CINTA YANG BICARA

CINTA YANG BICARA
PERTEMUAN HARU


__ADS_3

Malam semakin mencekam, hujan lebat tiba-tiba mengguyur jalanan yang dilewati Aldo. "Jalanan di depan sangat berbahaya sebaiknya aku berhenti dulu sampai hujan benar-benar reda. Akan sangat berbahaya jika aku terus memaksa berkendara dengan hujan selebat ini."


Aldo melihat ada ruko dengan halaman parkir yang cukup luas, ia membelokan setir kemudinya dan masuk ke area parkir ruko yang tutup itu. Aldo terpaksa harus menahan rasa rindu dan khawatirnya untuk Alisya. Jalanan yang akan Aldo lewati berikutnya adalah jalanan dengan dinding tebing dan jurang disebelahnya. Saat hujan sangat lebat seperti ini jalanan menjadi licin, belum lagi resiko tebing tanah yang bisa saja longsor sewaktu-waktu. Aldo juga cukup mengantuk dan jarak pandangnya menjadi buruk kareka lebatnya hujan.


Setelah memarkir mobilnya. Aldo kemudian merubah posisi sandaran kursi kemudi menjadi lebih datar. Ia merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Aldo meraih ponsel yang ia letakan di samping kursi kemudi. Waktu itu menunjukan pukul 03.15 pagi. Suasana diluar masih gelap, suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar-nyambar memenuhi pendengarannya. Aldo memejamkan matanya, tak butuh waktu lama baginya untuk bisa terlelap dalam tidurnya.


Tok tok tok. Suara ketukan pintu mobil membuyarkan mimpi Aldo, Aldo segera bangun dan melihat siapa yang tengah beeada diluar mobilnya. Pagi yang cerah dengan kicauan burung bersautan menyambut hari hari itu.


Dari luar tampak seorang laki-laki yang sepertinya seumuran dengan papanya sedang berdiri tegak disamping mobilnya. Aldo segera bangun dan menurunkan kaca pintu mobilnya.


"Selamat pagi Tuan." Sapa laki-laki itu dengan senyuman ramah diwajahnya. "Tuan pasti semalaman tidur di sini. Saya adalah pemilik toko ini. Jika berkenan silahkan tuan ikut saya ke dalam rumah. Saya sudah menyeduh teh dan ada juga sekaleng biscuit untuk menemaninya. Tadi malam saya mendengar mobil anda masuk ke pekarangan saya. Saat saya datang menhampiri Tuan hendak mengajak masuk ke rumah, tapi sepertinya Tuan sudah tertidur lelap dan tak menyadari kedatangan saya."


"Oh iya pak, semalam saya memang mengantuk sekali. Bapak baik sekali menawarkan semua itu kepada saya. Jangan panggil saya Tuan Pak, Panggil saja saya Aldo. Maafkan saya karena sudah menumpang tanpa minta ijin terlebih dahulu." Jawab Aldo dengan nada yang tak kalah ramah dari bapak itu.


"Ahh tidak masalah. Kan cuma numpang parkir. Bapak malah senang bisa menyediakan tempat untuk bersinggah. Hujan semalam memang sangat lebat, akan sangat berbahaya jika memaksa berkendara. Mari Nak Aldo masuklah terlebih dahulu. Isi perutmu dengan sedikit makanan sebelum melanjutkan perjalanan."


"Baiklah Pak, karena bapak sangat baik, saya tidak akan menolah dan sungkan-sunhkan lagi." Jawab Aldo sembari membuka pintu mobilnya. Aldo mengikuti laki-laki paruh baya itu yang sudah terlebih dulu berjalan untuk menunjukan arah untuk Aldo.


Laki-laki itu mengajak Aldo masuk ke toko yang mirip swalayan kecil itu dan memintanya untuk ikut naik ke atas menyusuri tangga tempat dimana ia tinggal. Diatas sana hanya terdapat tiga ruangan. Sepertinya satu ruangan untuk tidur, satu ruangan lagi untuk dapur dan satu lagi tempat dimana saat ini mereka berada.


Tak banyak perabotan di ruangan itu. Hanya ada dua buah kursi kayu dan mejanya. Selai itu dindingnya juga polos tanpa tempelan foto atau lukisan yang menghiasinya.


"Apakah Bapak tinggal sendirian?" Tanya Aldo yang sudah duduk di salah satu kursi di ruangan itu.

__ADS_1


"Iya nak Aldo, Istri Bapak sudah meninggal, sedangkan anak-anak sudah tinggal dengan pasangannya masing-masing. Bapak cukup kesepian, makanya Bapak berinisiatif untuk membuka toko ini agar banyak orang yang berkunjung."


"Ooh begitu ya Pak. Lalu kenapa Bapak tidak tinggal di kota saja, di kota kan sangat ramai. Mau melakukan berbagai macam kegiatan juga mudah. Kenapa bapak malah memilih tinggal di tempat yang jarang penghuninya seperti ini?" Tanya Aldo dengan penuh penasaran.


"Iya nak Aldo, Istri bapak dimakamkan tak jauh dari tempat ini. Bapak hanya ingin selalu dekat dengannya, Jika Bapak tinggal di kota, Bapak tidak bisa sering-sering mengunjungi makamnya. Apalagi kan usia bapak juga tak semakin muda lagi." Jawab Bapak itu dengan santainya.


Aldo bisa membayangkan betapa romantisnya Bapak itu kepada istrinya dahulu. Hal itu semakin membuat Aldo bersemangat untuk segera menjemput Alisya.


Setelah meminum teh dan memakan beberapa biscuit yang dihidangkan Bapak itu. Aldo kemudian pamit undur diri kepada laki-laki yang sangat ramah dan baik itu. Selesai berpamitan, Aldo kembali berkendara dan menguatkan tujuan awalnya untuk bisa bersama kembali dengan Alisya.


Terlihat di ujung jalan yang hanya muat dilalui satu mobil itu terdapat Vila nan megah milik keluarga Adrian. Vila itu bergaya bangunan jepang. Banyak kaca-kaca tembus pandang sebagai ganti dinding luar Vila nan cantik itu. Pintu-pintu bergaya sliding door khas Negara tirai bambu itu menambah kesan otentik.


Aldo melihat banyak sekali bodygumard yang berjaga baik di depan ataupun luar bangunan. "Sepertinya akan sulit dan butuh perjuangan agar aku bisa masuk dan menemui Alisya" Gumam Aldo sambil menelan salivanya.


Aldo segera turun dari mobil, namun pengawal-pengawal itu sudah menghalanginya terlebih dahulu dan tidak memperbolehkan Aldo untuk masuk. "Aku hanya ingin menjemput istriku, jadi biarkan aku masuk."


Baiklah, jika memang tak bisa dengan cara halus. Maka denhan terpaksa aku harus menggunakan cara yang kasar.


Aldo melepas pakaian hangatnya dan melemparnya ke atas mobilnya. Aldo mulai menyingsingkan lengan bajunya dan menonjok pengawal yang paling dekat dengannya. Satu persatu pengawal itu mendapat pukulan dan tendangan dari Aldo. Melihat Aldo cukup jago dan bisa menumbangkan beberapa ajudan itu, maka tanpa komando mereka mulai menyerang dan mengeroyok Aldo bersama-sama. Bahkan pengawal yang bertugas di dalam ruangan juga ikut keluar dan membantu.


Karena kalah jumlah, akhirnya Aldo mulai kuwalahan. Beberapa bodyguard memegangi kedua tangan dan memaksa Aldo untuk tunduk dan bersujud. Kucuran darah segar dari pelipis mata mengalir di pipi Aldo, bibirnya juga terluka dan sedikit robek dibagian pingggirnya. Mukanya juga lebam-lebam terkena pukulan. Namun sepertinya semangat Aldo belumlah padam. Dengan sekuat tenaga Aldo beruhasa menopang tubuhnya untuk bisa berdiri lagi. Sayangnya tenanganya sudah terkuras habis, dengan sedikit tekanan dari kedua pengawal yang memeganginya, Aldo sudah jatuh tersungkur lagi.


Dari dalam ruangan terlihat Adrian datang dan menhhampirinya. "Sudah cukup. Jika kamu masih memaksakan diri lagi untuk menyerang, maka kamu bisa mati." Kata Adrian kepada Aldo. Adrian kemudian meminta beberapa pengawalnya untuk membawa Aldo masuk dan mengobati luka-lukanya.

__ADS_1


Selesai di obati Aldo dibawa keruangan yang tak ada meja dan kursinya sama sekali. Disana Aldo dipaksa untuk duduk bersila untuk menunggu kedatangan Adrian. Tak lama kemudian, Adrian juga masuk ke ruangan itu dan ikut duduk bersila di hadapan Aldo. Adrian meminta seluruh pengawalnya keluar dengan mengayunkan tangannya dan menutup pintu ruangan itu.


"Apakah kamu masih ingin menemui Alisya?" Tanya Adrian dengan nada datarnya.


"Tentu saja Adrian, Aku mohon kepadamu agar kamu bisa mengiklaskan Alisya sekali lagi dan mempercayakannya kepadaku. Aku sudah berjanji di depan Altar jika aku akan selalu menemani dan mencintai Alisya baik itu dalam untung dan malang, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, dan dalam miskin maupun kaya. Kamu tidak bisa menghalangi cinta diantara kami Adrian. Aku sudah membulatkan tekatku bahwa aku akan selalu membahagiakan Alisya. Aku juga yakin hanya aku yang bisa membuat Alisya bahagia jasmani maupun rohani. Jadi kamu jangan menghalangi kami untuk bersama lagi." Kata Aldo dengan penuh keyakinan.


"Itulah kata-kata yang selama ini aku tunggu Aldo. Kemana saja kamu selama ini?" Adrian kemudian beranjak, ia keluar dari ruangan itu. Pintu ruangan ditutup kembali, jadi Aldo juga tak bisa keluar lagi. Tenaganya sudah habis jika harus berusaha melawan para bodyguard yang disewa Adrian.


Tak lama kemudian pintu terbuka, dihadapannya terlihat Alisya berdiri dan segera meneteskan air matanya melihat suaminya yang penuh lebam dan babak belur. Alisya langsung bersimpuh dan memeluk suaminya itu. Tangis haru mewarnai ruangan itu. Tanpa ragu, Aldo membalas pelukan Alisya dan menciumi wajah istrinya itu.


"Maafkan aku Alisya, aku sangat bersalah kepadamu." Ucap Aldo sambil tak henti-hentinya menciumi Alisya.


"Tidak Aldo, kamu tidak bersalah. Justru aku yang harus minta maaf kepadamu karena tidak pulang kerumah dan membuatmu cemas." Keduanya saling enggan melepaskan pelukan mereka. Sampai akhirnya Adrian ikut masuk ke ruangan itu dan membuat Alisya dan Aldo terpaksa menunda keinginan mereka untuk tetap saling melepas rindu.


*


*


~Bersambung~


*


*

__ADS_1


Apakah kalian suka dengan alur cerita "Cinta yang birara?" jika Ya, kasih dukungannya untuk author ya. Bagaimanapun cara kalian mendukung novel ini, author sangat berterimakasih.


Jika mulai episode ini lebih banyak like dan dukungan dari kalian, maka glori akan mengusahakan untuk update dua (2) episode dalam satu hari. Thanks you so much.


__ADS_2