercanda. Ayo makan dulu. Aku tidak mau jika anakku sampai kelaparan karenamu." Ucap Jacob sambil menarik tangan Salisa dan mengajaknya duduk di sofa.

__ADS_1


Salisa yang masih setengah mati dibuat malu dengan perpuatan konyolnya sendiri hanya bisa menurut dan memasang muka temboknya. Salisa langsung melahap makan siangnya tanpa bersuara.


Jacob sendiri pura-pura tak terjadi apa-apa dan mengalihkan perhatiannya dengan bermain ponsel agar salisa bisa sedikit lebih santai dan tak mengingat kelakuannya yang memalukan.


Jacob tau jika mungkin saja tadi Salisa kaget dengan kemunculannya yang tiba-tiba dan takmengetuk pintu terlebih dulu.


"Setelah ini ikutlah denganku Salisa. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."


"Mau kemana kita? Bukankah kamu masih tidak enak badan dan harus istirahat."


"Aku sudah baik-baik saja Salisa. Bahkan sekarang aku merasa lebih sehat dari sebelumnya. Semua ini berkat kamu yang merawatku dengan baik. Untuk itu aku perlu berterimakasih padamu." Ucap Jacob meyakinkan Salisa.


"Baiklah, kalau begitu tunggu aku menghabiskan semua ini. Aku juga sudah merasa bosan karena dari kemarin terus saja berada di dalam kamar untuk menjagamu." Jawab Salisa dengan nada datarnya.


Setelah selesai makan, Jacob mengajak keluar Salisa dengan menaiki mobil. Ternyata Jacob mengajaknya ke pusat perbelanjaan.


"Untuk apa kita kemari Jacob?"


"Tentu saja untuk memberikanmu hadiah. Cepat katakan padaku kamu menginginkan apa? Aku akan membelikannya padamu."


"Aku tidak membutuhkan hadiah Jacob. Ayo kita ke tempat lain saja." Bujuk Salisa yang tak ingin memanfaatkan kebaikan Jacob kali ini.


"Ayolah Salisa. Aku melakukan ini karena kamu sudah merawatku sampai sembuh. Anggap saja aku membayar seorang Dokter yang telah mengobati pasiennya."


"Aku bilang tidak perlu Jacob. Aku melakukan semua itu juga tidak mengharap imbalan darimu. Itu semua karena aku hanya kasian dan tidak ingin jika sampai nantinya kamu menulari aku dan membuat aku juga ikut sakit." Ucap Salisa yang memang tak menginginkan hadiah ataupun imbalan.


"Aku yakin kali ini kamu pasti tidak akan menolak pemberianku. Karena aku yakin kamu pasti sangat membutuhkannya."


Jacob membawa Salisa ke toko dengan yang meyediakan berbagai kebutuhan ibu dan bayi. Sesuai dengan nama di depan toko itu. Mom's and Kids, begitulah si pemilik menamainya.


"Untuk apa kita kemari. Apakah kamu belum pernah mendengar jika pamali membelikan berbagai keperluan bayi jika belum melewati tujuh bulan dari masa kehamian?"


"Benarkah? Tapi aku mengajakmu kemari bukan untuk membeli perlengkapan bayi. Aku kesini ingin mencarikanmu beberapa baju hamil. Aku lihat ahkhi-akhir ini tubuhmu semakin berisi dan membuat baju-bajumu menjadi semakin ketat dan kekecilan. Pasti kamu merasa tidak nyaman akan hal itu."


"Apa? Jadi selama ini kamu memperhatikan tubuhku. Dasar laki-laki cabul." Ucap Salisa sambil memalingkan wajahnya.


"Siapa juga yang memperhatikanmu. Tapi kamu memang selalu ada di dekatku, mana mungkin aku tidak menyadari perubahan bentuk tubuhmu. Lihatlah kancing bajumu ini, mungkin saja sebentar lagi akan putus karena terlalu sesak. Apakah kamu sengaja ingin memperlihatkan isinya kepadaku." Kata Jacob dengan santainya.


"Jacob. Kenapa kamu terlalu terang-terangan seperti itu. Tak bisakah kamu menggunakan kata-kata yang lebih sopan." Teriak Salisa sambil menatap Jacob dengan mata yang membulat dengan sempurna.


"Jadi aku harus berkata seperti apa? Karena memang kenyataannya seperti itu. Lihat lah ini aku bahkan bisa sedikit mengintip kedalamnya." Kata Jacob dengan menunjuk ujung dada Salisa yang sedikit menganga karena kemeja yang terlalu ketat dan membuat jarak diantara kancing bajunya sedikit terbuka.


Salisa langsung menjauhkan tangan Jacob yang menunjuk-nunjuk bagian depan dadanya. "Kamu ini keterlaluan sekali Jacob. Aku baru tau jika sebenarnya semua laki-laki itu sama kelakuannya.


"Hei, jangan bicara seperti itu Salisa. Lagi pula aku hanya menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi. Jadi jangan samakan aku dengan semua laki-laki bangs*t yang pernah menyakitimu." Kata Jacob tak terima dengan tuduhan Salisa.

__ADS_1


"Jika kamu tidak mau ya sudah. Maka kamu memang sengaja ingin memperlihatkan lekuk tubuhmu kepadaku." Imbuh Jacob untuk mendapatkan persetujuan Salisa.


"Baiklah-baiklah aku akan membeli baju hamil yang besar-besar agar matamu itu tak lagi berbinar-binar ketika melihatku." Jawab Salisa dengan sedikit malu.


Salisa akhirnya mengambil beberapa daster dan baju hamil yang terpajang di dalam toko itu. Jacob juga memilihkan beberapa baju untuk Salisa.


Selesai memilih baju, Salisa kemudian menunggu Jacob yang sedang membayar di kasir dengan melihat-lihat beberapa mainan anak-anak dan juga baju-baju kecil yang dirasa begitu imut dan menyita perhatiannya.


"Apakah kamu sudah tidak sabar untuk membelinya Salisa?" Tanya Jacob yang ternyata sudah berdiri di belakang Salisa.


"Tidak, aku hanya penasaran saja. Ayo kita pulang." Jawab Salisa kemudian.


"Untuk apa terlalu buru-buru. Bukankah kamu tadi bilang jika kamu sedang merasa bosan di rumah. Bagaimana jika sekarang kita Nonton beberapa film sambil menunggu jam makan malam. Lagi pula sudah lama sekali aku juga tak menghibur diri dengan sedikit bersantai. Karena hari ini aku sudah ijin tak masuk kerja, maka aku akan menggunakan sedikit waktuku ini untuk menikmatinya."


"Emm kalau begitu ijinkan aku yang memilih film apa yang akan kita tonton. Apakah kamu keberatan?"


"Baiklah, aku akan mengikuti selera film yang kamu suka."


Jacob dan Salisa akhirnya menonton film komedi bersama. Di bioskop mereka dibuat tertawa dengan aksi para aktris dan aktor komedian yang selalu dapat mengocok perut mereka.


Puas berjalan-jalan dan menonton, akhirnya Salisa dan Jacob memutuskan untuk pulang ke rumah. Bahkan mereka juga makan malam bersama di sebuah resto dengan menu khas negara Jepang yang sungguh nikmat.


Setiba di rumah, Salisa langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang karena lelah. Ternyata Jacob juga melakukan hal yang sama dengan membaringkan tubuhnya di samping Salisa.


"Hei, apa yang sedang kamu lakukan? Bukankan sekarang ini tempat tidurmu sudah pindah di sofa." Ucap Salisa yang mendorong tubuh Jacob hingga nyaris membuat tubuh laki-laki itu terjatuh.


"Ayolah Salisa. Apakah kamu ini tidak bisa sedikit membagi tempat tidur ini denganku? Apakah kamu tidak kasihan kepadaku? Bukankah kemarin baru semalam aku tidur di sofa tapi hal itu sudah membuatku jatuh sakit. Jika seperti itu terus mungkin saja nanti aku akan mati muda." Rengek Jacob yang tidak ingin merasakan tidak nyamannya tidur di sofa yang keras dan sempit hingga tak bisa membuatnya bisa tidur dengan lelap.


"Hahaha, bukankah jika kamu mati aku akan sangat bahagia. Jadi mulai hari itu aku tidak perlu bertemu denganmu yang sering menindasku." Jawab Salisa ketus.


"Tega sekali kamu Salisa. Bukankah hari ini aku sudah mengajakmu jalan-jalan dan juga menonton. Aku bahkan juga telah membelikanmu beberapa baju baru." Pinta Jacob semakin memelas.


"Oh jadi semua itu rencanamu untuk menyuapku? Bagaimana aku bisa memperbolehkan seorang laki-laki untuk tidur bersamaku setiap malam hanya karena sogokan darimu dengan beberapa potong kain. Tidak mau. Pokoknya aku tidak akan mengijinkanmu untuk tidur di sini. Jangan-jangan nanti kamu akan memanfaatkan kesempatan untuk merayuku. Asal kamu tau saja Jacob. Aku tidak akan mudah tertipu oleh kebaikan laki-laki."


"Baiklah. Kalau begitu biarkan saja aku tidur di sofa dan jadi sakit-sakitan dan mati muda.Tapi jangan salahkan aku jika suatu saat nanti anak yang dalam kandunganmu itu bertanya kepadamu dimana ayahnya."


"Kamu jangan menakut-nakuti aku Jacob. Baiklah-baiklah, mulai malam ini kita akan berbagi tempat tidur. Tapi ingat! Jangan sampai kamu melewati batas ini." Ucap Salisa dengan meletakkan sebuah guling sebagai pemisah untuk mereka.


"Setuju. Lagi pula siapa yang ingin memanfatkan keadaan. Aku rasa kamu sebagai wanita sudah terlaku tinggi memandang dirimu sendiri Salisa." Ucap Jacob sambil memalingkan tubuhnya dan menyelimuti tubuhnya membelakangi Salisa.


*


*


~Bersambung~

__ADS_1


*


*


__ADS_2