
Salisa dan Jacob baru saja sampai di rumah mereka. Kakek Wisnu sepertinya suja juga sudah tidur, jadi Salisa dan Jacob langsung menuju ke kamar mereka.
Mereka bergantian membersihkan diri dengan mandi. Sudah jadi kebiasaan Jacob jika sehabis mandi selalu tak mengenakan pakaiannya di kamar mandi. Seperti biasa Jacob pasti akan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Jika sudah seperti itu, Salisa akan tutup mata atau memilih keluar kamar sebentar sampai kira-kira Jacob sudah selesai berpakaian.
Salisa yang lebih dulu mandi sudah bersiap untuk tidur dengan mengenakan piyama kesukaannya yang bergambar pororo. Salisa yang mendengar bunyi pintu kamar mandi terbuka langsung menutup mata agar tak melihat Jacob yang selalu dengan santainya memakai baju di dalam kamar. Setelah Jacob selesai mengenakan bajunya, ia kemudian membaringkan tubuhnya di samping Salisa.
"Hah benar juga, mulai kemarin malam kan kami sudah sepakat untuk berbagi ranjang. Kenapa aku bisa lupa." Gumam Salisa yang merasakan keberadaan Jacob disampingnya.
"Bahkan aku lupa untuk menaruh guling sebagai pembatas. Bagaimana ini? Apakah aku harus bangun dan meletakan guling sebagai pembatas? Tapi aku malu jika ketahuan Jacob untuk pura-pura tidur. Sebaiknya nanti saja aku menaruh guling nya jika Jacob sudah tidur." Alisya kembali bergumul dalam hatinya.
Alisya malah ketiduran dan lupa akan misi pentingnya untuk menaruh guling di antara mereka. Setelah Jacob bosan dengan memainkan game dalam ponselnya. Jacob akhirnya juga memutuskan untuk tidur dan segera mematikan lampu utama.
Pagi harinya Jacob bangun lebih dulu. Ia kaget ketika menyadari bahwa Salisa masih tidur sambil memeluknya dan menjadikan tubuhnya layaknya seperti sebuah guling.
Wajah Salisa begitu dekat dengan wajahnya saat itu. Jacob memperhatikan wajah Salisa yang terlihat cantik diterpa sinar matahari. Bibirnya juga merah bak buah ceri walau Salisa sedang tak mengenakan perona bibir.
Beberapa kali Aldo menelan salifa nya. Tak tahan akan godaan surga dunia yang sedang menari-nari dalam benaknya saat ini. Sepertinya Salisa masih tertidur dengan nyenyak. Jacob ingin sekali merasakan kembali bibir Salisa yang begitu terasa manis di mulutnya.
"Sadarlah-sadarlah Jacob. Kamu tidak boleh tergoda lagi." Gumam Jacob sambil menelan salifa nya kembali. Jacob ingin sekali bangun dan menghindar dari godaan duniawi itu, akan tetapi Salisa meletakan satu kaki dan tangannya di atas tubuhnya. Jacob takut jika tiba-tiba ia bangun maka Salisa akan terbangun karenanya.
"Haruskah aku mengangkat pelan-pelan tangan dan kaki Salisa agar aku bisa segera terbebas dari rasa yang menyiksaku ini." Gumam Jacob yang semakin dibuat tak tahan akan libidonya.
Akhirnya Jacob mengangkat dengan pelan dan begitu hati-hati untuk menyingkirkan tangan Salisa yang melingkar di dadanya. Tangan sudah berhasil di singkirkan, sekarang saat yang semakin sulit untuk bisa mengangkat kaki Salisa tanpa membuat wanita yang ada disampingnya itu terbangun.
Baru saja Jacob ingin duduk dan mengangkat kaki Salisa, ia sudah di timpa lagi dengan tangan yang tadi memeluknya. Bahkan sekarang pelukan itu semakin erat. Bahkan wajah Salisa semakin dekat dan menempel di pipi Jacob. Tentu saja hal itu semakin membuat Jacob menegang dan membulatkan matanya dengan sempurna.
Tubuh Jacob kaku dan tak berani sedikitpun untuk merubah posisinya. Beberapa menit kemudian Jacob masih dalam posisi yang sama. Terjebak dalam pelukan wanita yang kini malah menggoyang-goyangkan kepalanya di wajah Jacob seperti seekor kucing yang sedang mengendus dan selalu menempel pada tuannya.
Hembusan nafas Salisa dapat Jacob rasakan di atara pipi, telinga dan juga lehernya hingga membuat bulu kuduknya berdiri dan merinding. Jacob menoleh ke arah Salisa, tapi justru kini bibirnya begitu dekat dengan bibir Salisa yang semakin menggoda untuk di ciumnya.
Karena sudah begitu memuncak dan tak bisa ditahan lagi, jacob memutuskan untuk mengecup bibir Salisa. Walaupun badannya kaku dan tak bisa bergerak karena kaki dan tangan Salisa masih di atasnya. Namun Jacob masih bisa dengan leluasa menggerakkan kepalanya.
Kecupan singkat yang dilakukan Jacob di bibir Salisa, ternyata berefek di alam bawah Sadar Salisa. Salisa seperti sedang bermimpi sedang menciumi dan sedang bermain-main dengan Kitty, kucing yang dulu pernah jadi peliharaan Salisa saat masih kecil.
__ADS_1
"Kenapa kamu manis sekali Kitty, Muach." Salisa berbalik mengecup bibir Jacob yang ia bayangkan seperti Kitty kucing peliharaannya.
"Kitty? Siapa Kitty? Mungkinkah dia mantan pacarnya. Tapi tidak mungkin juga jika seorang laki-laki bernama Kitty." Gumam Jacob dibuat bingung sendiri dengan Salisa yang baru saja mengigau dan berbalik menciumnya. "Ah bodok amat. Ngapain juga aku memikirkannya." Gumam Jacob kembali.
Akhirnya Salisa berbalik badan dan melepaskan pelukannya dari tubuh Jacob yang sedari tadi sudah dibuat kaku karenanya.
Jacob segera menghela nafas panjang. Namun ia juga senang bisa merasakan kecupan bibir Salisa. Jacob segera bangun dan mandi.
Hari itu Jacob berangkat kerja lebih pagi dari biasanya. Jacob bahkan tak menunggu sarapan bersama seperti biasanya yang ia lakukan dengan Kakek dan juga Salisa.
Sesampai di kantor, Jacob meminta Reno untuk membeli kopi dan juga Sandwich untuk mereka sarapan. Karena kemarin Jacob menemani Salisa periksa ke Dokter dan pergi jalan-jalan bersamanya hingga malam. Maka hari ini Jacob harus bekerja lebih banyak untuk menyelesaikan pekerjaan kemarin yang jadi tertunda.
"Pergi kemana kemarin kamu Jacob? Kenapa tiba-tiba meninggalkan kantor dan bahkan tak kembali lagi?" Tanya Reno penasaran.
"Oh itu. Kemarin kerabat jauhku datang dan memintaku untuk menemaninya pergi jalan-jalan." Jawab Jacob sedikit ragu-ragu.
"Sejak kapan kamu peduli dengan kerabat mu Jacob? Kamu jangan membohongiku lagi. Jangan-jangan kemarin kamu jalan berdua dengan Salisa ya? Apakah sekarang kamu sudah dibuat jatuh cinta dengan wanita itu?" Pertanyaan Reno begitu memojokkan Jacob hingga laki-laki yang berstatus sebagai bosnya itu terdiam dan tak bisa berkata-kata.
"Hahaha, ternyata aku benar. Kamu sampai diam dan tak bisa berkata-kata seperti ini menandakan bahwa semua dugaan ku benar." Kata Reno semakin menyudutkan Jacob.
"Ah benarkah. Tapi kenapa aku merasa akhir-akhir ini kamu bahkan tak pernah saling memberi kabar dengan Ana. Satu lagi, besok adalah hari ulang tahun Ana. Biasanya kamu sudah begitu sibuk untuk mempersiapkan ini itu dan menyibukkan aku dengan persiapan perayaan ulang tahunnya. Tapi sekarang mungkin saja kamu bahkan lupa mengingatnya."
Mata Jacob membulat, ia menyadari bahwa dirinya memang lupa jika besok adalah hari ulang tahun Ana. Setiap tahunnya Jacob akan memberi surprise dan menyiapkan kadi spesial untuk Ana.
"Aku tidak lupa sama sekali Reno. Aku hanya sedikit bingung harus merayakannya seperti apa. Bukankah sekarang ini kami sedang terpisah antar benua. Jadi apa yang mungkin bisa aku lakukan untuknya?" Sangkal Jacob untuk menutupi kebohongannya.
"Sudahlah, sana kembali bekerja. Jika kamu tak ingin gaji mu ku potong, maka sebaiknya kamu segera meninggalkan ruangan ku." Ancam Jacob kepada Reno.
Tentu saja Reno tak berani melawan bos nya itu. Reno kemudian keluar dari ruangan Jacob dan kembali bekerja.
"Sekarang disini pagi, berarti sekarang di sana hampir tengah malam. Sebaiknya aku mulai mempersiapkan diri untuk melakukan panggilan vidio kepada Ana dan mengucapkan selamat ulang tahun."
Jacob mengambil ponselnya dan mencari kontak Ana yang ia beri nama Mine pada ponselnya dan segera menelponnya. Panggilan itu menyambung tapi tak ada jawaban dari Ana.
__ADS_1
"Apakah saat ini Ana sudah tertidur lelap? Tapi seharusnya Ana akan terbangun jika mendengar dering ponselnya." Jacob kemudian mencoba beberapa kali lagi untuk bisa mengucapkan ulang tahun kepada Ana.
Tidak seperti yang Jacob bayangkan. Ternyata Ana saat ini sedang asik merayakan ulang tahunnya bersama dengan teman-temannya di sebuah club malam. Karena suara bising musik yang terlalu keras, Ana sampai tidak mendengar beberapa panggilan
masuk dalam ponsel yang ia tinggalkan dalam tasnya.
"Mungkin Ana memang sudah tertidur dengan lelap. Sebaiknya aku mencobanya lagi nanti." Ucap Jacob yang kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya.
Saat jam makan siang Jacob sengaja tak keluar dulu untuk mencari makan. Jacob mencoba kembali menghubungi Ana. Jacob sangat senang ketika akhirnya Ana mengangkat panggilan Vidio nya.
Jacob terkejut ketika Ana terlihat seperti orang yang mabuk. Pakaian Ana juga terlalu terbuka dan seksi.
"Apakah kamu habis minum-minum Ana?" Tanya Jacob dengan lembut.
"Tentu saja. Hari ini kan hari ulang tahunku. Jadi aku merayakannya." Jawab Ana yang sepertinya masih dibawah kontrol minuman beralkohol.
"Kenapa kamu jadi seperti ini Ana. Bukankah dulu kamu bahkan tidak pernah menyentuh minuman keras sama sekali." Tanya Jacob dengan nada bicara yang masih lembut.
"Kamu jangan langi mengatur-atur hidupku lagi Jacob. Asal kamu tau saja. Dari dulu aku memang sudah sering minum. Tapi aku tidak pernah menunjukannya padamu. Itu semua karena kamu yang terlalu posesif dan ingin mengatur semua kehidupanku." Kata Ana yang berkata-kata seperti layaknya orang mabuk.
"Aku tidak pernah memaksamu Ana, aku kira kamu mau melakukan semua itu karena memang kamu mau melakukannya. Aku juga berfikir jika apa yang aku lakukan juga demi kebaikanmu."
"Argh sudahlah, aku disini untuk mengejar impianku. Jika kamu tidak suka maka kita putus saja. Aku juga tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh seperti ini."
"Apa maksudmu Ana? Kamu tidak serius kan. Aku selalu mendukungmu Ana. Aku bahkan bersedia menunggumu untuk pulang kembali." Jawab Jacob yang tak ingin kehilangan sosok Ana yang sudah dari kecil selalu bersamanya.
"Aku tidak bisa Jacob. Sebaiknya kita udahan dulu." Jawab Ana yang kemudian mematikan panggilan itu tanpa menunggu jawaban dari Jacob.
*
*
~ Bersambung~
__ADS_1
*
*