
Pagi itu sudah menunjukan pukul 09.00 akan tetapi baik Salisa maupun Jacob belum ada yang bangun. Sepertinya Salisa masih terlalu mengantuk karena semalam ia harus begadang mengurusi Jacob yang mabuk dibuat oleh Mamanya Maria. Salisa tau betul jika Mamanya tak begitu menyukai Jacob karena Mama Maria beranggapan bahwa Jacob mau menikah dengan Salisa bukan karena cinta, melainkan hanya untuk kepentingannya sendiri.
Jacob juga belum ingin bangun karena efek mabuk semalam yang membuat kepalanya pusing. Hal itu membuatnya tak ingin beranjak dan selalu mengurungkan niatnya setiap kali terbangun dari tidurnya karena alarm yang ia pasang.
Bunyi ponsel Jacob kembali berdering, tapi kali ini bukanlah bunyi alarm lagi, melainkan bunyi panggilan masuk. Dengan terpaksa Jacob bangun dan mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya. Selama ini Jacob hanya menyimpan nomor-nomor penting saja. Jadi Jacob tau bahwa panggilan ini adalah panggilan penting untuknya.
Ternyata benar dengan apa yang diprediksikan Jacob. Orang yang menelponnya adalah Anita sekretaris barunya. Anita mengingatkan Jacob bahwa siang ini ada agenda rapat penting dengan klien dari calon investor perusahaannya.
Setelah menerima panggilan itu Jacob kemudian melirik ke arah jam dinding. "Untung saja aku masih punya waktu empat jam lagi sebelum rapat itu dimulai. Sepertinya aku harus segera mandi dan mengecek kembali seluruh data dan proposal yang sudah aku siapkan." Gumam Jacob yang kemudian beranjak menuju ke kamar mandi.
Jacob merasa sedikit aneh dengan baju yang dikenakannya. Karena ia tak mengingat bahwa ia memilih baju yang sudah lama sekali tak ia pakai itu untuk dipakainya kembali. Saat itu Jacob ingat dengan kejadian semalam dan melanjutkan kembali persiapan mandinya.
Pagi itu Jacob berniat untuk berendam sebentar di air hangat dengan memakai esens lavender kesukaannya. Hal itu sering Jacob lakukan ketika dirinya merasa pusing dan penat. Setelah bak air terisi penuh, Jacob segera merendam tubuhnya hingga kepalanya saja yang terlihat.
"Aah wangi sekali. Dengan begini pusing di kepalaku pasti pasti akan sedikit berkurang." Ucap Jacob sambil berkali-kali menghirup nafas panjang untuk mencium aroma lavender yang sudah ia campurkan dalam air hangatnya.
Tiba-tiba Jacob dibuat penasaran dengan keranjang sampah yang berada di pojokan kamar mandi. Keranjang sampah itu berisi setelan baju barunya yang sengaja ia beli untuk berkunjung ke acara makan malam kemarin.
"Kenapa aku membuang bajuku?" Gumam Jacob kebingungan. Kali ini Jacob juga mulai mencium aroma tak segar yang membuatnya kehilangan mood mandinya. Jacob kemudian menghampiri keranjang sampah itu dan mendapati noda muntahan di bajunya itu.
"Ternyata dari sini bau tak sedap itu." Gerutu Jacob sambil melempar kembali bajunya ke dalam keranjang sampah. "Tunggu dulu, kenapa ada noda muntahan di bajuku?" Jacob berusaha mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi dengannya tadi malam.
"Astaga, semalam..." Jacob mulai mengingat sepotong demi sepotong ingatannya mengenai kejadian apa yang telah menimpanya. Jacob tersenyum ketika mengingat bahwa Salisa lah yang membatunya lagi untuk bisa kembali dengan selamat saat dirinya mabuk berat.
Jacob terhuyung lemas dan tak bisa menyeimbangkan tubuhnya saat dirinya mengingat secuil ingatannya ketika Salisa membantunya melepas bajunya dan memandikannya. Jacob melihat batup yang baru saja ia gunakan untuk berendam. Hal itu semakin membuat ingatannya semakin jelas bahwa semalam Salisa memang memandikannya bahkan juga mengenakan baju untuknya.
Kini Jacob mendapat jawaban atas baju yang tak pernah lagi ia pakai itu bisa melekat di tubuhnya. Jacob buru-buru mengenakan baju dan ingin segera meminta penjelasan kepada Salisa mengenai potongan ingatan- ingatan cabulnya itu. Jacob mengira bahwa Salisa sengaja melakukan hal itu untuk bisa menikmati tubuhnya.
Jacob keluar dari kamar mandi dan mendapati Salisa masih tertidur dengan nyenyak. "Bagaimana ini? Jika aku menunggu Salisa bangun bisa-bisa aku akan telat mendatangi rapat siang ini." Jacob merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Akan tetapi rasa penasaran itu sudah begitu memuncak. Itu semua karena Jacob tak bisa mengingat kejadian semalam dan hanya mengingat beberapa potongan saja.
Jacob kemudian berinisiatif untuk membangunkan Salisa dengan menelpon Salisa. Mungkin saja Salisa akan langsung terbangun seperti dirinya ketika mendengar bunyi panggilan masuk di ponselnya. Jacob mengambil ponselnya dan mencari nama dari wanita yang kini berstatus istrinya itu.
__ADS_1
"Kenapa tidak ada? Apakah aku memberi nama yang berbeda untuk menyimpannya? Ah tidak mungkin aku memberi nama berbeda untuk menyimpannya. Itu bukan gayaku." Ucap Jacob dengan mencoba sekali lagi menemukan kontak milik Salisa.
Ternyata Jacob baru ingat bahwa dirinya bahkan belum menyimpan kontak dari Salisa. Jacob kemudian mencoba mencari bantuan kepada Aldo untuk mengirimkan kontak Salisa. Jacob beralasan bahwa ia salah pencet dan tak sengaja menghilangkan kontak Salisa.
Aldo sebagai Kaka ipar sekaligus teman dari Jacob tentu saja tak keberatan dengan hal itu. Aldo mengirimkan kontak Salisa kepada Jacob dan tak mencurigai perkataan Jacob yang mengaku bahwa Salisa sedang pergi bersama dengan temannya dan meminta untuk di jemput.
Setelah mendapatkan kontak Salisa, Jacob segera menyimpannya dengan nama Kelinci gunung pada ponselnya. Kali ini sepertinya Jacob telah menjilat kembali perkataannya bahwa ia tak mungkin menggunakan nama-nama aneh untuk menyimpan nama kontak di ponselnya.
Jacob kemudian menekan warna hijau pada ponselnya untuk memanggil Salisa. Jacob pura-pura tak melakukannya dan menyembunyikan ponselnya di balik buku yang saat ini sedang ia pegang untuk menutupi ponselnya. Jacob tidak ingin ketahuan oleh Salisa jika dirinyalah yang sengaja menelfon Salisa untuk membangunkannya.
Benar sekali tebakan Jacob. Salisa terlihat menggeliat dan meraba-raba meja di sampingnya untuk mengambil ponselnya. Sepertinya Salisa mengintip sedikit siapa yang sedang menelponya. Karena tidak ada nama Salisa mengabaikannya dan kembali tidur.
"Baiklah Salisa, mari kita lihat kamu bisa tahan dengan suara bising yang aku siapkan untukmu." Gumam Jacob yang kemudian menekan kembali ponselnya untuk menelfon Salisa lagi.
Salisa meraih ponselnya dan menggeser icon hijau di ponselnya dan menempelkan ponselnya di dekat telinganya. "Hallo" ucap Salisa yang masih mengantuk. Tapi ternyata tak ada suara yang membalas sapaannya.
Salisa kembali menaruh ponselnya di atas meja. Namun baru saja ia akan kembali tidur, ponselnya sudah berdering kembali. Hal itu membuat Salisa mau tidak mau kembali bangun dan mengangkat ponselnya.
Kali ini Salisa hanya diam dan menunggu suara yang mungkin saja akan segera teedengar dari ponselnya. Karena merasa dikerjai, Salisa kemudian sengaja menonaktifkan ponselnya.
Saat ingin kembali berbaring, Salisa melirik ke arah Jacob yang ternyata sudah bangun dan terlihat sesang duduk santai di atas ranjangnya sambil membaca sebuah buku. "Kenapa Jacob kelihatan santai sekali. Apa dia belum mengingat kejadian semalam?" Gumam Salisa sedikit penasaran.
"Kamu sudah bangun Salisa?" Sapa Jacob kepada Salisa yang masih duduk di sofa yang juga sebagai tempat tidurnya itu. "Kenapa kamu baru bangun? Biasanya kamu akan selalu bangun pagi Salisa?" Tanya Jacob untuk memancing Salisa berbicara.
"Bagaimana aku bisa bangun pagi jika semalam aku begadang karena mengurusimu." Gerutu Salisa tak senang. "Apakah kamu tidak mengingat mengenai kejadian semalam Jacob?"
"Mengingat apa?" Tanya Jacob berpura-pura tak tau dengan apa yang dimaksud Salisa.
"Kamu benar-benar tak mengingatnya Jacob? Semalam kamu mabuk berat dan menyusahkanku lagi. Aku bahkan harus membantumu mengganti pakaian dan juga mandi. Seharusnya sekarang kamu harus berterimakasih padaku." Ucap Salisa menjelaskan panjang lebar kepada Jacob.
"Apa? Kamu memandikanku? Jangan-jangan kamu sengaja memanfaatkan ketidaksadaranku agar kamu bisa menikmati tubuhku ya? Jangan bilang kamu rindu dengan tubuhku yang kekar ini dan sengaja melakukan hal itu untuk kepentinganmu sendiri. Ayo mengakulah Salisa?"
__ADS_1
"Kamu ini menyebalkan sekali Jacob. Mana mungkin aku melakukan semua itu untuk kepentinganku. Seharusnya tadi malam aku membiarkanmu tidur dengan baju yang kotor dan penuh dengan muntahan yang menjijikan itu."
"Ayolah Salisa, jangan mengelak lagi. Aku tau jika kamu ketagihan ingin menyentuh ototku yang kekar ini bukan?" Ucap Jacob yang sengaja ingin membuat Salisa canggung karenanya. Dengan begitu mungkin Salisa akan memaksa Kakeknya untuk mengijinkannya pindah kamar.
"Aku sudah menduga jika mungkin saja kamu akan mengucapkan kata-kata tak bermoral itu kepadaku Jacob. Untuk itu aku sudah menyiapkan senjata untuk melawanmu." Kata Salisa yang kemudian menyalakan kembali ponselnya yang tadi sempat ia matikan karena nomor asing yang mengerjainya.
Salisa membuka folder galeri dan menunjukan sebuah vidio kepada Jacob. "Lihat vidio ini baik-baik. Setelah itu aku yakin kamu akan merasa malu dan segera meminta maaf kepadaku." Ucap Salisa begitu geram dengan kelakuan Jacob yang menuduhnya dengan tuduhan yang tidak masuk akal.
Jacob melihat vidio yang diberikan Salisa dengan begitu cermat. Di sana Jacob melihat betapa Salisa terlihat kesulitan karenanya. Jacob menahan tawanya ketika melihat Salisa merasa begitu jijik dengan noda muntahannya hingga mau muntah dan tak ingin melanjutkannya lagi. Jacob merasa sedikit bersalah dan simpati kepada Salisa yang mengurusinya dengan kesungguhan hati. Jacob tersenyum ketika melihat Salisa yang berinisiatif menggunakan penutup mata dan terlihat begitu canggung ketika sedang memandikannya.
Karena tak ingin harga dirinya hancur karena kejadian yang memalukan itu. Jacob sengaja tak ingin meminta maaf ataupun berterimakasih kepada Salisa. Jacob malah berniat melanjutkan sandiwaranya di depan Salisa.
"Kamu ini lucu sekali Salisa. Bukankah kamu sengaja membuat vidio ini agar kamu bisa memutar kembali vidio fulgarku berulang kali. Walaupun semalam kamu berkedok menggunakan penutup mata agar tak ketahuan dengan pikiran cabulmu itu, tapi bukankah kamu tetap bisa melihat tubuh polosku dengan melihat vidio ini." Kata Jacob yang tak ingin mengakui kesalahannya.
"Hah. Enak sekali kamu bicara. Aku bahkan tak akan membuka vidio itu selamanya. Kembalikan ponselku. Akan aku hapus vidio ini di depanmu." Kata Salisa dengan emosinya.
"Hahaha. Biarkan aku yang menghapusnya untukmu. Aku tidak akan percaya kepadamu." Jacob terlebih dulu mengirimkan vidio itu ke ponselnya sebelum ia benar-benar menghapusnya.
"Jangan bilang jika kamu telah membacupnya Salisa." Kata Jacob sambil menyerahkan kembali ponsel milik Salisa.
"Terserah saja apa katamu, aku lelah harus berbicara dengan orang dungu sepertimu. Jika lain kali aku medapatimu mabuk dan muntah-muntah seperti itu lagi maka aku akan membiarkanmu begitu saja. Aku juga berharap jika kamu mabuk berat sampai tak bisa pulang dan ditangkap satpol PP karena berkeliaran di jalan. Jika perlu kamu tidak perlu kembali lagi ke rumah. Maka aku akan sangat senang dibuatnya." Ucap Salisa dengan penuh penekanan.
Salisa kemudian meninggalkan kamar itu begitu saja dan membanting pintu dengan begitu keras. Salisa pergi ke taman belakang rumah untuk menenangkan dirinya yang dibuat emosi dengan kelakuan Jacob yang tak tau diri dan malah menuduhnya dengan sebutan cabul itu.
Sementara di dalam kamar, Jacob dibuat terkejut dengan respon Salisa kali ini. Jacob merasa sepertinya kali ini tindakannya sedikit keterlaluan dan membuat Salisa bisa marah sampai sebegitunya.
"Apakah kali ini aku benar-benar tak tau berterimakasih dan malah sangat keterlaluan kepada Salisa?" Jacob menyesali perbuatannya dan kebingungan bagaimana cara agar ia bisa meminta maaf dan berbaikan dengan Salisa.
Jacob memutar kembali vidio yang sempat ia kirim dari ponsel Salisa. Jacob melihat jika Salisa begitu tulus membatu dirinya. Jacob melihat ke arah sofa yang menjadi tempat tidur Salisa selama ini. Bahkan saat ini Jacob dibuat sadar jika dirinya memang keterlaluan dengan membiarkan seorang wanita hamil tidur di atas sofa. Sedangkan dirinya sebagai laki-laki yang sehat dan bugar malah tidur di kasur yang begitu nyaman itu.
"Haruskah sekarang aku mencari Salisa dan meminta maaf kepadanya. Tapi sebentar lagi aku harus bersiap siap untuk pergi ke kantor untuk pertemuan penting yang sama sekali tak bisa aku tinggal ataupun aku tunda lagi." Jacob merasa kebingungan harus berbuat apa untuk bisa mendapatkan maaf dari Salisa. Akhirnya Jacob mendapatkan sebuah ide. Jacob mengambil kertas notes dan menuliskan beberapa kata di atasnya. Jacob kemudian menempelkan kertas-kertas itu di tempat yang mudah dilihat oleh Salisa.
__ADS_1
Jacob segera berganti pakaian kerja dan menuju ruang kerjanya. Setelah membereskan berkas-berkas yang ia butuhkan. Jacob kemudian bergegas mengambil mobilnya dan melajukannya ke tempat kerjanya.